Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
132. Mempercayai



"Bukannya tadi kau bilang 'Santai aja lah... Kalo ada hantu, bakal ku bakar sampai habis tak tersisa. Jangan remehkan pangeran api yang satu ini' nah, silahkan lawan."


Leo terdiam. Jujur saja, dia tidaklah seberani seperti apa yang ia tunjukkan pada semua orang selama ini. Ada rahasia yang hanya diri nya dan saudara nya yang tau.


Avren yang melihat Leo terdiam mengernyitkan dahi. "Kenapa malah diam?"


Leo menghela nafas. Tangan nya mengepal kuat. Ia tak ingin ada orang lain lagi yang tahu tentang ini, tapi di situasi seperti ini, terus merahasiakan nya juga bukan pilihan.


"Maaf... Sebenar nya aku gak seberani yang terlihat. Aku bersikap seperti ini juga untuk menutupi kelemahan ku." Ujar Leo lirih. Ia tampak ragu mengatakan nya, namun sepertinya ia memaksa dirinya untuk berterus terang.


Avren hanya terdiam mendengarkan. Sudah ia duga akan seperti ini. Terkadang orang akan berpura pura kuat untuk menutupi kelemahan nya. Setiap orang pasti punya kenangan buruk atau sesuatu yang di rahasiakan dari orang lain. Pasti sulit harus membongkar apa yang ia sembunyikan selama ini.


Namun sayangnya situasi memaksa untuk nya memberitahu kebenarannya. Tak ada gunanya lagi untuk terus menyembunyikan nya saat ini.


Avren bertanya. "Memang... kenapa?"


"Seperti yang kau tau, aku memiliki kemampuan fisik yang paling baik dari saudara saudara ku. Tapi itu bukan hal yang bisa ku banggakan. Pasalnya, karena itu aku selalu di latih keras. Gagal sedikit saja aku langsung di pukul. Makanya aku sembunyikan ketakutan ku. Aku ini sebenarnya orang yang penakut... Aku bersikap seperti itu agar tak ada orang yang tau saja. Jika aku takut, perlakuan mereka akan lebih buruk padaku. " Jelas Leo terus terang. Ia membenamkan wajah nya di antara lipatan tangan nya.


Dalam hati ia berfikir, apa memang pilihan yang tepat memberitahu hal itu pada Avren? Tapi menyembunyikan nya juga bukan pilihan yang bagus, karena sudah jelas Avren mengetahui nya sekarang.


"Kau tau, aku pun sama. Masalalu ku tidak bisa di bilang baik. Aku selalu di bully karena kemampuan ku. Makanya aku terkadang menutupi nya. Ya... Sampai aku bertemu dengan Zuka." Avren menjeda ucapan nya. Ia menarik nafas lalu melanjutkan lagi.


"Awal nya aku tak ingin percaya pada orang lain, tapi setelah bertemu dengan nya aku tau, tak semua orang akan melakukan hal yang sama saat mengetahui nya. Aku hanya perlu percaya dan yakin pada nya. Ya... Begitu juga dengan Zion. Awalnya aku sempat mencurigainya sebagai salah satu anggota ras Inimicus karena sihir dan mata nya. Tapi... Sekarang aku tau aku salah. Jadi, intinya saja tak perlu takut menunjukkan sisi lemah mu. Karena tak semua orang sama seperti apa yang ada di masa lalu mu."


"Terimakasih..." Ucap Leo lirih.


Senyuman hangat Avren tunjukkan. "Sama sama. Sekarang, bagaimana jika kita kembali mencari gulungan nya? Agar kita bisa cepat selesai."


Leo mengangguk setuju. "Baiklah!"


********


Zion mengawasi murid murid Hero Class dari atas pohon. Beberapa dari mereka sudah berhasil menyelesaikan tantangan dengan baik. Walau ada beberapa drama, sesi curhat dan aksi teriak teriak gak jelas, tapi setidaknya mereka berhasil menyelesaikan tantangan dalam "uji nyali" Kali ini.


"Sepertinya sejauh ini semuanya lancar. Ujar Zion sambil sedikit tersenyum.


'Iya, lancar. Tapi drama nya juga gak kalah.' celetuk Nero.


Ya, ada benarnya. Banyak drama yang terjadi. Tapi... Setidaknya itu bisa menjadi pelajaran sekaligus ujian untuk melatih nyali mereka.


Namun, di sisi lain Zion masih tetap memikirkan kejadian tadi. Siapa sebenarnya iblis itu? Bagaimana bisa.. Dia tau banyak bahkan kehidupan nya di masa lalu.


Entah mengapa ada perasaan sedih yang terpendam. Banyak penyesalan yang masih Zion rasakan sejak bereinkarnasi. Kematian nya yang terlalu mendadak, pasti membuat kedua orang tua nya sedih. Ditambah pertanyaan nya yang masih belum terjawab, membuat Zion semakin stress memikirkan nya.