
Dimas membawa cangkir berisi kopi ke meja kerja mereka. Sudah dua malam ia dan Vino berada jauh di resort. Esok siang jika semua pekerjaannya disini selesai, mereka akan pulang ke rumah. Ia penasaran dengan Vino yang sejak tadi menatap laptopnya tanpa berkedip. Sekalinya ia berbicara, hanya panggilan dari istrinya yang diangkat. Ia menyimpan cangkirnya dan mendekati Vino.
"Lagi apa sih? serius banget." tanya Dimas.
Vino masih tetap menatap layar laptopnya. Ia sebenarnya terlalu malas untuk membalas ucapan Dimas selain masalah pekerjaan. Karena yang akan sahabatnya itu katakan hanyalah untuk menggodanya. "Aku masih cari lahan kosong. Masih belum deal." jawabnya cepat.
Dimas menunduk untuk melihat layar laptop. Ia mengerutkan keningnya. "Masih belum menyerah nyari lahan buat bikin rumah?" tanyanya.
"Ini rumah masa depan buat kita berdua. Buat anak-anak kita juga." jawab Vino. Tiba-tiba ia berhenti. Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Anak?
"Jadi mau punya anak berapa sama Sierra?" godanya. "Jadi, menurut kamu... apa Sierra bisa cepet hamil? Malam itu, berapa kali kalian......" tambahnya.
Vino mendorong tubuh Dimas untuk menjauh darinya. "Berisik! Sana kerja lagi! Jangan godain terus! Aku lagi serius."
Dimas tertawa. Ia kembali ke kursinya. "Kamu keliatan kaget waktu bilang anak. Emang pikiran kalian sejauh itu?"
"Untuk saat ini, iya. Lagian wajar Dim. Aku sama Sierra udah menikah. Apa lagi yang pasangan cari kalo bukan anak. Enggak kayak kamu. Udah 3 tahun nikah tapi masih belum kepikiran buat punya anak. Alasannya keuangan lah, atau apalah.."
Dimas terkekeh. "Emang bener sih. Aku nikah juga niatnya mau pacaran terus sampai bosen. Tapi, nanti aku bilang ke istri aku. Aku mau punya anak juga."
Vino menggelengkan kepalanya. Pikiran Dimas bisa semudah itu. "Aku juga bingung. Papa minta aku buat cari rumah sendiri. Papa dulu bikin surprise ke mama bikin rumah yang aku tempati. Itulah tanda keseriusan papa. Sekarang aku disuruh gitu juga. Masalahnya uang aku gak banyak kalo harus memenuhi keinginan mereka. Masa aku harus minta uang sama mereka?"
"Kenapa gak cari rumah yang udah jadi aja? Kamu tinggal renovasi. Udah cukup kan.."
Vino merasa idenya terbuka. "Rumah? Iya. Kenapa gak kepikiran ya?"
Vino kembali menatap laptopnya. Ia membuka situs penjualan rumah. Ia mulai mencari dan menulis jika ada yang ia rasa cocok. Hanya Dimas satu-satunya sahabat yang ia miliki. Pria yang usianya beda satu tahun diatasnya itu selalu santai menyikapi semua permasalahan. Berbeda dengannya. Dimas pun satu nasib dengannya. Ia dijodohkan dengan wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Hanya saja, Dimas sudah mengenal istrinya sebelum mereka dijodohkan. Berbeda dengannya. Ia hanya memiliki waktu beberapa hari untuk bertemu dengan Sierra. Dulu ia merasa tertekan menikah dengan seorang wanita yang tidak ia cintai. Tapi lama-lama semua perubahan terjadi padanya hanya gara-gara ia menikah dengan wanita itu. Sekarang ia merasa beruntung telah menikahi Sierra. Jika bukan Sierra, siapa lagi yang tahan dengan sikap dinginnya. Masalah nya hanya satu. Sherly. Selama wanita itu masih ada disekitarnya, hubungannya dengan Sierra tidak akan aman.
...***...
"Vino pergi udah dua hari?" tanya Erika Ojo ketika ia dan Sierra janji bertemu disebuah cafe.
"Iya. Sama Dimas. Aku tenang karena Dimas ada disamping Vino terus." jawab Sierra.
Erika menatap tajam pada Sierra hanya untuk menggodanya. "Kalian udah baikan?"
"Kita gak pernah musuhan kak. Cuma memang sikap Vino suka dingin. Tapi lama-lama dia bisa berubah." jawab Sierra
"Makasih buat kamu, Sierra. Tadinya kakak pikir Vino gak bisa keluar dari zona nyamannya sebagai laki-laki yang dingin. Tapi setelah menikah dengan kamu, Vino bisa keluar dari zonanya. Oh ya, katanya kamu mau pergi ke Korea?"
"Daniel memang keren. Waktu nikahan kakak juga Daniel yang ngurus semua. Kakak gak nyangka ternyata kamu yang ada dibelakangnya. Sayangnya waktu itu kita gak kenal."
"Waktu nikahan kakak, kebetulan aku belum banyak terlibat sama pekerjaan Daniel." jawab Sierra. Ia melihat perut Erika yang sudah terlihat membesar. "Kakak sekarang sibuk apa?"
Erika mengelus perutnya. "Kakak sekarang lagi ikut sibuk mengurus rumah sakit milik mamanya Andi."
Sierra mengangguk mengerti.
Tiba-tiba Erika memegang tangan Sierra. "Makasih karena kamu terus ada disamping Vino. Bertahanlah walaupun sakit. Perjalanan pernikahan kakak dengan Andi pun gak mudah. Tapi kami berdua bisa melalui semuanya. Ada salah paham, tapi semuanya bisa selesai. Kakak percaya sama kamu."
"Aku harap bisa bertahan kak. Semuanya tergantung Vino."
Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Mili mengirimkan pesan padanya. Ia dikirimkan foto-foto fashion show. Tapi ada sesuatu yang ganjil. Ia memperbesar gambarnya. Ia kemudian menatap Erika.
"Maaf kak, aku keluar sebentar." ucapnya sambil berlari keluar.
Ketika ia sudah berada diluar, ia menghubungi Mili.
"Halo.."
"Mili, kamu apa-apaan sih? Kenapa design aku yang dulu ada di fashion show?" seru Sierra panik.
"Karena karya kamu harus dipublikasikan, sayang.." jawab Mili tenang. "Kita disini kangen sama kamu. Jadi kami bikin fashion show dan memasukkan salah satu design kamu. Kamu seneng kan? Kalo kamu kesini, impian kamu tercapai."
Sierra tersentuh. Sudah beberapa tahun pergi dari Milan, ternyata teman-teman masih mengingatnya. Dan sekarang, ia diberikan surprise seperti ini. Ia tak kuasa menahan haru. "Makasih Mili.. makasih.."
"No...no...no... jangan nangis. Kita semua ada buat kamu." jawab Mili.
Setelah telepon ditutup, ia kembali masuk kedalam. Tapi Erika sudah berdiri. Ia berjalan menghampirinya. "Maafin kakak, mama telepon kakak buat pulang ke rumah sakit."
"Iya kak. Aku juga mau pulang ke rumah mama." jawab Sierra.
Ketika mereka berjalan keluar, tanpa disangka ia bertemu dengan wanita yang paling tidak ingin ia temui.
"Kita ketemu disini. Wah, wanita kampung kayak kamu bisa nongkrong disini juga."