
Mobil Andi pun masuk ke dalam halaman rumahnya. Ia melihat ibunya tertidur. Malam belum gelap. Ia masih ada waktu untuk pergi dulu. Ibunya akan menunggunya. Ia pikir untuk pergi sebentar. Sudah lama ia tidak menemui teman-teman basketnya di kampus. Saat ini pasti mereka sedang bermain. Basket bisa menghilangkan kepenatannya. Ia dan ibunya tadi sedikit bertengkar ketika diperjalanan hanya karena membahas seorang Ojo. Basket juga bisa membuatnya melupakan kejadian tadi siang. Melihat Ojo nya bersama pria lain sudah cukup untuknya. Ia kesal setengah mati.
"Ma, bangun!" panggil Andi pelan.
Alena membuka matanya. "Udah nyampe?"
"Udah. Andi langsung pergi ketemu temen ya ma. Mama sendirian dulu. Andi gak akan lama kok."
Alena pun bangun dan membereskan tasnya. "Ya, bawain dulu barang mama kedalem." Iapun membuka pintu mobil dan berjalan masuk kedalam rumah. Dari arah pintu, ia melihat pembantu mereka keluar dengan tergesa-gesa.
Andi keluar dari mobil dan membuka pintu bagasinya. Ia mengeluarkan barang-barang milik ibunya.
"Bi, bawa kedalem. Jangan langsung dibawa semua. Berat!" ucap Andi.
"Iya. Bibi bawa sedikit-sedikit." jawab pembantu nya sambil tersenyum. Senakal-nakalnya Andi, ia masih terlalu perhatian pada pembantunya.
Setelah selesai, iapun masuk kembali ke dalam mobil. Ia menatap jam tangannya, pukul 6.30 malam. Ia akan memberikan surprise pada teman-temannya nanti. Hampir satu bulan ia tidak bertemu mereka.
Perjalanan menuju kampusnya hanya 30 menit dari rumahnya. Iapun memparkirkan mobilnya berdampingan dengan mobil-mobil temannya. Ia turun dan mengeluarkan tasnya. Tas itu selalu siap di mobilnya. Pakaian basket, sepatu ganti dan peralatan mandi sudah ia siapkan dalam satu tas. Iapun berjalan setelah melihat semua perlengkapannya sudah siap.
Gerbang kampusnya tertutup. Ia langsung memanjatnya dengan mudah. Sama seperti yang suka ia lakukan jika gerbangnya ditutup. Ia melihat suara teman-temannya yang berteriak. Ia penasaran, iapun mendekati mereka.
"Heh, kalo main ngajak-ngajak." seru Andi sambil melemparkan tasnya.
Orang-orang itu berhenti. Mereka melihat Andi dengan tatapan terkejut. Mereka senang karena kaptennya telah kembali.
"Di! Kita pikir kamu udah gak inget kita lagi." seru salah satu dari mereka.
"Mana Harajuku yang biasa kamu bawa? Yang dandanannya norak itu?"
Tentu saja mereka bertanya tentang Ojo, pikirnya. "Lagi pacaran sama orang." jawabnya jengkel. Iapun melihat semuanya. Masih kurang satu orang. Rico. Dimana Rico?
"Rico kemana?" tanya Andi.
"Lagi pacaran tuh diruang ganti." jawab mereka.
Andi mengerutkan keningnya. "Pacaran? sama siapa?"
Ia melihat beberapa orang menunduk. Mereka sedang menyembunyikan sesuatu. Iapun mengambil kembali tasnya. " Aku ganti dulu sekalian mau liat siapa pacar Rico."
Mereka seperti tidak mendengarkan karena melanjutkan kembali permainan mereka. Iapun berjalan menuju ruang ganti. Baru saja sampai didepan ruangan, ia mendengar seorang wanita sedang menangis. Samar-samar ia mendengarkan ucapan wanita itu
"Aku cinta kamu tapi aku juga gak bisa lepasin dia. Aku harus gimana?Hubungan kita udah lama banget dibanding dia"
Andi tidak bisa melihat dengan jelas siapa wanita itu. Suaranya kecil tapi ia masih bisa mendengarnya. Iapun berkeliling untuk mencari jendela yang terbuka. Ada jendela terbuka tak jauh darinya, iapun menengok.
Kedua matanya terbelalak melihat pemandangan didepan matanya. Jane..Tidak, kekasihnya. Ia sedang menangis didalam pelukan Rico. Ia menutup matanya dan membukanya kembali. Jane sedang menangis di pelukan Rico. Apakah ia tidak salah melihat?
