
Di sebuah kamar penginapan, 4 orang pemuda tengah terdiam memandang seorang lagi yang sedang menatap tajam ke arah mereka. Tidak, tepatnya satu pemuda yang masih mencoba untuk memahami situasi ini.
Suasana yang cukup canggung membuat Zion, Hali dan Zuka memilih sedikit memberikan ruang untuk kedua pemuda itu. Mereka sendiri pun masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Sampai kapan mau diam?" Tanya pemuda itu sambil menatap tajam Rio.
"Bentar bentar... Bisa tolong jelaskan?" Bukannya jawaban yang di dapat, tapi justru pertanyaan yang dilontarkan Rio.
Pemuda itu menghela nafas. "Kau tau, karena mu aku sampai jatuh dari tebing dan pedang kesayangan ku hilang. Aku coba menghubungimu dengan telepati tapi kau tidak menjawab. Akhirnya aku menemukan mu di sini dan reaksi mu justru seperti ini? Dasar menyebalkan!!"
"Oke aku minta maaf! Niatku aku juga akan mencari mu setelah ini. Tapi... Kau yang muncul duluan. Lagian itu cuma pedang jelek bisa buat lagi kan?" Ucap Rio remeh di akhir kalimat. Tentu saja pemuda itu tidak terima benda kesayangan nya dikatai jelek.
Pemuda itu mengepalkan tangan nya kuat. Perempatan imajiner muncul di dahi nya tanda ia benar-benar kesal. "KAU BENAR BENAR MENYEBALKAN!!!!"
BRUK!
BUK!
PRANG!
"SAKIT!!!!!!"
Zion, Zuka dan Hali yang melihat itu hanya mampu menatap datar pertengkaran dua orang di hadapan nya. Apa mereka memang hobi berantem kaya gini?
Hali yang mulai kesal memutuskan untuk angkat bicara. "Maaf, kalo boleh tau kau ini siapa?"
Pemuda itu menoleh, "aku Ren Matsuoka adik Rio. Salam kenal."
"Jadi kau Ren. Aku-"
"Zion Ravael. Salah satu korban ras Inimicus juga kan? Lalu pangeran dari Kerajaan Gold Moon Zuka Ambrilz dan putra keluarga Vandelous, Hali Vandelous. Aku sudah lama tau tentang kalian." Potong Ren.
"Kau tau dari mana?" Tanya Zion.
"Aku punya kemampuan telepati. Aku bisa telepati dengan Rio tak peduli seberapa jauh kami terpisah." Ren melemparkan tatapan tajam pada Rio. "Tapi dia tidak mau menjawab."
Sementara orang yang ditatap tajam hanya menggaruk garuk kepala nya yang tak gatal. "Ya... Daripada ganggu terus."
"Jadi informasi dariku juga ganggu hah? Baiklah, aku tidak akan membantu mu lagi mulai sekarang!"
Rio yang mendengar itu membulatkan mata dan langsung berlutut "jangan dong!!! Aku minta maaf jangan ngambek dong!! Ya? Aku akan menjawab lain kali. Tidak akan ku abaikan!" Ucap Rio memohon. Jika Ren tidak mau membantunya, sudah jelas ia akan kesulitan kedepan nya. Apalagi selama ini sumber informasinya selain dari naga menyebalkan itu, adiknya sendiri. Rugi besar kalo Ren sampai marah.
Ren hanya bisa menghela nafas melihat tingkah kakak nya itu. "Baiklah.. Tapi sebagai hukuman, kau harus menuruti semua permintaan ku. Semua!"
"Baiklah baiklah!!" Jawab Rio pasrah.
Sementara tiga pemuda yang sedari tadi menonton pertunjukan itu hanya bisa geleng geleng kepala. Drama macam apakah ini?
Zion menghela nafas. "Baiklah, aku mau jalan jalan melihat desa ini. Ada yang mau ikut dengan ku?"
"Aku!!" Sahut Zuka cepat sambil mengangkat tangan nya.
Zion memandang ke arah Hali yang tengah berbaring di sofa. "Kau Hali?"
"Males" Jawab nya singkat.
"Baiklah, ayo Zuka." Ajak Zion sambil berjalan keluar.
"Aku ikut!!" Seru Rio sambil berlari. Namun langkah nya langsung terhenti begitu ia merasakan seseorang menarik kerah baju nya dari belakang.
"Tidak boleh! Kau harus menuruti perintah ku." Ren langsung memberi tatapan horor sambil menyeringai lebar. "Ingat hukuman mu Rioooo~"
"Hue!!!!! Zion!! Zuka!!! Tolong aku!!!" Rengek Rio pura pura menangis. Sayangnya itu tak berguna. Zion dan Zuka sudah lebih dulu pergi, mengabaikan seruan pemuda itu. Ia mengalihkan pandangan nya pada Hali "Hali tolong!! "
Di abaikan. Bahkan pemuda itu memalingkan tubuhnya.
