Love Actually

Love Actually
Episode 89



"Vin, gimana?" tanya Erika ketika ia menghubungi Vino untuk menanyakan keadaannya. Saat ia memutuskan pergi ke Paris untuk menenangkan diri, tanpa disangka ia bertemu dengan banyak orang yang membuatnya berkesan tinggal disana. Tapi itu hanya sementara. Ia menemukan sebuah brosur didalam tasnya yang menjelaskan tentang kota Brussel. Ia masih ingat ketika suaminya mengatakan telah menyediakan sebuah kamar di salah satu hotel miliknya yang ada di Brussel saat mereka baru saja menikah.


Kepergiannya ke Brussel kala itu penuh perhitungan. Ia tidak mau suaminya tahu jika ia yang memesan kamar. Ia marah dan kecewa sehingga ia harus menenangkan diri. Ia harus menyamarkan namanya agar bisa tinggal di kamar itu. Dan ia bersyukur karena sampai saat ini suaminya belum tau tentang dirinya yang tinggal di kamar yang pernah dijanjikan olehnya.


"Mama masih belum tau kalo kakak lagi ribut sama Andi." ucap Vino dingin.


"Ya, lebih baik jangan dikasih tau. Biar kakak yang beresin sendiri." ujar Erika.


"Sekarang kakak ada dimana? Jangan bikin aku khawatir. Mau aku jemput? Kakak gak usah peduli lagi sama si Andi gila itu." seru Vino kesal.


"Kamu gak usah khawatir, Vin. Toh kakak masih baik-baik aja. Kakak seneng disini. Kakak sedang menikmati kesendirian ini."


"Kakak gak bisa gitu. Banyak yang perhatian sama kakak. Sebulan kemarin aku liat interview kakak sama media Jepang. Jangan-jangan kakak ada di Jepang sekarang. Kebetulan bulan depan aku ke Jepang sama Dimas."


"Enggak. Itu cuma interview virtual aja. Kakak ada di satu tempat paling indah. Kamu juga pasti suka kalo liat tempat ini."


"Jadi kakak gak ada di Jepang? Aku kecewa kakak gak kasih tau aku. Pokoknya kalo kakak perlu apa-apa jangan lupa telepon aku. Kalo gak ada aku, kakak bisa hubungi Dimas. Jangan lupa."


Erika tersenyum. Ternyata Vino sudah berubah menjadi pria dewasa. Ia lebih perhatian padanya dibandingkan sebelumnya. Dan yang lebih penting adalah suaranya tidak sedingin sebelumnya. "Gimana kabar pacar kamu? Waktu kakak ketemu terakhir, kayaknya dia cinta banget sama kamu."


Terdengar nada Vino yang terlihat malas. "Aku gak tau. Aku mungkin nunggu dia. Entah berapa lama."


Erika bangun dari tidurnya. Ia duduk dengan selimut masih menutup tubuhnya. "Menunggu itu gak akan berguna. Lebih baik kamu cari wanita lain."


"Omongan kakak mirip sama mama. Aku gak suka kalo dikenal-kenalin sama wanita lain. Aku tipe laki-laki setia." seru Vino.


"Kakak gak ngomong soal itu. Kakak cuma bilang kalo menunggu itu gak berguna. Tapi, terserah kamu. Kakak cuma kasih pendapat aja. Kamu udah dewasa. Mama ngenalin kamu sama beberapa wanita juga mungkin ada alasannya. Mama gak mau kamu menunggu sesuatu yang gak berguna. Apalagi sekarang pacar kamu itu fokus sama kerjaannya. Setau kakak gitu.."


"Kak..."


"Apa?"


"Cepet pulang kesini. Aku punya banyak cerita."


"Soal apa?"


"Sherly"


"Kenapa enggak di telepon aja?"


"Aku mau ketemu kakak langsung." ucap Vino. Lama tidak ada jawaban. Iapun menutup telepon terlebih dahulu karena kakaknya terdiam di ujung telepon.


Erika cukup lama terdiam. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi di rumah. Ia menatap kamar yang terasa mewah itu. Ia tidak mau pergi dari tempat ini begitu cepat. Sedangkan sewa kamar ini sangat mahal perhari. Dan ia tidak bisa lupa, ia masih memiliki masalah dengan suaminya.


Apakah suaminya masih tidak tahu jika ia tinggal di Brussel selama dua minggu ini? Kalaupun ia tahu, kenapa suaminya itu tidak muncul sekalipun? Ia kecewa. Tapi ia menyadari setelah berpisah. Tanpa seorang Andipun, ia bisa hidup. Ia tidak pernah bergantung pada pria itu selama menikah dengannya. Ia menghela nafas. Ia tidak menyangka hidupnya begitu rumit. Penyebabnya hanya satu. Cemburu.


