Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
32. Tantangan Duel



Seorang pemuda berusia 13 tahun sedang berjalan tenang di sebuah koridor. Ia mengenakan kaos berwarna merah terang dan jubah panjang berwarna coklat kehitaman dengan hiasan merah dan emas. Iris merah ruby nya terlihat indah dipadukan dengan rambut hitam yang memberi kesan tegas pada anak itu.


Beberapa orang terlihat mengarahkan pandangan pada sosok asing itu. Selain karena penasaran, juga karena jubah yang dikenakannya. Hal itu membuat mereka cukup penasaran. Tapi orang yang di pandang hanya cuek saja pada keadaan.


Ia berjalan menuju kantin. Terlihat cukup banyak orang di dana. Mengingat ini adalah sekolah asrama, bukan hal yang asing jika kantin maupun cafetaria ramai di pagi hari di penuhi anak anak untuk mengisi perut mereka.


Suasana seperti ini membuat Zion teringat dengan kehidupannya dulu. Tepatnya pada masa masa sekolahnya. Seakan bernostalgia ke kenangan lama.


"Eh, nak Zion kan? Mau pesan apa?" Tanya seorang wanita penjual di kantin itu.


Zion menoleh. Sepertinya tak asing "ah, kalo gak salah yang di kebun saat itu kan?" Tanya nya memastikan.


"Tepat sekali. Setahun ini kau begitu sibuk latihan. Aku senang melihatnya... Kau sepertinya semakin kuat. Terimakasih ya, sudah menolong anakku saat itu." Ucapnya sambil tersenyum.


"Haha, sama sama... Aku juga senang anak ibu selamat. Oh, sekalian saya pesan jus jeruk. Agak haus juga." Ucapnya sambil memesan minuman.


"Baiklah akan kubuat kan sepesial untukmu" Ucapnya. Zion hanya tersenyum. "Oh, dan panggil saja bibi ya..." Lanjutnya.


"Baiklah kalo begitu."


Sementara itu...


Bruk!


"Kalo jalan lihat lihat dong!! Lihat baju kak Ice jadi kotor! Dasar anak kampung!!" Ucap seorang gadis ber rambut pendek yang terlihat marah pada gadis ber rambut panjang dikepang yang berdiri di hadapannya. Di sampingnya ada seorang pemuda dengan iris biru muda yang bajunya terlihat basah.


Sepertinya gadis ber rambut panjang itu tanpa sengaja menumpahkan minumannya pada pakaian pemuda itu. Tapi, menurut pengamatan Zion, pemuda itu justru cuek saja. Sementara gadis berambut pendek itu yang terlalu mempermasalahkan nya.


Zion sedikit mengamati sambil meminum minumannya. Ia hanya akan bertindak saat keadaan benar benar diluar batas menurutnya.


"Maaf, aku tidak sengaja menumpahkannya..." Ucap gadis itu sambil sedikit membungkukkan badannya.


"Tidak sengaja?! Kau tau siapa yang ada di hadapanmu?! Kau bilang tidak sengaja?!"


"Aku benar benar tidak sengaja... Aku tidak melihatnya tadi..." Ucapnya dengan nada suara sedikit bergetar.


"Berani sekali kau!! [Sihir air: bola bola-"


"Penghentian."


Seketika lingkaran sihir milik gadis itu menghilang. Tentu saja itu membuatnya terkejut. Bukan hanya dirinya, tapi semua yang ada di sana juga ikut terkejut dengan apa yang terjadi.


Sebelum ini, mereka belum. Pernah melihat seseorang menghilangkan sihir orang lain. Siapa dia sebenarnya?


Zion berjalan mendekati gadis itu. "Peraturan nomor 21. Dilarang menggunakan sihir kecuali di ruang latihan atau pertandingan. Peraturan nomor 23. Dilarang menyerang penyihir lain hanya karena masalah kecil. Pera-"


Sreg


Baju Zion ditarik kasar oleh gadis itu. Sementara Zion hanya menatap datar. "Masalah kecil katamu?! Kau tidak tahu ya, kesalahan orang itu?! Kau yang hanya orang asing tak perlu ikut campur!!"


"Neily Cirva hentikan!" Ucap seseorang dengan nada suara dingin. Semua orang di sana pun langsung terdiam. Gadis itu, Neily, langsung mendorong Zion.


"Kau tidak saja melanggar peraturan, tapi juga membuat keributan disini. Datang ke ruang kepala sekolah sekarang juga." Ucapnya dingin.


"Baik." Ucapnya. Namun, "kau! Aku menantang mu duel di lapangan tiga pinus setelah pulang sekolah nanti dan disaksikan semua murid dan guru akademi! Jika kau menolaknya, artinya kau pengecut!!" Ucap Neily dan pergi.


