
Erika masih berada di salon untuk menyelesaikan make up nya. Untuk urusan wajah, ia menyerah. Ia tidak bisa dandan seperti orang lain. Satu orang sedang mendandani wajahnya. Sedangkan satu orang lain sedang merapikan rambutnya. Gaunnya sendiri sudah ia pakai sejak dari rumah. Gaun berwarna peach itu adalah gaun terseksi yang pernah ia miliki.
"Sayang kalo punggungnya gak keliatan." ucap pria yang sedang merapikan rambutnya.
"Bebas." jawab Erika. Lagipula malam ini ia pikir akan menjadi malam yang panjang. Jika ia pulang cepat sebelum acaranya selesai, bisa-bisa Davi memutuskan persahabatan mereka. Ia sudah siap bertemu banyak orang. Ia tidak peduli jika masih ada yang mengenalnya sejak ia hilang beberapa tahun yang lalu. Ia sudah lebih percaya diri daripada sebelumnya. Tapi untuk menjadi bridesmaid, ia tidak mau meski dipaksa. Perhatian menjadi bridesmaid akan lebih cepat mengarah padanya. Ia hanya ingin dilihat sebagai tamu undangan. Tidak lebih.
"Beres!" seru pria yang satu lagi sedang mendandani wajahnya. Pria itu merupakan salah satu make up artis yang biasa mendandani artis-artis dimana ibunya sering membantu sebuah production house.
Erika menatap dirinya di cermin. Cantik. Hanya itulah yang bisa ia katakan. Beberapa kali teman-teman pria nya di Jepang mengajaknya untuk bertemu. Tapi ia selalu tolak. Untuk berteman dengan seorang laki-laki, ia harus pintar-pintar melakukannya. Apalagi pengalaman buruknya pernah berteman dengan dua orang pria diwaktu yang hampir bersamaan.
Iapun berdiri. Ia memakai high heels nya berwarna senada. Ia memainkan gaunnya sambil menatap kaca.
"Bener-bener cantik. Apa gak jadi artis aja atau model? Saya punya kenalan event organizer." ucap pria yang sudah menata rambutnya.
Erika menggelengkan kepalanya. Ia melihat cermin sambil membelakanginya. Ia ingin tahu sesexy apa punggungnya.
"Bisa-bisa yang jadi pusat perhatian tamunya, bukan pengantinnya."
Erika tertawa. "Ah bisa aja. Kalo gitu saya pergi dulu."
Ditempat acara.
Andi menatap kedua pasangan yang terlihat bahagia ini. Sejak siang ia sudah berada ditempat ini dan mengikuti semua prosesinya.
"Sayang, bos kamu katanya mau kasih hadiah buat kita?" goda Davi sambil melirik Andi.
Viar mengangguk pelan sambil memakan buah yang ada didepannya. "Ya, katanya sih gitu."
"Besar gak?" tanya Davi.
"Kalian berdua emang sama-sama rese' ! Gak usah sindir-sindir gitu, sebagai atasan sekaligus sahabat kalian, aku udah siapin kadonya." jawab Andi.
Davi menatap ke atas. Ia sedang membayangkan sesuatu. "Hadiahnya deposito atau uang tunai atau liburan? Semuanya bagus. Terbaik malah." goda Davi.
"Viar, istri kamu ini bener- bener nyebelin. Masih mau kamu sama perempuan ini?Istri mata duitan kayak gini masih untung dinikahi juga" ucap Andi.
"Viar itu udah cinta mati sama aku. Aku nyebelin juga bukan urusan kamu. Toh yang nikah sama aku Viar. Bukan kamu." jawab Davi sambil tertawa.
Andi langsung mengeluarkan kotak kecil berwarna biru ke atas meja. "Nih, jangan komplen barangnya kekecilan." ucapnya. Ia kembali menyimpan kedua tangannya didalam saku.
Davi mengambil kotak itu sambil mengerutkan keningnya. "Ini hadiah nya sekecil ini?" tanya Davi pada Viar.
"Buka dulu.." jawab Andi.
Ketika dibuka, Davi dan Viar mengerutkan keningnya. Ia sesekali menatap Andi dan kembali menatap kotak kecil itu.
"Ini apa?" tanya Viar pada Andi.
"Sayang, kok aku deg-deg an gini?" ucap Davi.
Andi tertawa ringan. Sejak mengenal Viar dan Davi, hidupnya lebih berwarna. Digoda seperti apapun oleh mereka berdua tidak pernah membuatnya marah.
Davi langsung berdiri dan loncat kegirangan. "Ya!!!" teriaknya.
Viar langsung menarik gaun Davi. "Jangan malu-maluin. Please!"
"Oh iya.." jawab Davi. Ia kembali duduk dengan anggun. Sesekali ia tersenyum kegirangan.
"Maksudnya apa?" tanya Viar serius pada Andi.
"Just gift. Makasih karena kalian udah ada disamping aku selama aku terpuruk." ucap Andi.
"Tapi gak kayak gini. Ini kemahalan." protes Viar.
"Cukup buat mengganti rasa terimakasih aku sama kalian berdua." jawab Andi.
Tiba-tiba salah seorang wedding organizer menghampiri mereka. "Tamu-tamu udah dateng. Kita siap-siap resepsi." ucapnya.
"Oke." jawab Davi cepat. Iapun berdiri dan menghampiri Andi.
"Thank you bos." ucapnya.
Andi hanya mengangguk.
Mereka bertiga berjalan mendekati tempat resepsi. Davi mulai melihat para tamu yang hadir. Riuh tepuk tangan menggema saat mereka mulai masuk.
"Erika belum dateng." bisik Davi.
"Mungkin masih dijalan." jawab Viar.
Davi langsung menoleh pada Andi. "Bos, aku mau ngenalin kamu sama temen aku. Please jangan ditolak. Yang ini beda. Dia temen aku dari Jepang."
"Mulai lagi..." jawab Andi. Iapun tidak melanjutkan langkahnya ketika Davi dan Viar duduk di kursi pelaminan. Ia menatap keduanya sambil tersenyum. Ia sesekali mengangkat handphonenya dan mengabadikan kedua sahabatnya.
Iapun menunduk untuk melihat foto-foto itu.
"Psst!!" panggil Viar.
"Bos!" panggil Davi dengan suara pelan.
Andi mengangkat kepalanya. Ia mengerutkan keningnya menatap kedua sahabatnya berlaku aneh.
"Apa?" tanya Andi.
Davi berjalan mendekatinya. "Temen aku yang mau aku kenalin udah dateng. Tuh yang pake gaun warna peach." bisiknya. Setelah itu ia kembali ke pelaminan dan memegang tangan Viar dengan cepat.
Andi membalikkan badannya. Ia hanya melihat beberapa orang sedang sibuk mengambil makanan. Tapi tiba-tiba tatapannya tertuju pada seseorang. Wanita itupun sama-sama terkejut ketika melihatnya. Ia ingat dengan baik siapa wanita anggun yang memakai gaun berwarna peach itu.
Ojo........