
"HUAAAA!!!!! LATIHAN MACAM APA INI???? AKU MENYESAL!! JIKA TAHU AKAN JADI SEPERTI INI, AKU TAK MAU MELAKUKANNYA!! TOLONG!!!!"
Zion berteriak minta tolong sambil berlari mengelilingi lapangan. Dia berlari sekencang yang ia mampu untuk menghindari sesuatu yang mengejarnya.
Yap, ada seekor harimau putih yang mengejarnya di belakang. Jika berhenti, sudah jelas ia akan di makan oleh harimau itu. Terlebih lagi, ia tidak diperbolehkan untuk menggunakan sihir.
" Lord aku menyesal!!! Tolong hentikan!! " Ucap Zion meminta berhenti. Tapi Rendrano tak menghiraukan nya.
"Kau sendiri yang memintanya bukan? Jadi kau harus menerima apa yang sudah kau katakan." Ucap Rendrano.
Oke, Zion benar benar menyesal kali ini. Karena meminta untuk latihan yang lebih cepat, tapi malah harus berlari dikejar harimau. Sungguh menyebalkan.. Jika ia tau tentang ini, ia memilih tak memintanya.
"Nero tolong aku!!! Setidaknya putar waktu atau buat harimau ini berhenti!" Pinta Zion yang sudah mulai kelelahan.
'Kau pikir aku ini apa? Sudah lah, tanggung sendiri. Kau yang memintanya kan? Jadi nikmati saja' ucapnya cuek plus santai.
"Kau menyebalkan Nero!!!" Pasrah, Zion hanya bisa berlari dan mencoba mempercepat larinya.
"Atur nafas dan aliran sihirmu. Itu akan membantumu untuk tidak terlalu kelelahan." Kata Rendrano.
Zion pun mencoba mengatur nafas dan aliran akhirnya. Tapi bagaimanapun di saat seperti ini tetap saja sulit. Tapi tak ada salahnya untuk mencoba. Ia pun mulai mengatur ritme nafasnya dan mengubah aliran sihirnya menjadi tenaga.
Lama kelamaan hal itu cukup berhasil dan setidaknya membuat nafas Zion menjadi lebih normal.
Merasa cukup, Rendrano pun akhirnya menghentikan latihan. "Sudah cukup. Berhenti." Ucapnya dan harimau itu pun menghentikan larinya lalu berjalan menuju arah Rendrano. Menghampirinya dan pergi ke dalam hutan.
Sedangkan Zion terlihat berjalan lesu dan akhirnya berbaring di atas rumput. "Haah... Haah... Lelah sekali... Apa apaan ini Lord? Tiba tiba harimau mengejar ku begitu. Jika aku dimakan bagaimana?" Protes Zion.
"Kau sendiri yang memintanya bukan?" Tanya Rendrano. Justru karena itu Zion menyesal. Ia tak tau jika akan jadi sepeti ini.
"Haahaha.... Harusnya anda memberitahu dulu... "
"Kau juga tak bertanya. Sekarang bangun. Kita lakukan latihan berikutnya. " Ucap Rendrano.
"Ha? Tapi aku masih lelah... "
"Cepat!!" Ucap Rendrano tegas. Zion pun langsung berdiri. "Untuk selanjutnya, melatih kemampuan bertarung mu dan juga kelincahan mu."
Rendrano mengajak Zion ke suatu tempat, tepatnya di sebuah danau. Ada banyak bambu bambu di atasnya dan kini Zion harus berdiri di atasnya.
"Sekarang coba kau berdiri satu kaki di atas bambu itu. Coba untuk menyeimbangkan tubuhmu."
"Siap!" Ucap Zion mantap.
Zion mulai menyeimbangkan tubuhnya dan berdiri satu kaki di atas bambu. Awalnya dia hampir kehilangan keseimbangannya, namun terus mencoba. Beberapa kali ia mencoba untuk kembali menyeimbangkan tubuh nya saat hampir terjatuh.
Rendrano juga menaruh dua tumpuk piring di atas kedua tangan Zion. "Jika piring ini jatuh, kau akan gagal dan latihan ku tambah dua kali lipat. "
Sebisa mungkin ia mencoba menyeimbangkan tubuhnya. Jika tidak, dia akan terjatuh ke danau dan pakaian basah di tengah latihan itu hal yang paling dibenci oleh pemuda ber rambut hitam itu.