Ketika keluar kamar, ia bingung melihat bunga mawar merah super besar yang ada di ruang tamu kamar hotelnya. Sejak ia datang ke hotel ini, setiap hari vas bunga di ruang tamu itu selalu diganti. Mereka mengatakan jika itu adalah pelayanan hotel. Ia tidak pernah mendapatkan pelayanan semewah itu selama tinggal di hotel lain. Kemarin siang saja ia diberikan bunga Lily. Kali ini ia mendapatkan bunga mawar merah satu ikat besar yang sudah tersimpan pada vas kristal.


Ia berjalan menghampiri meja dan memegang salah satu bunga itu. Masih segar. Mungkin salah satu pegawai hotel menggantinya saat ia berada di klinik tadi pagi, pikirnya.


Terdengar ketukan pintu. Iapun membukanya. Ternyata salah satu pegawai dari klinik. Entah kenapa selama berada di kota ini, ia merasa segalanya dipermudah. Pria itu hanya menyerahkan satu buah amplop padanya. Tanpa melihat isinya pun, sepertinya ia memang baik-baik saja. Iapun menyimpan amplop itu disamping vas bunga tanpa membukanya terlebih dahulu. Ia sendiri berjalan ke kamar. Ia masih ingin kembali ka tempat tidur. Baru saja membuka selimut, ia mendengar suara barang jatuh.


Erika menyimpan kembali selimut di tempat tidur dan berjalan dengan mengendap keluar kamar. Ia melihat ada sebuah gelas yang tidak terpakai di sudut meja. Ia mengambilnya sebagai alat untuk berjaga-jaga.


"Siang Ojo ku tersayang. Istriku tercinta.." ucap seseorang.


Erika terkejut setengah mati hingga melemparkan gelas yang dipegangnya hingga hancur di lantai. Ia melihat suaminya sedang duduk sambil menatapnya. Ia terlihat santai dengan pakaian kasual.


"Halo sayang.." panggil Andi dengan wajah berbinar.


"Siapa yang panggil kamu sayang?" tanya Erika marah. Ia langsung berjalan kembali ke kamar. Ia benar-benar terkejut melihat suaminya sudah ada di ruang tamu kamar hotel. Dan ia seperti tidak asing berada di kamar ini.


Andi bangun dari duduknya dan berlari mengejar Erika. "Marah sama aku karena enggak dateng ke bandara?"


"Iya.. Aku benci sama kamu!" seru Erika.


"Bener benci? Kalo benci, kenapa kamu suka ciumin bunga-bunga yang aku kasih?" goda Andi.


Erika membalikkan badannya. "Bunga?"


Andi mengangguk sambil menunjuk bunga yang ada di atas vas bunga.


"Itu bunga dari kamu?" tanya Erika kesal.


"Emang laki-laki mana yang ngasih kamu bunga sebesar itu kalo bukan suami kamu sendiri?"


Erika langsung berjalan dan mengeluarkan semua bunga yang ada di atas vas. Ia melemparkannya pada Andi. "Aku benci kamu, prince! Aku gak butuh bunga dari kamu! Aku benci!" teriK Erika histeris.


Andi membiarkan bunga-bunga itu terlepas dari tangkainya. Ia membiarkan wajahnya terluka karena tajamnya tangkai itu. Kemudian ia memegang lengan Erika. "Tenang Jo. Aku mau jelasin semua. Dengerin aku!"


"Aku gak mau. Aku gak mau ketemu kamu lagi! Pergi!" teriak Erika.


"Ojo! Denger aku! Tolong denger aku sekali aja."


Erika mulai menangis. "Aku lelah sama penjelasan kamu. Aku udah gak tau apa aku bisa percaya lagi sama kamu atau enggak. Lebih baik kita berpisah aja. Aku gak sanggup punya suami yang lebih mementingkan orang lain daripada istri sendiri."


Andi melepaskan tangannya yang sedang memegang lengan Erika. Ia memeluknya ringan. "Gak ada perpisahan Jo. Selamanya kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku. Selamanya kamu jadi ratu di istanaku nanti. Aku gak mau pisah sama kamu. Aku mengakui semua kejadian ini karena kesalahan aku. Aku cinta kamu Jo. Entah sejak kapan. Mungkin sejak pertama kita ketemu di rumah Tante Clara. Aku gak tahan buat menggoda kamu. Aku menyesal waktu dulu kita pernah hilang kontak. Jadi jangan bilang lagi soal perpisahan. Aku gak sanggup harus kehilangan kamu lagi." bisik Andi dengan nada bergetar.