
Latihan pagi telah selesai. Zion kini sedang berbaring di sofa ruangan Rendrano sambil sedikit mengusir penat di tubuhnya.
Masalah semalam sudah di atasi oleh Rendrano dan Reon. Kedua pria itu sedang di interogasi di ruang rahasia.
Zion beruntung ruangan itu kedap suara. Mengingat bagaimana kejamnya Rendrano dan Reon saat menginterogasi, ia lebih baik tidak terlibat. Mendengar kata kata nya dan merasakan tekanan yang keduanya keluarkan saja sudah membuat nya merinding. Bagaimana jika ada di dalam sana?
Zion sedikit menghela nafas. Ia telah mengumumkan akan mengadakan survival camp dengan tujuan melatih mereka di alam terbuka sekaligus menghilangkan jenuh karena terus berlatih di Akademi.
Dirinya butuh liburan.
Serangkaian kegiatan dan persiapan sudah lengkap setelah rapat kecil yang ia buat dengan para guru dan dua asisten baru nya.
Kegiatan akan di mulai pada pukul 16 sore nanti. Dan sekarang baru pukul 12 siang. Jadi tidak ada salahnya bukan jika sedikit beristirahat?
Ia berencana untuk tidur walau hanya sebentar. Satu atau dua jam tidak ada salahnya bukan?
Tidak butuh waktu lama untuk nya terjun ke alam mimpi. Beberapa jam berlalu sampai suara ketukan tiba tiba terdengar.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu terdengar membangunkan pemuda bermanik ruby itu. Ia membuka mata nya, menyesuaikan cahaya yang masuk penglihatan nya dan secara tidak sengaja matanya langsung menatap pada jam dinding yang tergantung di atas pintu.
Diam.
Zion masih mencoba menahan keterkejutan nya. Tapi sayangnya ia tidak bisa.
"HHHUUUAAAAA!!!!!! SUDAH JAM SEGINI!!!!!!?????" Jerit nya membuat orang yang mengetuk pintu langsung menerobos masuk begitu saja.
"Ada apa??!!" Tanya Alex panik melihat Zion yang uring uringan.
"Sudah jam segini kenapa tidak ada yang membangunkanku??? Aku berniat hanya tidur satu atau dua jam tapi sekarang sudah pukul 16.20!!???? AKU TERLAMBAAATTT!!!!"
Alex yang mendengar itu melirik ke arah jam yang tepat menunjukkan pukul 16.20.
"Zion tenang dulu. Ini baru-"
"Tenang bagaimana Alex?! Aku yang merencanakan camp ini dan aku yang terlambat tidak lucu!!! Sekarang jangan diam saja dan cepat bantu buku skill ku!!!"
"Maaf menyela, buku sihir. Tapi tolong dengarkan aku du-"
"Terserah! Bantu carikan!!"
Alex hanya menghela nafas. Apa boleh buat? Lebih baik mengikutinya daripada kena omel.
Zion dan Alex pun mengobrak-abrik ruangan untuk mencari sebuah buku kecil yang entah dimana keberadaan nya.
Zion panik, kesal karena tak ada yang membangunkannya dan kesal pada dirinya yang malah ketiduran di saat seperti ini.
Mereka mencari dari sudut ke sudut, dibalik meja, berkas dan lainnya tapi tidak ketemu juga.
"Alex bagaimana ini!!! Aku sudah terlambat dan sekarang buku ku hilang... Bagaimana ini?????" Tanya Zion panik. Ingin menangis rasanya.
Sampai Reon yang mendengar keributan pun keluar.
"Ada apa ini? " Tanya pria vampir itu.
"Kak Reon... Aku terlambat padahal hari ini aku mengadakan survival camp. Niatku cuma mau tidur satu atau dua jam tapi sekarang bahkan sudah lewat dan aku kehilangan buku sihir ku!!!" Keluh Zion ditengah kepanikan.
Reon justru menatapnya bingung. "Terlambat? Sekarang baru pukul 13.30. Masih banyak waktu bukan?" Jawabnya apa adanya.
Krik krik... Krik krik...
Zion terdiam.
Sungguh?
Serius?
Ia mengalihkan pandangan nya ke luar jendela. Ia tidak memperhatikan keadaan sekitar. Matahari masih berada di atas bersinar dengan terangnya. Setelahnya ia memandang ke arah jam yang tergantung di atas pintu.
Tidak bergerak.
Jarum jam nya tidak bergerak.
Pemuda ber rambut hitam itu pun menarik nafas panjang dan sedikit menahan nya. Lalu,
"AAYYAAAHHHH!!!!!! SUDAH KU PERINGATKAN BERAPA KALI UNTUK MENGGANTI BATRAI JAM NYA! KENAPA MASIH BELUM JUGAAAAAAAA???!!!!!!!!" Seru nya sekeras mungkin membuat Reon dan Alex menutup telinga sekaligus bergidik ngeri.
