
Angin bertiup sejuk menerpa wajah pemuda ber manik ruby yang kini sedang berdiri di atap akademi. Salah satu tangan nya memegang pagar pembatas atap dan satu tangan nya lagi menyingkirkan rambut yang menutupi wajah nya.
Terlihat begitu manis dan mempesona. Namun tatapan nya seketika berubah serius saat ia melihat sekumpulan anak yang sedang berjalan sambil bercanda di halaman akademi.
'Bukan, dia tidak ada di sana.'
Pemuda itu, Zion menghela nafas. Apa yang ia cari belum juga ditemukan. Tugas yang pak Rendrano berikan padanya.
"Haah... Apa gak ada petunjuk lain yang berguna Nero? Kau kan hebat... Cari lah lebih jauh lagi..." Ucap Zion sambil menyandarkan dirinya di pagar pembatas. Mata nya terpejam sambil merasakan hembusan angin yang menerpa wajah nya.
'Saat butuh baru kau bilang aku hebat? Lalu saat tidak mendapat informasi yang tepat seperti saat keluar dari jurang saat itu, kau bilang aku tak berguna? Sungguh kejam.' protes Nero. Iya kembali teringat saat terjebak di jurang tempat peliharaan Avren kala itu. Sungguh menyebalkan dikatai begitu oleh tuan sendiri. Padahal dirinya sudah banyak membantu tuan nya sejak awal bereinkarnasi. Hiks...
Apa daya... Dirinya hanya seekor naga legendaris yang terjebak dan meminta bantuan pada seorang anak kecil yang baru ber reinkarnasi ke dunia ini, yang bahkan tidak tahu tentang kekuatan yang di miliki nya.
"Bukan begitu, tapi... Aku cukup penasaran siapa musuh kita kali ini. Ketua Ras Inimicus dan seluruh pasukan nya sudah di kalahkan. Lalu, siapa lagi yang akan menyerang?"
Nero terdiam. Ada benarnya. Tapi mengingat di dunia ini bukan hanya ada Ras penyihir dan naga, itu bisa saja. 'Mungkin iblis atau seseorang yang ingin balas dendam karena kekalahan pasukan nya. Atau...' Nero menjeda ucapan nya. Dalam hati naga itu terkekeh.
"Atau apa?"
' atau hantu dari arwah para pasukan yang mati kau bantai. Mereka tidak tenang dan menyatukan kekuatan untuk balas dendam pada mu, Zion~'
Angin berhembus membuat bulu kuduk Zion berdiri. Entah mengapa dirinya jadi merinding. "Oi!! Jangan nakut nakutin napa!" Protes Zion. Ingatlah jika dirinya masih takut dengan hantu. Walau sudah pernah berhadapan dengan makhluk spirit sampai masuk ke penjara bawah tanah, tapi rasa takut itu tidak bisa di bisa di hilangkan dengan mudah.
Sementara, naga di dalam sana hanya tertawa terbahak bahak sambil guling guling. Baginya, menjahili tuan nya itu suatu hiburan tersendiri untuk nya.
"Dasar naga menyebalkan!!"
"Sedang bicara dengan Nero?"
Zion terkejut dan refleks menoleh ke belakang. Seorang pemuda ber rambut putih bersih dengan iris mata gold bersandar di pintu dekat tangga. Ia benar-benar tidak menyadari kehadiran pemuda itu di sana. Sudah sejak kapan dia ada di sana?
"A-ah Zuka. Kau membuat ku terkejut saja. Sejak kapan kau di sana?" Tanya Zion.
Zuka berjalan mendekati saudara nya itu. "Sejak tadi. Melihat mu yang mengobrol dengan Nero, seperti kau berbicara sendiri. Kalo orang yang gak tau pasti bakal berfikir begitu."
Zion menggaruk garuk belakang kepala nya yang tak gatal. Memang benar sih.. Karena biasanya Zion berbicara dengan cara telepati. Orang yang tidak tahu pasti akan salah sangka. Beruntung, Zion sudah memberitahu semua rahasia nya pada saudara nya itu. Jadi ia tak perlu khawatir sekarang.
"Hehe maaf. Ngomong ngomong sedang apa kau di sini?"
