
"Membicarakan orang lain itu tidak sopan loh..."
Sebuah suara terdengar dan mereka langsung menoleh ke sumber suara.
"Apalagi jika orang yang kalian bicarakan ada di dekat kalian." Lanjut Zion yang sedang duduk santai memandang mereka yang terkejut.
Sejak kapan Zion ada di sana?
Mereka yang tertangkap basah membicarakan orang yang ternyata ada di dekat nya pun hanya bisa terdiam seribu bahasa. Mereka benar benar tidak memperhatikan jika ternyata Zion ada di dekat mereka.
"Dan lagi, aku tidak imut." Ucapnya sambil berjalan mendekat.
Ice memberanikan diri untuk berbicara mewakili teman temannya yang lain. "Um... Zion, maaf kami tidak tahu jika kau di situ. Kami sedikit penasaran denganmu. Itu saja."
"Kenapa tidak menanyakan nya secara langsung?" Tanya Zion.
Padahal ia sudah memberanikan diri untuk berbicara tadi. Tapi mendengar pertanyaan Zion, ia kembali terdiam.
"Pffftt... Hahahahaha!!!!!" Tawa Sein. Lainnya pun langsung memandang pemuda itu yang tiba tiba tertawa.
Zion pun ikut tertawa. "Hahahaha!! Santai saja. Tak perlu gugup begitu" Ia pun duduk di sebelah Leo.
"Kalian ini. Zion tak seperti itu lah... Sikap kalian berlebihan." Ucap Sein dan duduk di sebelah Zion.
"Sebelum nya maafkan aku, walau kalian sudah mengenalku, tapi biarkan aku memperkenalkan diri lagi. Namaku Zion Ravael. Umur ku 13 tahun. Salam kenal..." Zion memperkenalkan diri sambil tersenyum.
"Rupanya kita sudah salah sangka. Aku Kei Vendelous. Umurku 14 tahun. Pengendali elemen angin dan laki laki paling tampan di sekolah ini." Ucap Kei sambil sedikit mengibaskan poni rambutnya yang agak panjang.
"Woy woy woy!! Yang paling ganteng di sekolah ini aku lah!!" Protes Sein.
Hali yang melihat kedua teman nya mulai berdebat lagi hanya menghela nafas lelah. Ia menepuk pundak Thory dan Ice. "Aku Hali Vendelous, kakak kembar Kei. Pengendali elemen petir. Dan ini Thory Leinsta dan Ice Vlict. Pengendali tumbuh dan es."
Thory tersenyum ceria. "Hai! Salam kenal! Aku kakak Sein! Semoga kita bisa jadi teman baik! "
"Hoahm... Salam kenal..." Ucap Ice yang mulai mengantuk.
Zion pun tersenyum. "Salam kenal..."
"Yo! aku Leo Vlict, pengendali elemen api. Anak paling keren di sini, sekaligus kakak kembar Ice. Salam kenal!" Ucap Leo sambil merangkul Zion.
"Ahaha, senang berkenalan dengan mu"
"Jadi, boleh aku menanyakan beberapa hal?"
Zion sedikit berfikir, tapi selanjutnya tersenyum. "Baiklah. Tanyakan saja."
"Kemarin kami mendengar mu berbincang dengan Alex. Sepertinya kalian cukup akrab. Apa kalian sahabat?" Tanta Leo.
"Bisa dibilang begitu. Aku sudah mengenalnya sejak satu tahun lalu. Mungkin bisa dibilang aku menganggapnya kakak ku." Jawab Zion.
"Lalu buku yang kau gunakan, apa buku sihir?" Kini Kei yang bertanya.
"Iya. Pak Rendrano yang memberikan nya pada ku."
Mereka sedikit berfikir. Jika pak Rendrano yang memberikannya lagi, mereka tak perlu khawatir akan ada sihir terlarang atau lainnya. Sudah terjawab sekarang.
Sein memandang ke arah Zion."Lalu senjata yang kau gunakan? Senjata apa itu?"
