
"ZIOOONNNNN!!!!! "
"WOY JANGAN LARI!!!"
"Kamu harus istirahat Zion!!!"
"Hueee heee!!! Gak mau istirahat!!!!"
Kali ini para pangeran elemen sedang berlari mengejar Zion yang menolak untuk istirahat. Padahal kondisi nya yang bisa dibilang belum cukup baik.
Dengan lincahnya, Zion berlari ke sana sini menghindari keenam pemuda yang mencoba menangkapnya. Bahkan sampai lompat lompat naik ke atas pohon dan bangunan seperti seorang ninja. Ditambah lagi, sampai membuat beberapa jebakan.
Mereka heran, sejak kapan Zion menyiapkan ini?
"Haduh... Dimana anak itu. Di suruh istirahat saja kaya disuruh bersihin satu asrama. Awas saja nanti kalo ketemu gak bakal ku ampuni!!" Ujar Hali. Ia menyeka keringat yang mengalir dari wajahnya.
Cuaca hari ini memang panas. Apalagi berlari mengejar satu anak yang susahnya minta ampun kalo di suruh istirahat jelas membuatnya kesal.
"Benar benar tak akan ku ampuni!"
****
"Hachum! Haduh... Kok perasaan ku gak enak ya?" Zion mengusap hidungnya. Mendadak dirinya bersin dan terasa udara dingin bertiup dari belakang nya.
Saat ini Zion sedang berdiri di atap sekolah. Tempat yang baginya cukup aman dari kejaran para pengendali elemen itu. Sekarang dirinya jadi seperti buronan yang di cari polisi.
"Kurasa aman. Oke saatnya-"
"KAK ZION!!!"
"HUAAA!!!! HANTU TERBANG!!"
Sang pelaku mendengus kesal sambil melipat tangan nya di depan dada. "Ish kejam nya kakak panggil adik sendiri hantu terbang!!"
Zion yang masih terkejut, "ini bukan hantu?"
"Ya bukan lah kak Zion!!!" Seru nya sambil mencubit kakak nya itu.
"Maaf maaf Yanata. Habisnya muncul tiba tiba begitu. Ngapain kamu di sini?" Tanya Zion
"Kangen. Haha bercanda. Aku disuruh ayah buat jadi mentor juga! Ya, asisten kak Zion untuk melatih Hero Class. Hebat kan???" Ucapnya sambil bergaya. Gaya yang agak berlebihan.
"Biasa aja."
Yanata menggembungkan pipinya. "Jahat ah. Huh!"
Zion yang merasa gemas melihat tingkah adik nya itu mengacak acak rambut Yanata. "Maaf maaf. Bercanda kok!"
"Iya deh... Oke kalo gitu aku ke kantor ayah dulu ya... Sampai nanti kak!!" Ujar Yanata dan langsung pergi.
"Eh main pergi aja. Gak mau ku antar? "
"Gak perlu! Kakak urus aja para makhluk yang mengejar kakak. Sampai jumpa nanti~"
Zion hanya terdiam melihat kepergian Yanata. Jadi dia memperhatikan dirinya yang di kejar kejar sedari tadi? Gak ada sedikitpun niat untuk membantu gituh?
'Yang dikatakan nya benar. Kau kan masih jadi buronan' ucap Nero tiba tiba.
"Jangan membuat ku kesal"
Zion melompat turun dari atap dan mencoba mencari tempat sembunyi yang lebih aman. Jika di atap terus, cepat atau lambat juga akan ketahuan.
Namun, saat ia berjalan di dekat lapangan, ia melihat Hali yang sedang berlatih di sana. Sepertinya dia kesal karena tak berhasil menemukan nya dan melampiaskan itu dengan latihan.
Sementara Hali yang kesal membuat sambaran petir yang cukup besar. Cukup besar sampai membuat lubang yang cukup besar pada tanah di bawah nya.
Hali menghela nafas kesal. "Dimana anak itu sebenarnya? Disuruh istirahat aja gak mau. Apa seburuk itu hah?"
