Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
142. Teman pertama



"Hiks... Tolong aku!!"


Hutan yang gelap karena dedaunan pohon yang sangat lebat. Suara binatang kecil terdengar jelas di tengah hutan yang sunyi.


Di antara kesunyian itu, seorang gadis kecil duduk meringkuk di balik sebuah pohon besar. Tubuh nya gemetar dengan baju yang sedikit terkoyak. Air mata mengalir dari kelopak mata nya membasahi pipi.


Huf huf!


Mendengar suara itu, sang gadis terkejut dan kembali panik. Tak jauh darinya, ada tiga ekor serigala yang berlari ke arah nya. Seperti nya anak itu lari dari kejaran serigala tadi.


"Tidak... Mereka semakin dekat!" Gadis itu kembali berlari sekuat tenaga mengelak dari kejaran ketiga serigala itu. Namun sayang, lari nya tak cukup cepat sehingga serigala serigala itu semakin dekat ke arah nya.


"Siapapun tolong aku!!!" Teriak nya meminta bantuan. Ia berharap ada seseorang yang menyelamatkan nya dari kejaran para serigala itu. 'Aku tidak ingin mati di sini... Kumohon siapa saja tolong aku...' batin nya.


Nafas nya mulai tak beraturan. Berlari sejak tadi sudah membuat tubuh nya kelelahan. Namun, ia terus memaksakan tubuh nya untuk bergerak demi menyelamatkan hidup nya.


"Hhuwaa!!"


Brug!


Namun secara tiba-tiba kaki nya tersandung yang membuat nya langsung terjatuh. Gadis itu langsung mencoba untuk bangkit, namun ia kembali terjatuh saat merasakan nyeri di lutut nya.


"Ugh sakit..." Desis nya meringis kesakitan sambil sedikit mengusap lutut nya yang lecet.


Huf huf!


Seketika ia menoleh. Mata nya terbelalak melihat tiga serigala itu sudah semakin dekat ke arah nya. Ia sudah putus asa, lari pun tak ada guna nya. Jarak serigala itu sudah sangat dekat dengan nya.


'Apa aku memang akan mati di sini?' batin nya takut. Mata nya terpejam, kepala nya tertunduk siap merasakan sakit. Namun...


Sring!


Suara tebasan pedang membuat dirinya kembali membuka mata. Di belakang nya, seorang anak lelaki dengan rambut hitam kebiruan menebaskan pedang nya mengalahkan para serigala itu. Jubah yang di kenakan nya berkibar membuat nya nampak seperti seorang pahlawan yang datang di saat saat terakhir untuk menyelamatkan nya.


Wajah gadis itu berbinar kembali. Nyawa nya terselamatkan. Ia pikir sudah tidak ada lagi harapan untuk nya hidup.


"Terimakasih kau sudah menolong ku." Ujar gadis itu sambil tersenyum.


Lelaki itu sedikit mengangguk dan berbalik. "Sama sama. Apa kau... Baik baik saja?" Tanya lelaki itu sambil berbalik.


Namun ekspresi gadis itu seketika berubah. Ia justeru menatap takut sosok anak laki laki di depan nya, setelah ia melihat sepasang tanduk kecil di kepala anak laki laki itu.


Bagaimana tidak? Setelah selamat dari serigala, kini ia harus berhadapan dengan iblis?!


"T-tolong jangan bunuh aku, iblis!" Teriak nya ketakutan.


Anak lelaki itu sedikit terkejut melihat reaksi ketakutan gadis kecil itu.


"Tenang saja, aku tak akan membunuh mu." Ujar nya mencoba meyakinkan.


"Kau pasti bohong! Kau akan membunuh dan mengambil sihir ku nanti bukan?!"


Anak lelaki itu menatap datar. Namun, pandangan nya teralih pada lika di lutut anak perempuan itu. Ia pun melangkah mendekat dan sedikit berjongkok.


"Apa yang kau lakukan?"


"Sstt... Diam dulu." Tangan nya terulur mendekati gadis itu. "[Sihir penyembuh]" Lingkaran sihir keunguan terbentuk menyembuhkan luka gadis itu perlahan.


Melihat luka nya mulai sembuh, gadis itu terdiam. Iblis itu menyembuhkan nya, apa dia memang benar benar anak yang baik?


"M-maaf sudah teriak pada mu. Ku kira kau akan membunuh ku. Tapi... Kenapa kau menolong ku?" Tanya gadis itu.


Anak laki laki itu tak mengalihkan pandangan nya. Ia tetap fokus menyembuhkan luka Sang gadis. "Aku tentu tak bisa meninggalkan orang yang meminta bantuan bukan?" Ujar nya. Lingkaran sihir nya menghilang bersamaan dengan luka gadis itu yang sudah sembuh total. "Aku Erano. Salam kenal." Lanjutnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan nya.


Gadis itu sedikit terbengong, namun kemudian menjabat tangan Erano. "Namaku Luciella Eleris. Panggil saja aku Eleris. Senang bisa berkenalan dengan mu, Erano!" Ujar nya sambil tersenyum.


Erano mengangguk. Rambut hitam dengan hiasan rambut bunga mawar biru dan iris mata biru muda membuat gadis itu terlihat begitu manis.


