Love Actually

Love Actually
Ijin Bakti Sosial



Suara ketukan mengejutkan Erika yang sedang menonton acara televisi dimana Bumi menjadi host nya. Ia penasaran. Apakah benar acara televisi itu menampilkan tetangganya? Dan ternyata benar. Ia menjadi host acara itu. Wajahnya yang tampan seakan menutup wajah para tamu dan penonton yang ada di studio. Pantas saja ia tahu ibunya. Stasiun televisi dimana ia bekerja merupakan stasiun tempat ibunya bekerja dahulu sebelum pindah ke Jepang.


Tapi suara ketukan itu terus mengganggunya. Padahal acara yang ia tonton baru saja masuk ke pembukaan. Mereka baru menayangkan segmen satu. Sayang sekali. Iapun berdiri dan membuka pintu. Seorang pria memakai seragam biru sedang berdiri didepan pintu ruangannya.


"Ada apa?"


"Dokter Ivan manggil Bu." ucap office boy itu.


"Oke. Sebentar lagi saya kesana." ucap Erika.


Ia menutup pintu dan melangkah menuju ruang dokter Ivan. Selama ini dokter Ivan jarang sekali memanggilnya kecuali untuk meeting. Beberapa kali ia mendapat tugas dari dokter Ivan untuk menjadi pembicara sebuah acara pangan. Rasanya jika ia menjadi seorang blogger bukanlah sesuatu yang sulit. Ia tersenyum mengingat bagaimana pengetahuannya akan ia sampaikan dalam sebuah media. Ia hobi menulis. Tapi untuk membuat blog, ia harus melakukan persiapan terlebih dahulu.


Ia sudah berada didepan ruangan dokter Ivan. Ia mengetuk pelan dan membuka ketika mendengar suara dokter Ivan berseru dari dalam.


Dokter Ivan sedang duduk di kursinya sambil memegang sebuah surat. Ia mengerutkan keningnya.


"Panggil saya dok?" tanya Erika saat ia melangkah mendekatinya.


"Ya. Sini." jawab pria itu sambil memegang kertas.


"Ada apa dok?"


"Ini surat ijin kamu dari dinas. Kamu masuk ke salah satu panitia bakti sosial. Tapi kamu jangan takut. Saya juga pergi kesana mewakili rumah sakit." jelas pria itu.


Erika mengangguk. Tante Alena pernah mengatakan tentang hal ini. Ia sedikit lupa. Ia pun mengambil kertas itu dan membacanya. "Tiga hari dok?"


"Iya."


"Ada dokter Alena disana." jawab dokter Ivan.


"Saya gak jadi masalah dok. Gak ada salahnya jadi relawan. Tapi dok, kalo boleh tau.. bakti sosial ini tentang apa? daerah miskin? bencana? atau apa?" tanya Erika bingung.


Dokter Ivan tertawa. "Kamu gak dikasih tau dokter Alena? Gak pernah nonton televisi?"


"Saya gak punya televisi dok." jawab Erika sambil tersipu malu.


"Intinya daerah itu sempat mengalami banjir bandang. Masih dalam tahap pemulihan. Kita kesana dalam rangka penyerahan bantuan dan seperti biasa, kalau bakti sosial itu gak akan jauh dari bantuan fisik dan psikis. Nanti juga kamu akan tau." jawabnya.


"Siap."


"Nanti kita kesana barengan sama beberapa dokter. Dokter Alena pun ikut sama mobil saya. Kita bareng aja." ujar dokter Ivan.


"Trus kerjaan saya gimana selama tiga hari?" tanya Erika bingung.


"Kamu kan punya asisten. Hari ini kamu kasih tanggung jawab selama kamu pergi. Oh ya saya lupa, jangan kaget kalo nanti disana ada media." jawabnya.


Erika mengangguk mengerti. Iapun pamit dan berjalan keluar menuju ruangannya. Namun ketika ia berada di eskalator, ada seseorang yang memanggilnya. Ia mencari asal suara. Ia terkejut ketika melihat tetangganya ada di bawah eskalator sedang menunggunya. Ya, bisa dibayangkan. Pria yang setiap hari wara wiri di televisi ada di rumah sakitnya. Ia hanya bisa melambaikan tangannya ketika ia mendapatkan tatapan tajam dari beberapa orang yang berada disekitarnya.


"Lagi ngapain kamu disini?" tanya Erika ketika mereka saling berhadapan.


