Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
29. Kilau merah ruby



Di sebuah ruangan di rumah sakit, terlihat seorang pemuda ber rambut hitam dengan sejumput rambut putih yang indah terbaring lemah di ranjang. Jarum infus terpasang di tangan nya dan terlihat perban membalut kepalanya.


Nafasnya berhembus teratur, namun iris ruby itu masih tertutup oleh kelopak matanya. Wajahnya begitu terlihat pucat seolah menjelaskan betapa rapuhnya anak itu.


Sudah satu minggu lamanya setelah kejadian di desa itu. Kini, Zion sedang dirawat di salah satu rumah sakit di pusat kota. Sementara Rendrano dan Yanata tinggal di sebuah apartemen tepat di samping rumah sakit itu.


Bisa dibilang, rumahnya di pedesaan hanyalah tempat mereka melepas penat dan sedikit menjauh dari pekerjaan yang tak ada habisnya. Dunia dengan peradaban dan teknologi yang cukup maju sebenarnya. Bisa dibilang hampir sama dengan dunia Zion sebelumnya.


Kembali pada Zion, anak itu masih saja belum membuka matanya. Luka di kepalanya cukup parah dan ditambah lagi dengan luka dalam yang ia terima karena serangan terakhirnya itu. Untuk tubuh kecilnya, serangan seperti itu memang memberi dampak yang besar.


Di samping nya, terlihat seorang gadis ber rambut coklat di ikat dua yang setia menunggu kesadaran sang kakak. Terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya.


Belakang ini dia selalu murung karena Zion yang tak kunjung sadar. Ia benar benar berharap jika kakaknya itu akan segera sadar dan bisa bermain bersamanya kembali.


"Kakak... Kak Zion kapan bangun? Yanata sedih lihat kakak gini..." Ucapnya dengan suara pelan. Tangan kecilnya menggenggam tangan kakak angkatnya itu.


Sejak tak ada Zion, rasanya sungguh sepi bagi Yanata. Walau belum terlalu lama mereka bersama, tapi ikatan mereka sudah cukup kuat sebagai kakak adik.


Ia merindukan kilau merah ruby di mata kakaknya itu.


"Kakak... Cepat bangun... Yanata mau main sama kakak lagi..." Ucapnya, kini dengan suara yang sedikit bergetar.


Gadis berikat dua itu membenamkan wajahnya pada dada sang kakak. Tanpa disadari, air mata menetes dari sudut matanya. Ia merindukan sosok yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri itu. Walau sebenarnya Zion hanyalah orang asing, tapi tidak lagi. Keberadaan pemuda itu benar benar sudah menjadi sosok kakak yang ia sayangi baginya. Melihatnya tak sadarkan diri dengan kondisi seperti ini, tentu saja cukup menyayat hatinya.


Tak berlangsung lama, tanpa disadari, gadis kecil itu sudah terlelap ke alam mimpi. Namun, ia tak menyadari jika ada belaian lembut yang membuatnya merasa nyaman.


Disaat gadis kecil itu tertidur, sang penilik manik ruby itu kembali membuka matanya.


Menyadari keberadaan gadis kecil itu, ia hanya bisa mengusap lembut puncak kepalanya dan mengucapkan terimakasih dengan suara pelan. Ia tak pernah menyangka akan ada orang yang mengkhawatirkan nya sampai seperti itu.


Zion yang kala itu baru sadarkan diri kembali menutup matanya. Rasa pusing masih terasa di kepala nya dan nyeri di beberapa bagian tubuhnya. Tapi ia lebih memilih mengabaikan hal itu sekarang.


Angin berhembus pelan memasuki ruangan dari jendela kaca yang terbuka. Cuaca cerah dengan suhu udara hangat dan angin yang berhembus sejuk cukup membuatnya merasa tenang. Setidaknya itu membantu menenangkan dirinya.


'Kau sudah sadar. Bagaimana kondisi mu sekarang?' suara terdengar di kepalanya. Itu adalah Nero yang mulai membuka telepati.


'Ya, aku baik baik saja. Walau aku tetap tak bisa berbohong kalau masih ada yang sakit. Kau sendiri?' Jawab Zion seadanya.


'Aku baik. Maaf mengendalikan mu'


Tersenyum tipis. 'Tidak apa. Aku justru berterimakasih. Kalo enggak, jelas bakal lebih lama lah... Dan dengan kita membunuh para iblis itu, Avren dan ras Inimicus jadi tidak tau keberadaan ku.'


Terkekeh pelan. 'Ada benarnya juga. Kau selalu mengambil sisi positif ya... Jika begitu... Berarti boleh dong aku lebih sering mengendalikan?'


'Eh, Tidak tidak! Kalo itu jangan. Kau itu terlalu kejam...'


'Apa kau bilang?! Tapi kau juga tak bisa seperti itu tanpa bantuan ku bukan?'


'Aku kan hanya mengatakan fakta~ walau kata katamu setelahnya ada benarnya juga sih... Gak bisa disangkal kalau kau memang banyak bantu.'


'Haha, sudah tentu. Nero gitu loh'


Zion tak menjawab. Ia tidak ingin membuat rekan nya itu melayang terlalu tinggi seperti balon karena terus dipuji.


Kadang ia heran, apa Nero begitu suka di puji? Setiap kali mendapat pujian, sikap sombong nya muncul.