Zuka berjalan mendekati pagar pembatas dan menyandarkan dirinya di sana. "Tentang tugas yang pak Rendrano berikan padamu. Mungkin aku bisa membantu mu soal itu. Ya... Mengingat aku juga baru datang ke akademi ini, jadi aku belum akrab dengan orang lain. Kecuali kau, Avren dan Hali tentunya." Jelas Zuka.
Ada benarnya. Dengan bantuan Zuka mungkin akan lebih cepat untuk menyelesaikan tugas nya. Zion sedikit mengingat kembali pembicaraan nya dengan pak Rendrano kala itu.
Flashback on
"Aku mendapat laporan mengenai kemunculan iblis di Kerajaan Kerajaan tetangga. Mereka bukan berasal dari ras Inimicus, tapi kemampuan mereka tidak bisa di anggap remeh. Menurut informasi yang ku dapat, raja iblis mulai bergerak dan yang lebih berbahaya lagi, dia bisa merubah wujudnya menjadi manusia biasa dan menekan sihir serta aura nya. Itu tentu menyulitkan para kesatria dan penyihir lain untuk menangkap nya." Jelas Rendrano.
Iblis yang memiliki kemampuan seperti itu sebenarnya cukup jarang. Walau ras iblis sekalipun, kebanyakan dari mereka tidak bisa merubah wujud mereka. Kecuali jika itu iblis tingkat atas. Tapi itu pun masih tergolong sedikit. Tapi kali ini raja iblis yang akan ia hadapi. Jadi sepertinya wajar jika memiliki kemampuan seperti itu.
"Jadi, Lord ingin saya mengintai di Kerajaan untuk mencari iblis itu dan menangkap nya?" Tanya Zion memastikan.
Rendrano menggeleng. "Tidak perlu. Karena iblis itu sudah datang ke sini."
Mendengar ucapan tuan nya itu, Zion membulatkan mata. Apa maksudnya dengan iblis itu yang sudah datang ke sini? Apa dia dengan sukarela menyerahkan diri? Ah tidak, bukan itu tentunya.
"Maksud Lord?"
"Dia menyamar menjadi salah satu murid di Star Magic Academy. Tujuan nya masih belum di ketahui, tapi yang pasti, keselamatan murid murid di sekolah ini terancam sekarang."
"Jadi, saya harus menyelidiki dan mencari tau tentang iblis itu di sekolah ini. Tapi... Jika sebagai pelatih khusus saja, itu akan sulit untuk menyelidiki nya. Karena pelatihan ku akan terfokus di Hero Class saja."
Rendrano tersenyum tipis mendengar ucapan Zion. Ini sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Tentu saja Rendrano sudah memperkirakan hal lni.
"Maka dari itu, kau tidak akan menjadi pelatih khusus lagi." Rendrano menjeda ucapan nya membuat Zion mengernyitkan dahi nya. "Kau juga akan menjadi salah satu murid di Star Magic Academy. Atau singkat saja, STAMY. "
"A-apa harus Lord? Tidak adalah cara lain?" Bukan karena Zion tidak mau bersekolah di sana, tapi apa cara ini tidak malah menambah kecurigaan iblis itu?
"Tidak. Dengan kau menjadi murid di STAMY, kau akan lebih mudah untuk mengawasi nya. Mencari informasi lebih banyak tentang kemampuan dan kelemahan nya. Itu akan mempermudah mu dalam membunuhnya nanti."
Flashback off
Mengingat apa yang mereka hadapi kali ini bukanlah lawan yang mudah, terlebih lagi musuh mereka kali ini ikut berbaur di dalam sekolah, tentu Zion tidak bisa menyelesaikan nya sendiri. Ia membutuhkan bantuan. Tapi... Sepertinya lebih sedikit orang yang dia ajak kerjasama akan lebih baik.
"Zion halo?" Zuka melambaikan tangan nya di depan muka Zion membuat pemuda itu tersadar dari lamunan nya. Lagi lagi ia terlalu fokus dengan pikiran nya sendiri sampai melupakan apa yang ada di sekitar nya.
"Tapi tugas ini cukup berbahaya. Kita masih belum tau siapa orang nya dan setinggi apa kemampuan nya."
