Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
62. Hero Class VS Beast (part 3)



"Baiklah sekarang sudah beres, dan tinggal pelaksanaan nya saja! Kurasa memang mereka yang paling cocok kan? Nero!"


'Jika dilihat dari kemampuan dan sihir, memang itu yang paling cocok. Tapi bagaimana dengan yang lain?'


"Aku sudah menyusun semuanya. Jadi, ayo kita lihat bagaimana kedua bintang akademi ini mengatasi kedua murid Beast itu. Hiihihihihihi~" Ucap Zion dengan gaya ala psikopat.


'Jangan bergaya seperti itu. Kau membuat ku takut.'


"Punya rasa takut juga rupanya"


'Diamlah.'


"Kau sedang berbicara dengan siapa Zion?"


Deg!


Seketika Zion terdiam. Ia menengok ke belakang nya dan mendapati Alex yang sedang bersandar di dinding. Sejak kapan pemuda itu ada di sana?


"A-aku.. Bicara sendiri. Aku sudah biasa begitu kan? Baiklah, sudah saatnya pertandingan ketiga! Ayo kita saksikan pertandingan mereka!!" Ujar Zion sambil mendorong Alex.


Zion berdiri di samping arena dan memandang ke sekeliling nya.


"Duel ke tiga. Dari Hero Class, Hali Vandelous dan Sein Leinsta. Dari Beast Akademi, Sheelda Welhuer dan Sai Relhman. Memasuki arena." Ujar Zion.


Keempat remaja itu pun berjalan memasuki arena. Zion terdiam memandang keempat remaja itu. Kemudian ia membuat pelindung, namun kali ini bukan menutupi arena, namun berbalik dan menutupi para penonton.


Semua tampak bertanya tanya mengapa Zion melakukan itu. Sedangkan sang pemuda hanya menyeringai tipis.


"Baik, langsung saja. Bersedia... "


Keempat peserta tampak langsung memasang mode siaga dan mengaktifkan sihir mereka masing masing.


"Mulai!"


Duar!!


Baru saja Zion mengumumkan pertandingan di mulai, ledakan sudah terjadi akibat enturan sihir dari keempat peserta. Hali menggunakan pedang petir nya untuk melawan Sai yang langsung memblokir serangan nya dengan topi yang ia jadikan perisai.


Tak cukup sampai di situ, selain menggunakan sihir dan kemampuan masing masing, kemampuan beladiri mereka juga cukup hebat. Hali berhasil menghindari setiap serangan dari Sai, begitu juga sebaliknya.


Di sisi lain, Sein terlihat terus menembakkan sihir cahaya dari jari nya dan menghancurkan bulu bulu besi Sheelda. Namun, gadis itu juga tidak menyerah begitu saja. Sheelda memantulkan tembakan cahaya Sein yang juga hampir mengenai pemiliknya sendiri.


Beruntung, Sein cukup gesit dan lihai menghindari setiap serangan balik sambil terus menembak.


Semua orang yang menonton tampak kagum dengan pertempuran keempat peserta itu. Zion juga tampak tersenyum puas. Hasilnya sama seperti apa yang ia harapkan. Dan setidaknya, tidak akan ada kejadian aneh lagi.


Namun, pandangan nya teralihkan pada gadis setengah singa yang terlihat cukup kebingungan. Mungkin ia sedikit kebingungan dengan apa yang ia suruh pada nya dan Yanata tadi.


Zion pun langsung menghampiri Yanata yang juga sedang asik menonton.


"Yana, bisa kau bantu Yiva? Sepertinya dia sedikit kebingungan." Bisik Zion.


Yanata memandang sahabatnya itu yang tampak gugup. "Baiklah kak! Aku akan membantunya!" Ucap Yanata sambil berkedip. Gadis itu pun langsung pergi menghampiri sahabat nya.


Zion tersenyum melihat itu. Ia kembali memperhatikan pertandingan. Selain memiliki sihir paling kuat di Akademi, kerjasama Hali dan Sein bisa dibilang cukup bagus. Tapi ini adalah duel untuk menguji seluruh kemampuan mereka. Jadi, tidak ada salahnya bukan jika Zion ingin memberi tambahan ujian pada mereka?


