
Tok tok tok
Pintu di ketuk. Tak lama terdengar sahutan mengizinkan mereka untuk masuk. Namun, baru saja Zion ingin ikut melangkah, Laura sudah lebih dulu mencegat nya.
"Stop! Cukup sampai sini, ini pembicaraan pribadi yang sangatlah rahasia. Jadi, kalian tidak boleh ikut. Oke, terimakasih sudah menunjukkan jalan nya, aku masuk dulu~" Ujar Laura dan langsung masuk lalu menutup pintunya lagi. Meninggalkan Zion dan Erano yang diam mematung di depan pintu.
"..."
Se rahasia itukah hal yang akan mereka Bicarakan sampai Zion pun tidak boleh ikut masuk ke dalam? Tapi satu hal yang sudah pasti Zion tau dan langsung terlintas di pikiran nya saat itu, "gadis yang aneh." Ucapnya pelan. Zion mengalihkan pandangan nya ke belakangnya, tepatnya ke arah Erano yang masih terdiam di sana.
Sebelum ini Zion belum pernah melihat anak itu. Atau memang ia abaikan karena terlalu fokus pada Hero Class?
'Nero, kau tau tentang anak ini?' Tanya Zion.
'Tidak. Sepertinya aku tidak pernah melihat nya di Akademi sebelum ini.'
Mencurigakan.
"Bisa kau ikut dengan ku sebentar?" Tanya Zion, sementara Erano hanya mengangguk mengikuti pemuda ber iris merah ruby di depan nya.
Di Koridor yang cukup sepi, dua pemuda berjalan berdampingan. Erano tampak sedikit menundukkan kepala nya. Sepertinya ia takut jika akan terkena masalah nantinya.
"Aku tidak pernah melihat mu sebelum nya. Apa kau murid baru?" Tanya Zion memulai percakapan.
Erano tampak sedikit mengangguk. "Iya. Aku murid pindahan dari akademi di Kerajaan Peach Rose."
Zion mengerenyitkan dahi nya. 'Nero, mang ada ya, kerajaan itu?' tanya Zion pada familiar nya.
Nero menghela nafas. 'Kau ini ketinggalan info banget sih. Tentu saja ada lah. Itu tepat di sebelah kerajaan Gold Moon.' ujar Nero.
Ya... Wajar saja kan jika dia tidak tahu? Ingatlah, dirinya tidak benar benar lahir di dunia ini.
Kembali pada Erano, jika dia murid pindahan sepertinya wajar saja ia tidak tahu. Zion menghentikan langkah nya. Ia memperhatikan pemuda itu. Entah mengapa ia merasa sedikit aneh dengan nya. Ditambah lagi dengan informasi bahwa iblis yang menyerang akademi juga berada di dalam akademi, sudah pasti Zion akan menambah kewaspadaan nya.
Dan satu hal yang cukup mengganggu pikiran Zion kala itu. Pengendali elemen ganda. Jika itu dalam satu jenis elemen yang sama, seperti Ice, maka wajar saja karena elemen itu berevolusi tapi masih dalam tipe yang sama.
Tapi kemampuan Erano jelas berbeda. Bagaimana mungkin memiliki dua elemen seperti itu?
'Nero, apa wajar jika memiliki dua elemen berbeda?' tanya Zion lagi. Ia hanya ingin memastikan pemuda itu bukanlah iblis yang menyamar.
'Dalam sejarah memang belum ada. Mungkin... Kita selidiki dulu anak ini. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan.'
Zion mengangguk pelan. Mata nya masih terus menatap ke arah Erano sambil meneliti nya.
"A-ada apa? Apa ada yang salah dengan ku?" Tanya Erano yang mungkin tak nyaman dengan tatapan yang Zion berikan.
Erano mengangguk. "Baiklah. Tapi-"
AAUUUUUUU!!!!!
Belum selesai Erano mengucapkan kata-kata nya, suara lolongan terdengar keras.
Zion tau jelas suara dari makhluk apa itu. Tapi, bukannya monster itu telah di kalahkan nya? Apa mungkin monster itu hidup lagi? Atau monster lain yang datang ke akademi?
"Semakin banyak saja masalah yang berdatangan! "
Zion langsung berlari menuju sumber suara dan meninggalkan Erano yang hanya menatap datar. Namun selanjutnya sebuah senyuman kecil muncul di wajah pemuda itu.
"Zion ya... Dia anak yang baik." Gumam Erano.
****
Di belakang akademi, seorang pemuda ber mata merah sedang mengontrol sihir nya untuk kembali menangkap monster serigala yang sepertinya kembali mengamuk. Bola bola berwarna hitam meluncur menuju arah Alex sebagai serangan balasan dari makhluk itu.
"Hey tenanglah!! Kau menyebalkan!!" Ujar nya sambil mengaktifkan pelindung untuk melindungi dirinya. "Dasar makhluk menyebalkan!!" Keluh Alex kesal.
"Alex! Apa yang terjadi?" Mendengar suara itu, Alex langsung menghilangkan pelindung nya.
Zion tampak menatapnya khawatir dan sudah siap dengan pistol di tangan nya.
Alex menunjuk ke atas pohon. "Di sana! Tangkap makhluk itu!"
Zion langsung memandang mengikuti arah tangan Alex menunjuk. Tapi, apa yang ia lihat sangat jauh berbeda dari apa yang ia bayangkan. Bagaimana tidak?
EEERRRRR....
Seekor anak serigala menggeram ke arah nya dari atas dahan pohon. Terlihat kabut hitam di sekitar serigala itu. Sungguh jauh berbeda dari makhluk yang sebelumnya mereka kalahkan.
"Kenapa kau menyerang makhluk imut seperti dia?? Dimana rasa kemanusiaan mu Alex! Kasihan tau!"
"Haa??? Kenapa malah nyalahin sih? Jangan lupa, dia makhluk yang sama! Walau jadi kecil, bukan berarti dia tidak berbahaya!" Ujar Alex. Ketahui lah, walau kecil atau besar, menggemaskan atau tidak, Alex tetap membenci monster!
.
.
TBC