
Calvin tiba dirumahnya setelah mengantar Andi pergi. Ketika ia baru memasuki rumah, ia mendengar suara Erika di taman belakang. Iapun menghampirinya.
“Kamu gak kerja, Jo?” tanya Calvin. Ia melihat Erika sedang duduk dengan istrinya di taman belakang. Di meja tersedia dua gelas air minum. Wajah Erika terlihat tegang.
Erika menoleh pada ayahnya. “Masih belum kondusif pah!”
Calvin mengerutkan keningnya. Sejak tadi malam Erika menginap dirumahnya dan sore ini ia masih ada dirumahnya. Iapun menatap Sandra. Ia yakin ada yang tidak beres. Sandra paling jago menyembunyikan sesuatu darinya. APalagi menyangkut anak-anaknya. Ia menatap minuman yang disajikan. Hanya dua cangkir teh hijau yang biasa diminum istrinya. Tapi ia semakin penasaran, apa yang mereka berdua sembunyikan. Dan, Vino tidak ada disana. Ia pikir Vino tidak mengetahui apa yang terjadi pada keluarganya. Anak itu terlali cuek dengan permasalahan keluarga.
“Kenapa? Ada apa ini?” tanya Calvin.
Sandra diam. Ia tidak berani mengatakannya. Ia hanya menatap Erika sambil memberikan kode.
“Erika! Pasti ada hubungan sama kamu! Ada apa? Cerita sama papa! Sepintar apapun kalian menyembunyikan sesuatu, papa pasti tahu. Cepet ngomong.” seru Calvin marah.
Erika takut. Ia menunduk. “Sebenernya kemarin aku masuk berita gosip pah. Maafin Erika, ini diluar sepengetahuan Erika.”
“Gosip?” tanya Calvin bingung.
Sandra memberikan handphonenya. Ia memperlihatkan video yang memperlihatkan wajah anaknya. “apa maksudnya ini? Kamu pacaran sama tetangga kamu?” tanya Calvin tajam.
Erika hanya mengangguk pelan.
“Kamu bisa selesaikan berita ini tanpa bantuan papa? Udah cukup kita mengalaminya di Jepang sana. Pekerjaan kamu gimana?”
Erika menghela nafas. “Erika pasrah pah. Mungkin Erika harus mengundurkan diri aja. Erika malu jadi pusat perhatian.”
“Tolong kamu beresin semua. Papa gak mau berita itu berpengaruh sama perusahaan papa. Berita gak penting bisa jadi penting kalo kita mengabaikannya.” ucap Calvin.
“Iya pah..”
Calvin duduk di kursi yang berada disamping Sandra. Ia mengeluarkan handphonenya dan menatapnya lama. “Temen kamu udah pindah ke London.” ucapnya tiba-tiba.
Erika mengangkat wajahnya. “Siapa pah?”
“Andi.”
Erika menatap nanar ayahnya. Kenapa ia tidak tahu Andi pindah? Sebenci itukah Andi padanya? Hatinya masih sakit mengingat percakapan mereka terakhir kali. Bayang-bayang airmata mulai menghampiri pelupuk matanya. Ia menahannya agar tidak jatuh. Erika tersadar. Mungkin dirinya telah menyakiti hati Andi secara tidak sadar.
“Andi pergi karena menggantikan pekerjaan Om Dave. Papa bangga sama Andi. Semuda itu dia bisa menjadi penerus keluarga. Papa pikir awalnya ia terpaksa. Tapi melihat dia hari ini pas dibandara, Andi bersemangat waktu mau pergi.” ucap Calvin.
Sandra menatap wajah anaknya. Terlihat perbedaan mencolok.
“Kamu ketemu sama Andi?” tanyanya pada suaminya.
“Aku sama Edward yang anter dia ke bandara.” jawab Calvin sambil menyandarkan punggungnya. Ia masih teringat wajah bahagia Andi ketika pergi. Tidak ada beban karena pekerjaan. Padahal tantangan pekerjaan ada didepan mata dan itu berat. Matanya melirik Erika yang tiba-tiba menunduk. Kemudian berdiri dengan cepat. Ia melihatnya. “Mau kemana?”
“AKu mau nengok Om Dave.” ucap Erika.
Calvin meirik Sandra.
“Biar Vino yang anter kamu.” ucap Sandra.
Erika berjalan menjauhi kedua orangtuanya. Ia terdiam sambil menatap handphonenya.
Untuk kedua kalinya mereka mendengar bell rumahnya kembali berbunyi. Alena berdiri dan berjalan ke depan pintu.
“Ojo?” Seru Alena. Kemudian ia melihat pria di belakangnya. “Loh, ada Vino juga?” ucap Alena.
