Love Actually

Love Actually
Breaking News



Erika mendengarkan suara langkah kaki yang sedang berlari didepan ruangannya dengan jelas. Seseorang membuka pintu dengan kencang.


“Bu, ada breaking news! Tonton berita gosip sekarang!” seru koki yang biasa membantunya menyiapkan makanan.


Erika mengerutkan keningnya. “Berita apa?” tanyanya sambil mengambil remotnya. Ia berdiri untuk melihat lebih dekat berita di televisi. Matanya terbelalak ketika melihat gambar dirinya dan Bumi yang sedang berpelukan direstoran semalam.


“Itu ibu kan?” tanya wanita itu.


Erika langsung mengambil tasnya dan berjalan keluar tanpa mengatakan apapun pada wanita yang tadi mengatakan berita itu. Saat ia dilift, langkahnya tertahan ketika ia melihat beberapa wartawan sedang beradu mulut dengan beberapa pihak keamanan rumah sakit.


“Bu, lewat belakang” seru resepsionist yang melihatnya turun.


Erika berlari menuju pintu belakang. Karena posisi rumah sakit dengan apartemennya berdekatan, ia tidak harus menggunakan kendaraan untuk sampai ke apartemennya. Ia tidak pernah terfikir akan masuk berita gosip pagi ini. Ya Tuhan, masih pukul 9 pagi dan dirinya sudah menjadi berita pagi ini. Kemana Bumi saat ini? Kenapa ia tidak memberitahunya? Kenapa ia harus tahu dari teman-temannya? Lalu kenapa wartawan mengetahui tentang privasinya? Jangan-jangan disekitar apartemennya juga sekarang banyak wartawan? Jika seperti ini, karirnya akan hancur dengan cepat.


Ketika berada didepan apartemen Bumi, ia mengetuk pintu dengan kencang. Saat pintu terbuka, Robby menatapnya dari atas ke bawah. Erika tidak peduli. Ia langsung masuk kedalam untuk mencari Bumi.


“Bumi!” teriak Erika.


Bumi keluar dari kamarnya. “Ada apa sayang?”


“Kenapa ada berita aku di televisi?” tanya Erika kesal.


“Udah keluar beritanya?” tanya Bumi tenang.


“Kenapa kamu bisa setenang ini? Kamu yang ngelakuinnya?” tanya Erika marah.


“Tenang sayang. Kita duduk dulu.” ucap Bumi sambil memegang bahu Erika dan membawanya duduk di sofa.


“Aku gak bisa tenang kalo menyangkut privasi aku.” seru Erika. Ia masih menatap Bumi yang terlihat begitu tenang.


“Semalam waktu pulang dari restoran, aku ngobrol lagi sama Robby.  Emang dia marah sama aku karena tiba-tiba aku punya pacar. Tapi, aku perlu berita buat naikin nama aku untuk film yang lagi kita bikin. Jadi Robby diam-diam telepon media buat candid kita waktu di restoran. Tapi sebenernya yang foto itu Robby karena waktu kita berantem dibawah, ia gak keburu panggil media. ” jelas Bumi. Ia tidak mengatakan skandal yang diungkit oleh Robby padanya.


"Aku gak ngerti, kapan Robby foto kita?"tanya Erika bingung.


"Waktu kamu naik keatas, aku ngejar Robby buat jelasin semuanya." jawab Bumi tenang.


 


“Harusnya kamu bangga pacaran sama artis. Aku memang gak mendukung hubungan kalian. Tapi kalau dengan berita ini bisa bikin nama Bumi semakin dikenal, kenapa enggak?” ucap Robby tajam. Ia bisa melihat perubahan wajah Erika. Wajahnya terlihat mau menangis. Ya, sejak semalam ia memaksa Bumi untuk meninggalkan wanita didepannya ini. Tapi setelah ia banyak berfikir di mobil karena ucapan Bumi, ide itu tiba-tiba muncul.


