
Pemandangan hutan yang mengerikan dengan dedaunan pohon berwarna ungu dan merah darah lah yang pertama kali mereka lihat kala itu. Pohon yang sangat lebat membuat cahaya matahari sulit menerobos masuk.
Selain itu, bentuk tumbuh tumbuhan yang ada di sini juga terlihat cukup menyeramkan. Mulai dari jamur berduri yang mengeluarkan cairan berwarna hitam sampai batang pohon berlubang yang ditinggali makhluk dan serangga berbisa di dalam nya.
Tapi yang lebih menyeramkan adalah, tulang belulang yang berserakan di mana mana. Beberapa bahkan terlihat menyangkut di dahan dahan dan dedaunan pohon.
Hali dan Zion tampak takut melihat itu. Bagaimana tidak? Mereka sungguh tidak mengira akan ada di tempat seperti itu. Pantas saja dari dasar jurang tidak terlihat bibir jurang nya. Ternyata karena pencahayaan yang terhalang oleh daun daun pohon yang begitu lebat.
"Kita ada di mana?" Tanya Zion pada Zuka yang entah mengapa malah terlihat biasa saja seakan dirinya sudah terbiasa datang ke sini.
"Kita ada di Death Forest." Jawab nya sambil tersenyum.
Zion mengernyitkan dahi nya. "Death forest? "
"Sebuah hutan terlarang di balik lembah iblis yang menurut rumor yang menyebar telah menelan ratusan ribu korban jiwa." Jawab Hali.
Zuka melanjutkan "ya... Karena banyak orang yang mati di hutan ini, jadi dijuluki begitu. Dahulu saat perang, tentara iblis menjebak ras lain untuk masuk ke hutan ini. Dan semua prajurit yang masuk ke hutan ini tidak pernah kembali lagi. Tulang tulang di sini bukti nya. Kebanyakan dari para prajurit yang mencoba menyelamatkan diri dari monster di hutan ini memilih untuk memanjat pohon atau menggunakan sihir untuk terbang. Tapi sayangnya, mereka justru di makan pemangsa langit."
Zion menghela nafas. Sepertinya di sini hanya dirinya yang tidak tahu mengenai hal itu. "Pemangsa langit itu apa lagi? Langit yang makan manusia?"
Hali dan Zuka yang mendengar itu sedikit tertawa. Ekspresi Zion yang pundung karena tidak tau tentang hal itu cukup menggemaskan juga.
"Kupikir kau sudah tau tentang ini. Cerita mengenai Death Forest kan sudah menjadi hal umum." Ucap Hali.
"A-Ah aku..."
'Bantu aku Nero!!' batin Zion akhirnya. Sungguh, ia tidak tau harus menjawab apa sekarang!
'Tidak mau. Kau sendiri mengejek ku karena tidak tahu tentang jurang itu tadi. Cari saja jawaban nya sendiri.' jawab Nero kesal.
Waduh pake ngambek segala lagi!!
"Aku lupa!" Jawab Zion akhirnya.
"Lupa?"
"Ah, Zion itu kadang memang pelupa. Jadi mohon di maklumi." Ujar Zuka sambil sedikit mengedipkan mata pada Zion.
Akhirnya ada yang menolongnya... Zion bisa menarik nafas lega sekarang. Pilihan nya untuk memberitahu Zuka tentang dirinya dulu memang pilihan yang tepat.
"Oke baiklah ku lanjutkan, pemangsa langit itu, monster monster yang beterbangan di langit. Kebanyakan monster kecil tipe burung atau setengah naga yang memangsa para prajurit itu. Karena ukuran tubuh mereka kecil, mereka tidak memakan tulang tulang mangsa mereka dan menjatuhkan nya lagi. Dan sekarang jadi berserakan seperti ini." Jelas Zuka.
