
"[Sihir es:golem es]!" Es tajam bermunculan dari lingkaran sihir yang Ice bentuk. Semakin meninggi membentuk tubuh, tangan, kaki dan kepala.
Ice langsung menggerakkan tangan nya mengarahkan golem es raksasa milik nya untuk menyerang. Monster monster di bawah nya langsung di injak dan di pukul dengan kuat.
"[Sihir es:semburan es tajam]" Belum cukup sampai situ, begitu Ice mengucapkan kata kata sihir itu, es tajam langsung menyembur dari telapak tangan golem nya yang kemudian menusuk monster monster yang mencoba untuk menyerang golem itu.
Tidak mau kalah, Kei, Leo dan Thory pun ikut membuat serangan gabungan.
"Teman teman! Sama seperti apa yang kita latih selama ini, serang!!!" Komando Kei sambil berdiri di atas batu.
"Siap!!" Jawab kedua anggota pasukan nya.
Kei menarik nafas panjang dan berteriak sambil melafalkan mantra sihir. "[Sihir angin: putaran tornado]!!" Angin berhembus kencang lalu berputar pada satu titik dan membentuk sebuah tornado. Beberapa monster yang berada di dekat tornado itu juga ikut terbawa angin kencang yang terus berputar.
Leo menyeringai melihat tornado besar yang teman nya buat itu. "Sekarang giliran ku. Bersiaplah untuk musnah! Wahai monster monster jelek!!"
"[Sihir api: semburan api]!!!!" Seru Leo. Lingkaran sihir terbentuk di hadapan Leo yang langsung menyemburkan api dengan kuat ke arah tornado milik Kei yang kemudian menyatu menjadi tornado api yang panas.
Beberapa monster di sekitar nya langsung kepanasan dan terbakar saat itu.
"Aku juga gak mau kalah! [Sihir tumbuhan: sulur berduri]!!! " Sulur sulur berduri muncul dari dalam tanah menusuk beberapa monster yang ada di hadapan nya, lalu menyatu dengan tornado api yang membuat kobaran api itu semakin besar.
Semua yang ada di sekitar tornado itu tampak kagum tapi juga takut di saat yang bersamaan saat melihat serangan gabungan itu.
Kagum karena ini pertama kali bagi beberapa dari mereka melihat serangan gabungan seperti itu, tapi juga takut karena takut terkena serangan. Kalo malah salah target bahaya juga kan?
Di sisi lain, sein sedang menembakkan sihir milik nya dari atas pohon. Sebagai pengendali elemen cahaya, sebenarnya ia lebih ahli dalam serangan jarak jauh karena dapat menembakkan sihir nya seperti tembakan laser. Tapi terkadang menjadi penyerang jarak dekat pun tak masalah untuk nya.
"Beruntung banyak pohon di sini. Walau pohon mati tapi bisa membantu ku melihat target yang jauh lebih mudah." Gumam pemuda ber manik kuning cerah itu.
"Sein awas!"
Detik itu juga Sein langsung melompat turun begitu mendengar peringatan yang ditujukan pada nya.
DUAR!!
Api membakar habis pohon yang tadi di singgahi nya. Ranting ranting mulai hangus dengan cepat karena panasnya api yang membakar pohon itu. Sein menarik nafas lega. Degup jantung nya masih memburu karena terkejut. Beruntung ada yang memperingatkan nya. Jika tidak, ia pasti sudah celaka karena serangan itu.
"Kau baik baik saja?"
Sein mendongak melihat orang yang berdiri di hadapan nya dengan ekspresi khawatir. Tangan nya terulur ke depan menawarkan bantuan. Sein langsung menggapai uluran tangan itu dan berdiri.
"Terimakasih. Kalo telat dikit aja dah mati aku." Celetuk Sein.
"Sama sama. Syukurlah kau baik baik saja."
Sein mengangguk. Tapi tunggu, dari mana pemuda itu tau nama nya? "Bentar, tau nama ku dari mana?"
