
Sandra sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya pagi ini. Sejak pagi buta ia sudah diam di dapur untuk membuat makanan kesukaan Calvin. Sejak menikah dulu, ia jadi sering membuat makanan sesibuk apapun ia. Semalam Alena menghubunginya tentang perkembangan anak-anak mereka. Sejak awal ia tidak mau memaksakan keinginan Alena walaupun ia sedikit terperosok pada keinginan sahabatnya itu. Ia memikirkan perasaan Erika. Anaknya seorang wanita. Ia terlalu polos untuk disakiti. Ia tidak tahu rasanya sakit hati karena pria.
Sandra menyimpan kedua tangannya diatas tempat cuci piring. Ia memikirkan sesuatu. Sejak Erika kecil hingga dewasa, ia selalu menjaganya agar tidak terluka. Rasanya egois, bagaimanapun manusia ada saatnya sakit hati. Tapi ia tidak mau anaknya merasakan hal itu. Hubungan antara keluarganya dengan keluarga Alena terjalin dengan sangat baik. Apa yang harus aku lakukan? Bisiknya pelan.
"Kenapa?" Tanya Calvin yang memeluknya dari belakang.
Sandra berbalik dan melepaskan tangan Calvin. "Nanti ada Erika. Malu."
Calvin tersenyum. "Kenapa? Kita kan orangtua dia. Emang salah kalo kita mesra?"
"Gak salah tapi momennya gak pas. Aku lagi mikirin sesuatu." Ucap Sandra sambil berjalan ke arah oven.
Calvinpun duduk di meja makan. Ia membuka koran yang sudah tersimpan diatas meja. "Aku yakin kamu lagi mikirin Erika. Kenapa?" Tanya nya.
Sandra duduk disamping Calvin. "Ini soal anaknya Alena." Ucap Sandra pelan.
Calvin membuka koran dan membacanya. Ia seakan tidak peduli padahal ia mendengarkan perkataan istrinya. "Kenapa? Soal perjodohan itu?"
Sandra terkejut. "Kamu tau?"
"Aku tau semuanya. Dave cerita sama aku. Alena memang antusias banget mau jadi besan kita." Jawab Calvin santai.
"Kamu setuju?"
"Tergantung anak-anak. Udah bukan jamannya dijodohkan."
Sandra mengangguk.."Aku juga dari awal pikir gitu. Aku lega. Ternyata pikiran kita sama soal anak kita."
"Makanya aku nikahin kamu. Kita bisa bertahan sampai sekarang karena kita kompak." Jawab Calvin.
Sandra langsung memeluk Calvin. Ia tertawa.
Erika membuka matanya. Sudah pukul 7 pagi. Iapun turun dari kamarnya. Dari tangga ia bisa mencium wangi kue buatan ibunya. Ketika masuk ke ruang makan, ia melihat ayahnya dan ibunya tampak serius melihat koran pagi ini.
"Ma!" Panggil Erika.
Sandra mengangkat wajahnya. Ia melihat Erika datang dengan wajah kusut, rambut dan pakaian acak-acakan. Ia menghela nafas dan menutup matanya. Untung saja anaknya diberkati dengan wajah cantik. "Aduh, Ojo... malu dong keluar kamar acak-acakan gitu.." protes Sandra.
"Aku inget sesuatu." Jawab Erika sambil menghampiri ayahnya. Ia memeluk ayahnya dengan erat. "Pah, minta uang!" Rengeknya.
"Buat belanja." tambahnya.
Sandra langsung menatap Erika. "Belanja apa?"
"Baju sama sepatu sama ke salon." Jawab Erika santai.
"Ini anak mama bukan?" Goda Sandra.
"Ih mama. Aku bener anak mama." Rengek Erika.
"Sejak kapan kamu mau belanja? Trus ke salon? Gak salah?" Tanya Sandra bingung.
"Beneran. Aku malah mau minta anter mama ke mall."
"Jadi ini hasil tiap malem kamu pergi sama Andi?" Tanya Calvin.
Erika melepaskan tangannya. "Gak ada hubungannya pah." ucapnya bohong.
"Ada hubungan juga gak apa-apa kok.." goda Calvin.
Sandra menatap wajah Erika. Ada sedikit perubahan pada wajah Erika. Ia terlihat malu.
"We're just friend, pah." Elak Erika sambil berjalan kembali ke kamarnya. Ia pun berteriak
"Pokoknya aku minta uang, kalo enggak aku pulang lagi ke Jepang!" Ancamnya.
Ia melihat Erika berlari dengan terburu-buru keluar. Seperti biasa. Dengan pakaian anehnya. Tapi ia tidak menolaknya. Ia tersenyum melihat Erika. Baru beberapa hari saja berteman, rasanya ia nyaman. Ia bisa menceritakan semuanya tanpa ia sembunyikan sedikitpun.