Di sisi lain, Yanata baru saja menjelaskan apa yang Zion minta ia dan Yiva lakukan. Gadis beast itu pun mengangguk mengerti.


"Kukira yang perlu ku lakukan membuat ledakan saat pertandingan mereka. Tapi ternyata hanya membuat serangan mereka sedikit kacau saja." Ucap Yiva sambil mengangguk angguk.


"Yap! Dengan begitu, tingkat keberhasilan serangan merek akan menurun dan disinilah ujian sebenarnya." Jawab Yanata.


"Baiklah, kalo gitu ayo mulai sekarang!"


"Hm!"


Sementara, pertandingan terus berlanjut, dentuman dua benda tajam terdengar saat pedang dan kuku milik Sai saling bergesekan. Percikan api bahkan sampai terlihat saat kedua nya saling bergesekan.


"Kemampuanmu boleh juga bocah." Ujar Sai di sela serangan nya.


"Kau juga tidak buruk." Balas Hali sambil meluncurkan tebasan, namun berhasil di hindari oleh Sai.


Hali menggunakan sihir nya yang membuat nya dapat bergerak dengan cepat dan muncul di belakang Sai.


"Rasakan ini!" Seru Hali dan siap menebaskan pedang nya.


Waktu yang sangat singkat membuat Sai tidak bisa menghindar. Namun, entah mengapa gerakan Hali sedikit melambat membuat Sai berhasil menghindar dan langsung meluncurkan tendangan tepat mengenai perut Hali dan melempar nya ke luar Arena.


Karena pelindung yang seharusnya dibuat melindungi arena kini berbalik melindungi penonton, Hali jadi langsung terlempar keluar saat itu.


"Hali!! " Seru Sein melihat rekan nya. Namun, itu justru menjadi kesempatan untuk Sai ikut menyerang. Dengan cepat Sai melemparkan topi nya ke arah Sein yang langsung menghindar. Namun, dari sisi lain Sheelda langsung memukul nya membuat pemuda bermanik kuning cerah itu jatuh tersungkur.


"Perhatian sebentar, untuk duel kali ini, peserta yang sudah keluar arena diperbolehkan untuk masuk kembali. Sekian, terimakasih." Ujar Zion.


Hali mendekat ke arah Sein yang terlihat cukup kelelahan. "Kita harus kerjasama. Jika terus seperti ini, kita bisa kalah."


"Baiklah... Lagipula aku sudah cukup lelah. " Jawab Sein.


Keduanya langsung mengaktifkan sihir dan bersiap menyerang. Sai berlari lebih dulu dan siap dengan dua lingkaran sihir ber ukuran kecil di ujung jari nya ia menembak kan laser cahaya dari jari nya tepat pada Sheelda.


Namun sayang serangan itu berhasil ditahan oleh topi milik Sai. Sedangkan Hali langsung melesat dan meluncurkan tebasan pada Sai. Pemuda beast itu mencoba menahan serangan nya. Namun, sengatan listrik yang cukup kuat membuat tubuhnya cukup sakit.


Hali yang menyadari hal itu tidak menyia nyia kan kesempatan dan langsung menyerang nya lagi. Tapi lagi lagi ia merasakan hal aneh. Terasa seperti ada yang menarik nya kebawah membuat Hali hampir kehilangan keseimbangan.


Dengan cepat Sai langsung menghindar dan melompat cukup jauh dari Hali.


"Anak itu kuat juga.." Ucap nya.


Di sisi lain, Sein terus menghindari setiap bulu bulu yang dilemparkan Sheelda. Pertarungan udara seperti ini membuatnya cukup kesulitan karena Sheelda terus terbang ke segala arah membuat nya sulit menebak pola serangan gadis beast itu.


"[Sihir cahaya: lompatan cahaya]!!" Sein menggunakan sihirnya untuk berpindah dengan cepat dan langsung muncul di belakang Sheelda membuat gadis itu terkejut.


"[Sihir cahaya: tembakan cahaya]!!!" Seru Sein dan menembakkan cahaya dari tangan nya. Namun, serangan Sein melambat beberapa detik yang menjadi kesempatan Sheelda untuk menghindar.


Dan Sheelda langsung melemparkan bulu bulu besi nya pada pemuda itu. Tapi berhasil di hadang oleh Hali.


