
Alena mencari keberadaan Erika yang tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya. Ia berkeliling rumah sakit untuk mencari Erika. Sayangnya ia tidak memiliki nomor handphone yang bisa dihubungi. Ia melihat petugas keamanan yang berjaga di depan pintu keluar. Iapun menghampirinya. Belum berkata, petugas itu nampak kebingungan.
"Pak, saya cari anak saya yang perempuan. Waktu tadi diruangan ini, dia sama saya terus." Ucap Alena.
"Iya tadi ada anak ibu yang laki-laki gak bisa masuk kedalam, jadi anak perempuan itu keluar. Saya gak tau mereka kemana."
"Andi?"tanya Alena.
Pria didepannya hanya mengangguk.
Alena berbalik dan berjalan pelan. Karena acara tadi, ia sempat terlupa sudah meminta Andi untuk datang. Iapun mengeluarkan handphonenya.
Erika menatap hidangan yang sudah ia pesan tadi. Ia dan Andi berada di kantin rumah sakit. Ketika ia kebingungan tadi untuk membawa Andi kemana, Andi malah membawanya ke kantin rumah sakit. Ia sempat kebingungan ketika melihat banyaknya menu makanan yang disediakan. Berhubung ia baru pindah, ia belum banyak mencoba makanan disini.
Andi tersenyum melihat antusias wanita didepannya ketika melihat makanan. Ia menopang wajahnya dengan satu tangannya. Erika Ojo adalah salah satu wanita paling cantik yang pernah ia temukan. Melihat wajahnya tidak pernah bosan sedikitpun. Ia memiliki bulu mata lentik yang tidak perlu dibuat-buat, bola mata coklat terang dan alis yang sudah terbentuk dengan sempurna tanpa harus ia pergi ke salon. Ia pikir matanya memakai softlens. Ia belum pernah melihat bola mata seterang itu. Kemudian rambut panjangnya menambah indah ciptaan Tuhan didepannya ini. Pakaiannya? Jangan pernah katakan bagaimana ia berpakaian. Hanya satu kekurangan wanita didepannya. Ia terlalu cuek dalam memakai pakaian.
Erika melirik ketika Andi sedang melihatnya. "Apa?" Tanyanya dengan mulut penuh makanan.
Andi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Matanya yang bulat dan penuh itu menatapnya. Ia merasa lucu, pertemuan kedua mereka tidak berjalan mulus. Tapi kenapa hari ini mereka sudah seperti sahabat lama? Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Ibunya menghubunginya.
"Ya ma.."
"Kalian ada dimana? Cepet ke kantor mama.."
"Oke!" Jawab Andi cepat.
Andipun berdiri dan mengeluarkan dompetnya. "Jo, kita ditungguin mama."
Erika berdiri. "Ya, aku udah beres kok. Bayarin ya, uang aku masih berbentuk Yen. Aku belum tuker." Ucapnya sambil berjalan meninggalkan Andi.
"Dasar Ojo! Kalo gak cantik aku gak mau bayarin!"umpat Andi.
"Untungnya aku cantik. Jadi kamu bisa bayarin aku terus." Jawab Erika pelan.
Setelah membayar di kassa, Andi berlari mengejar Erika. Merekapun berjalan menuju ruangan ibunya.
Ketika pintu diketuk, ia mendengar ibunya menjawab. Andi membuka pintu pelan. Keduanya langsung masuk kedalam saat ibunya sedang menelpon seseorang. Andi langsung duduk di sofa sedangkan Erika berkeliling ruangan melihat beberapa piagam penghargaan. Ia membacanya satu persatu. Beberapa penghargaan nasional dan internasional tersimpan rapi ditembok ruangan. Ia takjub. Tante Alena bukan dokter biasa saja. Ia sudah diakui. Ia menoleh untuk melihat wanita itu.
Tipe mereka berdua hampir sama. Tante Alena dan ibunya. Mungkin yang lebih agresif dalam suatu hal adalah Tante Alena. Terlihat sekali ia begitu antusias pada misi yang akan ia lakukan. Tiba-tiba ada salah satu piagam yang membuatnya menganga. Ia membaca piagam sekolah dasar orang yang ia kenal hari ini. Bukan piagam yang membuatnya menganga. Tapi nama Andi yang membuat keingintahuannya terusik. Ia ingin sekali tertawa tapi ia tahan. Ia tidak mau mencari masalah.
