
Tok tok tok
Pintu di ketuk, tak lama terdengar suara orang dari dalam mempersilahkan masuk. Zion memutar kenop pintu dan berjalan masuk.
Dilihat nya seorang pria sedang duduk di kursi meja kerja nya sambil mengurus beberapa dokumen yang masih menumpuk di hadapan nya. Setelah apa yang terjadi semalam, tuan nya itu masih saja sibuk.
"Duduk lah, ada yang ingin ku bicarakan dengan mu." Ujar Rendrano tanpa mengalihkan pandangan nya dari tumpukan dokumen di meja.
Zion pun langsung berjalan dan duduk di kursi yang berada di hadapan Rendrano. Dalam hati ia masih bertanya tanya tentang apa alasan pak Rendrano memintanya datang ke sana. Jika pak Rendrano memintanya datang, pasti ada hal penting. Apa tentang perang semalam? Apa mungkin ketua ras Inimicus itu masih hidup? Semoga saja tidak.
Rendrano memandang pemuda yang berada di hadapan nya itu. Ia dapat membaca jelas raut wajah penasaran di wajah pemuda itu. "Mengenai perang semalam." Rendrano menjeda ucapan nya. Ia membuka laci meja nya dan mengambil sebuah surat dari dalam laci meja itu dan menyerahkan nya pada Zion.
"Aku mendapat laporan mengenai kemunculan iblis di Kerajaan Kerajaan tetangga. Mereka bukan berasal dari rasa Inimicus, tapi kemampuan mereka tidak bisa di anggap remeh. Menurut informasi yang ku dapat, raja iblis mulai bergerak dan yang lebih berbahaya lagi, dia bisa merubah wujudnya menjadi manusia biasa dan menekan sihir serta aura nya. Itu tentu menyulitkan para kesatria dan penyihir lain untuk menangkap nya." Jelas Rendrano.
Iblis yang memiliki kemampuan seperti itu sebenarnya cukup jarang. Walau ras iblis sekalipun, kebanyakan dari mereka tidak bisa merubah wujud mereka. Kecuali jika itu iblis tingkat atas. Tapi itu pun masih tergolong sedikit. Tapi kali ini raja iblis yang akan ia hadapi. Jadi sepertinya wajar jika memiliki kemampuan seperti itu.
"Jadi, Lord ingin saya mengintai di Kerajaan untuk mencari iblis itu dan menangkap nya?" Tanya Zion memastikan.
Rendrano menggeleng. "Tidak perlu. Karena iblis itu sudah datang ke sini."
Mendengar ucapan tuan nya itu, Zion membulatkan mata. Apa maksudnya dengan iblis itu yang sudah datang ke sini? Apa dia dengan sukarela menyerahkan diri? Ah tidak, bukan itu tentunya.
"Maksud Lord?"
"Dia menyamar menjadi salah satu murid di Star Magic Academy. Tujuan nya masih belum di ketahui, tapi yang pasti, keselamatan murid murid di sekolah ini terancam sekarang."
"Jadi, saya harus menyelidiki dan mencari tau tentang iblis itu di sekolah ini. Tapi... Jika sebagai pelatih khusus saja, itu akan sulit untuk menyelidiki nya. Karena pelatihan ku akan terfokus di Hero Class saja."
Rendrano tersenyum tipis mendengar ucapan Zion. Ini sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Tentu saja Rendrano sudah memperkirakan hal lni.
"Maka dari itu, kau tidak akan menjadi pelatih khusus lagi." Rendrano menjeda ucapan nya membuat Zion mengernyitkan dahi nya. "Kau juga akan menjadi salah satu murid di Star Magic Academy. Atau singkat saja, STAMY. "
Tunggu apa? Ia juga harus menjadi murid di sini? Yang benar saja!!
"A-apa harus Lord? Tidak adalah cara lain?" Bukan karena Zion tidak mau bersekolah di sana, tapi apa cara ini tidak malah menambah kecurigaan iblis itu?
