Love Actually

Love Actually
Bandara



Andi mengangkat salah satu tangannya ke atas kepala. Ia menatap lampu kamarnya yang sejak tadi ia nyalakan. Ia tidak bisa tidur. Beberapa kali memejamkan mata tapi ia tetap tidak bisa tidur. Ia memikirkan sesuatu. Tanpa sadar ia tersenyum sendiri. Ia mengingat setiap menit ketika bersama Ojo. Sudah lama sekali ia tidak merasakan ada seorang wanita didekatnya. Sering sekali Viar menyebutnya dengan sebutan jomblo abadi karena ia tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun selama lima tahun ini. Mendengar cerita Ojo tadi, ia menyadari satu hal. Seorang wanita mempunyai sifat yang lemah. Sebagai pria, rasanya dulu ketika ia masih sekolah, ia adalah seorang BXJXNGXX. Wanita yang mendekatinya ia manfaatkan untuk menaikkan popularitasnya di kampus. Menjadi salah satu kapten basket paling tampan, kaya dan pesona yang tidak ada laki-laki manapun menandinginya menjadi kunci kesuksesannya mendapatkan gadis-gadis kampus. Dan yang ia lakukan hanya demi kepuasannya.


Ia menggelengkan kepalanya. Tidak. Itu tidak akan pernah terjadi lagi. Ia tidak membutuhkan popularitas lagi. Ia membutuhkan masa depan yang lebih baik. Ia tidak akan menyakiti hati wanita manapun lagi. Erika Ojo. Wanita itu telah membukakan matanya. Selama mereka berbicara tadi, ia merasa tidak ada jarak diantara mereka. Mereka lebih nyaman berbicara berdua. Padahal hampir lima tahun mereka tidak bertemu dan pertemuan terakhir mereka dilakukan dengan cara yang tidak baik.


Ia kembali mengingat ucapan Erika Ojo tadi.


“Jadi, perasaan kamu sekarang gimana sama dia?” selidik Andi.


“Perasaan aku? Gak penting.” jawab Erika sambil berdiri. Ia menyerahkan selimutnya pada Andi.


Andi menarik lengan Erika dan wanita itu kembali duduk disampingnya. “Aku cuma mau memastikan satu hal aja. Kalo selama kamu disini kalian ketemu lagi gimana?”


“Gak mungkin. Lusa aku udah kembali ke Jepang.” jawab Erika sambil melepaskan tangan Andi. “Tapi, thanks ya Prince, kamu ngajak aku kesini. Perasaan aku lebih baik sekarang. Tadinya aku takut pulang kesini. Makanya aku kuat-kuatin di Jepang. Aku sedih gak bisa ketemu mama sama papa setiap hari. Aku sedih karena gak bisa bekerja normal kayak yang lain.”


Andi mengerutkan keningnya. “Tapi pekerjaan kamu sekarang, income nya jauh lebih tinggi kan? Buktinya kamu bisa keliling dunia buat ngisi blog kamu.”


Erika mengangguk. “Tapi tetep aja. Aku bisa interview sama beberapa media tapi offair. Aku gak berani ngeliatin wajah aku di media.”


“Mulai sekarang kamu bisa. Ada aku disamping kamu.” ucap Andi sambil memegang tangan wanita itu.


Meja makan kediaman Calvin dan Sandra sedikit ramai karena Vino dan Erika seperti biasa ada keributan pagi ini. Semua bermula pada sikap Vino yang melihat Erika sedang merapikan pakaian-pakaiannya untuk dibawa pulang ke Jepang esok. Vino sekarang berbeda dengan Vino beberapa tahun yang lalu. Kedinginan pria itu memudar ketika Erika kembali ke Jepang dan tinggal dengannya.


“Udah, cukup!” Seru Sandra yang sedikit kesal melihat kedua anaknya bermain-main makanan. “Kalian udah cukup umur ya, please jangan kotori meja makan mama sama permainan kalian!”


Vino menghentikan kegiatannya yang sejak tadi memainkan piring dan sendoknya. Ia menatap ibunya.


“Coba mama kasih tau kakak. Dia gak diijinin buat pulang besok.” ucap Vino kesal.


“Kakak tau kamu pasti kehilangan kakak. Kamu kan punya temen. Namanya siapa? Dimas. Ya, Dimas bisa jadi pengganti kakak kan?” ejek Erika.


“Jangan samain kakak sama Dimas. Dimas mana bisa aku ajak buat sharing yang lain?” jawab Vino kesal.


“Emang kamu mau sharing sama kakak soal apa? Bukannya kalo sama laki-laki lebih enak?” tanya Erika.


Sandra menyimpan sendoknya dengan kencang. “Kalo kalian mau ribut, keluar sana! Jangan di meja makan.”


“Udah, kita dengerin obrolan mereka.” Ucap Calvin sambil tersenyum.


Erika mencubit lengan Vino dengan kencang. “Nanti siang kakak ke kantor buat liat ruangan kamu. Sekarang kakak mau ke bandara buat anter temen kakak pergi” ucapnya sambil berdiri.


“Oh ya Jo, mama belum denger cerita kamu tadi malam. Soal Andi.” ucap Sandra


“Biasa aja ma. Nanti aku cerita. Aku takut gak sempet anter mereka.” seru Erika.


