
Hutan yang gelap, angin yang berhembus pelan dan suasana yang begitu sunyi. Hanya suara derap langkah yang sesekali menginjak ranting atau dedaunan dan binatang binatang kecil yang membuat suasana tak begitu sunyi.
Lentera di genggam erat oleh pemuda ber matan kuning cerah, menerangi jalan sehingga mereka tak tersandung atau tersesat.
Di samping nya, pemuda ber iris mata merah ruby sudah bersiap dengan pedang nya, berjaga-jaga jika saja akan ada halangan di depan nanti.
"Kau takut ya?" Tanya Sein membuka pembicaraan.
Hali tampak berdecak. "Tentu saja tidak. Kau tanya begitu jangan jangan kau yang takut."
Sein sedikit mengibaskan rambut nya. "Tentu saja tidak. Sang penguasa cahaya mana takut dengan kegelapan." Ujar nya penuh gaya.
"Sudahlah, kita harus cepat temukan gulungan itu dan menyelesaikan tantangan jika ingin cepat keluar dari sini." Hali berjalan mendahului. Sein tidak protes. Walau mencoba menutupi, ia sebenarnya cukup takut.
Mengetahui jarak nya semakin jauh, Sein pun mempercepat langkahnya
"Hey tunggu aku!"
Bulan sabit bersinar terang di langit dengan bintang bintang yang turut menemani nya. Kesana, kemari mereka sudah mencari tapi tak juga menemukan gulungan itu.
Hali berdecak kesal. Ia tak ingin berlama lama berada di sini, tapi mereka juga harus menyelesaikan tantangan nya. Tak seperti sebelumnya yang berlokasi di dalam gua sehingga hanya perlu mencari jalan keluar. Kali ini lokasi nya di hutan yang lebih luas dan terbuka jadi tentu, akan lebih sulit menemukan gulungan itu.
"Carilah dengan benar Hali..." Ujar Sein sambil mengeluh.
Hali mendengus kesal. "Aku juga sedang mencari. Kau saja yang tidak benar mencari nya."
"Tangan ku kan sudah penuh membawa lentera. Jika tidak ada aku dan lentera ini, kau sendiri juga akan kesulitan bukan?"
Hali tak menanggapi. Ia hanya menatap kesal rekan sekaligus saingan nya itu. Bahkan tanpa lentera itu pun Hali masih bisa menggunakan sihir listrik nya untuk membuat penerangan.
Kresek kresek...
Hali dan Sein yang sedang mencari seketika berhenti saat mendengar suara dari balik semak semak. Hali meneguk ludah paksa. Semoga ini bukan seperti apa yang terjadi saat uji nyali sebelumnya.
"Kau yang bawa lentera, cepat cari tau apa itu." Ujar Hali sedikit mendorong Sein.
Sein mengangkat sebelah alis nya. "Ha? Kenapa pula aku? Sebagai yang lebih tua, kau saja sana."
"Kau kan yang bawa lentera. Kau bisa melihatnya lebih jelas!"
"Kau kan bawa pedang. Jadi kalau kau yang periksa, jika itu monster atau hantu tinggal tebas kan?"
"Cerewet! Cepatlah periksa!"
"Kau saja yang periksa!"
"Mas.... Aku lihat boleh?"
Dingin... Terasa jelas ada yang memegang tangan mereka. Bulu kuduk seketika berdiri mendengar suara lembut itu. Wajah keduanya pucat seketika saat merasakan tangan dingin sosok di belakang mereka.
"Mas... Kenapa diam?"
Keduanya perlahan menoleh ke belakang. Seorang wanita ber rambut panjang yang di kedepankan, menggunakan gaun putih panjang dengan beberapa bercak darah dan robek di sana sini. Tak lupa dengan kuku kuku tajam di tangan nya. Siapa lagi kalo bukan...
"KUNTILANAAAAKKK!!!!!!"
Keduanya langsung mengambil langkah seribu berlari meninggalkan sosok wanita itu. Bahkan Sein sampai melemparkan lentera yang di pegang nya karena terkejut.
"Huwaa!!! Kuntilanak nya beneran!!" Teriak Sein.
"Ya beneran atuh! Yakali bohongan!!" Balas Hali. Namun...
BRUG!
"Aduh!!" Keduannya terjatuh seketika saat menabrak sesuatu yang cukup keras.
"A-apa itu?"
"Gunakan sihir mu dong!"
Dengan cepat Sein mengaktifkan sihir nya dan memunculkan sebuah bola cahaya sebagai penerang. Tubuh mereka kembali menegang saat melihat yang mereka tabrak itu adalah batu nisan. Namun, ukuran nya tidak seperti batu nisan lainnya.
Tubuh Sein tampak gemetar. "N-nisan?"
Sein hendak kabur, namun langsung di tarik oleh pemuda pengendali elemen petir itu. "Coba lihat di atas nisan itu." Hali menunjuk ke arah sebuah gulungan di atas nisan itu.
"Gulungan nya... Tapi... Kenapa Zion malah meletakkan nya di sana sih???" Protes Sein.
"Namanya saja uji nyali. Akan ku ambil." Sein hanya mengangguk dan sedikit mengangkat bola cahaya nya, membuat Hali lebih mudah mengambil gulungan itu.
"Apa tulisan di dalam nya?" Tanya Sein.
Hali pun membuka gulungan itu. "Kalahkan Badut hantu untuk menyelesaikan tantangan. Selamat berusaha~"
"B-badut?" Sein menatap takut. Jujur saja, Sein itu takut dengan badut sejak kecil. Alasan nya karena bagi Sein itu menyeramkan.
Namun bukan hanya Sein. Hali pun juga sama. Karena yang terlintas di pikiran nya saat membaca kata badut adalah balon balon yang di bawa sosok itu.
Mereka bukan saja harus mengalahkan makhluk itu, tapi juga mengalahkan ketakutan terbesar mereka di saat yang bersamaan.
Rasa takut yang selama ini mereka sembunyikan, hal yang menjadi kelemahan terbesar bagi mereka. Apa bisa Sein dan Hali menghadapi nya?