"Aku tau dari Zion. Ngomong ngomong aku Ren, teman Zion. Oke, aku akan mengurus yang lain. Sampai nanti, hati hati ya." Ujar Ren kemudian berlari dan mengambil ancang ancang menggunakan sihir nya untuk membentuk sayap dan langsung terbang pergi.
"Pengendali elemen kegelapan... Teman Zion? Zion gak pernah cerita tentang ini sebelumnya.ah sudahlah pikir nanti saja."
Sring!
"Tingkatkan kewaspadaan mu. Jangan lengah di saat seperti ini!" Ujar Hali yang baru saja memotong kepala monster yang nyaris saja menyerang Sein tadi.
Sein mengangguk cepat. Dirinya benar benar harus serius sekarang.
******
Di sebuah singgasana, seorang pemuda ber manik hitam duduk sambil melihat pertempuran yang terjadi di medan perang melalui sihir yang ia buat. Banyak anggota pasukan nya yang sudah tewas terbunuh. Namun, bukan nya khawatir tapi dirinya justru tersenyum melihat itu.
Tangan kanan nya memegang segelas bir yang ia goyang goyang kan. Mata nya terfokus pada seorang pemuda yang sedang melawan para monster di medan perang. Tanpa ragu maupun takut. Serangan demi serangan pemuda itu arahkan tanpa menahan diri lagi.
Tak jarang serangan sihir skala besar yang langsung ia tujukan pada sekumpulan monster yang menyerang nya. Senyuman Avren semakin besar melihat kekuatan pemuda itu.
"Sepertinya sudah waktunya aku ikut turun ke medan perang. Ini adalah akhir dari hidup mu, Zion Ravael." Avren turun dari singgasana nya dan mengulurkan tangan nya ke depan. Sebuah portal sihir muncul dan dia langsung masuk ke dalam nya.
"Walau kekuatan mu besar, tapi kau melupakan satu hal Zion, segel bulan itu masih ada di tubuh mu." Lanjutnya sambil menyeringai.
*******
"[NonMagic:pusaran angin]"
"[NonMagic:tembakan cahaya]"
"[NonMagic:ikatan sulur berduri]"
"[NonMagic:tanah tajam]!!"
Serangan demi serangan dari berbagai jenis sihir berbeda Zion arahkan pada monster monster di sekitar nya. Dalam sekejap, ratusan monster hancur karena serangan nya. Tapi, para monster itu tidak ada habisnya. Beberapa dikalahkan, monster monster lainnya pun mulai berdatangan.
"Kalo gini gak ada habisnya. Nero!!"
'Tidak belum saatnya. Kau harus simpan tenaga untuk menghadapi nya nanti.' balas naga di dalam dirinya. Zion berdecak kesal. Tapi apa yang naga itu katakan ada benarnya juga. Jika ia kehabisan tenaga sekarang akan sulit menghadapi Avren nanti nya. Ia harus mempersiapkan diri untuk melawan pemuda itu, sekaligus menyelamatkan nya.
"Baiklah tak masalah. Terus beritahu tentang serangan mereka saja."
Nero mengangguk mengerti. 'Baik!'
Namun baru saja Zion berniat kembali menyerang, angin kencang berhembus bersamaan dengan munculnya bola bola sihir di langit. Bola sihir berwarna hitam yang sama seperti apa yang pernah ia lihat sebelumnya.
"Zuka!!!" Seru Zion. Pemuda yang merasa namanya dipanggil langsung mendongak. Sudah di mulai. Avren sudah mulai turun tangan. Perang sesungguhnya sudah di mulai.
Bola bola sihir itu meluncur dengan cepat dan menimbulkan ledakan begitu menyentuh tanah.
"Buat pelindung untuk melindungi pasukan!!" Seru Rendrano. Beberapa penyihir langsung membuat sihir pelindung untuk melindungi pasukan lainnya.
Zuka berlari menghampiri Zion dengan raut wajah khawatir. Ini lebih cepat dadi apa yang ia pikirkan.
"Avren turun tangan. Bagaimana sekarang, Zion?" Tanya Zuka.
"Kita mulai rencana sekarang."
TBC