Zion menghela nafas. Ia melihat ke luar jendela dan baru menyadari jika dia tidak lagi berada di desa tempat tinggal Rendrano. Dimana dia sekarang?


Namun, baru saja ia mau menanyakannya pada Nero, terdengar suara kenop pintu di putar. Perlahan pintu terbuka dan dua remaja berjalan memasuki ruangan.


Mereka adalah Alex dan Ocho. Ya, siapa lagi jika bukan mereka?


Ocho yang melihat Zion sudah siuman pun langsung mendekati pemuda itu. Sudah seminggu ia tak melihat kilau merah ruby di mata anak itu. Entah kenapa ia cukup merindukan nya.


"Zion, syukurlah kau sudah sadar. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa masih ada yang sakit?" Tanya Ocho dengan raut wajah khawatir.


Memasang senyuman, "aku baik baik saja kok. Sudah lebih baik. Ngomong ngomong terimakasih ya sudah jenguk." Ucapnya.


"Gak masalah. Lagian sama teman sendiri juga. Syukurlah kalo sudah membaik. Kami sangat khawatir dengan kondisimu Zion..." Ucap Ocho.


"Iya. Bisanya buat khawatir doang. Pingsan selama itu, apa kau berlayar di alam bawah sadar mu?" Celetuk Alex yang kini duduk di bangku sebelah tempat tidur Zion.


"Maaflah... Memangnya berapa lama aku pingsan?" Tanya Zion. Namun, justru keheningan yang menyambut. Terlihat Ocho mau membuka suara, namun langsung disuruh diam oleh Alex.


Tunggu, apa?


Loading 20%


50%


60%


75%


90%


"AAAPPPAAAAA???!!!!! DUA TAHUN???!!!!!! " Jeritnya dan langsung bangun. Namun, ia lupa jika ada gadis yang tadinya sedang tertidur di dadanya. Karena Zion bangun tiba tiba, gadis itu pun terkejut dan terjatuh dari kursi yang di duduki nya.


"Aduh!!!! Sakit!!!!" Keluhnya.


Alex dan Ocho yang melihat itu, "hahahaha!!! Ololo... Sakit ya?"


Yanata yang jatuh bukannya di tolongin malah di tertawai itu sakitnya berlipat ganda loh. Sungguh malang nasibmu Yanata...


Zion yang melihat kejadian itu juga tak bisa menahan tawa. Melihat bagaimana gaya Yanata saat terjatuh tiba tiba begitu, siapa juga yang tidak tertawa? Walau itu salahnya sekalipun, tapi tawa tetap saja tidak bisa ditahan.


Sejenak, ia justru melupakan apa yang menjadi alasannya terkejut tadi. Sungguh hiburan yang tak terduga rasanya.


Yanata pun bangkit dari jatuhnya dan melemparkan tatapan tajam ke arah kedua remaja yang masih tertawa di belakangnya itu. Seketika, tawa itu pun berhenti setelah mereka merasakan hawa mencekam dari gadis kecil itu.


"Kejam!!! Gak sopan tau buat anak yang lagi tidur langsung jatuh gitu aja!! Apalagi nih telinga juga sakit karena teriakan kek terompet!!! Siapa yang berani berteriak gitu??!!! " Omel Yanata sambil menatap tajam dua remaja itu.


Sementara, keduanya malah menunjuk ke seseorang yang kini di belakang Yanata. Sontak, gadis kecil itu pun berbalik.


Orang yang dimaksud tersenyum sambil menunjukkan dua jarinya. "Maaf..."


Hening...


Yanata seketika mematung ditempat. Namun selanjutnya, senyuman lebar merekah di bibirnya. "KAK ZION!!!!!! Serunya dan langsung meluncur memeluk kakaknya itu.


" Ak- Yanata!!! " Zion mencoba melepaskan pelukan Yanata yang sepertinya terlalu erat dan cukup membuatnya sakit itu.


Yanata yang menyadari itu... "Ah, maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf kakaaaakk!!!!!!! Yanata terlalu senang tadi. Maaf!!!" Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


Tersenyum. "Tak apa kok!" Ucapnya singkat. Walau sebenarnya ia menyembunyikan rasa sakit di tubuh nya.


"Oh ya, kapan kakak siuman?"


"Tadi saat kau tidur"


"Huuh harusnya aku gak tidur...."


"Kau pasti kelelahan. Tak apa kok! "


Sementara Zion dan Yanata mengobrol, ada dua pasangan yang hanya mendengarkan seolah keberadaan mereka tak disadari atau mereka hanyalah pajangan yang sering di abaikan.


"Ekhem!!!" Alex berdeham membuat kedua kakak beradik itu menoleh padanya.


"Eh ada patung ngomong" Celetuk Zion yang jelas mengundang emosi pada Alex.


"APA KAU BILANG??!!!" Wo wo... Alex marah tuh...


"Hihi... Hanya bercanda~ ngomong ngomong... Apa benar aku koma dua tahun? Itu bohong kan? Bohong kan?" Tanya Zion.


Alex pun tersenyum puas. "Emang bohong. Cuma pingsan seminggu." Ucapnya.


Enteng sekali Alex mengatakan itu.


Namun, aura gelap nan mencekam mendadak menyelimuti tubuh pemuda bermanik ruby itu. "Hehehe... Bohong ya... " Nada bicara yang halus... Tapi sayang sekali ada niat dan maksud lain dibaliknya. Entah mengapa, itu terlihat begitu menyeramkan.


"Cari mati ya?"


TBC