Zion mengangguk. Masuk akal jika makhluk makhluk kecil yang melakukan itu. Walau para prajurit itu bisa melawan, tapi dengan jumlah monster itu yang banyak membuat mereka kalah jumlah dan berakhir jadi mangsa.
"Tapi tenang saja, hal itu sudah berakhir bertahun tahun yang lalu. Orang orang kini takut masuk hutan ini hanya karena penampilan dan keangkeran nya saja kok! Tapi tenang saja, para arwah prajurit itu semuanya baik kok!" Ujar Zuka.
Hali dan Zion justru saling berpandangan. Baik? Jangan bilang memang ada hantu di sini?
Kedua pemuda itu mengamati Zuka yang berjalan dengan santai nya di depan mereka sambil sesekali terlihat seperti menyapa seseorang. Padahal mereka tak melihat siapapun di sana. Apa Zuka memiliki indra ke enam? Apa benar memang ada hantu di sini?
"Kau seperti sudah terbiasa di sini ya Zuka... "
Mendengar ucapan Zion, Zuka mengangguk mantap. "Kadang aku memang datang ke sini saat sedang bosan atau saat memberi makan monster monster itu. Aku sudah cukup terbiasa di sini!"
"Terbiasa?" Tanya Hali dan Zion bersaman. Sungguh di luar dugaan.
Tak butuh waktu lama mereka berjalan, suasana hutan pun mulai terlihat normal dengan pohon dan dedaunan berwarna hijau dan sinar matahari yang terlihat menerobos masuk melalui celah celah dedaunan. Hutan pun sudah tidak se lebat sebelumnya.
Walau masih terlihat beberapa bunga dan tumbuhan aneh, setidaknya tidak sebanyak dan se menyeramkan sebelumnya.
Zion menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan menikmati udara segar dan sinar matahari uang menyinari nya. Ia senang akhirnya bisa keluar dari tempat menyeramkan seperti itu. Hali dan Zuka hanya bisa geleng geleng kepala melihatnya.
Namun, kesenangan Zion berakhir saat mendengar informasi dari familiar nya.
'Beberapa meter dari sini ada sekumpulan orang yang mencoba menangkap seekor naga. Naga itu Black Mist Dragon yang sama dengan yang kau lawan di Akademi saat itu. Tambahan, orang orang itu adalah bawahan keluarga Vandelous. Sepertinya Hali punya dendam pada mereka.'
Zion memasang pose berfikir. Dendam ya... Tidak baik bukan jika dendam terus di pendam? Lebih baik di balaskan saja. Lagipula ini bisa jadi peluang latihan untuk pemuda pengendali sihir elemen petir itu.
"Semuanya, sepertinya di depan ada sekumpulan orang yang mencoba menangkap seekor naga." Ujar Zion menarik perhatian kedua teman nya.
Mereka pun langsung mencoba mengamati. Dan tepat saja, dari kejauhan terlihat seekor naga yang mencoba melawan sekumpulan orang.
"Kau peka juga ya." Kata Zuka.
Hali hanya menggaruk belakang kepala nya. Namun pandangan nya teralihkan pada Hali yang terlihat begitu mengamati mereka.
Namun ia sedikit terkejut saat merasakan tepukan di bahu nya. Saat menoleh, sepasang manik ruby memandang nya lekat. "Mereka orang yang kau benci bukan?"
Hali mengangguk. "Bagaimana kau tau?"
"Hanya tebakan. Aku melihat itu dari ekspresi mu."
'Padahal aku yang memberitahu mu.'
"Diamlah.." Gumam Zion pelan yang malah membuat Hali bingung sendiri.
"Diam kenapa?"
"A-bukan! Bukan apa apa!"
Sebelahnya pandangan mereka kembali teralih pada orang orang itu. Terlihat beberapa orang yang berusaha mengikat naga itu dengan tali, ada juga yang menahan dan menyerang nya dengan sihir. Walau Black Mist Dragon itu naga yang kuat, tapi jika dikeroyok gitu, apalagi oleh penyihir penyihir level tinggi jelas akan kalah.
