
"Baiklah, Duel atau perang?" Tanya Zion memberi pilihan.
Rendrano dan Reon sempat khawatir dengan apa yang akan Catelly pilih. Semoga dia tidak salah pilih atau duel ini akan menjadi duel terakhir nya nanti.
Namun sayangnya, Catelly justru memilih hal yang mereka takuti.
"Aku memilih perang. " Ujar nya mantap.
"Anda yakin? " Tanya Zion memastikan.
"Yakin. Lihat saja bagaimana aku akan mengalahkanmu!!"
Mendengar itu Zion sedikit menyeringai. "Baiklah, " Zion mengeluarkan selembar kertas dari dalam saku nya dan langsung melemparnya pada Catelly. Kertas itu bersinar redup dengan tulisan 'ledakan' yang perlahan menghilang. Saat itu juga, letakan terjadi dan nyaris mengenai Catelly.
Catelly yang terkejut pun langsung menghindar. "Kau curang! Belum ada aba aba dari wasit!!" Seru wanita itu. Namun Zion hanya terdiam. Ia memandang ke arah Reon dan Rendrano yang juga hanya terdiam.
"Kenapa wasit tak bertindak? Ini pelanggaran!" Ujar nya.
"Anda yakin ini pelanggaran? "
Wanita itu menoleh pada Zion yang sudah siap meluncurkan serangan berikutnya. Catelly pun tidak bisa tinggal diam, ia juga memunculkan lingkaran sihir di hadapan nya dan mengeluarkan sebuah pedang air dengan desain yang cukup megah.
"Berani sekali kau berbuat curang seperti itu!" Ujar nya dan menyerang balik Zion.
Sedangkan semua yang menonton sedikit heran.
Kenapa wasit hanya terdiam melihat pelanggaran yang anak itu lakukan? Bukannya harusnya anak itu di diskualifikasi?
Sementara, Zion terus mencoba menghindari serangan dari Catelly. Sebenarnya serangan itu bisa ia tahan dengan mudah, hanya saja, ia memilih mengamati dahulu dan memberi waktu untuk Catelly Cirva memahami situasi ini.
"[NonMagic:panah es]" Ucap Zion dan menembakkan panah panah es dari senjata yang dibuatnya. Panah itu meluncur dan membekukan semua serangan yang Catelly arahkan padanya.
"Beraninya kau!!! " Dengan cepat, Catelly langsung menebaskan pedang nya ke arah Zion yang dapat di tahan dengan mudah.
Sekali lagi Zion mengeluarkan kertas dari dalam saku nya yang bertuliskan 'ledakan' dan
BOOM!!
Ledakan besar terjadi membuat Catelly refleks membuat pelindung melindungi dirinya. Nafas nya sedikit tidak beraturan akibat serangan yang Zion berikan. Sekali lagi ia memandang ke arah Reon dan Rendrano yang masih terus terdiam.
"Cepat diskualifikasi anak itu! Dia sudah melakukan pelanggaran! Apa kalian tidak dengar?! " Seru Catelly.
"Percuma. Mereka tak akan menghentikan nya. Bukankah ini yang anda pilih?" Ujar Zion sambil berjalan mendekat.
"Anda sendiri yang memilih perang, maka ini yang anda dapatkan. Dalam perang tidak ada yang namanya wasit. Dalam perang tidak ada yang namanya peraturan. Musuh bisa datang dari manapun dan kapanpun. Jadi seharusnya anda bisa memahami kapan musuh akan menyerang dan harus sedia setiap saat." Ujar Zion.
"[NonMagic:pedang listrik]" Sebuah pedang berwarna merah pun muncul di tangan nya. Listrik terlihat jelas di pedang itu membuat Catelly sedikit khawatir.
"Keterlaluan! "
Tanpa basa basi, Zion langsung menyerang Catelly dengan cepat. Wanita itu pun hanya bisa menghindar dan bertahan.
Elemen air dan petir. Serangan dengan listrik jelas akan merugikan bagi Catelly.
Sementara itu dari bangku penonton, seorang pemuda berjalan mendekati seorang peria dengan iris berwarna biru. Pria itu tampak tenang menonton tanpa niat membantu atau menghentikan.
"Permisi, boleh aku duduk di sini? " Tanya pemuda itu.
Pria itu pun menoleh dan tersenyum. "Oh, tuan muda Vendelous. Silahkan duduk." Ucapnya mempersilahkan Hali untuk duduk.
