
"Aku ingin bertanya beberapa hal pada mu. Tapi sebelum itu, apa kau punya nama?" Tanya Zion. Makhluk itu malah terdiam. Ia tampak sedikit mengalihkan pandangan nya pada Erano, lalu memandang Zion lagi.
"Aku... Tidak punya nama." Ucapnya dengan suara pelan, namun masih bisa di dengar oleh Zion. Tapi setelah itu Demonic Wolfram langsung memalingkan wajah nya. "Lagipula aku tidak ingin nama dari manusia menyebalkan seperti kalian!!" Lanjutnya dengan nada cetus.
Perempatan imajiner muncul di dahi Zion. Menyebalkan kata nya ya? Tapi sayangnya emosi nya reda karena wajah imut monster itu. Ayolah, Zion itu suka dengan binatang yang imut dan menggemaskan tau.
Tapi sepertinya itu justru berbanding terbalik dengan Alex yang masih menatap kesal. ia melipat tangan nya di depan dada dan menyenderkan punggung nya di dinding. Sepertinya dia benar benar tak suka dengan makhluk itu.
Alex hanya berharap Zion cepat menyingkirkan monster itu dari akademi ini.
"Aku mengenal beberapa makhluk yang justru mau mau saja tuh di beri nama oleh manusia. Lagi pula, kalo kau gak punya nama, jadi susah tau kalo mau manggil." Lanjut Zion. Memang benar, jika hanya memanggil nya 'Demonic Wolfram' itu akan terasa aneh. Akan lebih mudah jika dia punya nama.
"Ada benarnya. Akan lebih baik jika kau punya nama, lagipula selain sebagai identitas, akan lebih mudah untuk saling mengenal. Kita bisa jadi teman kan?" Sambung Erano sambil tersenyum, membuat Demonic Wolfram mulai memikirkan ulang tentang itu.
Alex hanya menatap kesal. Kenapa Zion justru akrab dengan monster menyebalkan itu? Kenapa tidak membunuh nya atau membiarkan nya pergi saja sih? Monster lainnya saja dia langsung bunuh. Bagi Alex, bagaimanapun monster tetaplah monster. Makhluk yang bisa saja menjadi kejam dan menyerang manusia.
"Kenapa kau malah peduli dengan nama makhluk hitam sepertinya sih?!" Ujar Alex meluapkan kekesalan nya, yang justru memberikan ide pada Zion.
"Hitam... Blacky!! Bagaimana jika ku panggil kau Blacky saja?"
Alex memasang ekspresi terkejut. Maksudnya tadi tak ingin memberikan saran nama!! Apa sebaiknya ia diam saja ya?
"Nama yang aneh. Selera manusia memang buruk rupanya"
Alex semakin kesal. Ditambah teman nya itu justru mengabaikan nya.
"Cih. Panggil saja Kuro. Cepat singkirkan makhluk itu!"
"Kuro?"
Pandangan semua orang langsung terfokus pada sosok monster kecil yang baru saja berbicara. Demonic Wolfram memasang raut wajah kebingungan tapi juga merasa tak asing dengan nama itu.
Entah mengapa, pandangan nya kembali tertuju pada Erano yang berada tak jauh dari nya. Pemuda itu hanya memberikan tatapan datar pada sang monster. Demonic Wolfram sempat terdiam, lalu kembali memandang Zion sambil sedikit tersenyum.
"Sepertinya boleh juga." Lanjut nya, membuat senyum Zion merekah.
"Baiklah, mulai sekarang kami akan memanggil mu Kuro!" Ucap Zion.
Kuro mengangguk. "Baiklah!"
Namun, saat berikutnya senyuman Zion seketika menghilang. "Selanjutnya, apa tujuan mu datang ke sini?"
"Erk.."
Kuro sedikit memalingkan kepala nya. Tekanan di sekitar nya secara tiba tiba berubah, itu membuat nya cukup terkejut. Bulu bulu di tubuh nya sedikit berdiri, namun ia mencoba untuk bersikap normal. Sikap manis dan lembut Zion sudah membuat nya benar benar melepaskan kewaspadaan nya. Ia sampai lupa jika pemuda itu memiliki sisi kejam yang tersembunyi di balik sikap manis nya.
Zion memasang pose berfikir. Tidak mungkin itu ketua ras Inimicus itu bukan? Mengingat ia sudah mengalahkan nya. Sihir sebenar nya juga bisa di gunakan untuk hal seperti itu. Tapi, dengan tujuan mengendalikan makhluk lain, sepertinya tidak banyak yang bisa seperti itu.
Sepertinya ia harus menanyakan ini pada Zuka, mengingat ia juga memiliki kemampuan mengendalikan makhluk lain. Mungkin dengan itu akan membuat Zion lebih mudah menemukan pelaku nya.
"Bisikan itu, apa suara perempuan atau laki laki?" Tanya Zion lagi.
"Sepertinya laki laki. Suaranya dingin dan pelan, namun terdengar cukup lembut. "
Alex Mengerenyitkan dahi. "Itu bukan Zuka kan?"
"Tidak, Zuka tidak mungkin melakukan itu. Lagipula dia ada di lapangan bersama para pangeran elemen dan murid murid Hero Class lain. Jangan menuduh orang lain sembarangan."
Alex memalingkan wajah nya. "Aku kan hanya menebak." Pandangan pemuda itu teralih pada Kuro. "Apa yang suara itu katakan pada mu?"
"Dia bilang 'buat keributan di Star Magic Academy, pancing sang pahlawan untuk menjauh dari mereka.' "
Dari mereka? Mereka siapa yang sosok itu maksud? Tapi tunggu, ia meninggalkan murid murid Hero Class. Tidak mungkin mereka yang menjadi target bukan?
Jadi jika benar, Kuro hanya sebagai pengalih perhatian agar diri nya menjauh dari Hero Class. Di saat yang sama, sosok itu akan menyerang para murid murid itu.
"Cih. Jadi itu hanya umpan!" Desis Zion kesal. Ia merutuki dirinya sendiri yang malah masuk dalam jebakan seperti ini.
"Umpan?" Tanya Alex.
Zion mengangguk. "Jika tebakan ku benar, serangan ini hanya pengalihan untuk menjauhkan ku dari Hero Class. Mereka lah target sebenarnya."
Tangan Alex mengepal kuat. Di permainkan seperti ini untuk menjauhkan nya dari murid murid itu. Apa tujuan nya sebenarnya?
"Aku akan menolong mereka!"
Dengan segera, Zion langsung berlari menuju lapangan tempat murid murid Hero Class berlatih. Semoga tebakan nya tidak salah dan ia datang tepat waktu.
'Aku merasakan energi sihir mendekat.'
Tidak... Semoga mereka baik baik saja.
Namun, di saat Zion sedang panik dan khawatir dengan murid murid Hero Class dan masalah yang ia hadapi, ada sosok yang terus mengawasi nya sambil menyeringai kejam. Mata merah dengan pupil hitam runcing nya menatap tajam dengan seringaian yang tercetak di wajah nya.
"Permainan baru akan di mulai..."
TBC