"Kita harus menyelamatkan nya!" Tekat Zuka tapi langsung dihentikan oleh Zion.
"Pikirkan kondisi mu. Selain itu..." Pandangan nya teralih pada pemuda beriris ruby yang menatap tajam dengan tangan yang mengepal kuat. "Bukan kita yang harusnya mengurus mereka."
Zuka mengikuti arah pandangan Hali. Terlihat jelas kemarahan pada pemuda pengendali elemen petir itu.
"Apa kau yakin?"
Zion mengangguk. "Ini bisa jadi peluang latihan untuk nya. Dalam perang nanti juga mau tidak mau harus membunuh kan?"
"Ada benarnya juga."
Zion mendekati Hali. "Jika kau ingin, bunuh mereka."
Mendengar ucapan Zion, Hali tentu cukup terkejut. "Aku belum pernah membunuh orang."
"Aku tau, tapi dalam perang nanti mau tidak mau kau juga harus membunuh orang lain bukan? Tak peduli siapa mereka atau apa latar belakang mereka. Tujuan mengikuti parang untuk meraih kemenangan. Jika kau ragu, justru kau akan banyak kehilangan."
Hali terdiam. Ada keraguan dalam dirinya. Tapi di sisi lain, kebencian dan dendam justru mendominasi. Bayangan akan senyum saudara saudara nya yang menghilang karena mereka kini muncul lagi.
Yang Zion katakan benar. Selain itu, ini juga menjadi kesempatan untuk nya balas dendam.
Hali melangkahkan kaki nya mendekati orang orang itu. Ia berjalan tanpa ekspresi terpasang di wajah nya. Namun dari dalam, kebencian dan dendam perlahan meningkatkan perasaan membunuh dalam dirinya.
Salah seorang yang melihat kedatangan Hali sempat terkejut. Bagaimana bisa sang sulung dari keluarga Vandelous ada di sini?
"Sepertinya kalian cukup bersenang senang ya.." Ujar Hali. Tatapan tajam nan menusuk langsung di arahkan pada mereka. Tekanan sihir di sekitar nya pun mulai memberat dengan kilatan listrik merah yang menjalar di kedua tangan nya.
"P-Pangeran Vamdelous." Ujar salah satu orang terkejut. Namun setelahnya Hali langsung menusukkan pedang milik nya pada perut orang itu. Tentu saja, itu membuat lainnya terkejut.
"K-kau! Lainnya, serang dia!!" Perintah salah satu orang. Namun, bukannya khawatir, senyuman tipis justru terbentuk di sudut bibir Hali.
Dengan cepat, pemuda itu langsung memukul dan menebas semua orang di sana. Senyuman nya semakin lebar saat darah menciptakan mengenai dirinya.
Di sisi lain, Zion dan Zuka memandang kagum pemuda itu. Bukankah tadi ia bilang tidak pernah membunuh orang? Tapi dari yang mereka lihat, Hali cukup menikmati nya.
"Wah.. perasaan membunuh nya tinggi juga..." Ucap Zuka sambil merangkul Zion.
Zion menyetujui. "Ya.. Tapi jika tidak di kontrol akan berbahaya. Untuk saat ini.. Biarkan dia bermain main dulu."
Pandangan Zuka beralih pada sepasang iris ruby dengan pupil iblis yang menatap tajam. Darah iblis itu sudah mulai menguasai nya.
"Kendalikan dirimu." Ucap Zuka menyadarkan pemuda ber iris ruby itu. Pupil mata nya pun kembali seperti semula.
"Ah, maafkan aku. Aku sedikit terbawa suasana."
Zuka menggeleng. "Baiklah, awasi Hali. Aku akan melepaskan Black Mist Dragon itu."
"Baik!"
