Love Actually

Love Actually
Penjelasan



Menjelang malam.


Erika menghubungi Bumi karena sejak ia pergi, ia belum menghubungi tetangganya itu. Ia berjalan keluar tenda dan duduk di dekat dapur umum.


"Halo, artis baru!" seru Bumi ketika ia baru saja mengangkat telepon.


"Gimana apartemen?" tanya Erika tiba-tiba.


"Aku bilang, selama ada Bumi apapun beres. Lagian aku gak ada kerjaan." jawab Bumi bersemangat. "Oh ya, makanan udah aku habisin. Soalnya aku gak kemana-mana sejak kemarin. Yang ada di lemari es kamu, aku makan semuanya."


Erika tertawa. "Enggak gitu juga, Bum! Aku cuma minta kamu jaga apartemen aku. Bukannya bikin kamu sakit."


"Aw.. so sweet." goda Bumi.


Iapun menutup telepon terlebih dahulu. Ia melihat beberapa orang sedang membuat api unggun. Malam ini udara terasa sangat dingin. Malam terakhir ia berada di desa ini. Pengalaman yang tidak akan pernah ia lupakan. Iapun mengangkat tangannya dan mulai mengambil foto orang-orang yang sedang berkumpul.


"Ehemm.."


Erika menoleh untuk melihat orang yang berdeham di belakangnya. Andi berdiri dibelakangnya dengan pakaian yang berbeda. Tidak seperti tadi siang. Karena kesibukannya tadi, ia melupakan keberadaan Andi.


"Kayaknya seneng banget. Dapet telepon dari siapa?" tanya Andi.


"Bukan urusan kamu." sewot Erika.


"Jo, udah Jo. Aku nyerah. Jangan kayak gini. Aku masih mau jadi temen kamu. Please.." ucapnya dengan wajah tulus.


Erika menghela nafas. "Tapi aku gak bisa. Maafin aku."


"Kenapa?Aku butuh penjelasan. Gara-gara aku pacaran sama Jane? Atau Jane ancam kamu?" tanya Andi.


"Enggak sama sekali. Aku cuma gak mau Jane cemburu sama aku gara-gara kita deket. Wanita mana yang mau liat pacarnya deket sama wanita lain." jelas Erika.


"Gak mungkin Jane cemburu. Dia bukan wanita yang suka cemburu. Dia dukung aku, temen-temen aku. Semuanya dia dukung aku." seru Andi.


"Jo, kamu kerja pun aku gak tau, kamu pindahan juga aku gak tau. Aku merasa gak berguna sama sekali. Kenapa sih kita gak temenan lagi?"


"Oke, tapi jangan ikut campur semua urusan aku. Kita berteman tapi maaf aku gak bisa temenan sama kamu kayak dulu lagi." jawab Erika sambil berdiri.


"Gak masalah. Yang penting kamu gak ngejauhin aku." jawab Andi cepat.


Erika pun mulai berjalan.


"Besok kita pulang bareng ya Jo.. Sama mama juga. Kata mama dokter-dokter yang lain pulang malam ini." teriak Andi ketika Erika sudah mulai meninggalkannya.


"Oke.." jawab Erika.


Dingin. Ya, Ojo nya jadi dingin padanya. Bagaimana caranya agar Ojo nya kembali seperti dulu? Apakah ia harus memutuskan Jane terlebih dulu? Tapi, itu tidak adil untuk Jane.


Sepanjang malam ia terus berfikir. Ia tidak pernah seperti ini pada wanita manapun. Ojo sudah merubah semuanya. Bahkan ketika ia mulai merasakan suka pada Jane, Jane tidak pernah membuat hatinya semrawut seperti saat ini. Iapun mulai membuka kap mobilnya. Ia tidur di mobil malam ini. Ia ingin malam cepat berlalu. Ia sudah tidak sabar ingin melihat apartemen Ojo besok siang.


"Kamu udah siap?" tanya Alena ketika ia sedang memasukkan perlengkapannya ke dalam tas.


Erika mengangguk. "Udah Tante. Kita tinggal pulang."


Alena memegang lengan Erika. "Maafin Andi kalo dia pernah nyakitin hati kamu."


Erika menggelengkan kepalanya. "Enggak Tante. Andi gak pernah nyakitin aku. Tenang aja." jawabnya.


Alena tersenyum. Kemarin sore Andi memintanya untuk tetap tinggal disini disaat teman-temannya memutuskan pulang tadi malam. Ia harus mengalah setelah mendengar Andi harus menyelesaikan sesuatu dengan Erika. Dan mungkin inilah yang terjadi. Erika mulai menerima Andi kembali. Walaupun sebagai teman, tetap saja kemungkinan itu akan tetap terjadi. Ia hanya berharap suatu saat sesuatu akan terjadi pada mereka berdua.


Andi mengelap mobilnya dengan cepat ketika melihat ibunya dengan Erika berjalan ke arahnya. Iapun menghampiri ibunya dan membawakan tasnya. Ia melirik Erika sambil tersenyum.


"Erika!" panggil seseorang.


Mereka bertiga menoleh ke arah suara. Pria tampan yang tidak pernah ia duga sebelumnya datang untuk menjemput seorang Erika Ojo