Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
78. Melawan Werewolf (part 2)



Hali mendengus kesal. dirinya kesal karena serangan nya tidak mempan sama sekali pada werewolf itu. Bagaimana bisa?


Di sisi lain, Zuka yang ada di belakang monster itu, mulai membentuk lingkaran sihir berwarna keemasan di depan tangan nya. "[Sihir api: bola api]!!" Seru Zuka. Sebuah bola api berukuran besar pun meluncur ke arah monster itu dengan cepat. Namun sayangnya, dapat di hindari dengan mudah oleh sang werewolf.


Tidak cukup sampai di situ, Zuka terus meluncurkan serangan beruntun pada werewolf itu. Namun sayangnya hasilnya sama saja. bahkan tidak bisa melukai nya sedikitpun.


"[Sihir petir: sambaran Halilintar]!!!" Seru Hali. lingkaran sihir berwarna merah pudar terbentuk dan langit berubah menjadi gelap. Seketika kilatan petir merah menyambar monster itu dengan kuat.


"[Sihir api: ledakan bola api]!!" Belum selesai petir itu menyambar, Zuka juga langsung meluncurkan serangan nya yang membuat api berkobar besar dan disusul ledakan.


DUAR!!


Angin berhembus akibat ledakan dasyat itu. Pohon pohon dan bebatuan di sekitarnya nya yang juga terkena serangan itu pun langsung terbakar dan hancur. Sepertinya Hali dan Zuka menggunakan kekuatan penuh mereka. Namun di sisi lain, Zion dan Rio hanya menatap datar.


"Wah. Sungguh serangan yang hebat. Bahkan tidak memberi celah kita untuk menyerang." Ucap Zion sambil melipat tangan nya di depan dada. Menatap datar pertarungan di hadapan mereka dengan raut wajah kesal.


Tapi lain hal nya dengan Rio yang bersandar santai di batang pohon sambil makan apel yang entah ia dapat dari mana. "Biarin anak kecil main main. Kita nonton aja dah cukup." Ucap nya santai.


Memang dia kira ini pertunjukan apa?


"Setidaknya kita harus lakukan sesuatu! Kau pikir werewolf itu akan mati begitu saja?" Zion sungguh tidak habis pikir dengan pemuda beriris silver itu yang hanya mengabaikan nya.


Sementara, kebulan asap yang membumbung akibat serangan tadi mulai menghilang. Tatapan mereka terfokus pada sebuah kawah kecil yang terbentuk di sana.


Serangan se dasyat itu, sepertinya hanya kemungkinan kecil makhluk itu akan selamat. Namun sayang nya, mereka berfikir terlalu cepat.


Dari dalam kawah itu, monster berbulu abu abu kehitaman keluar tanpa luka sedikitpun. Walau terlihat asap di tubuh makhluk itu, tapi tidak ada luka atau goresan sama sekali.


Ketiga pemuda itu membulatkan mata terkejut. Bahkan serangan se dasyat itu tidak mempan sama sekali. Lalu bagaimana cara mengalahkan monster itu?


Heerrrr....


Werewolf itu menggeram menatap tajam pada manusia manusia di hadapan nya. Sepertinya kali ini giliran monster itu yang akan menyerang.


Zion melirik Rio yang masih dalam posisi santai nya sambil memakan apel yang sudah hampir habis.


Apa pemuda itu tidak berniat membantu sedikitpun?


Hali berdecak kesal. "Ck! Sial.. Bahkan setelah semua serangan itu, dia tidak terluka sedikitpun?!"


"Seberapa kuat monster itu, sampai tidak terpengaruh dengan semua serangan kita?" Tanya Zuka yang sudah terlihat kelelahan. Ia mengepalkan tangan nya kuat. 'Sial.. Apa karena percobaan itu sihir ku semakin menurun?' lanjut nya dalam batin begitu mengetahui tentang sihir nya.


Biasanya ia bisa menggunakan sihir jauh lebih besar dari itu. Dan tenaga nya pun tidak akan cepat habis, karena dia bisa menyerap mana sekitar. Tapi sekarang? Hanya melakukan serangan seperti itu saja sudah membuatnya kelelahan.