Zuka langsung berlari, menyelinap melalui semak semak dan mencoba melepaskan ikatan Black Mist Dragon itu.
Sementara Zion masih terus mengamati Hali yang asik bersenang senang dengan darah orang orang itu. Teknik pedang yang bagus ditambah sihirnya yang kuat membuat para penyihir itu kewalahan. Hingga saat hanya satu orang tersisa, Hali mendekati nya perlahan. Terlihat jelas raut ketakutan di wajah orang itu.
Orang itu adalah orang kepercayaan ayah nya yang juga merupakan orang yang melatih Kei kala itu.
"Lama tak berjumpa." Ucap Hali yang masih menatap tajam.
"J-jangan mendekat!" Ujar orang itu ketakutan. Tubuhnya gemetar melihat sosok pemuda yang semakin meningkat dekati nya.
"Jangan mendekat? Apa kau takut? Tapi bukankah kau bahkan tidak memiliki belas kasih saat melihat adikku kesakitan?"
"Aku.. Aku minta maaf! Tolong ampuni aku!"
"Maaf, tidak ada lg ampun untuk mu!!"
Daat itu juga Hali menebaskan pedang nya memotong kepala pria itu. Kini semuanya telah mati. Hali terdiam. Pedang halilintar yang ia pegang lepas dari genggaman nya dan terjatuh.
Saat itu juga Zion langsung berlari mendekati pemuda mengendalikan sihir elemen petir itu. Nafas nya masih sedikit memburu dan jantung yang berdetak cepat.
"Kau berhasil." Ucap Zion sambil mengusap punggung pemuda yang lebih tinggi dari nya itu.
"Zion! Hali!" Panggil seseorang. Kedua pemuda itu pun menoleh. Terlihat Zuka dan Black Mist Dragon berjalan mendekati mereka.
"Wah wah... Sudah selesai ya... Hebat juga!" Puji Zuka. Sementara Hali hanya tersenyum tipis.
"Apa yang kau rasakan saat membunuh mereka?" Tanya Zion.
Hali sedikit berfikir awalnya. "Senang. Ya.. Aku cukup senang."
"Coba untuk mengontrol perasaan membunuh mu. Jika kau tidak mengontrol nya dengan baik, justru itu akan menjadi pedang bermata dua untuk mu. Anggap saja tugas dariku, pelajari perasaan membunuh mu itu." Ujar Zion.
Hali mengangguk. Namun terselip pertanyaan dalam diri nya. Perasaan membunuh? Perasaan membunuh seperti apa yang Zion maksud?
"Ngomong ngomong terimakasih karena kalian sudah menyelamatkan ku." Ujar Black Mist Dragon.
"Sama sama. Tapi, aku heran naga hebat seperti mu bisa tertangkap. Rupanya tidak terlalu hebat." Ucap Zuka remeh.
"Apa kau bilang manusia?! Jika aku mau, aku bisa saja menghabisi mereka semua!!"
"Kenyataan nya enggak kan?"
Zion memcoba untuk menengahi. "Woy woy sudah... Kenapa malah berantem sih?"
"Siapa suruh ngeselin." Ucap Zuka kesal.
"Sudah Zuka."
"Bocah seperti mu lebih baik tidak usah ikut campur."
Haha... Bocah ya... Entah mengapa rasa kesal muncul mendengar kata itu. Apa karena dia yang paling pendek di sana?
Zion terkekeh. "Walau kecil, tapi aku sudah mengalahkan mu. Mau ku hajar lagi?"
"Tunggu, kalian saling kenal?" Tanya Zuka setelah mendengar percakapan mereka.
"Zion mengalahkan Black Mist Dragon saat naga itu menyerang akademi." Jawab Hali.
Zuka memandang ke arah Zion yang malah mengalihkan pandangan sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal. Entah mengapa, Zuka berfikir,
Sungguh? Kau tidak melawan nya sendirian bukan?
