Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
112. TTM BERAKSI!!!!



BBZZZTT!!


Kilatan petir merah menyambar dan menghancurkan monster monster itu. Sang empunya hanya menatap datar sambil menyeka keringat yang mengalir di pipi nya. Aliran listrik masih terlihat memercik dari tubuh nya. Hali berdecak kesal. Makhluk makhluk itu terus saja bermunculan. Entah sudah berapa banyak yang ia hancurkan saat ini, tapi mereka tidak ada habisnya.


Menghancurkan lingkaran sihir yang menjadi pintu keluar mereka pun sia sia. Satu di hancurkan, satu lingkaran sihir lagi muncul menjadi jalan keluar bagi makhluk mengerikan itu.


"Apa tidak ada cara menghabisi mereka semua dengan cepat?" Tanya Hali.


Zuka yang kebetulan ada di dekat pemuda itu menjawab, "Zion sedang mencari pelaku nya. Kemungkinan semua ini di kendalikan oleh seorang iblis. Asal bisa mengganggu atau mengalahkan nya, monster monster parasit ini akan berhenti berdatangan."


Zuka mengaktifkan sihir nya. Lingkaran sihir berwarna emas pudar muncul di hadapan nya, membentuk bola sihir yang kemudian ia tembakkan pada monster monster itu.


Hali menghela nafas. Jadi yang bisa mereka lakukan kali ini hanya mencegah monster monster itu semakin banyak dan mungkin akan mengancam murid murid lain.


"[Sihir angin: peluru angin]!!"


Wusshh!!


Dari atas langit, Kei terbang menaiki angin beliung dan menembakkan bola bola angin dari atas sana.


Rambut pemuda itu berkibar terkena angin. Senyuman lebar dan mata blue Sky nya membuat pesona tersendiri pada pemuda itu. Ia mengulurkan tangan nya ke depan, angin di sekitar nya berputar berkumpul pada satu titik dan membentuk lingkaran sihir berwarna biru di hadapan nya.


"Mari kita habisi mereka semua!!!" Seru nya. "[Sihir angin: tembakan angin]!!!!"


Bola angin berukuran besar di tembakkan ke arah para monster itu. Namun, sebelum mengenai mereka, Kei mengepalkan tangan nya, dan bola angin itu terpecah menjadi bola bola angin kecil yang langsung mengenai para monster parasit itu seperti hujan es.


"Yeah! Berhasil!!"


Di sisi lain, Ice hanya berjalan santai mencari tempat teduh ke tepi lapangan. Beberapa monster tampak mendekat ke arah nya, namun ia hanya sedikit melirik kan mata nya dan berhenti. Hembusan nafas kesal di lepaskan oleh pemuda itu. "[Sihir es: duri es]"


Wush!!


Hanya dengan kata kata itu, es es tajam bermunculan di sekitarnya dan menusuk semua monster yang mengarah pada nya.


Leo menatap kagum saudara nya itu. "Wah keren!! Gimana kalo kita buat kombo? Hancurkan mereka semua dengan gabungan api dan es! Bagaimana wahai saudara ku??" Tanya Leo semangat.


"Males, mager. Panas aku mau istirahat." Jawaban yang singkat, padat dan jelas.


"Cih. Yasudah. Kei!!"


Kei yang merasa terpanggil terbang turun menghampiri rekan nya itu. "Kita lakukan sekarang?" Tanya Kei.


Leo tentu mengangguk dan memandang ke arah Thory. "Tentu! "


"Aku juga ikut, aku juga ikut, aku juga ikut!!" Ujar Thory.


"Baiklah! Mari kita lakukan serangan kombo Trio Trouble Makers!!" Ujar Kei semangat.


"YOOO!!!!" Sahut Leo dan Thory.


"[Sihir angin: pusaran topan]!!!!" Angin kencang berhembus berputar membentuk tornado yang berputar dengan kencang. Beberapa orang di lapangan langsung menghindar dan mencari tempat berpegangan agar tidak ikut terbang terkena angin topan itu.


Leo tersenyum lebar melihat angin itu. "Giliran ku!! [Sihir api: tornado api]!!!!" Lingkaran sihir berwarna jingga muncul di hadapan Leo yang langsung menyemburkan api yang menyatu dengan angin topan milik Kei menjadi tornado api.


"[Sihir tumbuhan: sulur berduri]!!!" Sulur sulur berduri bermunculan dan menyatu, berputar dalam tornado membuat kobaran api semakin besar karena bahan bakar dari sulur itu.