“Semalem aku denger obrolan kalian. Kalau media tau aku sama Bumi pacaran, skandal besar kamu bisa-bisa keluar lagi dan berakibat sama karir kamu. Kenapa sekarang malah kebalik? Aku gak ngerti sama kalian” ucap Erika kesal.


Bumi dan Robby saling berpandangan. Skandal yang pernah menimpa Bumi memang sudah terjadi agak lama. Semalam Robby berfikir dan begitu ketakutan ketika menyerahkan foto-foto itu pada media. Tapi ketakutannya tiba-tiba berubah menjadi keberanian. Dan benar saja. Ketika berita ini muncul pagi ini, media sepertinya sudah melupakan kejadian beberapa tahun silam yang menimpa Bumi.


Erika menatap Bumi dan Robby. “Apa kamu pikir dengan masuk berita, aku seneng? Aku tegasin. Aku gak seneng sama sekali. Apa pernah kamu pikirin gimana privasi aku diulik media? Semua orang bakal tau siapa aku, siapa orangtua aku, dimana aku kerja, dimana aku tinggal. Dan apa pernah kamu pikirin gimana pekerjaan aku setelah keluar berita pagi ini?” tanya Erika sambil menitikkan airmata. “Apa kamu pikir kepulangan aku ke negara ini demi sebuah berita yang gak penting? Aku mau hidup normal, Bumi! Udah cukup waktu di Jepang kami berurusan dengan media. Kenapa kamu bersikap seorang diri? Kenapa kamu gak kasih tau aku dulu? Aku belum siap harus masuk media lagi. Aku pikir hubungan kita bisa kamu tutupi sementara. Kenapa kamu lakuin ini sama aku sekarang?” tanyanya dengan nada kecewa.


“Aku udah pikirin semuanya. Aku berniat buat nikahin kamu nanti. AKu udah janji bakal jagain kamu sama papa kamu.” ucap Bumi.


“Cukup. Jangan bawa-bawa orangtua aku. Wajar kalo papa aku minta kamu buat jagain aku karena aku sendirian disini. Aku kecewa sama kamu..” ucap Erika berat. Iapun berjalan keluar dari apartemen Bumi dan masuk kedalam apartemennya sendiri. Ia menutup pintu dengan kencang dan menguncinya dengan rapat.


Ia tidak pernah terpikir Bumi adalah pria seperti itu. Ia rela mengobral perasaannya demi sebuah penghargaan untuk menjadi lebih terkenal. Lalu manajer Bumi sudah terang-terangan mengatakan tidak menyukainya. Lalu kenapa ia masih bertahan? Ia kini merasa ketakutan. Bagaimana nanti sikap fans Bumi yang tidak menerimanya? Kenapa ia bisa begitu sembrono harus berhubungan dengan seorang artis?


Dilain tempat


“Ma, aku bilang apa. Laki-laki itu gak cukup baik buat kakak.” ucap Vino ketika Sandra sedang berada di taman belakangnya. Ia melihat Vino datang sambil berlari.


Sandra menoleh. “Siapa?”


Sandra melihatnya dan cukup membuatnya marah. “Kamu telepon kakak kamu. Ada dimana dia sekarang? Kita harus susul. Mama takut ada apa-apa” seru Sandra marah.


Selagi Sandra mengganti pakaiannya, Vino mencari tahu dimana kakaknya berada.


Tidak perlu waktu lama untuknya menyetir mobil. Padahal ia membutuhkan waktu satu jam untuk sampai. Vino ada disampingnya dan mobilnya kini sudah berada dibasement apartemen. Vino tadi mencari Erika di rumah sakit tapi menurut resepsionis, kakaknya sudah pulang. Dimana lagi tempat yang aman selain didalam apartemen.


Karena pintu apartemen otomatis, Sandra tidak memerlukan kunci untuk membukanya. Ia masuk diikuti Vino. Mereka masuk dengan cepat. Sandra mencari ke setiap sudut dan tidak menemukan Ojo nya. Ia pun membuka pintu kamar Ojo nya dan menemukan anak gadisnya sedang duduk dipojokan kamar sambil menangis. Ia tidak mengharapkan sesuatu seperti ini terjadi. Bumi sudah kelewatan. Iapun menghampiri anak gadisnya.