Tapi sayangnya itulah kenyataan nya.
"Ngomong ngomong kalian mau ke mana setelah ini?" Tanya Black Mist Dragon.
"Kami akan kembali ke akademi. Tapi mengingat jarak antara akademi dan hutan ini... Mungkin butuh beberapa minggu perjalanan." Jawab Hali.
"Oh! Kenapa gak naik nih naga aja? Lumayan kan dapat tumpangan gratis sekaligus pengalaman naik naga?" Usul Zuka sambil melirik sang naga.
Black Mist Dragon mendengus kesal. "Ogah! Emangnya aku tukang ojek harus anterin manusia dan bocah kaya kalian?" Tolak nya.
Zion justru membatin.
Siapa yang kau sebut bocah hah?
Mengingat dirinya yang paling kecil, mungkin saja julukan itu ditujukan untuk nya.
"Ayolah naga baik... Apa kau sedang sibuk hingga tidak mau mengantar kami?" Rayu Zuka.
"Tidak juga. Aku hanya bosan berhadapan dengan manusia dan bocah seperti kalian."
Sungguh? Apalah bosan bisa di jadikan alasan?
"Ku tebak, apa kau tidak ada kerjaan lain selain menganggur?" Tebak Zion sambil menunjuk naga itu.
"Memang apa lagi yang bisa ku lakukan?"
Sungguh, apa semua naga di dunia ini pengangguran? Zion jadi mengingat saat pertama kali bertemu dengan Nero.
'Rupanya semua naga memang pemalas...' batin Zion.
'Setidaknya otak ku encer. Informasi dariku juga sangat berguna untuk mu kan?' ujar Nero.
Ya... Tidak salah sih.. Setidaknya informasi dan peringatan dari nya bisa membantu. Walau kadang menyebalkan saat Nero sudah mulai menguasai dirinya.
"Tapi, apa kami harus terus memanggilmu 'Black Mist Dragon?' bukannya lebih mudah jika kau punya nama lain?" Tanya Hali.
Ada benarnya. Cukup sulit jika harus memanggil nya begitu.
"Apapun namanya aku tidak masalah. Terserah kalian mau memanggilku apa."
"Jika begitu kupanggil kau naga menyedihkan." Ujar Zuka sambil menjulurkan lidah. Sementara naga itu malah memberikan tatapan sengit.
"Woy woy jangan berantem mulu dong." Larai Zion lagi.
"Sudah sudah.. Aku akan memanggil mu Haru. Tidak usah protes atau berantem lagi atau ku sambar kalian semua." Ujar Hali akhirnya dengan tatapan tajam membuat lainnya meneguk ludah paksa merinding melihat pemuda itu.
Sungguh menyeramkan.
Namun, ada satu hal yang membuat Zion penasaran. "Zuka, jarak kerajaan Gold Moon dengan Star Magic Academy kan jauh, bagaimana cara kalian mengirim monster ke sekolah? Jika lewat jalan biasa bukannya menarik perhatian?"
"Kami menggunakan sihir teleportasi untuk itu." Jawab Zuka.
Namun seketika semuanya terdiam dan saling memandang satu sama lain.
"Kenapa tidak menggunakan sihir teleportasi untuk kembali ke akademi?" Ujar mereka bertiga secara bersamaan.
Haru justru memutar bola mata nya.
"Sudah kuduga manusia memang bodoh."
"Apa kau bilang???"
Kilatan listrik kembali terlihat di mata kedua makhluk beda spesies itu.
"Sudahlah anggap saja jalan jalan. Jarang juga kan kita bepergian naik naga? Ayo cepat!" Ujar Hali yang entah sejak kapan sudah ada di punggung Black Mist Dragon.
Zion dan Zuka pun langsung mengikuti nya. Sementara yang menjadi tumpangan hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Dari naga terhebat turun jadi tukang ojek. Jatuh sudah standar ku..."
TBC