Love Actually

Love Actually
Episode 91



Erika membuka matanya perlahan. Ia sadar sedang berada di tempat tidur. Ia lupa apa yang terjadi padanya. Andi. Ia ingat suaminya tadi ada disini. Ia bangun untuk melihat ke sisi tempat tidur. Tidak ada siapapun. Apakah ia berhalusinasi?


Tanpa sadar ia memegang perutnya. Apakah benar ia sedang mengandung anak Andi? Tapi, apakah itu hanya halusinasi saja? Tiba-tiba ia merasa sedih sekali. Ia pikir, ia sedang mengandung. Padahal ia senang sekali. Ia mulai terisak.


"Loh, kenapa nangis?" tanya Andi yang masuk sambil membawakan nampan berisi makanan.


Erika mengangkat wajahnya. Ia tidak berhalusinasi. Suaminya ada didepannya. Ini nyata. Tapi kenapa ia tidak ingat apapun setelah membuka hasil tes tadi?


Andi terkejut ketika mendengar isakan dari dalam kamar. Ketika Erika membuka hasil test tadi, ia pingsan. Mungkin karena shock. Hal itu membuat Andi cemas. Ia takut dengan pingsannya Erika, akan berpengaruh pada bayi dan istrinya. Tapi menurut dokter yang memeriksanya tadi, istrinya itu hanya shock.


Sejak mengetahui hasil test itu, ia tidak henti bersyukur. Ia bersyukur karena menikah dengan Erika. Kebahagiaan ini tidak dapat dibeli oleh apapun. Ia bahkan tidak sabar ingin menyampaikan kabar bahagia ini kepada semua orang. Sebelum istrinya test pagi ini, ia sering melihat istrinya terlihat tidak bersemangat. Ia begitu khawatir sampai tidak bisa tidur. Untuk itulah ia cepat-cepat pergi ke Brussel untuk memastikan. Ternyata sesampainya disini, ia mendapatkan surprise yang tidak terduga.


Ia menghampiri Erika.


"Kenapa Jo, kamu udah sadar?" tanya Andi. Ia menyimpan nampan berisi makanan di atas meja nakas. Kemudian ia duduk disamping istrinya. Ia mengangkat jari-jarinya untuk merapikan rambut terlihat acak-acakan itu. "Kenapa?" tanyanya lembut.


Dengan mata sedikit sembab dan hidung merah, Erika menatap Andi. "Aku kenapa?"


"Kamu tadi pingsan waktu buka hasil test tadi pagi."


"Hasil tes? Jadi aku gak halusinasi?" tanya Erika bingung.


"Enggak, Sayang. Kamu lagi hamil. Selamat ya.." ucap Andi.


"Aku hamil?" tanya Erika lagi. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Kamu hamil. Iya, aku mau jadi seorang ayah. Dan kamu mau jadi seorang ibu. Aku gak tau lagi harus ngomong apa Jo. Aku bahagia denger kamu hamil." ungkap Andi.


Erika memegang perutnya. "Aku hamil?" bisiknya.


Andi menatap wajah bingung istrinya sambil tertawa. Ia menarik bahu Erika dan memeluknya. "Kita harus kasih tau keluarga kita. Mereka pasti seneng."


Erika melepaskan pelukan suaminya. "Kita belum baikan. Aku belum maafin kamu karena baru sekarang dateng kesini."


Andi merasa lucu. Ia tidak peduli elakan istrinya. Ia tetap memeluknya. "Aku milik kamu Jo sebulan ini. Kita mau kemana buat ngerayain kehamilan kamu?"


"Sebulan?"


"Iya. Karena kerjaan di London udah selesai, aku sekarang bebas. Aku temenin kamu kemana pun kamu mau. Kita gak akan pisah lagi, Jo. Gak enak bangun tidur gak ada kamu." ungkap Andi jujur.


"Janji dulu sama aku."


"Aku janji."


"Jangan pernah menghubungi Jane duluan. Trus Aku gak mau kamu terlalu dekat sama perempuan yang ada di sebrang kantor kamu."


Andi tertawa. "Itu sekretaris aku, Jo. Tapi tenang. Aku udah gak kesana lagi kok. Kerjaan aku udah selesai semua."