"Aku bawain makan siang. Sekalian aku pengen tau rumah sakit tempat kamu kerja." jawab Bumi.


"Aku gak peduli. Sesama tetangga harusnya tau tempat kerja masing-masing kan? Kalo kamu ada apa-apa siapa lagi yang bantu kalo bukan aku, tetangga kamu."


Erika ingin tertawa tapi tatapan orang-orang disekitarnya semakin mengganggunya. "Ya udah, kita ke kantin aja." ucapnya sambil berjalan menuju kantin. Bumi mengikutinya dari belakang.


Bumi mulai melahap makanan yang telah ia beli tadi. Erika hanya melihatnya sambil tersenyum. "Sebenernya kamu kesini biar aku ngeliatin kamu makan?"


Bumi mengangkat wajahnya. Ia tersenyum. "Aku laper. Tadi pagi aku ada take jam 5 pagi. Aku belum sempet sarapan. Ini makanan pertama aku."


"Oh ya, bukannya kamu ada acara barusan. Kenapa cepet banget udah ada disini?"


"Itu off air. Aku syuting acara itu waktu seminggu yang lalu." jawabnya dengan mulut penuh.


"Tapi tadi ada tulisan Live."


"Ya, namanya media. Kamu tau sendiri lah." jawabnya.


Erika mengangguk. Banyak yang tidak ia ketahui tentang media. Tapi mengenal Bumi tidak rugi sedikitpun. Ia jadi tahu beberapa hal dibalik acara televisi.


"Oh ya, besok aku mau titip apartemen sama kamu. Aku harus pergi selama tiga hari ke daerah."


"Ngapain?"


"Acara bakti sosial."


"Oke. Kebetulan seminggu ini aku gak ada syuting. Kalo cuma kamu suruh jaga apartemen kamu gak masalah. Jangankan jaga apartemen, jaga kamu juga aku siap. Aku udah janji sama om." jawabnya santai.


Kedua mata Erika melotot karena terkejut. "Om siapa? Papa?"


"Iya. Waktu kita makan malam pas pindahan kamu itu, Om titipin kamu sama aku selama kamu jauh dari orangtua kamu."


"Kalian kan baru kenal, kenapa bisa-bisanya papa bilang kayak gitu sama kamu?" ucap Erika sambil menutup wajahnya dengan salah satu tangannya.


"Udah, aku gak apa-apa kok. Perempuan cantik tinggal sendiri di apartemen yang jauh dari rumah itu emang harus hati-hati. Wajar papa kamu bilang gitu sama aku. Lagian aku juga gak jagain kamu 24 jam." jawab Bumi sambil tertawa.


Erika menatap Bumi tanpa mengatakan apapun. Bumi adalah pria baik. Walaupun ia mengenal bumi belum lama, ia bisa tahu jika Bumi adalah pria baik.


Ketika Bumi pulang, ia mulai membuat sketsa pekerjaan untuk diberikan pada asistennya. Pergi selama tiga hari tidak akan terlalu berpengaruh padanya. Ia membuka handphonenya dan mengetik sesuatu pada ibunya.


"Ma, besok aku pergi sama Tante Alena ke acara bakti sosial."


Sandra menjawab. "Mama tahu. Ini mama lagi ketemu Tante Alena."


Ternyata keduanya sedang bertemu. Ia pun menyimpan handphonenya kembali. Persahabatan mereka membuat dirinya iri. Jika saja ada seorang wanita yang menjadi sahabatnya juga, ia pasti sangat senang. Beberapa orang memiliki seorang sahabat dimana ia bisa mencurahkan semua isi hatinya. Sedih dan bahagia akan mereka lakukan bersama. Itulah arti seorang sahabat.


Tiba-tiba ia teringat Prince. Ia pasti sudah bahagia bersama Jane. Mereka ditakdirkan bersama. Prince telah mencintai Jane selama bertahun-tahun. Jika saja tidak ada Jane, mereka saat ini pasti masih bersama. Walaupun bukan sebagai kekasih, tapi ia cukup bahagia menjadi sahabat. Asalkan Prince ada disampingnya.


Sejak pulang ke kota ini, hanya Prince yang membawanya berkeliling. Pergi kuliner atau mengantar Prince pergi latihan ditempat rahasianya membuat harinya berwarna. Sayang, hal itu tidak berlangsung lama. Ia harus menjaga hatinya. Untuk itulah ia memutuskan untuk memutuskan persahabatannya dengan Prince.