Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
104. Keributan Di Lapangan



Matahari bersinar cerah di angkasa yang juga di hiasi oleh gumpalan gumpalan awan putih yang indah. Zion kini berdiri di tepi lapangan, memperhatikan teman teman nya yang sedang bersiap sebelum pelajaran praktek sihir dilakukan.


Biasanya Zion yang bertugas untuk mengawasi, tapi sekarang ia juga harus ikut serta dalam latihan ini. Yang tentu saja pak Rendrano dan Reon melarang keras Zion untuk menggunakan kekuatan penuh nya!


Senyuman lembut terlukis di wajah nya saat melihat Zuka dengan cepat akrab dengan para pangeran elemen. Mengingat jika pangeran elemen itu tidak mudah akrab dengan orang lain, tentu ia senang melihat saudara dan teman teman nya seperti itu.


"Zuka memang orang yang mudah akrab dengan orang lain. Wajar saja saat di Kerajaan Gold Moon dulu, dia begitu di cintai sebagai putra mahkota."


Zion tidak menoleh. Ia tau jelas suara siapa itu. Pemuda bermanik mata hitam berdiri di samping Zion, menyenderkan punggungnya pada pagar pembatas lapangan.


"Ya... Ditambah dengan sikap nya yang ceria seperti itu. Sungguh teman yang baik."


Avren hanya terdiam, tangannya sedikit mengepal. Ingatan nya berputar ke masa lalu saat pertama kali mereka bertemu. Saat itu Avren sering di bully oleh teman teman nya karena memiliki iris mata hitam pekat yang mereka anggap mengerikan. Bahkan orang tua dan keluarga nya pun gak menginginkan Avren ada di dekat mereka.


Tapi Avren tidak pernah peduli dengan hal itu. Sebenarnya ia bisa saja mengalahkan semua anak itu dengan sihirnya. Tapi, semakin di lawan justru akan semakin banyak masalah yang ia dapatkan.


Sampai suatu hari, Zuka datang menghampiri nya sambil tersenyum manis dan mengulurkan tangan nya pada Avren. Iris emas nya tampak berkilau dipadukan dengan rambut putih bersih yang tampak bergoyang tertiup angin. Bagaikan malaikat cahaya yang menghampiri nya, menariknya menjauh dari kegelapan.


"Dia adalah saudara ku. Jika kalian berani macam macam dengan nya, kalian tak akan pernah ku ampuni!"


Ucapan itu masih terus diingat Avren dengan jelas. Di saat tidak ada satupun orang yang menginginkan keberadaan nya, sosok yang bahkan tidak ia kenal sebelumnya datang dan mengatakan bahwa ia adalah saudaranya. Tentu itu menyentuh hati kecil Avren kala itu. Dan saat itu juga, Avren bertekad untuk terus melindungi Zuka.


"Zuka memang anak yang baik..." Gumam Avren pelan, namun masih bisa di dengar oleh Zion. "Ngomong ngomong, bagaimana dengan tugas yang Pak Rendrano berikan padamu?"


"Yeah... Aku masih mencari keberadaan iblis itu. Akan berbahaya jika dia dibiarkan terlalu lama."


"Tapi, iblis yang bisa menekan hawa keberadaan nya itu bukan iblis yang main main. Mereka pasti akan membuat keributan. Tapi... Kita juga harus berhati hati, karena tujuan utama iblis itu juga belum di ketahui." Avren menjeda ucapan nya. Mengingat tak banyak iblis yang bisa menekan hawa keberadaan nya, pasti bukan iblis sembarangan. Bisa saja... Bahkan lebih kuat dari ketua inimicus itu. "Kau sudah membuat pelindung di sekitar akademi?"


Zion mengangguk. " Tentu. Tapi aku sendiri tidak yakin itu saja cukup... "


"Aku akan membantu mu."


"Zion tersenyum." Terimakasih."


Namun,


'Tiga detik lagi, akan ada serangan menuju ke arah mu.'


Syut!


"[NonMagic:Shield]!!"


Blar!


Kobaran api tampak menyelimuti pelindung sihir yang Zion buat, lalu menghilang tanpa sisa. Beruntung Nero memberitahu nya tepat waktu. Jika tidak, sudah pasti ia akan terkena serangan itu.


"Zion maaf!"


Zion langsung menghilangkan pelindung nya dengan sekali jentikan jari. Tak jauh dari nya, seorang pemuda berlari menuju ke arahnya dengan raut wajah khawatir.


Yap, dia adalah Leo, salah satu dari Element Prince, pengendali elemen api, yang juga merupakan pelaku dari bola api nyasar yang main meluncur saja ke arah Zion tanpa permisi.


"Zion, apa kau terluka? Kau baik baik saja kan? Ada yang sakit? Apa serangan ku mengenai mu? Kau tidak apa kan? Aku sungguh minta maaf!! Aku benar benar tidak sengaja, kau tidak apa kan?"


