
“Jo.. kamu bisa kesini?” tanya Andi malam itu.
Erika baru saja menyelesaikan pekerjaannya ketika tiba-tiba ia mendapatkan telepon dari suaminya.
“Kamu ada dimana sekarang?”
“Aku ada di klinik. Tolong kamu jangan berperasangka buruk dulu. Tadi Jane telepon aku. DIa bilang anaknya masuk ke rumah sakit. Tapi waktu dijalan, aku dapet telepon lagi katanya anaknya dibawa ke klinik. Dia gak ada orang lain lagi buat nyari tolong. Aku terpaksa nolong Jane.” ucap Andi pelan.
Erika menarik nafas pelan. Sebenarnya ia lelah. Tapi ia mengapresiasi kejujuran suaminya kali ini.
“Kamu kirim sekarang alamatnya. Aku siap-siap dulu.”
“Oke..” jawab Andi.
Telepon pun ditutup. Erika berjalan ke kamarnya untuk bersiap-siap. Ia merasa ada sesuatu yang salah. Sejak melihat Jane dengan suaminya tadi siang, perasannya meledak tak karuan. Ia marah dan kesal. Sesampainya di rumah pun, perasaannya masih tidak menentu padahal suaminya sudah menjelaskan dengan pasti posisi dirinya pada wanita itu. Tapi kenapa ia masih merasa belum puas?
Ketika sedang mengganti pakaian, ia merasa maag nya kembali kambuh. Iapun mengambil kotak obat dan meminum salah satu obat maag yang biasa ia minum. Ia memegang ujung meja untuk menahan sakitnya. Wajahnya menatap cermin. Gara-gara wanita itu, rasa sakit yang sudah lama tidak kambuh, mulai kambuh.
Ketika sakitnya mulai terasa reda, iapun keluar dari penthousenya dan mencari taxi untuk mengantarkannya ke alamat tujuan.
“Kamu telepon istri kamu?” tanya Jane ketika ia melihat Andi berada diluar kamar.
Andi menoleh. “Ya, aku gak mau dia punya pikiran aneh.”
“Maafin aku. Tapi aku bingung. Aku gak tau lagi harus minta tolong sama siapa. Jefry hilang.” jawab Jane sambil menunduk.
“Gak apa-apa.” Jawab Andi pelan. “Anak kamu tidur?”
“Ya, tadi disuntik sama dokter. Kamu bisa tolong jaga anak aku sebentar aja? AKu mau serahin surat ini ke apotek.”
Andi ingat jika Jane tidak memiliki uang. “Biar aku aja.” ucap Andi sambil mengambil kertas yang sedang dipegang Jane. “Kamu jaga anak kamu disini. Kalo dia bangun, aku bingung harus gimana.”
Jane mengangguk.
Erika turun dari taxi setelah melakukan perjalanan selama 30 menit lamanya. Ia sampai disebuah klinik yang tidak terlalu besar namun sangat bersih. Ia melihat ke kiri dan ke kanan untuk mencari suaminya. Ia mencoba menghubunginya namun tidak diangkat. Iapun berjalan dan masuk kedalam klinik. Beberapa orang terlihat sedang menunggu didepan apotek. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia melihat suaminya sedang ikut mengantri.
Erika menghela nafas dan diam tak jauh dari tempat suaminya duduk. Ia tidak berani menghampirinya Ia hanya melihatnya dari jarak beberapa meter. Cukup lama untuk melihat bagaimana suaminya terlalu perhatian dengan “temannya”. Ia bertanya-tanya dalam hati. Kenapa bukan Jane yang menunggu obat? Kenapa harus suaminya?
Tanpa sadar ia menyentuh dadanya. Ada perasaan cemburu menghampirinya. Apakah wajar ia cemburu pada seorang anak kecil? Namun sebenarnya ia bukan cemburu pada anak kecil. Ia telah cemburu pada siapa dibelakang anak kecil itu. Setelah sekian bulan ia menikah, ini adalah kali pertama ia cemburu pada perempuan yang sama ketika Andi mulai meresmikan hubungannya dengan Jane. Ini adalah kedua kalinya ia merasakan perasaan yang sama. Ia memegang dengan erat tas jinjingnya.
Tiba-tiba ia melihat suaminya berdiri dan berjalan. Ia mengikutinya dari belakang. Ketika ia melihat suaminya masuk kedalam sebuah ruangan, ia melangkah pelan. Ia melihatnya dibalik pintu. Jane terlihat sedang menggendong anaknya dan menyerahkannya pada suaminya. Suaminya terlihat tersenyum sambil menggoda anak Jane yang terlihat baru bangun itu. Ada selang infus ditangannya.
“Who?” tanya seseorang dari belakang.
Erika terkejut dan membalikkan badannya. Ia melihat seorang pria berada dibelakangnya. Ia terlihat terkejut.
“Istri Andi?” tanyanya
Erika mencoba tersenyum dan mengangguk
“Kenapa gak masuk? Ini ruangannya?” tanya Jefry sambil membuka pintu.
Baik Andi maupun Jane terkejut ketika pintu terbuka
“Jef, aku cari kamu! Jangan marah lagi!” ucap Jane tanpa melihat Erika.
“Waktu aku tinggal, anak kamu baik-baik aja” ucap Jefry kebingungan. Ia langsung menghampiri Andi dan mengambil tubuh bayi itu. “Maaf udah repotin kamu”
“It’s okay” jawab Andi.
Jefry menoleh ke belakang. “Loh, mana istri kamu? Tadi ada diluar. Aku pikir ngikutin aku masuk kesini”
Andi terkejut. “Istri?” tanya nya. Iapun berjalan keluar dan melihat istrinya sedang duduk di kursi yang ada didepan kamar.
“Jo? Kamu kapan dateng?” tanya Andi sambil menghampirinya
“Baru aja” jawab Erika pelan
“Bagus. Ada alasan buat aku pulang.” ucap Andi. Ia menarik lengan Erika untuk berdiri.
Andi masuk kedalam ruangan sambil memegang tangan Erika.
“Jane, aku pulang dulu. Istriku udah disini” ucapnya
“Oke, thanks ya di, hati-hati dijalan” ucap Jefry
Jane hanya tersenyum sekilas tanpa melihat Erika disamping Andi.
“Mereka cocok ya. Istrinya Andi cantik. Aku baru tau kalo dia itu blogger terkenal di asia “ Ucap Jefry sambil melirik Jane.
Secantik apapun istri Andi, pria itu akan memilihnya pada akhirnya nanti.