Zion langsung masuk ke ruang rahasia begitu saja. Dapat dirasakan tekanan berat di sekitarnya. Alex dan Reon sudah menduga Rendrano pasti akan di ceramahi oleh anak itu. Lebih baik mereka menghindar daripada ikut kena juga.
Beberapa menit berlalu. Ruangan itu telah sepenuhnya berantakan sekarang. Rendrano terlihat sedang mengatur waktu di jam dinding yang menjadi alasan dirinya diceramahi oleh anak nya sendiri. Sedangkan Zion masih sibuk mencari buku nya yang menghilang entah kemana. Sedangkan Alex dan Reon? Mereka sudah kabur.
"Zion.. " Panggil Rendrano tiba tiba. Pemuda bermanik ruby itu pun menoleh.
"Ada apa?" Jawab nya.
"Ada yang ingin ku tanyakan. Bagaimana kau bisa tahu sebanyak itu tentang lawan kita?"
Zion menghentikan kegiatan nya. Ia terdiam. Entah bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu.
"Ayah ingat kan pertemuan pertama kita?" Zion menjeda ucapan nya. Rendrano mengangguk mendengar itu.
"Aku tidak akan menceritakan semuanya sekarang. Hanya, yang bisa ku katakan, dulunya ketua ras Inimicus itu sudah ku anggap saudara ku sendiri. Tubuhnya dikendalikan oleh makhluk yang kini memimpin para monster dan iblis itu. Tujuanku selain memenangkan perang ini juga untuk menyelamatkan nya. Mereka orang orang pertama yang ku temui begitu datang ke tempat ini." Jelas nya. Entah mengapa rasa sedih dan sesak di dada nya muncul kembali.
"Jadi karena itu... Lalu, darimana asal mu?"
"Maaf, aku tidak bisa memberitahu itu sekarang."
Rendrano mengangguk mengerti. Memang tidak seharusnya dirinya bertanya terlalu banyak. Untuk saat ini, mungkin itu saja sudah cukup.
Namun, Zion sendiri juga merasa tidak enak karena terus merahasiakan nya. Hanya saja cukup berat untuk mengatakan hal itu sekarang.
"Zion!" Panggil Rendrano
Pemuda bermanik ruby itu berbalik. Namun ia sedikit terkejut dengan buku kecil yang meluncur padanya. Dengan cepat, Zion pun langsung menangkap nya.
"Ketemu. Selanjutnya, semangat!" Ujar Rendrano sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
Zion seketika tertunduk. Ia jadi merasa semakin bersalah. Tanpa aba aba, Zion langsung melompat memeluk ayah nya itu.
"Maaf.." Ujar nya lirih. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
Rendrano membalas pelukan pemuda itu sambil sedikit membelai nya.
"Baiklah, cepat bersiap siap. Jangan sampe beneran telat kan gak lucu."
Zion melepas pelukan nya. "Hehe baiklah!" Ujar Zion dan segera pergi.
Tak terasa waktu terus berjalan dan sudah tiba saatnya untuk mereka berangkat.
Ia memperhatikan para murid Beast Akademi yang sudah berbaris rapi. Tapi sebaliknya dengan murid Hero Class. Khusus nya untuk para gadis yang malah membawa tas tas yang cukup besar dan pakaian yang ia sendiri malas memikirkan nya.
Ayolah... Ini acara camp di tengah hutan, bukan mau wisata ke tempat tempat mewah. Apa perlu membawa barang sebanyak itu?
"Baiklah, apa semuanya sudah siap??" Tanya Zion.
Semuanya pun menjawab secara bersamaan. "Siap!!!"
"Jika begitu, kita berangkat sekarang!!"
Zion pun langsung menggunakan sihirnya membentuk sebuah portal cukup besar. Semua murid pun masuk ke dalam nya. Namun, sebelum Zion ikut masuk, langkah nya terhenti dan menengok ke belakang. Ia memandang sosok gadis ber rambut panjang yang sedang memandang nya dari salah satu jendela sekolah. Zion tersenyum tipis melihat sosok gadis itu sebelum kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam portal.
"Akhirnya sampai juga!!!!! Halo alam terbuka! Kei datang menyapa kalian!!!!" Ujar Kei sambil merentangkan tangan ya.
"Lebay lu... Kaya gak pernah lihat pohon aja" Celetuk Leo dari belakang.
"Sudah lama sejak terakhir kali kita datang ke hutan kan? Kangen!!!" Ucap Thory.
Lainnya tersenyum melihat pemuda ber netra hijau itu terlihat girang. Tapi terbesit juga rasa sedih yang coba mereka sembunyikan jika kembali mengingat kenangan nya dulu.
"Oke baiklah, jika begitu lebih baik kalian dirikan tenda dulu. Untuk kegiatan berikutnya akan ku jelaskan nanti."
"Siap!" Jawab semuanya mantap.
TBC