Erika tersenyum. “Iya tante. Gimana kabar Om Dave?” tanya Erika lagi. Padahal ia datang kerumah ini untuk menanyakan tentang Andi. Bagaimana kabarnya dan kenapa ia pindah ke London secepat itu?
Alena memegang tangan Erika dan menariknya masuk ke dalam. “Om Dave udah mendingan. Makasih karena kamu mau dateng kesini, sayang.” ucapnya.
“Maafin aku, tante. Aku baru bisa sekarang dateng ke buat jenguk Om Dave.”
“Gak apa-apa sayang. Kebetulan kita memang belum menerima pengunjung. Karena banyak sekali yang harus kita bereskan.” jawab Alena. “Oh ya, Prince udah pergi ke London tadi siang. Tante sedih karena tante kehilangan Andi.”
“Sampai kapan tante?” tanya Erika dengan jantung berdegup.
“Tante gak tau sampai kapan. Target pekerjaan satu tahun.” jawab Alena.
Erika terdiam. Ia sudah tidak bersemangat ketika mendengarnya. Mereka pun masuk ke ruang keluarga. Dave menoleh dan tersenyum.
“Erika sama Vino ya?” panggil Dave.
Erika dan Vino mengangguk dan mencium tangan Dave.
“Maaf Om baru nengok kesini” ucap Erika ramah.
“Oh, gak apa-apa. Om makasih sama kalian karena masih sempat datang kesini.”
Erika dan Vino pun duduk didepan Dave. Dua buah teh hangat sudah disediakan oleh salah satu pembantu dirumah itu. Erika hanya menatapnya. Terasa sangat berbeda ketika tidak ada Andi di rumah ini. Sangat disayangkan ia baru tahu. Padahal jika tahu Andi akan pergi untuk waktu yang lama, ia pasti akan menyelesaikan permasalahan yang terjadi antara mereka.
“Vino, kapan pulang ke Jepang?” tanya Alena.
“Minggu depan, Tante..” jawab Vino sedikit malu. Walaupun Vino adalah pria dingin, tapi didepan orangtua ia selalu merasa malu.
“Kalo kamu Jo? Gimana kerjaan kamu?” tanya Alena pada Erika.
Erika diam. Ia kemudian melihat Dave yang tiba-tiba menguap karena mengantuk. Alena melihat suaminya. Iapun berdiri. “Sebentar tante bawa Om Dave ke kamar dulu.” ucapnya.
Vino berdiri dan ikut membantu Alena membawa Dave ke dalam kamar. Tak lama, mereka kembali. Alena pun duduk disamping Erika. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.
“Ada apa? Cerita sama tante” ucap ALena.
Erika memegang tangan Alena. “Maafin Erika, tante. Mungkin Erika mengecewakan tante. Tapi, kemungkinan pekerjaan Erika di rumah sakit akan Erika lepaskan.”
Alena terkejut. “Kenapa?”
Erika mulai menceritakan semua yang terjadi padanya. Menjadi bahan berita gosip yang baik sebenarnya tidak terlalu membuat masalah. Tapi, jika orang-orang tahu siapa ia, ia khawatir ibunya akan terekspos. Sedangkan ibunya sudah tidak mau berurusan dengan media. Perusahaan ayahnya akan terdampak oleh berita itu, begitu juga rumah sakit yang menjadi tempat bekerjanya. Ia teringat ketika ibunya baru saja mendapatkan penghargaan di sebuah ajang film di Jepang, mereka sekeluarga diikuti oleh beberapa media yang mengkritik film yang dibuat ibunya dan hampir membuat mereka tabrakan. Masa kelam itu tidak mau ia ulangi lagi. Ia benci media. Ia benci pada siapapun yang membuat berita tentangnya dan keluarganya. Ia tidak mau mengalaminya lagi. Ia ingin hidup normal layaknya orang lain.
“Tante bisa bicara dengan Ivan.” ucap Alena. Ia merasa kasihan pada Erika. Ketika melihat berita tadi, jauh dilubuk hatinya ia merasa kecewa karena ternyata Erika sudah memiliki kekasih. “Kamu menyesal pacaran sama artis?” sindirnya.
“Enggak pernah menyesal Tante. Karena Erika yang memutuskan untuk pacaran sama Bumi. Kami menjalaninya dengan santai. Tapi, entahlah. Erika juga kecewa pada diri Erika sendiri. Erika gak pernah membuka mata kalau Erika menjalin hubungan dengan artis. Erika gak tau kalo Bumi itu artis terkenal.” ucap Erika pelan.
“Sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Lebih baik kamu cepat menyelesaikannya. Mumpung baru satu hari berita itu dimuat. Lama-lama masyarakat juga akan lupa. Tapi mereka lebih ke penasaran dengan siapa kamu.. Tante yakin itu.” jawab Alena bijak. Ia memeluk Erika layaknya anak sendiri. Ia menyayangi Erika seperti ia menyayangi Andi.