Erika tidak menoleh lagi ke belakang ketika Sandra memanggilnya. Keributan kecil di meja makan tadi membuatnya tersenyum. Vino sudah terbiasa tinggal dengannya. Jadi wajar jika ia merasa kehilangan. Iapun membuka pintu gerbang. Ia sudah memesan taxi yang akan membawanya ke bandara. Ia menatap jam tangannya.


Perjalanan menuju bandara tidak terlalu macet. Biasanya pagi-pagi seperti sekarang jalanan sangat macet. Tapi pagi ini ia tidak melihatnya. Ia melihat sopir taxi menyalakan musik yang sangat nyaman ditelinganya. Ia mengeluarkan ipadnya dan melihat blognya. Ia belum memberikan berita baru di blognya. Cadangan beberapa video sudah ada. Ia hanya mengeditnya sebentar.


Suasana tiba-tiba hening. Ia mengangkat kepalanya dan melihat keluar. Ternyata ia sudah berada di parkiran bandara. Ia memasukkan ipadnya kedalam tas. Setelah membayar, iapun keluar dan berjalan untuk mulai mencari keberadaan Davi.


Seorang Davi yang menurutnya terkenal karena suaranya, terdengar olehnya. Ia berhenti untuk mendengar lebih jelas dimana Davi berada. Ia melihat Davi sedang sibuk dengan tasnya. Disampingnya ada suaminya yang terlihat lebih kalem. Ia tersenyum melihat kekonyolan Davi. Entah apa lagi yang bisa ia katakan tentang sahabatnya. Yang pasti wanita itu akan ramai dimanapun ia berada. Iapun berjalan menghampirinya.


“Davi!” panggil Erika.


“Erika? Aaaarrgghh! Kamu dateng juga?” teriak Davi sambil memeluk Erika.


Erika tersenyum dan membalas pelukan Davi. “Aku harus nganterin kamu kan?”


“Bos kita dimana?” tanya Davi sambil melepaskan pelukannya pada Erika. Ia mencari sosok Andi.


“Itu cowok ganteng yang waktu nikahan aku lengket banget sama kamu. Kemanapun kamu pergi, matanya Andi terus ngeliatin kamu!”


“Andi? Dia belum dateng?” tanya Erika


Davi menggelengkan kepalanya. Viar kemudian menghampirinya. “Udah gak aneh. Dia emang suka telat. Apalagi sama hal yang kritis.”


“Kamu kok tau banget?” tanya Erika.


“Aku gak mungkin gak tau, aku sama Andi udah bareng selama dia ada di London. Dia pria baik. Cuma sayang, dia gak suka perempuan.” ucap Viar sambil tertawa.


Erika mengerutkan keningnya.


“Makanya aku mau jodohin kalian waktu kita ketemu di restoran orangtua aku. Kalian itu cocok.” ucap Davi. “Kamu tau dia ngasih kado apa waktu nikahan kita?”


Erika menggelengkan kepalanya. “Aku gak tau. Kamu gak cerita.”


“Kunci apartemen!” teriak Davi sambil tertawa.


“Tuh orangnya dateng.” ucap Viar.


Erika membalikkan badannya ke belakang. Ia melihat Andi berlari dengan wajah penuh keringat.


“Gila, aku bangun kesiangan.” umpatnya.


Viar tertawa. “Kebiasaan. Emang sekarang alasan gak bisa tidur kenapa? Atau insomnia nya kambuh?” tanyanya.


Andi menoleh pada Erika. “Hai, Jo. Aku bangun kesiangan…” ucapnya sambil tersenyum malu.


“Gak penting. Kenapa harus ngomong sama Erika? Eh, tunggu.. Kamu manggil Erika tadi apa? Waktu di nikahan kita juga kamu panggil dia Jo?” tanya Davi kebingungan.


“Ojo.” jawab Andi.


“Hemm… sepertinya ada sesuatu yang aku gak tau.” ucap Davi sambil menatap keduanya.


“Gak usah mikir yang aneh-aneh. Kita temenan udah lama.” jawab Andi.


Terdengar pengumuman dari pengeras suara. Tiba-tiba wajah Davi sedih. Ia menatap Erika.


“Goodbye friend. Aku tunggu kamu di London. Kamu harus kesana juga.” ucapnya sambil memeluk Erika.


“Hati-hati ya Dav, jaga kesehatan.” jawab Erika.


“Oke bos, kita pulang duluan.” Ucap Viar.


Andi mengangguk dan memegang bahu Viar. “Meeting aku di sana tolong kamu siapin dulu. Kayaknya aku sedikit agak lama disini.” bisik Andi.


“Apa gara-gara dia?”bisik Viar sambil memberikan isyarat dan mengarah pada Erika.


“Maybe.”


Keduanyapun melambaikan tangannya dan pergi masuk ke dalam ruang tunggu bandara. Erika dan Andi berbalik untuk pulang. Ia berjalan berdampingan dan sama-sama terdiam.


“Semalem aku mikirin ucapan kamu.” ucap Andi yang tiba-tiba berhenti berjalan.


Erika yang sudah ada didepannya menoleh.


“ Jo, kalo kita menikah aja, gimana? Kamu mau?”