Love Actually

Love Actually
Episode 102



Pagi ini Vino sengaja bangun pagi karena ada sesuatu yang harus ia lakukan. Sejak kejadian yang terjadi beberapa hari yang lalu di meja makan, ia tidak pernah melihat ataupun berpapasan dengan Sierra. Ia tahu Sierra masih marah padanya. Ada perasaan bersalah. Seharusnya ia mencari tahu terlebih dahulu tentang masa lalu Sierra dan ibunya. Tapi sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Ia hanya tinggal meminta maaf pada Sierra.


Langkahnya terhenti ketika melihat pintu kamar Sierra terbuka. Tidak terlihat ada ia disana. Ia menatap jam tangannya. Pukul 9 pagi. Menurutnya ini masih pagi. Tapi Sierra sudah pergi. Sepertinya kali ini ia terlambat.


"Vin, istri kamu udah pergi. Belum lama kok." seru Dimas dari atas ruangannya.


Vino mengerutkan keningnya. "Lagi ngapain pagi-pagi udah disini? Minta makan?"


"Nah jawaban itu. Gak akan ada yang sanggup jadi istri kamu kalo jawaban kamu jahat kayak gitu." jawab Dimas. Ia pun turun kebawah untuk menemui Vino.


Sedangkan Vino sedang meminum kopinya. Ia duduk di meja makan.


"Aku ikut makan ah. Perjalanan kesini lumayan jauh." canda Dimas.


"Bilang aja mau makan. Tapi kayaknya makanannya cuma buat aku aja." jawab Vino.


"Dasar gak tau malu! Udah jahat sama istrinya, sekarang makan masakan yang dibuat istri kamu. Bener-bener gak tau malu."


Vino meletakkan cangkir kopinya. Ia menatap Dimas. "Mau kamu apa sih? Ngapain kesini? Aku udah bilang pagi ini kamu langsung ke supplier."


Dimas mengambil salah satu roti dan memakannya. "Lagi kerja. Masa lagi main. Aku mau minta kamu pergi ke kantor baru kita. Sejak kamu nikah, kamu belum liat kantor kita yang baru."


"Kita harus cari design interior kantor." ucap Vino.


"Ngapain cari tempat lain? Di kantor kita banyak design interior yang udah pengalaman." jawab Dimas.


"Aku gak mau. Kita cari yang lain."


"Aku punya ide.." jawab Dimas.


"Apa?"


"Suruh istri kamu aja. Dia jago bikin interior pesta. Dia juga pasti bisa bikin interior kantor."


"Kamu yakin Sierra bisa?"


"Aku yakin. Ngomong-ngomong kamu udah baikan?"


Vino menggelengkan kepalanya.


"Kalian gak bisa hidup kayak gini terus. Kalian itu suami istri. Mana ada suami istri yang gak nanya padahal satu rumah. Kalian sehat?" tanya Dimas.


"Ya. Aku yang salah. Nanti aku mau minta maaf. Aku udah terlalu kasar sama Sierra." jawab Vino.


"Baguslah.. Aku lega."


...***...


Sudah hampir beberapa hari Sierra sibuk pada pekerjaannya. Ia tidak mau mengingat kejadian dihari pertama pernikahannya. Hingga kini ia belum bertemu dengan Vino. Ia tidak peduli dengan pria jahat itu. Ia teringat pada kakaknya yang datang ke kantornya tadi siang.


Kak Erika adalah kakak terbaik. Bukan hanya cantik, tapi sifatnya sangat baik. ialah yang mengetahui tentang masa lalunya dengan Yoga. Ialah yang membuatnya bertahan di pernikahan itu walaupun berat harus melihat Yoga dengan istrinya. Luka yang sudah hilang lama sekali, tumbuh kembali ketika ia melihat pria itu di pernikahannya.


"Gimana Vino?" tanya Erika.


"Kayaknya baik-baik aja, Kak.." jawab Sierra kelepasan.


"Kayaknya? Kalian gak tinggal satu rumah?" tanya Erika terkejut.


"Trus? Kalian marahan?"


