Love Actually

Love Actually
End



Apapun yang ia lakukan, ia tidak ingin mencari simpati orang-orang. Ia hanya ingin memberikan sesuatu yang tulus pada anak gadis yang ia lihat di handphone wanita disampingnya. Ingin sekali ia meninju wajah pria yang menjadi ayahnya. Ia ingin mencabik-cabik wajah pria itu. Ia kesal dan marah. Ia tidak peduli pada perasaannya saat ini. Ia memikirkan bagaimana gadis kecil itu hidup tanpa seorang ayah. Usianya sudah balita. Memikirkannya saja membuatnya sakit hati. Tega-teganya Bumi melakukan itu.


Ketika awal bertemu, ia pikir Bumi adalah seseorang yang normal. Ia tidak mengenal Bumi sebagai seorang artis. Ia hanya tahu Bumi adalah tetangganya yang baik. Pekerjaannya yang hanya seorang penyanyi offline tidak membuatnya ketakutan. Begitu pula ketika Bumi mengajaknya menjalin hubungan yang lebih serius. Ia tidak pernah punya pikiran aneh dan langsung menerimanya saat itu. Apakah karena ia begitu bodoh lalu bisa ditipu oleh Bumi? Pantas saja Bumi tidak mau memberitahunya tentang privasinya.


Bodoh. Hanya kata itu yang cocok untuknya saat ini. Ia mengepalkan tangannya. Ia melirik wanita disampingnya. Saat ini ia sudah berada di lift dengan tangan tidak pernah ia lepaskan dari wanita disampingnya. Kenapa ia terlihat takut? Kenapa ia tidak menuntut apapun pada Bumi?


Ketika pintu lift terbuka, ia menarik lengan wanita itu. Terasa sekali olehnya, jari-jari wanita itu menekan tangannya dengan kuat.


"Hari ini semuanya biar aku yang beresin. Kamu tenang aja." ucap Erika yakin.


Ketika mereka sudah berada didepan pintu apartemen Bumi, ia menekan bell beruang kali. Dan saat terbuka, Robby yang ada dibalik pintu. Ia menatapnya dengan wajah sinis. Ia teringat hari dimana seorang Robby diancam ibunya untuk tidak bertindak macam-macam. Ia sedang menatap wanita di belakangnya dengan mengerutkan keningnya. Ia semakin yakin jika Robby tidak mengenal wanita ini.


Erika langsung masuk tanpa Robby suruh. Ia dan Manda duduk di sofa tamu. "Panggil artis kamu!" ucapnya sinis. Ia akan menyelesaikan hubungan dengan pria-pria itu hari ini. Gara-gara kedua pria ini, ia kehilangan pekerjaan. Walaupun ia sendiri yang mengajukan pengunduran diri. Semuanya berawal dari ide busuk kedua pria itu.


"Apa hak kamu suruh aku? Kamu siapa?Jangan karena mama kamu yang aku juga gak tau siapa dia, ngancam-ngancam gak jelas seolah dia tau semuanya tentang bisnis ini" tanya Robby marah.


Erika berdiri dengan cepat dan berjalan menuju ruangan yang tertutup itu. Ia bukan mengetuknya. Tapi ia melakukan hal yang lebih extrem. Ia memukul pintu kamar Bumi dengan vas bunga yang ada di meja samping kamarnya.


Sebuah tangan menarik lengannya. Robby mendorong tubuhnya hingga terhuyung ke belakang. Tapi Erika tidak mau kalah. Ia membanting vas bunga yang sedang dipegangnya. Suara kaca pecah terdengar menggema diseluruh ruangan. Ia marah besar. Ia tidak pernah semarah ini sebelumnya. Ia menoleh pada Manda yang terlihat ketakutan.


"Bumi! Keluar!" Teriak Erika.


Tak lama Bumi keluar dari kamar dengan wajah kusut. Ia terkejut melihat Erika.


"Sayang! Aku susah banget ngehubungi kamu dari kemarin. Maafin aku! Aku memang salah. Aku bisa konferensi pers kalo itu yang kamu mau" Ucapnya sambil berjalan mendekatinya.