Zion mengeluarkan senjata nya. "Senjata ini, hanya senjata biasa yang ku alirkan sihir. Mungkin fungsi nya tak jauh beda dengan tongkat sihir."
Namun...
"Zion kau dimana?"
Mereka pun berbalik dan melihat Alex yang berdiri di depan pintu. Zion hanya melambai kecil pada sahabatnya itu.
"Ah, kau dipanggil pak Rendrano ke ruangan nya." Ucap Alex.
Zion bangkit dari duduknya. "Baiklah, jika begitu sampai nanti teman teman.." Ucap Zion.
"Yah... Padahal kami masih mau mengobrol" Keluh Thory.
"Maaf, kita lanjutkan nanti ya..." Ucap Zion sambil tersenyum dan berlalu pergi.
"Lagipula bentar lagi bel masuk berbunyi. Kak Reon patroli dekat sini loh..." Ujar Alex sedikit menyeringai.
"Gawat!!!" Seru mereka dan langsung berlari ke kelas.
"Segitu takutnya ya dengan kak Reon. Haah... Memang sih kenyataan nya dia sekejam iblis" Kata Alex dan berjalan menuruni tangga.
Ia sempat berfikir bagaimana cara Zion begitu akrab dengan para elemental itu. Tapi seulas senyuman tercetak di bibir nya.
Sementara itu, seorang pria berusia 50 tahun berlari dengan ekspresi panik ke arah ruangan Rendrano. Tanpa sempat mengetuk pintu, langsung membuka ruangan itu.
"Pak Rendrano!!" Seru nya membuat Rendrano yang kala itu sedang bekerja terkejut. Pria itu adalah penjaga kebun akademi.
"Ada apa? Kau terlihat panik." Tanya Rendrano sambil berjalan mendekatinya.
Namun mendadak ia merasakan aura berat yang menempel pada penjaga kebun itu.
"Maaf, saat saya hendak menyiram taman di belakang akademi, ada seekor monster yang menghancurkan dinding dan membakar taman itu. Monster itu sangat mengerikan!" Ujarnya.
"Bagaimana bisa monster masuk ke akademi ini?" Tanya Rendrano.
Mengingat keamanan akademi yang cukup tinggi, jadi cukup aneh jika tiba-tiba ada monster di dalam. Terlebih lagi, ia tak merasakan aura apapun sebelum penjaga kebun itu datang.
"Saya sendiri tidak tahu." ujar pria itu
Aura yang ia rasakan berasal dari monster level 5. Itu cukup membahayakan akademi dan para murid murid di sini.
Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dan Zion pun masuk.
"Kebetulan sekali. Zion, ada monster yang masuk di belakang akademi. Monster itu sudah menghancurkan taman di sana. Cepat kau atasi dan bunuh monster itu." Ujar Rendrano dengan ekspresi serius.
"Yes, my Lord" Ujar Zion sambil sedikit membungkuk kan badan nya dan langsung pergi. Pupil mata nya sekejap berubah seperti pupil iblis dan tak lama kembali normal dalam hitungan detik.
Di saat serius seperti ini, status mereka bukan lagi sebagai ayah dan anak ataupun guru dan murid, melainkan atasan dan bawahan.
Penjaga kebun yang melihat itu sedikit khawatir. Kenapa Rendrano justru meminta anak kecil seperti Zion untuk mengatasi nya? Bukan nya ini terlalu berbahaya?
"Apa tidak apa apa meminta anak itu mengatasinya? Monster itu terlalu berbahaya." Ucap penjaga kebun itu.
"Tidak masalah. Zion adalah orang yang tepat untuk masalah ini. Minta Reon untuk membuat pelindung di sekitar gedung sekolah dan asrama. Perintahkan semua murid untuk tidak mendekat ke lokasi." Perintah Rendrano.
Penjaga kebun itu, "siap pak!" Jawabnya dan langsung pergi.
TBC