
"Pagi ku cerah ku. Matahari bersinar, ku gendong tas merah ku di pundak. Selamat pagi semua, ayo ayo bangun. Kalo gak pada bangun, ku siram. Bangun woy!!!!" Teriak Zion akhirnya sambil bernyanyi dengan suara yang memekakan telinga.
"Berisik!! Pake nyanyi segala!" Protes Haru yang masih nyaman dengan posisi tidur nya.
Sementara kedua teman nya yang lain mulai terbangun walau dalam hati mereka masih ingin tidur.
Lebih baik bangun daripada kena amuk emak emak. Ketahuilah, kemarahan emak emak di pagi hari itu lebih menyeramkan dari raja iblis.
Ya, sehari telah berlalu sejak mereka keluar dari jurang itu. Sebuah pengalaman yang tak akan mereka lupakan saat terbang melintasi langit senja dengan menaiki seekor naga agung seperti Black Mist Dragon.
Udara yang hangat tapi juga sejak di saat yang bersamaan, ditambah dengan semburat merah dan jingga yang menghiasi langit membuat kesan menenangkan.
Lalu saat malam tiba, memandang langit penuh bintang di tempat terbuka dengan api unggun yang menyala memberikan kesan tersendiri pada malam itu.
Namun sayangnya, pagi mereka justru harus terbangun dengan tidak elit nya karena nyanyian Zion yang suaranya udah kaya pake speaker segala.
Dalam hati mereka menggerutu, tapi juga berharap telinga mereka baik baik saja.
Sedangkan Zion sendiri? Anak itu sudah dengan santai nya melakukan peregangan dengan mulutnya yang masih bersenandung pelan.
Zion berbalik setelah selesai meregangkan otot otot tubuh nya. "Jadi, kita lanjut perjalanan kita sekarang??"
"Santai bro... Buru buru amat, kaya mau dikasih THR aja." Ucap Haru yang masih ingin tidur.
Mungkin kelamaan menjadi naga pengangguran membuatnya enggan untuk bangun awal.
Sementara, Zion menatap naga itu dengan tatapan penuh arti. Ditambah lagi lengkap dengan seringaian nya yang mengerikan.
Hali dan Zuka langsung mengambil jarak setelah merasakan aura berat dari pemuda ber netra ruby itu. Mereka tidak ingin ikut kena amuk.
Selangkah, dua langkah perlahan Zion ambil mendekati naga yang sedang tertidur itu. Tangan nya memegang sebuah ranting kecil dan sedikit mengibas ngibaskan nya. Seringaian di bibir nya semakin lebar melihat wajah naga yang masih tertidur itu.
"saatnya mulai..." Zion menarik nafas dalam dan... "BANGUN WOY NAGA PEMALAS!!!! MAU KU HAJAR DULU BARU BANGUN HAH?! JANGAN MOLOR TERUS!!!!!" Seru Zion akhirnya sambil mengibaskan ranting yang ia pegang.
"HUADUH!!!! AMPUN MAAAKK!!!" Jerit Haru. Sedangkan dua pemuda yang menjadi penonton, mencoba mati matian menahan tawa agar tidak lolos dari mulut mereka. Ya, tentu saja mereka tak ingin ikut kena sabet karena ngetawain.
BRUG!
Seketika, pandangan Zuka dan Hali teralihkan dengan suara benda jatuh tak jauh dari mereka. Karena penasaran, kedua pemuda itu pun mencoba mendekati sumber suara.
Terkejut, tapi juga bingung. Terlihat seorang pemuda seumuran mereka yang terbaring di tanah. Wajah nya terlihat cukup pucat. Tapi yang membuat mereka panik adalah, darah yang mengalir dari luka di perut nya.
"Zion!!" Panggil Zuka. Merasa namanya di panggil, Zion langsung berlari mendekati Zuka dan Hali.
"Ada apa?" Tanya Zion. Namun selanjutnya ia membulatkan mata melihat sosok pemuda berbaring di tanah.
"Dia terluka! " Dengan cepat Zion berlutut di samping nya dan mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku nya. Ia membuka tutup botol itu dan menuangkan cairan bening di dalam nya ke mulut pemuda itu.
Perlahan luka di tubuh nya mulai menutup. Namun, pemuda itu masih belum sadar juga.
Zuka sedikit memeriksa tubuhnya, siapa tau ada luka lain. Namun ia justru terkejut melihat tanda yang ada di leher pemuda itu.
"Zion, lihat ini." Ucap Zuka.
Zion mengalihkan pandangan nya pada apa yang Zuka tunjukkan. Sebuah simbol bulan sabit terikat rantai tercetak jelas di leher pemuda itu. Zion sedikit memeriksa nya, memastikan itu bukan tiruan.
"Tidak salah lagi. Ini memang tanda nya." Ujar Zion.
"Artinya bukan hanya kita bahan percobaan ketua Inimicus itu?" Tanya Zuka. Mengingat, ia kira hanya dirinya dan Zionah percobaan sang ketua Inimicus itu.