“Sayang, kamu baik-baik aja?” tanya Sandra.


Erika menoleh pada ibunya. “Ma.. gimana ini ma?” tanya Erika sambil menangis.


Sandra langsung memeluk Ojo nya erat. Pasti berat baginya karena sudah masuk berita hiburan. Hidupnya tidak akan sama lagi. Kebencian Ojo pada media terjadi ketika mereka berada di Jepang dulu. Keberhasilannya menjadi sutradara film pendek terkenal membuat semua keluarganya terekspos. Ojo selalu takut pada jepretan kamera.


“Kenapa kamu bisa sampai masuk berita? Kenapa media tau kalo kamu pacaran? Ada apa ini?” tanya Sandra.


“Mereka berdua yang bersekongkol ma. Manajer Bumi yang ngirim foto ke wartawan. Dia yang ambil foto kita secara diam-diam.”


“Apa alasan manajer Bumi melakukan itu?” tanya Sandra


“Demi film yang Bumi kerjain sekarang.” jawab Erika sedih.


Terdengar pintu dipukul dengan kencang. Vino berlari keluar. Erika menatap ibunya. “Ma, Vino ma… Kejar ma!” teriak Erika.


Sandra langsung melepaskan pelukannya pada Erika dan berlari mengikuti Vino. Begitu pula dengan Erika. Dengan mata sembab ia ikut berlari keluar. Ketika ia keluar dari pintu apartemennya, ia melihat Vino sudah berada di samping apartemennya. Ia melihat Bumi sudah terkapar di lantai dengan wajah memar. Vino sendiri sudah di pegang oleh ibunya.


“Erika, ajari adik kamu ini sopan santun!” ucap Robby marah. "Besok Bumi ada syuting. Kalo wajahnya biru gini, gimana dia bakal syuting?" tambahnya marah


“Diam kamu! Itu sesuatu yang pantas buat artis kamu! Bukan begini caranya untuk mendapatkan perhatian media!” teriak Sandra sambil menunjuk wajahnya.


“Kamu siapa mengatur kita?” tanya Robby.


Sandra menunjuk wajah Bumi dan Robby. “Dengar kalian! Saya bisa mengatur nasib kalian di industri itu. Kalau kalian menyakiti hati anak saya lagi, kalian harus ingat kata-kata saya. Kalian akan habis!” teriak Sandra marah sambil berjalan keluar dari apartemen Bumi.


Ketika pintu apartemennya ditutup, Erika langsung memeluk ibunya. “Makasih ma..” bisik Erika.


“Iya sayang. Mama pikir hubungan kamu baik-baik aja. Ternyata dia licik juga.”


“Awalnya gak gitu ma. Tapi sejak kemarin sikap Bumi tiba-tiba aneh. Dia ngenalin aku sama manajernya yang nyebelin itu. Dan dia terang-terangan gak suka sama aku”


“Tapi kenapa justru dia memperalat kamu buat naikin popularitasnya Bumi?” tanya Sandra kesal.


Vino menghela nafas dan duduk disofa. “Makanya aku bilang skandal dia itu banyak. Mama yang gak percaya”


Erika menoleh pada Vino. “Skandal apa?”


“Kamu gak pernah nonton berita, kak. Sangat disayangkan.” jawab Vino


“Skandal apa Vin?”


“Dia pernah hamilin perempuan diluar nikah. Emang skandal itu udah kejadian 5 tahun yang lalu. Aku gak tau gimana sekarang. Yang aku baca kayak gitu beritanya." jelas Vino.


Erika terkejut ketika mendengarnya. Hatinya merasa sakit. Ia telah ditipu Bumi jika memang skandal itu benar. Apakah itu skandal yang dikatakan manajer Bumi tadi malam?