Ketika pintu terbuka, Erika protes tapi ia langsung mengangkat tangannya. "Protesnya nanti aja. Kita pergi makan-makan! Aku udah ijin Tante Sandra." Ucap Andi.
Erika masuk kedalam mobil dan merekapun pergi.
Tidak memerlukan waktu lama untuk mereka sampai ke tempat tujuan. Andi melihat teman-temannya sudah berkumpul di sebuah cafe ketika mobilnya memasuki cafe. Teman-temannya sudah berkumpul di lantai atas. Ia bisa melihatnya dengan jelas ketika parkir mobil.
Erika menatap tipe cafe yang saat ini ia dengar sedang ramai dibicarakan itu. Isinya rata-rata anak muda. Ia memegang kemeja Andi ketika masuk kedalam. Baru kali ini ia dibawa Andi ke tempat seperti ini.
"Awas kesandung. Jangan norak ah!" Ucap Andi.
Erika langsung melepaskan tangannya. Ia tersenyum malu.
"Hey!!" Teriak Andi ketika ia dan Erika menghampiri teman-temannya.
Beberapa pria yang sempat Erika lihat di GOR itu melihat mereka berdua
"Di, kirain gak akan dateng!" Seru salah satu dari mereka. Ia terlihat tampan dimata Erika.
"Pasti dateng kalo acara makan-makan. Apalagi aku bawa orang yang seneng makan" jawab Andi sambil melirik Erika.
Wajah Erika merah padam. "Apaan sih, Prince!" Bisik Erika kesal.
Andi menoleh sambil tersenyum. "Bercanda.."
"Jadi ini perempuan yang waktu itu bikin heboh di GOR? Yang dateng dari Jepang itu?" Tanya salah satu dari mereka.
Erika mengerutkan keningnya. Ia menatap Andi untuk menjelaskan apa yang terjadi saat itu. Kenapa ia membuat heboh? Ia butuh jawabannya segera.
Beberapa temannya tertawa. "Sorry. Aku ngerasa lucu kalo liat kamu!"
Erika masih diam. Ia menatap teman-teman Andi yang tertawa dibelakangnya. Iapun menoleh pada Andi. "Aku mau pesen dulu air putih. Tunggu sebentar." Ucapnya sambil berdiri. Ketika ia menjauhi mereka, ia masih mendengar ucapan Andi yang mengancam teman-temannya. Iapun melangkah ke seorang pelayan untuk meminta air putih. Ketika kembali ke meja, ia mendengar mereka sedang membicarakannya. Ia diam sejenak untuk mendengarkan ucapan mereka.
"Dandanannya emang kayak gitu. Aslinya dia itu cantik banget!" Seru Andi.
"Tapi liat Di, atasan sama bawahan gak sinkron. Aku emang gak tau mode, tapi kalo dipake disini kok mencolok banget. Kamu gak malu bawa temen kamu jalan?"
"Ngapain mesti malu." Jawab Andi.
Erika bisa tersenyum dengan lega ketika Andi membelanya. Iapun menghampiri mereka.
"Udah pesennya?" Tanya Andi
Erika mengangguk.
"Eh, itu Jane dateng. Duh, dia makin cantik aja." Ucap mereka.
Andi langsung berdiri. Ia tersenyum ketika melihat Jane datang. ia baru saja turun dari mobil Rico. Mereka melihatnya dari atas. Erika melihat Andi tersenyum. Kali ini ia yakin Andi ada sesuatu pada wanita itu. Sejak awal ia sudah bisa merasakannya. Iapun akhirnya melihat Jane datang dengan kedua teman Andi. Ia terlihat sangat cantik. Ia memakai dress diatas lutut berwarna kuning cerah. Sangat kontras dengan kulitnya. Ia melihat dirinya sendiri. Ia memakai jeans kebesaran warna biru lusuh dan keatasan warna hijau emas. Pantas saja teman-teman Andi menertawakannya****.
"Udah lama mama mau ajak kamu ke mall buat ganti baju-baju kamu. Disini beda sama jepang sayang, disini apapun yang kamu pake jadi bahan omongan. Beda sama di Jepang sana." Protes Sandra ketika ia berdiri diantara kedua toko yang akan ia datangi.
"Ya ma, aku udah rasain. Makanya aku mau beli baju baru."
Sandra langsung menoleh pada Erika. "Kamu diketawain? Sama siapa? Andi?" Tanya Sandra cepat.
"Sama temen-temennya. Andi gak malu jalan sama aku." Jawab Erika.
"Sama siapapun kamu diketawain, kita buktikan nanti. Kita bikin temen-temen Andi menyesal. Kita habisin uang papa!" Seru Sandra bersemangat.
Erika awalnya merasa sedih, tapi mendengar ibunya mengatakan hal itu, ia tertawa. Ibunya adalah temannya nomor satu. Tidak akan ada yang bisa menggantikan ibunya oleh siapapun.