"Tidak. Dengan kau menjadi murid di STAMY, kau akan lebih mudah untuk mengawasi nya. Mencari informasi lebih banyak tentang kemampuan dan kelemahan nya. Itu akan mempermudah mu dalam membunuhnya nanti."
Zion mengangguk mengerti. Mencoba menarik perhatian nya dengan mendekati nya sepeti ini untuk mendapatkan informasi. Cara yang cukup cerdik.
"Baiklah jika begitu, saya terima tugas ini Lord."
Rendrano tersenyum puas. "Jika begitu, mulai besok kau juga akan menjadi bagian dari Hero Class. Aku akan mengurus semua data dan pendaftaran mu. Selamat bergabung di STAMY"
Zion mengangguk. "Siap Lord. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas ini."
"Maaf, tapi bagaimana dengan Zuka dan Avren? Kerajaan Gold Moon sudah hancur, dimana mereka akan tinggal sekarang?" Tanya Zion. Tidak mungkin jika ia membiarkan kedua saudara nya begitu saja bukan?
Rendrano tampak memasang pose berfikir. Mengingat apa yang terjadi tidak mungkin membiarkan mereka pergi begitu saja. Terlebih lagi jika kedua anak itu adalah saudara Zion.
"Mereka bisa tinggal di asrama. Aku akan mengurus nya. Mereka juga bisa bersekolah di sini."
Mata Zion berbinar mendengar itu. "Sungguh? Terimakasih Lord!" Ucap Zion dengan nada ceria.
Rendrano tersenyum. Melihat Zion yang ceria seperti itu cukup menggemaskan juga. Setelah semua yang terjadi dan bagaimana Zion melatih para murid Hero Class dan Beast Academy, selain itu juga bagaimana cara Zion membunuh pasukan ras Inimicus malam itu, sesaat membuat Rendrano lupa jika pemuda mungil di hadapan nya ini masihlah anak anak.
Terkadang keseriusan nya membuat Zion tampak lebih dewasa.
"Satu lagi, rahasiakan tugas mu dari lain nya. Jangan terlalu banyak orang yang tau tentang ini. Jika tidak, itu akan memperbesar kemungkinan rencana mu bocor dan di ketahui iblis itu." Ujar Rendrano.
Zion mengangguk. "Baiklah, saya akan berhati hati."
*****
"Kalian tahu perang semalam kan? Murid murid Hero Class dan Beast Academy benar benar hebat!"
"Ini pertama kali nya ada murid sekolah yang mengikuti perang. Apa mereka tidak takut mati?"
"Tidak lah.. Mereka kan sudah di latih khusus oleh Zion. Tentu saja kemampuan mereka meningkat drastis."
"Kudengar Zion juga yang mengalahkan ketua ras Inimicus itu. Benar benar hebat!"
"Ya, padahal umurnya lebih muda satu tahun dari kita. Tapi kemampuan nya begitu hebat. Aku penasaran berapa level nya."
"Dapat mengalahkan iblis dan monster sebanyak itu, yang pasti lebih tinggi dari para pangeran elemen."
"Aku jadi penasaran."
Perang yang terjadi semalam tentu menjadi topik hangat di Akademi. Sepanjang lorong hampir semua murid membicarakan tentang perang itu. Khususnya tentang Zion yang berhasil mengalahkan ketua ras Inimicus. Nama Zion sudah semakin populer di sekolah itu sekarang.
Banyak yang kagum, tapi juga penasaran. Karena sedikitnya informasi yang mereka tau tentang pemuda itu, memberi kesan misterius yang justru menarik bagi mereka.
Termasuk pada satu orang yang kini sedang berjalan menyusuri koridor. Mengabaikan suara suara pembicaraan di sekitarnya. Tampak tidak ada satupun orang yang curiga atau memperhatikan nya kala itu.
Sosok itu tersenyum. "Aku jadi semakin penasaran dengan Zion. Apa dia sehebat yang mereka bicarakan?" Gumam nya bertanya tanya.
Sosok itu meneruskan langkah nya. Senyuman yang terlukis di wajah nya semakin lebar. Terkesan lembut tapi juga mengerikan di saat yang bersamaan.
END