Tak lama kemudian, ia mulai bisa menyeimbangkan diri. Tapi, Rendrano justru menyeringai. Ia memunculkan lingkaran sihir kecil di dekat telinganya dan berbisik "mulai sekarang Yanata."
Secara tiba tiba, batu batu meluncur ke arahnya membuat Zion terkejut dan melompat ke bambu di sebelahnya untuk menghindari batu tadi. "Eh apa apaan ini?"
"Yanata!!! Kalo gini terus aku bisa jatuh!! "
"Emang tujuannya buat kakak jatuh! "
"Kau kejam!!!"
"Aku hanya menjalankan tugas~"
Zion melompat dari satu bambu ke bambu lain mencoba untuk Menghindari serangan Yanata. Beberapa kali dirinya hampir terjatuh karena batu yang di lemparkan Yanata.
Sementara, gadis itu semakin banyak melemparkan batu yang beberapa kali berhasil mengenai tubuh Zion. Dan....
Byur!!
Keseimbangan nya hilang dan ia pun terjatuh ke danau. Belum cukup sampai situ, beberapa piring pun juga mengenai kepalanya. Beruntung tidak pecah. Ini yang nanya sudah jatuh, tertimpa tangga.
"Ah kakak maaf!!" Ucap Yanata dan terbang menghampiri Zion.
"Haduh!!! Aku jadi basah tau!!!" Protes Zion kesal.
"Gagal. Coba lagi sampai kau berhasil menghindari serangan Yanata!" Ucap Rendrano.
Zion pun akhirnya mencobanya lagi. Sekali... Dua kali... Tiga kali... Empat, lima, enam. Dia terus terjatuh akhirnya sampai emosi sendiri.
"Haaahhh!! Tak bisa kah berbaik hati dengan kakakmu ini Yanata??? Bagaimana aku bisa berhasil jika begini terus?!" Keluh Zion yang mulai kesal.
"Jangan salahkan Yanata. Kau juga salah karena tidak bisa fokus dan menahan emosi." Ucap Rendrano dan Zion hanya bisa terdiam. Namun, saat itu juga Yanata berhenti tertawa merasakan tekanan berat dari pemuda ber iris ruby itu. Pupil matanya seketika berubah, namun dalam hitungan detik kembali normal.
Zion lagi lagi menghela nafas. "Baiklah, ayo mulai lagi." Ucapnya dengan nada suara yang sedikit dingin.
Sementara Rendrano... 'Ada sisi lain dalam dirinya. Tapi dia begitu serius untuk latihan. Baiklah...'
Rendrano mengajak Zion ke suatu tempat. Tepatnya air terjun tak jauh dari sana. Di sanalah tempat Zion harus mengontrol emosinya. Dengan penenangan menggunakan air, pengendalian aliran sihir pun juga akan lebih mudah.
Zion sedang duduk bersila di salah satu batu di bawah air terjun. Sementara, Rendrano ada di sebelahnya. Matanya terpejam dan terlihat begitu rileks.
Lain halnya dengan Zion yang berusaha keras menahan dingin. Tubuhnya sampai gemetar karena deras dan dinginnya air terjun itu. "D-di..Dingin sekali... B.. Bagaimana Lord bisa bertahan? A.. A.. Irnya juga deras sekali..." Kata Zion.
"Jangan bicara. Fokus pada aliran sihirmu dan kosongkan pikiran." Ucap Rendrano tanpa membuka matanya dama sekali.
"B... B... B... Baiklah... Akan kucoba..."
Ada yang bilang, tak ada latihan yang sudah apabila mau berusaha dan pantang menyerah. Itulah yang dilakukan Zion sekarang. Ia berusaha keras untuk berlatih dan meningkatkan sihirnya.
Latihan itu terus berlanjut. Satu minggu berlalu dan Zion sudah mulai mahir dalam latihan itu. Keseimbangan nya bertambah dan dia sudah bisa menghindari semua serangan dari Yanata, kelincahan nya sudah meningkat dan ditambah dengan latihan tanding dengan Rendrano, membuat kemampuan pengontrolan sihir nya juga semakin bagus.
Namun, sementara Zion sedang berlatih dengan Rendrano dan Yanata, ia tak menyadari jika ada yang sedang mengawasi nya dari kejauhan.
"Wah wah wah... Jadi ini anak yang di maksud? Kemampuannya boleh juga. Tapi... Apa benar dia sekuat itu?" Ucap seseorang yang kemudian pergi begitu saja.
TBC