Zion hanya menghela nafas. Merepotkan.


"Zion, kau baik baik saja?" Tanya pria itu.


"Aku baik baik saja, kak Reon." Jawab Zion. Ya, Reon bertugas di bagian keamanan sekaligus pelatih di sini. Itu agar lebih mudah untuknya mengawasi sekitar dan memilih penyihir terbaik.


"Baiklah jika begitu, lanjutkan tugasmu berpatroli." Ucap Reon. Zion pun mengangguk dan pergi.


"Eh, Zion. Pak kepala sekolah memanggilmu setelah ini. Jangan lupa ya."


"Baiklah." Jawab Zion singkat.


Sementara semua orang di sana masih terdiam dan memandang ke arah Reon. Itu cukup membuatnya kesal. "Apa lihat lihat? Cepat masuk kelas! Sebentar lagi bel masuk berbunyi!" Ucapnya tegas. Semua murid yang masih di sana pun langsung menghilang ke kelas masing masing.


Sementara, Zion yang sedang berjalan menuju ruang Kepala sekolah sempat melihat Neily yang keluar dan melemparkan tatapan tajam padanya. Mengerikan juga. Sepertinya apa yang dilakukannya tadi benar benar membuatnya marah.


Tok tok tok


Zion mengetuk pintu. "Masuklah Zion." Ucap Rendrano dari dalam. Zion pun membuka pintu. Terlihat seorang pria ber iris coklat tersenyum padanya. "Bagaimana hasil patrolinya?"


"Semuanya berjalan lancar Lord. Kecuali... Ada sedikit keributan di kantin tadi." Ucap Zion sedikit menundukkan kapala nya.


"Neily Cirva anak yang cukup berbakat, tapi sikapnya yang agak keterlaluan. Kau sudah melakukan hal yang benar. Dan jangan memanggilku Lord saat ada yang lain. Cukup panggil Pak saja." Ucap Rendrano.


"Baiklah, dan terimakasih." Jawab Zion.


"Ngomong ngomong... Kau tidak menerima tantangan nya?"


Zion mengangkat kepalanya. "Lord mengizinkan?"


Tersenyum. "Tantu. Ini juga bisa digunakan untuk penilaian."


"Baiklah!" Ucapnya semangat.


"Baiklah, sambil kau bersiap, kau bisa ikut denganku ke kelas."


"Baiklah!"


Rendrano pun berjalan ke sebuah kelas dan Zion mengikuti di belakangnya. Yang melihat mungkin akan berpikiran Zion cukup tenang, namun tidak ada yang tahu jika dalam pikirannya, ia sedang memikirkan rencana dan persiapan duel nanti.


Pintu di buka dan mereka pun masuk.


"Selamat pagi pak.." Sapa semua murid. Namun, pandangan mereka juga terarah pada pemuda yang ada di dekat Rendrano.


"Selamat pagi... Nah Zion, kau bisa duduk di bangku yang kosong." Ucap Rendrano.


"Baik pak." Jawab Zion dan berjalan menuju bangku kosong di belakang.


Namun, terlibat ada beberapa pemuda yang menatapnya. Salah satunya adalah pemuda yang pakaiannya terkena minuman tadi. Lalu satu gadis yang duduk tak jauh darinya. Neily Cirva. Dia menatap tajam pada Zion.


Pendendam sekali anak itu.


Pelajaran pun dimulai dan semua murid tampak serius memperhatikan penjelasan dan apa yang Rendrano ajarkan. Sementara Zion justru sedang menuliskan kata kata di buku skill nya. Pelajaran yang Rendrano ajarkan sudah cukup dipahaminya, jadi ia memilih untuk fokus pada duel nanti.


Zion menghentikan aktifitas nya dan melihat ke luar jendela. Suasana kelas seperti ini cukup ia rindukan. Zion memejamkan matanya membiarkan angin yang menyusup dari luar jendela membelai rambut hitamnya.


Zion kembali membuka matanya dan memperhatikan sekitarnya. Saat tak ada yang melihat, ia pun memakan pil yang Rendrano berikan.


Jangan sampai ada yang menyadari rahasianya di sini.


Beberapa jam berlalu dan jam pelajaran Rendrano pun berakhir. Saat Rendrano keluar, Rendrano pun juga ikut bersamanya. Namun saat melewati sebuah bangku yang diduduki seorang gadis ber rambut pendek, ia menghentikan langkahnya.


"Aku menerima tantangan mu. Lapangan tiga pinus, setelah pulang sekolah." Ucapnya dan langsung pergi.


Sementara Neily tersenyum angkuh. "Ada nyali juga anak itu. Dia masih belum tau siapa aku sebenarnya." Gumam Neily.


TBC