
Rambut putih itu nampak berkilau terkena cahaya lentera. Mata emas nya menyorot hangat, memperhatikan jalan yang dilangkahi nya. Di samping nya, pemuda ber iris mata biru nampak berjalan santai sambil sedikit bersenandung, seakan tak merasakan takut sedikitpun.
"Hei hei Zuka... Kau kan pangeran, aku selalu pemasangan bagaimana kehidupan mu dulu." Tanya Kei terlihat tertarik.
Zuka tampak berfikir. "Kehidupan ku ya... Biasa saja. Bisa di bilang aku orang yang suka kabur keluar istana malah."
Kei menaikkan sebelah alis nya. "Kukira kau selalu hidup mewah dan di larang bermain dengan anak anak yang bukan bangsawan."
Zuka menggeleng. "Aku dan keluarga ku bukan orang yang seperti itu. Kami bahkan akrab dengan para warga desa. Anak anak bermain di halaman istana juga sudah menjadi hal yang biasa. Walau aku pangeran, orang tua ku tak pernah melarang ku bermain dengan siapapun. Aku juga tak memandang status, siapapun bisa menjadi teman ku. Salah satu nya... Avren." Ekspresi Zuka seketika berubah. Ia sedikit tersenyum sendu.
"Walau status kami berbeda, aku bahkan menganggap nya seperti saudara aku sendiri." Lanjut nya.
"Kalian cukup akrab ya. Pasti sedih saat Avren di kendalikan ketua ras Inimicus dulu." Ucap Kei.
Zuka mengangguk. Mengingat bagaimana orang yang sudah ia anggap keluarga nya sendiri justru menjadikan dirinya seperti alat untuk mengendalikan monster dan menambah sihir nya, itu cukup menyakitkan.
Melihat ekspresi Zuka, Kei merasa cukup bersalah membahas itu. Sepertinya hal itu menyimpan menjadi kenangan buruk bagi Zuka.
"Ah, maaf aku sudah membahas nya."
Zuka menggeleng dan tersenyum. "Ah, tidak apa apa kok! Tapi, ada yang ingin ku tanyakan. Bagaimana Zion menurut mu?"
Kei tampak memasang pose berfikir. "Dia itu cukup manis. Tapi aku tak menyangka, di balik sifat manis nya dia menyembunyikan kekuatan yang begitu besar. Sejak awal dia masuk ke akademi saja sudah membuat banyak orang kagum. Aku penasaran apa dia keturunan penyihir terhebat di dunia? Sebelum ini, gak ada yang tau tentang keluarga Zion."
Ah, Zion masih merahasiakan nya. Yang mereka tau, Zuka dan Zion pertama bertemu di gua itu. Tapi... Sebaik apapun Zion merahasiakan nya, cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga.
"Entahlah... Aku sebenarnya tak terlalu memikirkan itu. Walau aku sedikit penasaran sih..." Balas Zuka.
Keduanya terdiam dan kembali terfokus untuk mencari gulungan.
"Ngomong ngomong... Kok malah kita ngegibahin Zion ya?" Celetuk Kei.
Ah iya juga, kenapa mereka justru membicarakan Zion seperti itu? Kalo orang nya dengar bahaya nanti.
Angin berhembus membuat api dalam lentera itu bergoyang. Suhu semakin dingin di sekitar mereka. Tidak, ini bukan hanya karena malam semakin larut, tapi juga ada sebab lain.
Zuka menggeleng singkat. "Aku tidak tau. Zion merencanakan nya dengan pak Rendrano dan mentor lainnya." Ia tak berbohong. Bahkan Zuka sendiri tak tau kapan Zion mempersiapkan tempat ini dan apa saja yang ada di dalam nya.
Ia hanya tau uji nyali kali ini juga akan menjadi ujian untuk para murid mengatasi ketakutan mereka. Zuka berfikir keras. Kira kira apa yang akan mereka hadapi kali ini?
Mata keduanya terus mencari dan memperhatikan benda benda di sekitar mereka, mencari gulungan kertas yang harus mereka dapatkan.
"Ini... Yang kalian cari?"
Deg! Keduanya langsung berhenti bergerak saat itu juga. Perlahan keduanya menoleh ke belakang. Namun, keduanya menghela nafas lega saat melihat yang di belakang mereka bukanlah hantu, melainkan hanya seorang pria yang sepertinya baru pulang bertani. Terlihat jelas dari cangkul yang di bawa nya.
Pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangan, memberikan sebuah gulungan kertas kecil. Kei pun menerima nya. "Terimakasih bany-"
Puk..
Baru saja ia mengulurkan tangan nya hendak mengambil gulungan itu, tangan sang pria terjatuh dan tergeletak di tanah dengan darah yang mengucur deras.
Saat itu juga seakan tubuh Kei membeku. Mata nya terbelalak melihat itu.
Seharusnya mereka sudah tau itu. Du hutan seperti ini, mana ada ladang??
"Ahaha.. Maaf ya dik, tangan ini memang biasa copot. Maklum, dah tua." Ujar pria itu santai sambil mengambil kembali tangan nya yang putus.
"A-ahaha... Tidak apa... Terimakasih pak..." Dengan cepat Kei mengambil gulungan itu lalu merangkul Zuka berjalan menjauh.
"Gila... Tadi tuh hantu beneran... Kenapa kau gak kasih tau kalo tuh orang hantu sih??"
"Ya mana ku tau kalo itu hantu?? Cepat gih buka gulungan nya."
Kei membuka gulungan itu dan membaca apa yang tertulis di salam nya. "Kalahkan manekin ghost untuk menyelesaikan tantangan. Selamat berusaha~"
"Manekin? Jangan bilang pria itu...."