Hali justru memandang bingung. Tentu saja, jadi yang paling tidak mengerti itu tidak enak. Ia belum tau banyak tentang ketua ras Inimicus itu.
Hali pun memutuskan untuk bertanya. "Jadi, apa kaitannya dengan simbol itu? Sebenarnya itu simbol apa?"
Zuka menjelaskan. "Itu simbol khusus yang dibuat oleh ketua Inimicus untuk dapat mengendalikan semua Percobaan nya. Dengan simbol itu, Avren bisa mengendalikan kami atau makhluk makhluk bawahan nya. Awalnya ku kira hanya aku dan Zion yang menjadi percobaan nya. Tapi ternyata ada orang lain juga."
Hali mengangguk mengerti. Ia jadi makin penasaran tentang apa yang mereka alami dulu. Hal mengerikan dan percobaan seperti apa yang mereka alami hingga seperti ini?
Sebuah suara terdengar, mereka langsung memandang ke arah Pemuda itu yang mulai tersadar.
Perlahan manik silver terlihat begitu kelopak mata nya terbuka. Ia sedikit mengedipkan mata nya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam penglihatan nya.
Hal pertama yang ia lihat adalah tiga pemuda yang menatapnya penuh ke khawatiran. Ia mengedarkan pandangan nya ke sekitar, mencoba mencari tau dimana dirinya sekarang.
"D-di mana aku?" Tanya nya dengan suara lirih.
"Kau ada di tepi hutan. Tenang saja, kami bukan orang jahat kok!" Ucap Zion dengan suara lembut. Tak lupa dengan senyuman manisnya juga.
"Yap, karena Zion gak bakal gigit kalo kau gak buat masalah." Ujar Zuka, disambung anggukan setuju dari Haru.
Namun, Zion langsung melemparkan tatapan tajam saat itu juga, membuat lainnya langsung merinding ketakutan.
Zion kembali memandang pemuda di hadapan nya dan perlahan membantu nya untuk duduk. "Gak usah dengerin ucapan unfaedah nya. Kau baik baik saja? Apa masih ada yang sakit?"
"Hanya sedikit. Tapi terimakasih sudah menolong ku..."
Zion tersenyum. "Sama sama!"
"Ngomong ngomong, bagaimana bisa kau sampai terluka seperti itu?" Tanya Hali.
"Aku... Di serang. Seorang ketua ras yang jahat mengincar ku dan saudara ku. Saat melawan senjata nya, aku mencoba menyelamatkan saudara ku, tapi aku yang kena. Tanya saja setelah itu... Saudara ku mendorong ku masuk ke dalam portal dan kami terpisah." Jelas nya dengan raut wajah sedih.
Zion dan Zuka saling memandang satu sama lain. Tak jauh berbeda dengan mereka dulu.
"Apa ras yang kau maksud itu Inimicus?" Tanya Zuka.
Pemuda itu tampak terkejut. "Iya. Darimana kau bisa tau?"
"Dari tanda bulan sabit di leher mu itu simbol ras Inimicus bukan?"
Pemuda itu mengangguk. "Kami senjata dan percobaan nya. Jangan bilang kalian juga sama?"
Zion dan Zuka mengangguk. Mereka sungguh tidak menyangka jika bukan hanya mereka percobaan dan senjata para iblis itu.
Tapi jika begitu, sudah berapa banyak kerajaan yang iblis itu kuasai? Berapa banyak orang yang bernasib sama dengan mereka?
"Ngomong ngomong aku Rio Matsuoka. Kalian siapa?" Tanya Rio sambil memperkenalkan dirinya.
"Ah, kami jadi lupa tidak memperkenalkan diri. Aku Zion Ravael. Ini sandara ku, Zuka Ambrilz dan temanku Hali Vandelous."
"Salam kenal!" Ujar keduanya bersamaan.
"Senang berkenalan dengan kalian." Ucap Rio sambil tersenyum. Tapi berikutnya ia mengalihkan pandangan nya pada sosok naga tak jauh dari mereka.
'Bukannya itu Black Mist Dragon? Bagaimana bisa naga seperti itu ada di sini? Tapi apa mungkin...'
Tatapan nya menajam saat memandang mata naga itu. Tentu saja hal itu menarik perhatian Zion, Zuka dan Hali.
"Kau kenapa? Tenang saja... Haru teman kami. Kau tidak perlu takut!" Ucap Zion.
"Teman?" Rio kembali memandang Black Mist Dragon yang justru memalingkan wajah nya.
Melihatnya seperti itu membuat Rio terkekeh pelan. Bahkan mereka memberi nya nama.
'Jadi kau sudah punya nama baru ya...' batin Rio.
Ia memejamkan mata nya dan menarik nafas panjang. Setelahnya memandang ke arah Hali. Lalu mengalihkan nya lada Zuka dan terakhir Zion. Namun, pandangan nya terhenti pada sosok pemuda bermanik ruby itu. Ia memperhatikan nya lebih detail, khususnya di bagian rambut putih nya. Seringaian terbentuk saat itu juga.
'Jadi dia orang yang kau maksud...'
TBC