Gerald hanya menggeleng. "Saya sudah memperingatkan Catelly untuk tidak memanjakan Neily atau hal seperti ini akan terjadi. Tapi dia tidak pernah mendengarkan ku. Jadi, biarkan dia mendapat pelajaran dari hal ini. " Jawab Gerald.
Hali mengangguk. Ada benarnya juga. Memang tidak seharusnya seorang anak dimanjakan.
"Ngomong ngomong, apa yang Zion katakan itu memang benar?" Tanya Gerald.
Hali mengangguk. " Ya, memang benar. Aku juga mendengarnya sendiri dari naga itu."
Gerald menghela nafas. " Saya benar-benar merasa malu dengan tingkah anak saya."
Gerald melanjutkan. "Dan anak itu, dari kemampuan nya sepertinya bukan penyihir biasa. Apa tuan muda tau tentang dirinya?"
Hali menggeleng. "Hanya sedikit yang saya tahu tentang nya. Tapi yang saya tau dari kemampuan nya, Zion bukanlah orang biasa. Tapi dia memilih merahasiakan itu. Saya juga tidak tahu apa alasannya." Jawab Hari sambil mengamati bagaimana cara Zion melawan Catelly.
Sementara itu, Catelly memunculkan lingkaran sihir berukuran tiga. Meter yang mengeluarkan berbagai macam senjata yang terbuat dari air. Ia tersenyum remeh pada Zion yang hanya terdiam.
"Jadi kau sudah siap mati ya?" Catelly langsung meluncurkan senjata itu dan...
Boom!!
Ledakan terjadi, namun berikutnya ia justru terkejut melihat dinding tanah yang muncul di hadapan Zion.
Bagaimana bisa? Serangan nya tidak mempan sama sekali.
"Apa sudah selesai? " Tanya Zion yang entah sejak kapan ada di belakang wanita itu.
Brug!
"Akh!"
Zion langsung meluncurkan serangan nya yang mengenai Catelly dengan telak hingga wanita itu terlempar dan menabrak pelindung di tepi Colloseum.
Zion berjalan mendekati wanita itu yang entah mengapa membuat tubuh Catelly bergetar karena beratnya tekanan sihir yang dikeluarkan anak itu.
Apa ia akan terbunuh di sini?
"Anda bisa berbicara seenaknya tentang perang, apa anda tau bagaimana situasi perang yang sebenarnya?" Tanya Zion. Catelly masih terdiam pada posisi nya.
"Bahkan anda tidak bisa membedakan antara duel dan perang." Zion sedikit menjeda ucapan nya. "Dalam perang semua orang berhadapan dengan hidup dan mati. Dalam perang jauh berbeda dengan duel. Bukan satu lawan satu, tapi satu lawan seribu. Serangan bisa datang dari manapun dan anda bisa mati kapan saja. "
Catelly terdiam. Entah mengapa bayangan mengenai situasi saat perang terbayang dalam pikirannya. Bagaimana suasana saat itu, ribuan orang bertarung dalam hidup dan mati. Banyak yang terbunuh bahkan dengan anggota tubuh yang tidak utuh.
Darah yang menggenang membasahi tanah bercampur dengan derasnya hujan. Langit dan bulan merah yang membuat suasana menjadi semakin mengerikan. Entah mengapa bayangan seperti itu bisa masuk dalam pikiran nya.
Ia tertunduk. Entah mengapa dirinya tidak berani memandang Zion yang kini berada di hadapan nya.
"Situasi perang sangat berbeda. Jauh lebih mengerikan dari apa yang kalian semua pikirkan. Kalian bisa mati kapanpun saat itu. "
Zion memandang ke arah murid murid Hero Class. " Untuk Hero Class."
Seketika semuanya pun berdiri. "Hali Vendelous. Selain itu jika kalian masih ingin mengikuti latihan ku, buktikan jika kalian pantas. Untuk orang yang hanya bisa menganggap remeh lebih baik keluar dari latihan ku!" Ujar Zion dan berjalan pergi meninggalkan Colloseum.
Hening. Tidak ada satu orang pun yang mengucapkan satu kata pun saat itu. Mereka masih sibuk dalam pikiran mereka sendiri. Untuk semua yang menonton terkejut dengan apa yang terjadi. Untuk Catelly yang masih terbayang situasi saat perang dan Hero Class yang tidak tahu harus bagaimana.
Tapi ada satu pertanyaan yang terpikir dalam pikiran mereka. Siapa Zion sampai mengerti situasi perang sejauh itu?
TBC