
Alena baru saja keluar dari kamarnya setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Ia mendengar suara Andi dan Clara diluar. Baru saja ia masuk ke ruang makan, telepon rumahnya berbunyi. Iapun pergi ke ruang keluarga untuk mengangkatnya.
"Halo.." jawab Alena.
"Al!" jawab seseorang dengan suara terputus-putus.
"Siapa ini?" tanya Alena bingung. Ia menggenggam gagang telepon dengan erat.
"Al, ini aku Edward."
Alena mulai merasa ketakutan. "Ada apa sama Dave, Ed? Dave gak kenapa-kenapa kan?" tanya Alena panik.
"Aku gak bisa ngomong banyak Al. Aku terluka. Tapi, Dave lebih parah. Kami berdua kecelakaan mobil. Tolong kamu sama Clara kesini. Kami ada di Brussel." ucap Edward sambil menahan tangis.
"Dave!" teriak Alena sambil ambruk dilantai. Ia melepaskan teleponnya dan mulai menangis histeris.
"Ma, kenapa?" tanya Andi ketika ia berada didepannya.
"Papa.." jawab Alena dengan airmata bercucuran.
"Kenapa Kak Dave?" tanya Clara panik sambil menggendong Andra di tangannya.
Andi langsung menghampiri Alena dan memeluknya. "Tenang ma, papa kenapa?"
"Papa sama Om Edward kecelakaan." jawab Alena dengan mata nanar. Ia memeluk Andi karena ketakutan. Ia takut kehilangan Dave.
Clara langsung menghampiri Alena. "Edward gimana kak?" tanya Clara panik.
"Edward terluka tapi gak serius. Tadi Edward yang telepon." jawab Alena tanpa melepaskan pelukannya pada Andi. "Kita susul papa, Andi. Mama mohon sama kamu! Papa membutuhkan mama sekarang. Mereka ada di Brussel sekarang. Please!!" mohon Alena.
Andi langsung berfikir. Ia menoleh pada Clara. "Tante.." ucapnya.
"Kita charter. Tante gak peduli berapa harganya. Kita gak bisa nunggu sampai besok." ucap Clara cepat. Namun kepanikan masih terlihat di wajahnya.
Andi menatap ibunya. "Ma, tenang ya ma. Andi bawa mama ke papa sekarang. Andi cari pesawat dulu. Lebih baik mama siap-siap." ucap Andi sambil melepaskan pelukannya. Ia pun berdiri dan menghubungi seseorang. Siapa lagi jika bukan Viar. Pria tadi yang bertemu dengannya. Seorang Viar tidak mungkin tidak tahu tentang sewa pesawat pribadi. Ia tahu banyak tentang semua hal. Saat ini hanya Viar yang dapat membantunya.
Beberapa jam kemudian. Calvin menggenggam tangan Sandra dengan erat. Setelah mendengar kabar buruk malam ini tentang salah satu sahabat mereka, Calvin memutuskan untuk ikut pergi. Mereka berlari ketika sampai di bandara. Semuanya terlalu mendadak. Calvin bahkan tidak membawa banyak pakaiannya. Ia membawa tas pakaian yang sudah tersedia di mobilnya.
Ketika mereka berdua menemukan Alena dan Clara di ruang tunggu bandara, Sandra langsung memeluk keduanya.
"Sandra..Dave..." ucap Alena dengan berurai airmata.
"Aku gak tau bakal gimana kalo Dave gak bisa bertahan sampai kita sampai kesana." bisik Alena.
"Ssttt... Dave masih bertahan. Dia baik-baik aja." jawab Sandra menenangkan.
Andi datang dengan Viar dengan membawa amplop coklat di tangannya. Ia melihat Om Calvin dan menyapanya.
"Om.." panggil Andi
Calvin menoleh. "Andi. Om masih belum tahu ceritanya. Ada apa sama papa kamu?"
Andi menatap ibunya dan kembali menatap Calvin. "Papa sama Om Edward terlibat kecelakaan beruntun di jalan raya yang ada di Kota Brussel. Mereka sedang mengecek hotel yang ada di Belgia. Nah, papa yang bawa mobilnya om. Posisinya ada di kiri. Mobil papa ditabrak dari belakang dan memutar hingga ditabrak kembali dari sebelah kiri. Sekarang papa yang kritis." ucap Andi.
Calvin mengerutkan keningnya. "Kamu yakin?"
"Andi yakin Om. Andi yang menghubungi salah satu orang kedutaan yang sekarang ada dirumah sakit. Andi minta mereka melakukan pendampingan sampai kita dateng."
Calvin menghela nafas. "Kenapa kita harus mengalami hal ini?"
"Kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi didepan om." jawab Andi bijak.
"Kamu udah urus visa?" tanya Calvin.
"Semuanya beres berkat bantuan kedutaan om. Om ikut juga kan? Soalnya data Om masih ada di Andi. Jadi Andi udah daftarin sekalian." jawab Andi.
"Ya. Om harus melihat mereka. Papa kamu dan Om kamu sudah dianggap saudara" jawab Calvin.
Andi mengangguk. "Aku ngerti om. Makasih buat kepedulian om pada kami." ucap Andi ramah.
Mereka hanya menunggu beberapa menit saja hingga akhirnya mereka menaiki pesawat. Sandra menatap layar besar yang memberitakan tentang tempat wisata di Jepang. Baru beberapa bulan disini, ia mulai merindukan negara itu.
"Ma!" panggil seseorang.
Sandra menoleh. Ia melihat Erika datang dengan Bumi. Wajah Erika terlihat panik
"Kenapa Om Dave ma?"
"Kecelakaan. Sekarang kritis. Papa kamu ikut kesana untuk melihat langsung."
Erika berjalan kebingungan menjauhi ibunya dan Bumi. Ia melihat pesawat yang sedang take off. Ia dapat merasakan bagaimana paniknya Tante Alena saat ini. Lalu Andi? Bagaimana perasaan Andi saat ini? Ia pasti akan terlihat tenang. Tapi hatinya? Pasti ia cemas mendengar apa yang terjadi pada orangtuanya. Andaikan ia datang lebih cepat, ia bisa melihat Andi dahulu. Iapun menunduk sambil memegang tangannya. Kasian Andi...