Monster monster parasit di sekitar nya menjerit kepanasan. Banyak juga dari mereka yang terbang terbawa kuatnya hembusan angin itu.


"Woy!! Panas! Kontrol dikit sihir kalian!!" Protes Hali di tepi lapangan. Bagaimana tidak? Secara tiba tiba membuat serangan seperti itu yang juga menghanguskan rumput rumput di lapangan.


Jika saja mereka tak menjaga jarak, sudah dapat di pastikan mereka pun akan terkena dampak serangan itu. Walau sudah menjauh pun, hembusan angin panas nya masih begitu menyengat kulit.


"Yey!! Bakar!! Bakar terus sampai habis!!" Sorak Thory sambil sedikit melompat.


Lingkaran sihir yang menjadi jalan monster monster itu keluar mulai hancur. Beberapa muncul lagi, namun langsung hancur sebelum terbentuk sepenuh nya.


5


4


3


2


1


"Cepat hentikan tornado api nya!!" Jerit beberapa orang.


"Luntur ketampanan ku nanti woy!!" Omel Sein yang kepanasan sambil mengelap keringat di wajah nya dengan sapu tangan.


"Baiklah baiklah akan kami hentikan!" Ujar Leo.


Ketiga pemuda itu mencoba menghentikan sihir mereka namun...


"HUWEE!! GAK BISA!!!" Jerit Thory sambil bereaksi seolah mau menangis.


Kei tampak panik. "Ini gimana berhentiin nya??"


"Gak ada rem nya! Gak bisa berhenti!!" Ujar Leo.


Lainnya hanya menatap datar. Memang dia kira ini mobil apa pake rem segala?


Bzzt


Ketiga pemuda itu langsung memandang satu orang pemuda ber manik merah yang menatap tajam dengan listrik merah yang mengalir di tangan nya.


"Jika kalian tak menghentikan nya, aku akan menyetrum kalian semua!!!" Ancam Hali kesal.


"Huwee!! Ampun bang!! Tapi ini gak ada rem nya beneran! Rem nya blong!!" Rengek Kei.


Sungguh, ini bukan kendaraan yang pake rem untuk berhenti!


"Ck. Kelamaan. [Sihir es: pembekuan]! "


Lingkaran sihir berwarna biru muda berukuran besar muncul di hadapan Ice. Seketika ice menyembur membekukan semua yang ada di lapangan itu sekaligus menghentikan tornado api itu.


"Wah kak Ice keren!!" Puji Thory dengan mata berbinar.


Yeah, setidaknya api itu berhasil di padamkan dan sekarang tidak ada lagi lingkaran sihir dan monster parasit yang tersisa.


"Woy! Nih dah selesai, lalu kapan giliran ku menebar pesona??" Protes Sein yang sedari tadi belum sempat menggunakan sihir nya untuk beraksi.


"Salah mu."


"Dari tadi ngapain aja?"


"Makanya jangan cuma tebar pesona."


"Jadi dari tadi Sein di sini juga?"


"Nasib lah."


Perempatan imajiner muncul di kepala Sein. Seakan tertusuk panah tak kasat mata berkali kali mendengar kata kata yang para saudara nya lontarkan. "Menyebalkan!!!"


Zuka menghela nafas melihat teman teman nya itu. "Mau kerjaan kan? Bereskan lapangan ini. Zion tau bisa ngamuk nanti.


Semua orang di sekitar lapangan itu terdiam, khusus nya para pangeran elemen. Mereka mengingat terakhir kali rumah berantakan, bagaimana marah nya Zion melihat itu. Lalu, bagaikan jika Zion melihat kekacauan ini?


Rumput lapangan yang sudah hangus menjadi abu, tanah yang retak dan berlubang lubang, es yang menutupi hampir semua bagian lapangan. Sudah jelas Zion akan marah besar saat melihat nya.


Para Trio Trouble Makers saling menatap satu sama lain. "Alamak..." Ujar mereka bersamaan.


"Lebih baik kita bereskan semua ini sebelum Zion datang." Ujar salah satu murid. Lainnya mengangguk setuju dan langsung berlari ke lapangan.


"Eh jangan lari! Nanti kepeleset-"


"Huwa! "


Brug!


Baru saja Ice memperingati mereka, sebagian besar murid Hero Class sudah terjatuh.


Zuka yang melihat itu hanya bisa tertawa. Tapi sekejap, tawa itu berakhir digantikan dengan kekhawatiran.


"Bagaimana Zion dan Avren? Apa mereka berhasil?"


Tidak ada lagi lingkaran sihir atau monster parasit yang berdatangan. apa mereka benar-benar berhasil?