Zion yang menyadari nya berjalan mendekati Zuka. Ia menepuk pundak saudara nya itu dan membuat sang pemuda sedikit terkejut.


"Kau baik baik saja?" Tanya Zion yang juga menyalurkan sihir nya pada Zuka.


Zuka mengangguk. "Iya aku baik baik saja. Terimakasih bantuan nya." Ucap Zuka tersenyum manis.


Awalnya Zion tidak mengira jika Zuka menyadari dirinya menyalurkan sihir nya. Tapi ternyata kepekaan pemuda itu tinggi juga.


"Zion awas!!"


Trang!


Zuka membulatkan mata nya terkejut. Entah sejak kapan Zion sudah menahan serangan yang datang ke arah nya dengan pedang milik nya. Pergerakan pemuda itu terlalu cepat untuk penglihatan nya.


"[Sihir petir:tombak petir]!" Beberapa tombak petir meluncur ke arah werewolf itu membuat sang makhluk langsung menghindar.


Sreg!


"Akh!" Rintih Hali saat menerima serangan di lengan kiri nya. Luka cakaran yang cukup besar, membuat darah mengalir deras dari luka itu.


"[NonMagic: Benang baja]!" Seru Zion. Seketika benang benang muncul dan mengikat tubuh werewolf itu. Hali yang cukup terkejut melihat cakar sang werewolf yang hanya berjarak 3 centi dari wajah nya.


"[Tembakan mana]!!"


Wushh!


Aura keemasan terkumpul dan langsung ditembakkan menuju arah werewolf itu, membuat werewolf itu terlempar beberapa meter.


AAAAUUUUUUU!!!!!!


Werewolf itu melolong dengan keras. Seketika tumbuh tanduk di dahi makhluk itu. Kabut hitam menyelimuti, dan perlahan mulai mengelilingi tubuh makhluk itu.


"Werewolf itu mulai menunjukkan kekuatan asli nya..." Ucap Hali.


Zion memandang pemuda itu dan memberikan botol kecil berisi cairan bening.


"Kalian tak akan bisa mengalahkan nya kecuali menggunakan benda yang terlapisi debu perak." Ucap Rio tiba tiba.


"Wah.. Sudah selesai makan apel nya?" Zion bertanya sambil menatap datar.


Baru sekarang ia maju? Apa ia tidak memiliki niat membantu dari tadi?


"Ya. Manis." Jawab nya santai. Sungguh orang yang terlalu santuy.


"Kenapa gak kasih tau dari tadi hah??!!" Perempatan imajiner muncul di dahi ketiga pemuda itu. Jika dia memberitahu nya sejak awal, bukannya akan lebih mudah mengalahkan nya?


"Hanya ingin melihat bagaimana kalian mengalahkan nya."


Sungguh jawaban yang menyebalkan.


'Gak ada guna nya di ladeni. Cepat bunuh werewolf itu dengan sihir mu. Kau bisa membuat pedang perak dengan itu.' ucap Nero dalam pikiran nya.


Ya, sepertinya ada benarnya. Werewolf itu tidak akan mati jika mereka terus berdebat. Lagipula mengalahkan monster itu lebih penting saat ini.


"Zuka, Hali! Cepat bantu aku untuk mengalihkan nya. Aku akan membunuh nya." Ucap Zion. Kedua pemuda itu pun mengangguk. Mereka langsung mengaktifkan sihir mereka dan bersiap untuk menyerang.


Sementara, kabut kabut hitam semakin tebal di sekitar werewolf itu. Ia menatap tajam dan langsung berlari ke arah tiga pemuda di hadapan nya.


Sedangkan, Rio hanya terdiam memandang mereka tanpa niat untuk membantu sedikit pun. 'Kenapa kau tidak membantu mereka?'


"Aku gak mau bantu orang lemah. Aku mau lihat kemampuan mereka."


'Cara mu terlalu kejam.'


"Biarin. Lagipula mereka perlu belajar kan?" Seringaian tipis terbentuk di bibir Rio.


'Kau kejam. Hanya mereka yang bisa membantu kita.'


Rio menghela nafas. " Baiklah baiklah... Aku akan membantu mereka."


TBC