"Kau baik baik saja?" Tanya Hali.


Sein mengangguk "Aku baik baik saja. Terimakasih." Jawab Sein.


"Waktu tersisa dua menit lagi." Ucap Zion. Keempat remaja itu pun langsung bersiap. Ini akan menjadi serangan terakhir mereka.


Sein dan Hali mengangguk seakan menyepakati sesuatu. Mereka berlari menuju ke arah Sai dan Sheelda. Begitu juga sebaliknya. Namun, Sein langsung melompat dan memunculkan lingkaran sihir berukuran tiga meter di hadapan nya.


"Sekarang Hali!!!" Seru Sein. Hali mengangguk dan mengangkat tangan nya ke atas. Lingkaran sihir berukuran tiga meter berwarna merah muncul di depan lingkaran sihir Sein.


"[Sihir petir: sambaran petir]!!! "


"[Sihir cahaya: tembakan cahaya]!!! "


Sihir gabungan berkekuatan tinggi itu langsung meluncur tepat pada Sai dan Sheelda.


"Lemparan bulu besi!! " Seru Sheelda dan ratusan bulu bulu besi itu langsung meluncur ke arah Sein dan Hali.


"Putaran topi!!!" Tidak mau kalah, Sai juga melemparkan topi nya. Namun ia juga langsung mengambil perisai Sheelda dan berdiri di hadapan nya.


DDUUAARR!!!


Ledakan besar terjadi menggetarkan bahkan membuat retakan pada pelindung. Para beast yang memiliki indra lebih tajam cukup ketakutan melihat aksi serangan itu. Bahkan pelindung yang bisa dibilang sangat kuat itu sampai retak akibat gelombang serangan mereka.


Kebulan debu menutupi arena. Tidak ada yang tahu siapa yang menang atau yang kalah. Mereka hanya bisa menunggu debu mulai menghilang. Dan saat debu mulai menghilang, terlihat jelas Sai dan Sheelda yang bersembunyi di balik perisai yang hancur.


Kedua remaja itu mengatur nafas akibat tenaga yang terkuras banyak. Sai memcoba berdiri, namun gagal. Tubuhnya terlalu lemas walau hanya untuk berdiri.


Namun lain halnya dengan Hali dan Sein yang tidak sadarkan diri dengan beberapa luka di tubuh mereka. Sepertinya mereka tidak bisa menahan efek serangan itu.


"Pemenang duel ini, Sai dan Sheelda dari Beast Akademi!!!" Seru Zion mengumumkan pemenang.


Sorakan meriah terdengar dari para murid Beast Akademi. Sedangkan keheningan justru menyelimuti murid murid Hero Class.


Kedua murid terkuat di akademi berhasil di kalangan?


"Baiklah, untuk kalian semua, catat apa yang kalian pelajari dalam duel ini. Aku akan melihat nya nanti. Baiklah, peserta berikut nya."


Pertandingan terus berlanjut dan Zion juga mencatat semua kekurangan dan kelebihan mereka.


Sementara itu, di suatu koridor yang cukup gelap terlihat seorang gadis ber rambut pendek yang baru saja selesai melukis sebuah lingkaran sihir di dinding. Ia tersenyum puas dengan hasil karya nya itu.


Lingkaran sihir itu bersinar dan dua orang pria keluar dari dalam nya. Kedua orang itu tampak berlutut dan memberi hormat di hadapan gadis itu.


"Kami akan menuruti semua perintah anda." Ujar kedua pria itu.


"Hahaha!! Bagus!! Sekarang, mari hancurkan anak sialan itu." Ujar nya sambil tertawa.


*****


"Bagaimana persiapan nya?" Tanya seorang pemuda ber iris hitam pada pemuda ber rambut putih yang sedang memandang cermin yang menampakkan kegiatan Zion dan gadis itu.


"Semua siap. Gadis itu sudah masuk jebakan. Dan ruby kita juga sudah siap." Ujar nya dengan nada datar.


Avren, pemuda itu mengalungkan tangan nya di leher Zuka. Dan berbisik. "Bagus... Sekarang saatnya menguji barang berharga kita."


Zuka hanya terdiam. Tangan nya mengepal kuat namun wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.


TBC