Erika mengangkat kedua tangannya dan melingkarkan keduanya dileher Andi. "Prince.. aku gak tau gimana menggambarkan perasaan aku sekarang. Aku seneng karena kabar baik hari ini. Aku juga seneng karena kamu ada disini. Aku gak akan kesepian lagi." ucap Erika manja.


"Jadi sebenernya dua minggu sebelum ke Brussel, kamu pergi ke mana?"


"Aku ke Paris ketemu Cilla." jawab Erika tanpa melepaskan pelukannya.


"Cilla? Tapi dia gak ngomong apa-apa sama aku?" tanya Andi bingung.


"Aku yang minta dia gak ngomong sama kamu. Tapi Cilla baik. Dia mau nemenin aku disana padahal dia sibuk banget."


"Jo, Cilla kan sepupu aku. Kenapa dia lebih denger ucapan kamu daripada aku sendiri?"


Erika tersenyum. "Karena kita sama-sama wanita."


Mendengar jawaban itu, Andi tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Dilain tempat.


"Mama gak akan ijinin kamu keluar dari rumah ini sebelum kamu menikah!" seru Sandra.


"Mama gak bisa gitu. Aku udah pegang kerjaan punya papa. Aku mau pindah rumah pokoknya!" seru Vino sambil berjalan keluar dari rumahnya.


"Vino! Mama gak akan bukain pintu buat kamu malam ini." seru Sandra kesal.


"Terserah. Vino gak akan pulang kok. Vino mau ke rumah Dimas." jawab Vino sambil berjalan menuju parkiran mobilnya.


Sandra kesal. Sejak Erika pergi keluar negeri, ia tidak pernah berhubungan baik dengan anak laki-lakinya itu. Mungkin karena ia tidak dekat karena ketika di Jepang dulu Vino lebih sering menghabiskan waktunya dengan Erika.


Ah, ia ingat belum menghubungi Erika seminggu ini. Ia mengambil handphonenya dan melakukan video call. Cukup lama Erika mengangkat telepon.


"Halo ma.." jawab Erika sambil melambaikan tangannya.


"Kamu sama Andi disitu?" tanya Sandra.


Erika menggeser kameranya dan memperlihatkan Andi yang sedang tidur disampingnya.


"Maaf mama ganggu ya. Di sana tengah malem?"


"Gak apa-apa ma. Kenapa? Mama apa kabar?"


"Mama baik, Jo. Mama kesel sama adik kamu."


"Kenapa?"


"Tadi Vino bilang mau pindah rumah ke rumah yang ada di atas."


"Trus aku harus gimana?"


"Tolong kasih tau adik kamu. Jangan tinggalin mama sama papa. Kita kesepian Jo."


"Gak bisa ma. Vino udah dewasa. Dia berhak mengatur hidupnya sendiri. Lagian Vino kan udah punya pacar seorang model."


"Apalagi model. Mama gak akan ijinin dia pacaran sama model. Mama tau semua kehidupan model seperti apa.. Mama terjun di dunia hiburan itu bukan setahun atau dua tahun."


"Ya ma. Aku tau. Nanti aku bilang Vino."


"Jo.. kamu punya temen atau siapapun yang bisa dikenalin sama Vino?" bisik Sandra.


"Emang mama mau ngapain?"


"Liat adik kamu nyebelin gitu, mama berencana jodohin aja. Biar dia tahu rasa kalo mama sama papa gak setuju dia pacaran sama model."


"Mama mau ngikutin jejak aku. Waktu itu jodohin aku sama Andi. Sekarang mama mau jodohin Vino sama siapa lagi?"


"Perjodohan kamu sama Andi itu niat awal dari mama Alena. Bukan mama langsung."


"Ya sebenernya sama aja." jawab Erika sambil tertawa.


"Kalo Vino harus mama sendiri yang atur."


"Kalo gitu mama harus ijinin Vino buat pindah."


"Menurut kamu bagus ya Jo?"


"Kasih kesempatan ma."


Sandra menghela nafas. "Oke. Mama coba ide kamu. Ngomong-ngomong mama kayaknya mau susul kamu ke London."


"Jangan ma. Biar kita aja yang pulang. Lagian kita berdua punya surprise yang bikin mama seneng." ucap Erika. Ia dapat membayangkan bagaimana wajah kedua ibunya saat mengetahui jika dirinya saat ini sedang hamil?


"Kalo gitu mama tunggu kamu aja." ucap Sandra sambil menutup teleponnya.