
Suara bell apartemen berbunyi. Masih menggunakan piyamanya, Sherly berlari ke depan pintu. Ia membukanya dan terkejut luar biasa. Pria yang akhir-akhir ini menghilang, telah berdiri didepan apartemennya. Apakah seorang Vino telah menyadari jika ialah satu-satunya yang menunggunya?
"Akhirnya kamu datang. Aku kesepian, Vino.. aku sendirian. Kenapa baru sekarang kamu datang?" tanya Sherly dengan nada sedih. Ia memeluk Vino dengan penuh kemenangan. "Mantan istri kamu jahat. Dia ngomong kalo aku bodoh. Padahal dia memang bener-bener plagiat." bisik Sherly.
Vino melepaskan pelukan Sherly dengan kasar. "Sierra memang bukan plagiat. Kamu yang bodoh. Dan aku sadar kalo aku juga bodoh karena kamu bohongi. Aku kehilangan Sierra gara-gara kamu. Sampai aku belum puas pun aku tetep salahin kamu karena Sierra pergi."
Sherly mengerutkan keningnya. "Kok kamu bilang gitu?"
"Sierra memang bukan plagiat! Kamu asal nuduh!" geram Vino.
"Aku bisa hubungi Maria Grazia kalo itu plagiat!" seru Sherly marah. Sierra mengatakannya juga ketika mereka bertemu. Sekarang Vino yang mengatakan hal yang sama. Apakah mereka kembali bersama? Ia menatap Vino.
"Maria Grazia gak akan mau terima telepon dari kamu lagi sejak kamu menolak rancangan dia, Sherly!" ucap Cilla yang masuk ke apartemennya bersama saudara kembarnya.
Sherly bingung. Ia menatap Cilla sedikit lama. "Mau apa kamu kesini?"
"Aku udah bilang kalo aku gak akan tinggal diam kalo kamu ganggu rumah tangga mereka." jawab Cilla sambil melihat Vino.
"Kamu tau apa soal Maria Grazia? Kamu cuma model kelas rendah yang kalo model kayak aku berhalangan, baru kamu yang dipake.." ucap Sherly marah.
Cilla tertawa."Kayaknya aku harus kasih tau kamu kalo aku udah jadi model tetap nya Maria Grazia. Makasih karena gara-gara kamu pergi, aku jadi banyak job. Kebetulan aku lagi libur, jadi aku pulang dulu ke Indonesia. Sekalian aku mau bilang terima kasih sama kamu."
"Darimana kamu tau soal plagiat itu?" tanya Cello. "Kamu mungkin kaget kalo Sierra jadi designer muda kesayangan Maria Grazia.."
"Bohong. Aku gak percaya!" teriak Sherly.
Cello mengeluarkan kertas yang ada di tasnya. "Kamu liat sendiri foto-foto ini. Kamu mungkin gak sadar kalo dibelakangnya Sierra, Maria Grazia lagi ngobrol sama teman-temannya Sierra. Jadi apa mungkin kalo Sierra membuat suatu plagiat didepan orangnya langsung?"
Sherly menggelengkan kepalanya. "Enggak. Enggak mungkin." ucapnya. Kemudian ia menatap Vino. "Itu salah, Vino. Aku bener soal plagiat itu. Aku berani telepon Maria sekarang juga."
"Kamu masih gak percaya sama penjelasan Cello? Kalo gitu,biar aku yang kasih bukti lain." ucap Vino. Ia kemudian mengeluarkan handphonenya. Diputarkan video yang berisi wajah Maria Grazia yang sedang diwawancarai oleh Cilla. Ia menatap Vino gugup. Kenapa bisa jadi seperti ini? Ia tetap tidak terima.
"Aku menyesal karena terlalu mempercayai kamu soal kasus ini. Aku ketakutan Sierra trauma dan sedih gara-gara kasus ini. Tapi aku salah, aku yang bikin dia sedih karena memilih sesuatu yang salah. Kalo aku tau kejadiannya dan bertanya langsung sama Sierra, pasti gak akan kayak gini."
Sherly mulai menangis. "Kenapa kamu lebih percaya mereka? Aku cinta kamu, Vino. Cuma aku. Kita pacaran udah lama. Tapi kamu malah menikah sama perempuan yang baru aja kamu kenal. Aku kecewa.. Kenapa kamu lakuin ini sama aku?"