Sierra berfikir sejenak. "Sebenernya bukan marahan. Tapi aku sengaja gak mau ketemu Vino. Setiap ucapan yang keluar dari bibir Vino, menyakitkan kak.."


"Contohnya?"


"Aku gak perlu ngomong soal ini kak. Aku malu." jawab Sierra.


Erika menatap Sierra dengan serius. "Apa soal uang miliaran itu?"


Sierra langsung mengangkat kepalanya. "Kakak tau?"


"Kakak tau semua tentang kamu, jadi tentang itu ya? Biar nanti kakak yang bilang sama Vino."


"Jangan kak. Ini tentang kehidupan rumah tangga kita. Jadi mungkin harus kita berdua yang menyelesaikannya."


Itulah yang ia katakan tadi siang ketika bertemu dengan kakak suaminya di kantor. Kakaknya sengaja mampir untuk menemuinya. Ia khawatir padanya. Bukan pada adik kandungnya sendiri. Ia merasa baru kali ini ia memiliki seorang saudara yang memperhatikannya. Kini ia tengah menatap layar laptopnya dengan serius. Ia diminta oleh salah satu kliennya untuk membuat sebuah dress after party saat pernikahannya. Tangannya masih memegang pensil untuk menggambar. Ketika menggambar, ia harus melupakan waktu.


Sampai-sampai ia harus diingatkan atasannya karena jam sudah larut.


Sierra mengemas barang-barang dan bersiap untuk pulang. Ia lelah hari ini. Tadi siang setelah kakaknya pulang, Daniel sempat membawanya ke sebuah tempat yang akan dijadikan acara pernikahan.


Diluar, Vino melihat jam tangannya. Ia mulai kesal. Sierra masih belum keluar kantor. Beberapa hari ini ia tidak bertemu dengan wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Sierra memang masih menganggapnya sebagai suami. Setiap pagi ketika ia baru saja bangun tidur, didapur sudah tersedia sarapan untuknya. Sayangnya ia tidak melihatnya secara langsung.


"Pekerjaan mana yang mengijinkan lembur sampai jam 11 malam?" umpatnya kesal. Ia masih berada didalam mobilnya.


Tiba-tiba ada seseorang keluar dari bangunan itu. Vino mulai menyalakan mobilnya. Gadis itu berjalan dengan tergesa-gesa. Ia tahu siapa gadis itu. Vino menyalakan lampu sorot dan klakson tapi gadis itu terus berlari. Iapun keluar dari mobil dan berlari menyusulnya.


"Sierra!" Panggilnya keras.


Sierra terus berlari. Ketika hampir keluar kantor tadi, ia melihat dari pintu kantor jika Vino menjemputnya. Ia terus berlari. Saat ini ia lelah. Ia tidak mau bertemu dengan pria itu dahulu.


Vino berlari kencang dan menarik lengan gadis itu. "Tunggu!"


Sierra mencoba melepaskan tangan Vino. "Lepas!"


"Enggak! Aku minta maaf, okey! Aku minta maaf." Ucap Vino.


Sierra membalikkan badannya dan meminta Vino untuk melepaskannya.


"Maafin aku. Tapi aku butuh penjelasan. Kamu harus jelasin sekarang."Tegas Vino.


"Ceritanya panjang dan enggak menarik. Kamu gak akan ada waktu untuk dengar." ucap Sierra.


"Aku banyak waktu."


Sierra menarik nafas perlahan. Ia menatap Vino


"Ayo kita cari tempat untuk bicara."


"Ini salah. Kita udah menikah tapi aku sama sekali enggak tahu tentang masa lalu istriku." Ucap Vino ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Ia menatap Sierra yang nampak lelah. "Aku tahu kamu lelah, tapi aku juga lelah karena kita enggak ketemu satu sama lain beberapa hari ini. Aku minta maaf karena bicaraku sedikit lancang waktu itu. Aku denger dari mama sama papa waktu mereka bicara tentang uang 15 milyar itu."


"Itu benar. Aku tau pas mama bilang aku udah dilamar sama mama Sandra."


Tiba-tiba Vino memegang tangan Sierra dan menatapnya tulus. "Ceritakan semuanya."