"Sudah ku bilang, aku hanya ingin menolong mu. Lagipula... Aku tak tega melihat manusia yang di makan serigala di hutan. Lagipula... Kau sendiri kenapa datang ke hutan kematian ini? Berbahaya untuk manusia datang ke sini tau."


Eleris menggaruk belakang kepala nya. "Aku dan teman teman ku sedang bermain lempar bola di tepi hutan, tapi bola nya masuk ke hutan. Jadi, aku berniat mengambil nya, tapi malah tersesat dan berakhir di kejar serigala."


Erano sedikit memandang sendu. "Teman ya..." Gumam nya.


Eleris mengernyit. "Kenapa? Apa kau tidak punya teman?"


Mendengar pertanyaan itu, lantas Erano menggeleng. "Aku tidak punya teman. Iblis lain begitu berambisi untuk mengalahkan ras lainnya. Jadi tak ada yang mau bermain. Kadang aku sampai heran, kenapa mereka begitu mengincar kekuasaan. Padahal kan enak kalo bisa hidup berdampingan kaya ras lain di dunia ini. Tapi sebagai iblis bangsawan, aku justru di wajibkan untuk ikut membunuh ras lain."


Mata Eleris berbinar. "Jadi kau bangsawan??"


Erano mengangguk singkat. "Y-ya... Begitulah."


"Wah hebat! Ternyata yang menolong ku iblis bangsawan. Kata ayah dan ibu ku, iblis bangsawan itu kuat kuat loh! Berarti kau punya kekuatan sihir yang hebat bukan?" Tanya nya antusias sambil mendekati Erano.


Sangat berbeda dengan gadis yang di temui nya tadi. Perasaan tadi dia sangat ketakutan deh. "B-begitulah. Tapi... Apa guna nya kekuatan jika terus sendiri?"


"Jadi itu alasan kau tidak punya teman... Kalo gitu, mau kan jadi teman ku, Erano?" Tanya Eleris dengan wajah ceria penuh harapan yang di buat buat.


"K-kau serius? Aku iblis loh."


"Walau iblis, tapi kau berbeda dengan lainnya. Kau punya kebaikan kaya manusia. Jadi apa salahnya kalo berteman kan?"


Erano tersenyum. Ya, sepertinya tak ada salahnya memiliki satu teman.


Sejak itu, keduanya menjadi semakin akrab. Mereka sering bertemu diam diam di tepi hutan untuk bermain bersama. Banyak hal yang Erano ceritakan tentang kehidupan nya sebagai bangsawan dan bagaimana para iblis itu.


Tak semua iblis jahat, beberapa dadi mereka memiliki kebaikan dalam hati nya, membuat mereka lebih bisa mengontrol diri dan tak menyakiti ras lain.


Erano pun jadi tau banyak hal tentang ras ras lain di dunia. Khususnya manusia yang juga memiliki kekuatan sihir yang kuat.


Banyak yang Erano pelajari tentang manusia dan ras ras lain nya. Mereka bisa hidup damai bersama tanpa saling membunuh. Itu tentu menjadi hal yang baru bagi Erano.


Kini ia tak sendiri lagi, ada orang yang sudah merubah hidup nya, membuat hidup nya semakin berwarna.


Namun... Sayang nya tak ada yang abadi. Ia tau, suatu saat nanti identitas nya sebagai iblis akan tersebar atau mungkin bangsa iblis dan keluarga nya tau jika ia bersahabat dengan manusia.


*****


Matahari makin terik, namu itu tak melunturkan canda dan tawa dua anak beda ras yang sedang bermain di bawah bayang bayang pohon.


"Ayo Erano, kau pasti bisa!!" Eleris memberi semangat. Kini Erano sedang mencoba sihir penyamaran yang memungkinkan dia menghilangkan tanduk dan aura iblis nya. Jika ia berhasil, ia tak perlu cemas jika bertemu manusia atau ras lainnya.


Lingkaran sihir terbentuk di bawah Erano dan mulai bersinar. "[sihir penyamaran]"


Wushh!


Lingkaran sihir itu bersinar terang dan menghilangkan tanduk di kepala Erano. Kini ia terlihat seperti manusia normal.


"Wah! Kau berhasil Erano!!" Sorak Eleris.


"Iya. Akhirnya aku gak perlu khawatir bakal ketahuan kalo aku iblis lagi! Terimakasih sudah menyemangati ku Eleris!"


Eleris mengangguk. Sekarang, ia tak perlu cemas lagi.


"Eleris, bagaimana jika ras iblis dan ras lainnya berdamai?" Tanya Erano. Lantas Eleris memandang anak lelaki di samping nya. Pandangan Erano terarah pada langit biru di atas sana, seakan menerawang jauh.


"Pasti akan menyenangkan. Kita tak perlu bermain sembunyi sembunyi lagi."


"Tapi... Apa itu mungkin?"


"Enggak ada yang gak mungkin di dunia ini. Janji ya, suatu saat nanti... Kita buat ras iblis dan ras lain bisa berdamai!" Eleris mengulirkan jari kelingking nya. Erano sempat ragu, namun akhirnya ia mengaitkan jari kelingking nya.


"Baiklah, janji!"