Erika mundur sambil mengangkat tangannya untuk memintanya berhenti.


"Kenapa?" Tanya Bumi bingung.


Erika menggelengkan kepalanya. Di wajah Bumi masih terlihat bekas pukulan adiknya. Tapi ia merasa seorang Bumi masih tetap tidak tahu malu dan menganggap kejadian dua hari yang lalu tidak ada apa-apa.


Bumi berjalan untuk melihat siapa yang sedang duduk di sofa. Tiba-tiba wajahnya berubah. Ia terkejut dengan tamu yang datang. Ia menatap Erika.


"Manda?" Tanya Bumi. Ia terdiam di tempat. Kemudian ia menatap Manda yang sedang menunduk. Ia bahkan tidak mau melihatnya saat ini.


"Kenapa gak mau deketin istri kamu?Eh, Itu istri kamu kan? Kamu malu karena merasa bersalah? Kamu takut disebut pria yang gak punya tanggung jawab?" Ejek Erika. Ia menoleh pada Robby dan menatapnya tajam.


"Kamu mau jadi pahlawan dengan bawa istri Bumi kesini?" Tanya Robby marah. Iapun terlihat masih terkejut ketika tahu wanita yang dibawa oleh Erika adalah istri Bumi.


Erika langsung menunjuk wajahnya. "Heh, jaga mulut kamu! Aku bukan mau jadi pahlawan. Aku mau mengembalikan kewajiban seorang ayah pada anaknya!" Teriak Erika. Ia kemudian menatap Bumi. "Bumi, anak kamu itu cantik. Dia mirip sama kamu. Kamu gak nyesel udah tinggalin dia?" Tanya Erika sedikit melunak. Ia melihat reaksi datar Bumi. "Bumi! please. Apapun yang terjadi sama kalian berdua, please lihat anak kalian. Anak kamu masih kecil, dia masih butuh perhatian kedua orangtuanya." ucap Erika sedih.


Bumi duduk di sofa. Hanya berjarak satu meter dari tempat Manda duduk. Ia memegang kepalanya dan menunduk. Ia bingung.


Erika menghampiri Manda dan duduk disampingnya. Ia memegang tangan Manda dengan erat.


"Tolong maafin aku Manda, aku gak tau kalo selama ini aku pacaran sama suami orang lain. Tolong maafin karena ketidaktahuan aku." bisik Erika.


"Aku maafin kamu, Erika. Maaf juga karena aku datang saat ada berita itu. Aku gak berani muncul untuk merusak semuanya." ucap Manda.


Bumi menatap Erika. "Trus kita gimana?"


Erika mengerutkan keningnya. "Kita? Tentu aja berakhir. Sejak muncul berita itu, aku udah menyerah sama kamu, Bumi. Kamu dan manajer t**ol kamu itu udah merusak semuanya." ucapnya sambil menatap Robby yang masih terdiam disudut ruangan.


"Kamu gak cinta sama aku?" tanya Bumi seakan tidak rela dengan ucapan Erika.


"Aku nyaman sama kamu. Tapi aku pikir itu bukan cinta." jawab Erika sambil berdiri. Iapun berjalan menuju pintu. "Aku udah gak peduli sama berita-berita diluar sana tentang aku. Aku harap kamu menyelesaikan semua masalah kamu sama istri kamu. Aku udah hancur gara-gara kamu!" tambahnya sambil membuka pintu. Iapun keluar meninggalkan semuanya.


Ia berdiri sejenak didepan pintu. Jari-jarinya belum ia lepaskan dari handle dan menekan besi itu dengan kuat. Tubuhnya bergetar. Ia tidak menyangka bisa melakukannya pada pria itu. Air mata mulai menetes perlahan. Ia hancur. Awalnya ia kehilangan teman, kemudian kehilangan pekerjaan dan terakhir kehilangan kekasih yang tidak pantas ia dapatkan.


Ia berjalan lunglai ke kamarnya. Ia membuka lemari dan mengeluarkan seluruh isinya. Ia akan pergi. Kemanapun kakinya melangkah. Ia ingin sendiri. Ia ingin menenangkan diri. Tidak ada yang dapat mengganggunya.