Dasar tidak setia kawan!!!
******
"Haaahhh segarnya udara di sini!!" Zuka merentangkan tangan nya sambil mengisi paru paru nya dengan udara segar desa itu. Zion hanya tersenyum melihat tingkah saudaranya itu. Segitu rindunya kah? Mengingat berapa lama dirinya menjadi tahanan ras Inimicus sepertinya wajar saja.
"Baiklah, mau beli sesuatu? Biar aku yang traktir!"
"Serius? Memangnya punya uang?"
"Wah! Baiklah ayo ki-"
"Tolong!!"
Kata kata Zuka terpotong saat secara tiba tiba terdengar suara jeritan gadis meminta tolong. Dengan cepat, Zion dan Zuka langsung berlari menuju sumber suara mencari gadis itu.
Di sebuah gang sempit, seorang gadis tampak terduduk ketakutan menatap sosok monster di hadapan nya dengan tubuh gemetar. Kakinya mendadak lemas membuat nya tidak bisa berlari pergi dari sana.
Di hadapan nya, terlihat lima goblin yang menatap nya tajam. Ditambah dengan pedang dan pisau yang dibawa goblin itu membuat sangat gadis semakin ketakutan.
"[NonMagic:bola api]!!!"
Wush!!
"AAAAA!!!!!"
Bola bola api meluncur tepat mengenai goblin goblin itu. Saat berikutnya, Zion dan Zuka langsung menghampiri gadis itu.
"Kau baik baik saja?" Tanya Zuka.
Gadis itu mengangguk. "Iya aku baik baik saja."
"Zuka, bawa dia menjauh. Disini berbahaya." Ujar Zion sambil mengeluarkan buku skill nya dari dalam saku.
"Bagaimana dengan mu?"
"Biar ku tangani mereka."
Zuka mengangguk dan membantu gadis itu untuk pergi menjauh dari lokasi itu. Kini ia tidak perlu ragu lagi dengan kemampuan Zion, jadi ia memutuskan untuk menuruti nya saja.
Di sisi lain, Zion mengeluarkan pistol andalan nya. Ia memandang para goblin yang mulai bangkit dan berlari ke arahnya.
"Baiklah, saatnya bermain."
Pupil mata Zion seketika berubah dan iris mata nya menjadi merah darah. Tekanan sihir di sekitar nya meningkat membuat goblin itu menghentikan langkah nya.
"Kenapa berhenti hah?" Dengan cepat Zion langsung menggunakan sihirnya, menembak ke arah para goblin itu.
Di sisi lain, Zuka dan gadis itu menghentikan langkah nya saat dirasa jarak mereka sudah cukup jauh. Zuka menarik nafas panjang mengumpulkan mana di sekitarnya untuk mengisi ulang tenaga dalam tubuhnya.
"Kau tidak apa apa kan? Apa ada yang terluka?" Tanya Zuka pada gadis itu.
Sang gadis menggeleng. "Tidak ada. Terimakasih sudah menolong ku."
"Sama sama. Namaku Zuka. Siapa namamu?"
"Namaku Laura. Makhluk apa itu?" Tanya Laura yang tampaknya masih ketakutan. Sepertinya ini kali pertama Laura melihat goblin. Wajar saja dia ketakutan.
"Itu goblin. Biasanya mereka tidak menyerang manusia. Tapi untuk yang ini, ada yang memerintahkan mereka. Apa kau pertama kali melihatnya?"
Laura mengangguk, "tidak ada monster yang pernah masuk ke desa ini, jadi aku tidak pernah melihatnya."
Zuka mengangguk mengerti. Sejauh yang ia tau tentang desa Faulla, desa itu terbilang sangat damai karena tidak pernah ada monster yang masuk ke desa. Entah apa alasan nya. Mungkin berhubungan dengan arwah dan diadakan nya festival di sini.
Tapi kedatangan goblin kali ini suatu pengecualian. Setelah diingat lagi, ada tanda bulan sabit di tubuh goblin itu yang menandakan mereka bawahan Ras Inimicus.
Raor!
"Di belakang mu!" Seru Laura membuat Zuka refleks menoleh. Betapa terkejut nya dia saat melihat goblin yang siap menebaskan pedang nya berdiri di hadapan nya.
Jarak yang terlalu dekat, akan sulit menggunakan sihir untuk melawan nya. Membuat pelindung pun tidak bisa karena waktunya tidak cukup. Zuka hanya bisa menutup mata erat erat saat itu.
"[NonMagic:sembaran petir]!" Petir menyambar tepat ke tubuh goblin itu, membuat monster itu menjerit kesakitan sebelum kemudian tumbang.
"Zuka!" Panggil Zion membuat pemuda bermanik gold itu membuka mata nya.
"Zuka kau baik baik saja? Ada yang luka? Gak di apa apain kan?? " Tanya Zion bertubi tubi dengan raut wajah khawatir.
"A-aku baik baik saja. Terimakasih Zion"
"Sama sama."
TBC