Love Actually

Love Actually
Deserve better



Perjalanan dari Jepang tidak terlalu lancar. Vino harus merasakan delay yang cukup lama untuk sampai di negaranya. Awalnya ia ingin melakukan surprise untuk ibunya. Tapi semuanya gagal. Ia tidak perlu menanyakan alasan pada mereka yang telah menggagalkan rencananya. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, ia keluar dari kamar Erika. Lagipula kakaknya ini aneh. Kenapa ia memilih apartemen dengan satu kamar saja?


Ia melihat Erika dan pria yang ia tidak tahu itu sedang duduk berdampingan di sofa. Sedangkan ibunya sedang di dapur. Pertama kali melihat pria itu, entah kenapa ia merasa malas. Mungkin ia belum siap kakaknya mendapatkan kekasih. Perhatian kakaknya padanya akan berkurang jika ada laki-laki itu. Sedangkan selama ini yang mengerti dirinya hanya kakaknya saja. Bukan ibunya atau ayahnya.


Ia berjalan ke beranda dan membuka jendela kaca. Iapun berdiri di beranda dan melihat suasana kota yang terlihat masih ramai. Ia mengeluarkan handphonenya dan menatap foto-foto yang ia ambil ketika tadi di bandara.


"Cantik." ucap seseorang.


Vino langsung berbalik. Ia melihat pria itu sudah dibelakangnya. Ia langsung menutup teleponnya.


"Pacarnya ya?" tanya Bumi.


"Bukan." jawab Vino dingin.


Bumi mengeluarkan rokoknya dan mulai menyalakannya.


"Rokok gak bagus buat kesehatan. Aku gak ngerokok. Lebih baik kamu matiin rokoknya sekarang." ujar Vino.


Bumi langsung tertawa. "Chicken." ucap Bumi.


Vino langsung menoleh pada pria itu. "Apa maksud kamu?"


"Ya chicken. Kamu itu chicken." jawab Bumi sambil melangkah kembali ke dalam untuk menghampiri Erika dan ibunya yang sudah duduk di meja makan.


Vino mengepalkan tangannya. Laki-laki itu berani mengatakannya chicken. Rasanya ia ingin sekali meninju wajah kekasih kakaknya itu. Ia tidak akan memaafkannya sampai kapanpun karena telah memanggilnya chicken.


Setelah makan malam berakhir, Erika mengantar Bumi keluar. Vino melirik kesal. Ia marah melihat pria itu.


"Kenapa?" tanya Sandra. Sejak makan malam yang terlambat tadi, ia melihat kejanggalan pada wajah anaknya. Ia tidak terlihat menyukai Bumi.


Vino menatap ibunya. "Gak apa-apa." jawabnya.


Terdengar pintu kembali terbuka. Erika masuk dengan wajah girangnya. Ia kembali duduk di meja makan.


"Ma, papa sampe Brussel kapan?" tanya Erika.


"Mama gak tau. Besok pagi mama hubungi papa kamu. Mudah-mudahan Om Dave baik-baik aja." jawab Sandra.


Vino hanya menatap ibu dan kakaknya.


Erika tersenyum. "Temen kakak." jawab Erika


Vino mengerutkan keningnya. Ia menatap kakaknya tajam.


"Oke. Iya, Bumi itu pacar kakak. Ada yang salah?" tanya Erika.


"Aku gak suka. Dia bukan laki-laki baik." jawab Vino tajam.


Erika menatap cemas pada ibunya.


Sandra memegang pundak Vino. Ia tersenyum pada Erika. "Saking sayangnya Vino sama kamu. Dia takut kasih sayang kamu terbagi."


Erika tertawa. "Gak mungkin lah Vino sayangku, mau gimanapun kakak tetap memprioritaskan kamu. Kamu gak ada duanya."


"Mudah-mudahan bukan cuma di bibir aja." jawab Vino dingin.


Sandra menatap Erika. "Jo!" panggilnya.


Erika menatap ibunya. "Ya ma?"


"Kamu bahagia pacaran sama Bumi?" tanya Sandra.


"Ya. Untuk saat ini Ojo bahagia. Bumi bisa membuat Ojo merasa berharga. Bumi bisa membuat Ojo merasa jatuh cinta lagi. Bumi bisa membuat Ojo melupakan sakit hati Ojo." jawab Erika dengan nada bahagia.


Sandra menghela nafas. "Secepat itu Jo?"


"Mungkin. Yang pasti aku bahagia sama Bumi." jawab Erika.


"Kamu tau kalo mama sangat perhatian sama perasaan kamu. Mama senang kamu bisa mendapatkan pengganti Andi lebih cepat dari dugaan mama. You deserve better, sayang. Tapi, kamu juga harus tetap hati-hati. Dunia bumi itu berbeda jauh sama kamu. Kamu harus siap dengan setiap resikonya. Tadinya mama pikir kamu dapet pacar seorang dokter atau pengusaha gitu." goda Sandra sambil tertawa ringan.


"Ma, Ojo sama Bumi masih baru. Tapi jika suatu hari nanti Ojo harus mendapatkan resiko atas hubungan ini, Ojo siap dengan konsekuensinya." jawab Erika sambil memegang tangan ibunya. Sandra hanya tersenyum. Sepertinya Ojo nya sudah tergila-gila pada public figure itu. Ia hanya berharap Bumi memperlakukannya dengan baik. Karena ini adalah pertama kalinya Erika mendapatkan kekasih. Rasanya aneh jika ia menginginkan yang terbaik untuk anaknya dalam masalah percintaan. Tapi itulah yang terjadi. Ia terlalu peduli dengan Erika Ojo.


Vino menatap kedua wanita disampingnya. Kemudian ia berdiri. Wanita memang aneh, pikirnya. Iapun berjalan dan duduk di sofa. Ia menyalakan televisi. Ia penasaran dengan sosok pria yang menjadi kekasih kakaknya.


"Vin, ada Bumi di acara talkshow." seru Erika.


Vino langsung mencari acara dimana Bumi tampil. Ia sangat penasaran dengan sosok Bumi. Iapun melihat wajah Bumi ada disalah satu acara televisi. Ia sedang mewawancarai seseorang. Tak lama iapun mematikan televisi dan berjalan ke kamar Erika. Ia mengeluarkan tab dari tasnya dan mulai melakukan pencarian tentang pria itu. Ia masih tidak terima dipanggil chicken oleh pria itu. Ia akan melakukan pembalasan secepatnya.