"Ojo!" Panggil Andi.
"Ya prince!" Jawab Erika sambil menghampirinya.
Andi terlihat terkejut ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Erika.
"Ah, kalian ini bikin Mama seneng aja." Ucap Alena sambil tertawa.
Baik Erika maupun Andi mengerutkan keningnya. Kenapa tiba-tiba Tante Alena mengatakan hal itu?
"Alasannya apa?" Tanya Andi
"Apalagi kalo bukan jodohin kalian." Jawab Alena santai.
"Ah mama, jaman modern kayak gini masih kepikir buat ngejodohin." Elak Andi.
"Loh, apa salahnya dicoba dulu. Lagian keluarga mereka udah deket banget sama kita."
Erika menatap keduanya bingung. Ia harus menetralkan suasana yang sedikit tegang.
"Tante, maaf Tante. Gimana kalo kita ngobrol tentang acara tadi?" Tanya Erika sedikit gemetar. Iapun sama seperti Andi. Terkejut dengan jawaban Tante Alena. Tapi untuk saat ini lebih baik ia membicarakan hal selain perjodohan.
Kedua tangan Erika berkeringat. Tatapannya tertuju pada Andi dan pada Tante Alena. Hal itu membuatnya jadi ingin pulang. Keduanya masih bertatapan dengan dingin.
"Tante, Tante, kasih waktu buat kita. Tapi jangan paksa kita buat terima itu." Ucap Erika pelan.
Alena menatap Erika dan tersenyum. Ia kemudian menatap Andi. "Tuh, denger Erika. Bisa kan ngomongnya enak sama mama." Ketus Alena
Andi hanya diam sambil menoleh ke samping. Erika yang melihat itu langsung menepuk bahunya.
Ketika di mobil, Erika diam seribu bahasa. Ia sesekali melirik Andi yang masih sedikit cemberut. Mata pria itu fokus kedepan.
"Di, please dong udahan cemberutnya."
Andi melirik pada Erika. "Kamu seneng?"
Erika menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan gitu. Aku juga gak seneng. Aku gak nyangka ada ucapan itu dari mama kamu. Gini loh, kita jangan terlalu serius menanggapi ucapan mama kamu. Kita itu masih muda. Perjalanan kita masih panjang. Aku gak tau kedepannya kayak gimana. Aku cuma pikir apa yang aku lakuin hari ini. Udah, cukup. Oke, friend."
Andi tersenyum. "Untung kamu cantik." Jawab Andi.
"Emangnya kenapa?" Tanya Erika bingung.
"Kamu mau ikut grup chat aku? Grup itu khusus cewek-cewek cantik. Semuanya temen aku. Bisa dibilang aku ini pemuja wanita cantik. Tapi masih dalam batasan wajar. Makanya waktu kita ketemu pertama kali ketemu kamu, aku kaget. Ternyata anaknya temen mama cantik." Jawab Andi santai.
"Hah, gila! Grup chat?" Tanya Erika kembali.
Andi mengeluarkan handphonenya. "Buka WhatsApp aku, ada grup namanya cantik." Jawabnya cuek.
Erika mengambilnya dan melihat isi chat yang rata-rata candaan biasa antar teman. Tapi semuanya wanita cantik? Ia melihat anggotanya. Dari atas sampai bawah ia tidak menemukan nama Jane. Ketika ia tutup chat grup, ia melihat nama Jane ada disalah satu chat pribadinya. Ia melirik Andi. Ada apa Antara mereka? Jane, wanita cantik dan anggun itu. Siapa yang menolak pesona Jane? Lagipula mereka sudah kenal lebih lama darinya. Tapi kenapa tiba-tiba ia terfikir soal Jane?
Iapun menyimpan kembali handphone Andi di dashboard.
"Udah belum?" Tanya Andi.
"Aku gak mau. Nanti aja." Jawab Erika tidak bersemangat.