Leo meluncurkan pertanyaan bertubi-tubi sambil mengecek tubuh Zion sana sini. Sungguh, sudah berapa kali Zion mengalami hal ini? Seharusnya Zion sudah mulai terbiasa, tapi... Siapa yang akan terbiasa jika langsung dihujani pertanyaan yang begitu banyak dan orang di depannya terus mengguncang dan memutar-mutar tubuh nya?? Yang ada bukannya baik baik saja justru akan semakin buruk kan?


"Tenanglah Leo! Aku baik baik saja..." Ujar Zion sambil menghentikan Leo yang memegang kedua bahu nya. Zion menarik nafas lega akhirnya temannya itu berhenti mengguncang tubuh nya...


Sementara di sisi lain, Avren hanya menahan tawa melihat itu tanpa sedikitpun niat untuk membantu saudara nya itu.


Buat apa membantu jika itu bisa jadi tontonan dan hiburan gratis?


"Ya, tentu saja aku baik baik saja. Kau tak perlu khawatir. Selain itu... Bagaimana bisa bola api nya nyasar?" Tanya Zion heran. Mengingat Leo dan lainnya berada di tengah lapangan, sedangkan dirinya dan Avren berada di tepi lapangan. Jaraknya cukup jauh loh...


Leo menggaruk belakang kepala nya yang tak gatal. "Kami coba membuat kombo, tapi malah berujung seperti itu." Jawab nya sambil menunjukkan jarinya pada keributan yang terjadi di tengah lapangan.


Avren menatap heran pemandangan di depan nya, sedangkan Zion tidak bisa untuk tidak terkejut melihat itu.


Bagaimana tidak terkejut? Di tengah lapangan, Hali dan Sein yang saling sedang dengan pedang yang terbuat dari sihir masing masing, lalu Ice yang dengan tenangnya tidur di tengah keributan itu, tak peduli tubuhnya di lompati oleh saudara saudara nya. Kei dan Zuka yang berteriak panik karena membuat tornado yang justru terlalu kuat dan menerbangkan beberapa siswa lain dan Thory yang dengan santainya menumbuhkan jagung dan di bantu salah satu murid pengendali elemen api untuk membuat popcorn sebagai camilan menonton pertunjukan itu.


Zion mematung di tempat. Entah apa yang harus ia katakan dan entah bagaimana ia harus menghadapi ini.


"Saudara mu sungguh ajaib. Perasaan berapa menit lalu semuanya baik baik saja deh." Ucap Zion masih dengan ekspresi terkejutnya.


"Ya... Cuma aku yang waras kayaknya."


Zion justru melirik curiga.


Tidak... Kau juga sama tidak waras nya seperti merek. Bahkan termasuk dalam tiga besar kaum tidak waras di Star Magic Academy.


Helaan nafas panjang di hembuskan Zion pada akhirnya. Tidak ada cara lain.


Zion memejamkan mata nya, dan aliran sihir berwarna merah gelap langsung meluap mengelilingi tubuh nya, yang tentu saja membuat orang orang di sekitarnya merinding.


Kelopak mata itu kembali terbuka, bersamaan dengan senyuman manis yang terlukis sempurna di wajah manis pemuda mungil itu. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju tengah lapangan.


"Hey, apa kalian mau berhenti? Ini jam pelajaran loh... Bukannya waktu bermain... " Ujar Zion dengan nada suara lembut. Tak lupa dengan senyuman semanis gula yang merekah di wajahnya.


Glek


Tapi gak yang mereka lupakan, semanis manisnya Zion, ia masihlah pemuda kejam yang jelas tak akan mengampuni mereka jika membuat keributan seperti itu!!


Saat itu juga semuanya terdiam. Dan dengan ajaibnya, Ice yang terbilang susah di bangunkan pun langsung berdiri dengan posisi siap begitu Zion mendekat.


Zion yang melihat itu tersenyum, kali ini memang benar senyuman manis yang ia tunjukkan. "Terimakasih karena sudah berhenti membuat keributan. Sekarang, lebih baik mulai latihan dengan pengontrolan aliran sihir terlebih dahulu."


Dengan arahan Zion, murid murid Hero Class pun langsung memulai latihan. Namun, baru saja sebentar Zion mengontrol sihir nya, ia merasakan mind caller dari Alex.


'Ada apa?'


'Masalah. Mereka mulai bergerak.'


'Baiklah.'


Hanya dengan kalimat itu saja, Zion sudah mengerti apa yang di maksud Alex.


Zion memandang sekitarnya dan kebetulan melihat Yanata yang sedang berjalan tak jauh darinya. "Yana!"


Gadis dengan rambut di kucir dua itu langsung berjalan mendekati Zion. "Ada apa kak?"


"Tolong bantu aku mengurus mereka ya, aku ada urusan sebentar! "


Tanpa menunggu persetujuan Yanata, Zion langsung berlari keluar lapangan. Ekspresi nya berubah serius dengan iris mata yang berubah menjadi merah darah.


Sedangkan gadis kecil itu masih terdiam, me coba memahami situasi. "Kenapa malah aku yang ken sih??? Ugh... Harusnya aku gak kesini tadi!"


Yeah... Namanya penyesalan memang selalu datang di akhir.


TBC