"Karena, karena kamu yang memulainya. Aku udah terlalu lama menunggu kamu mengejar impian kamu. Tapi aku menyerah.. Dan aku menemukan sosok yang baik dan menerima aku apa adanya. Dia adalah Sierra. Lebih baik kamu urusi semua masalah kamu. Tapi tolong jangan pernah hubungi aku lagi dan Sierra lagi." ucap Vino sambil melangkah keluar dari apartemen.
Cello dan Cilla mengikuti Vino dari belakang. Namun Cilla kembali ke dalam. Ia memberikan sebuah surat pada Sherly. "Aku lupa sesuatu. Kamu harus bersiap-siap, Sherly. Agensi mau menuntut kamu jutaan dolar karena kamu menyalahi kontrak produk sama endorse klien bernilai jutaan dolar. Jangan cari aku karena aku gak bisa bantu kamu. Bye!" ucap Cilla sambil tertawa.
Sherly hanya bisa menatap nanar kertas yang tadi diberikan Cilla padanya.
...***...
Sierra tengah memasukkan pakaian miliknya kedalam koper besar. Nanti malam ia terbang ke Milan untuk bertemu dengan Mili. Pekerjaannya bersama Daniel sudah ia bereskan kemarin malam. Begitu juga dengan pengacara. Ia sudah menyelesaikan semuanya. Ia ingin pergi dengan tenang. Ia akan memulai pekerjaannya dari sana.
Sierra tersenyum. "Iya ma. Aku pergi karena aku udah siap. Nanti kalo disana aku udah siap semua, mama susul aku."
"Urusan kamu sama Vino udah selesai?"
"Aku udah serahin semua sama pengacara ma. Aku cuma mau cepat-cepat ikutin permintaan Vino biar kita bisa berpisah secepatnya."
Firly menghela nafas. Ia memegang bahu Sierra. "Sampai sekarang mama gak tau masalah apa antara kalian. Berulang kali mama Sandra bertanya sama mama tentang ini. Tapi, mama juga bingung. Mama Sandra sampai sekarang gak tau kalo kamu menyiapkan pengacara untuk proses cerai."
"Berulang kali juga aku bilang kalo kita berdua ini gak cocok. Kita gak bisa paksa pernikahan ini terus berlanjut. Nanti mama Sandra juga bakal tau ma. Jangan dari mulut mama. Lebih bagus dari mulut Vino." jawab Sierra berbohong.
"Mama berharap kamu sama Vino berhubungan baik di masa depan. Mama berdoa buat kebahagiaan kalian."
Sierra tersenyum. "Makasih ma.."
Tiba-tiba saja handphonenya berbunyi. Ia meliht handphonenya.
"Halo.."
"Sierra. Aku mau ketemu kamu. Kita ketemu di cafe biasa." ucap Vino.
"Oke. 30 menit lagi aku sampai." jawab Sierra.
Sudah dua gelas ia meminum frapuccino kesukaannya. Ia gugup harus bertemu dengan Sierra kembali. Ia merindukannya. Hari ini ia akan menceritakan semuanya. Ia melihat jam tangannya. Sierra sudah terlambat setengah jam.
Terdengar suara heels Sierra. Ia tahu suara kaki Sierra ketika berjalan. Ia menoleh kebelakang. Benar saja, Sierra sedang berjalan menghampirinya. Ia pun berdiri dan mengangkat kedua tangannya. Ia ingin memeluknya.
Ketika Sierra mendekat, ia menghindari tangan Vino dan duduk didepannya dengan anggun.
"Maafin aku. Kamu apa kabarnya?" tanya Vino.
"Aku baik-baik aja. Sherly apa kabar? Waktu terakhir dia datang ke kantor, dia tetap pedas." jawab Sierra.
"Justru itu, aku kesini karena mau membicarakan tentang Sherly."
Sierra mengangkat tangannya. "Aku gak bisa lama disini. Lagian aku kesini gak mau kamu cerita tentang Sherly. Aku cuma mau minta sama kamu satu hal."
Vino siap mendengarkan permintaan Sierra. "Aku siap. Kamu mau minta apa?"
"Let's be friend." jawab Sierra pelan.
Vino mengerutkan keningnya. "Maksud kamu apa?"
"Let's divorce, Vino..."