Andi menatap Jane marah. "Permainan kamu sama sekali gak cantik, Jane.."
"Andi, aku bisa jelasin sama kamu." jawab Jane. Ia terlihat takut. Ia menangis. Hidungnya merah seperti tomat. Matanya pun merah karena menangis.
"Oke, jelasin!" jawab Andi. Hatinya sakit. Tentu saja. Melihat kekasihnya menangis di pelukan pria lain yang notabene adalah sahabatnya sendiri, rasanya seperti ditembak oleh martil dengan beberapa kali tembakan.
Rico menghampiri Andi. Ia terlihat bersalah. "Aku bisa jelasin semua." jawab Rico.
Andi meninju wajah Rico hingga terpental ke locker yang tak jauh darinya. Ia benar-benar keras meninjunya. "Aku gak butuh penjelasan dari kamu!"
Rico memegang bibirnya yang mulai mengeluarkan darah. Ia meringis kesakitan. Jane pun terlihat shock. Ia langsung membantu Rico berdiri.
"Andi, please denger dulu penjelasan aku." ucap Jane sambil menangis.
"Jelaskan sekarang!" teriak Andi.
Jane memegang kedua tangannya. Bibirnya bergetar. Ia ingin memulai bicara, namun sulit. Ia menangis kembali dengan nada sedikit sesak. Andi tidak pernah melihatnya seperti itu sebelumnya. Ia mulai berfikir, mungkin menyakitkan bagi Jane.
"Maafin aku Andi. Aku cinta sama kamu, tapi aku juga cinta sama Rico. Aku gak bisa milih diantara kalian." Isak Jane.
"Sejak kapan kalian main dibelakang?" tanya Andi tajam.
"Sebenernya aku pacaran sama Rico sejak kuliah dulu. Tapi kami berdua gak sesumbar pasangan lain. Kami sudah berniat menikah. Kedua orangtua kami sudah bertemu. Tapi, waktu itu..." ucap Jane tertahan. Ia menunduk. "Waktu itu, aku sama Rico putus karena Rico bilang belum siap buat menikah. Dari situlah kami putus sementara. Seminggu ini, Rico datang kembali dan melamar aku langsung ke hadapan kedua orangtua aku. Rico gak tau tentang hubungan kita. Dia baru aku kasih tau hari ini tentang kita."
"To the point. Kamu pilih siapa?" tanya Andi sambil menahan sakit di dadanya.
Jane menutup wajahnya. "Aku gak bisa milih diantara kalian."
Andi menghampiri Jane. " Pilih salah satu dari kami!"
Jane menatap Rico lama. Andi langsung tersenyum getir. Ia sudah tahu jawabannya. Iapun membalikkan kembali badannya. "Selamat tinggal Jane. Aku harap kamu bahagia sama Rico." ucapnya.
"Thank you, Di!" teriak Rico.
Andi merasa tubuhnya melayang. Dalam satu hari ia mendapatkan dua kali serangan terhebat dalam hidupnya. Ia pun kembali ke parkiran tanpa berpamitan dahulu pada teman-temannya. Ia terdiam cukup lama didalam mobil. Tiba-tiba ingatannya langsung pada Ojo nya. Siapa lagi yang akan mendengar keluh kesahnya selama ini?
Ia memang tidak tahu dimana Ojo nya tinggal. Tapi kemungkinan ia tinggal dekat dengan rumah sakit tempat kerjanya. Mudah-mudahan Ojo mau mendengarkan curahan hatinya malam ini. Ia berharap bisa menemukan Ojo. Dimana pun ia berada.
Sudah hampir 15 menit ia meninggalkan kampusnya. Mobilnya pun sudah melewati rumah sakit. Mobilnya ia gunakan dengan kecepatan sangat rendah. Matanya melihat ke kiri dan kanan. Ia fokus ingin menemui Ojo. Tiba-tiba ia melihat Ojo sedang berjalan menuju sebuah apartemen seorang diri. Ia jadi tahu dimana ia tinggal. Dengan cepat ia menghentikan mobilnya.
Ia keluar dari mobil cepat. Ia tidak tahan untuk menceritakan semuanya pada Ojo. Semua sakit hatinya. Ya, beberapa saat yang lalu ia baru saja merasakan patah hati. Namun, langkahnya terhenti dengan cepat. Pria yang tadi siang menjemput Ojo kini berada disampingnya. Mereka berdua saling berpandangan dan kemudian berpelukan. Ojo terlihat bahagia.
"God!" bisik Andi lemas.