"Maka dari itu kemampuan ku bisa membantu."
Zion menoleh. Terlihat Zuka yang tersenyum manis padanya. "Kau lupa aku bisa menggunakan suara ku untuk mengendalikan makhluk lain? Aku bisa mengendalikan makhluk itu secara keseluruhan termasuk untuk mendengarkan dan mengamati dari jauh."
"Tapi bukannya hanya makhluk yang sekarat? "
Zuka menyeringai. "Buat saja begitu. Itu juga berlaku pada binatang. Kita gunakan serangga saja."
Zion menepuk dahi nya. Selama ini ia pikir Zuka adalah anak baik yang tidak akan tega melakukan tindak kekerasan pada binatang. Tapi ternyata dugaan nya itu salah.
"Kau kejam Zuka."
Zuka tertawa garing sambil menggaruk belakang kepala nya yang tak gatal. "Ahaha aku hanya bercanda Zion. Tapi bukan tidak mungkin aku akan menggunakan nya sih... Aku pasti akan membantu mu kok!!"
Zion menatap dengan ekspresi datar. Ia ragu jika apa yang Zuka katakan hanya candaan.
"Mengingat yang kita hadapi kali ini ras iblis, kemungkinan itu juga akan memancing kedatangan para monster di Akademi ini. Mungkin itu juga bisa di gunakan? Dengan mengendalikan monster yang iblis itu kirim untuk menyerang Akademi, itu akan mengurangi kecurigaan iblis itu sendiri."
Zion dan Zuka mengalihkan pandangan nya. Entah sejak kapan, pemuda ber manik merah dengan rambut keunguan berdiri di balik bayangan bangunan sambil bersandar di dinding.
Entah karena Zion dan Zuka yang terlalu sibuk mengobrol sampai tidak menyadari kehadiran pemuda itu, atau memang karena pemuda itu yang muncul secara tiba tiba sampai mereka tak sadar?
"Alex... Kau membuatku kaget saja. Heran deh.. Dari tadi ngagetin mulu. Kau muncul dari mana?" Tanya Zion.
Melihat reaksi sahabatnya itu membuat Alex tertawa kecil. Ia kemudian berjalan mendekati kedua teman nya itu. "Bayangan. Kau tau aku Vampir, selain itu aku juga punya sihir bayangan kan? Jadi mudah bagiku berpindah tempat menggunakan bayangan. Konsep nya hampir sama dengan teleportasi." Jelas Alex.
Zion mengangguk mengerti. "Jadi kau menguping pembicaraan kami. " Cetus nya.
Alex hanya tertawa garing, lalu merangkul sahabat nya itu. "Maaf maaf... Gak sengaja. Lagian tugas seperti itu tidak bisa di lakukan oleh satu orang kan? Biarkan aku dan Zuka membantumu juga Zion. Jangan menanggung semuanya sendiri. Jangan lupa kau juga punya banyak teman yang bisa kau andalkan."
Kata kata Alex membuat Zion tersenyum tipis. Memang benar. Untuk kali ini lebih baik ia menerima bantuan mereka. Itu akan lebih baik.
"Baiklah jika begitu... Terimakasih ya."
Kriiingg!!
Bel berbunyi menandakan pelajaran akan segera di mulai. Ini adalah hari pertama bagi Zion sebagai murid di STAMY. Entah mengapa membuat nya sedikit gugup.
" Bel sudah berbunyi. Cepat gih pada masuk kelas." Ucap Alex.
Keduanya pun mengangguk. "Eh tapi kau sendiri?"
"Aku menjadi pengawas di sekolah ini. Tentu saja waktu ku lebih santai~"
"Lebih santai... Kecuali kalau kau ketahuan abang mu masih berada di sini sekarang." Ujar Zion sambil melirik ke bawah, melihat Reon yang sedang berjalan di halaman sekolah.
Bulu kuduk Alex berdiri. Kepanikan nya tiba tiba muncul. "Tuh orang rajin amat sih?! Oke aku pergi dulu. Takut di pites kalo ketahuan. Sampai nanti!" Dengan cepat Alex langsung berlari menuruni tangga sebelum ketahuan kakak nya itu.
TBC