Ia berjalan mendekati sebuah pohon yang tak jauh dari sana dan mendudukkan diri nya sambil bersandar di pohon itu. Namun seketika ekspresinya berubah. Entah kenapa malah jadi murung seakan menyembunyikan kegelisahan.
Zion yang menyadari itu pun berjalan mendekati nya dan langsung duduk di sebelahnya membuat Hali cukup terkejut.
"Wah... Suasana yang menenangkan ya..." Ucap nya sambil memandang langit menikmati angin sejuk yang berhembus.
"Darimana saja kau?" Tanya Hali.
"Dari mana lagi kalo bukan kabur. Aku ngerasa jadi buronan tau gak."
"Salahmu nggak mau istirahat."
"Bukan nggak mau, tapi males. Bosen tau gak ngapa ngapain dan kerjaan nya cuma tiduran doang. Kaya orang sakit aja."
Hali, "...." Apa kau tidak sadar kondisi mu sekarang yang masih belum bisa dikatakan benar benar baik?
Helaan nafas terdengar. Hali pun membaringkan tubuh nya di rumput. Membiarkan angin sejuk meniup dirinya dan sedikit mengistirahatkan tubuhnya.
"Kalo ada masalah, bilang aja jangan di pendam. Nanti sakit sendiri loh." Ucap Zion tiba tiba. Namun Hali tak menjawab.
Keheningan menyambut. Zion memilih memandang awan awan di langit dan menikmati hembusan angin menunggu pemuda di sampingnya itu menjawab. Ya, cepat atau lambat juga pasti akan di jawab.
"Sejak dilatih olehmu, mereka semakin berkembang. Kei semakin mahir mengendalikan angin nya dan mampu membuat tornado yang kuat. Leo yang biang onar juga tak kalah berbeda. Kemampuannya meningkat drastis. Ice yang malas justru paling sempurna mengendalikan aliran sihirnya bahkan hampir serapi milikmu. Thory mulai mempelajari lebih banyak tentang tumbuhan bahkan sampai mengembangkan obat obatan herbal yang cukup membantu healer. Dan Sein dengan kemampuan nya yang meningkat menambah kepopuleran di sekolah ini. Sedangkan aku?"
Sekali lagi hening. Zion yang di ajak bicara masih terdiam bahkan dengan posisi yang sama. Ekspresi nya tampak sedikit berubah, namun kembali normal.
"Kau seorang pemimpin."
Hali menoleh ke arah Zion yang juga memandangnya.
"Ya, kau memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi Hali. Lainnya juga selalu mengandalkan keputusanmu dan dari sikapmu, ketegasan, disiplin dan selalu mengambil keputusan yang baik sudah mencerminkan jiwa kepemimpinan mu."
Zion pun berdiri. "Selain itu... Kau masih ingat pertanyaan tentang pahlawan? Aku yang membuat pertanyaan itu dan di antara semua anak Hero Class, cuma jawaban mu yang mendekati sempurna. Terlebih lagi, kau kan penyihir paling kuat di akademi. Jangan merendah... Kau harus tunjukkan jika kau memang layak jadi pemimpin!" Ujar Zion sambil mengulurkan tangan nya.
Hali pun tersenyum dan menggapai tangan Zion. "Kurasa begitu, terimakasih. Aku akan berusaha untuk jadi pemimpin yang lebih baik!"
Zion tersenyum. "Itu baru namanya semangat!! Tunjukkan kau memang layak jadi pemimpin!"
'Karena dalam perang nanti, kemampuan dan sikap kepemimpinan mu sangat di butuhkan.'
"Terus latih kemampuan mu ya!"
'Karena sebentar lagi latihan akan semakin keras'
Hali tersenyum tipis. "Baiklah..."
"Kalo begitu aku pergi dulu. Dan... Suruh lainnya bersiap."
Hali bingung. "Bersiap untuk apa?"
"Nanti juga tau. Sampai jumpa lagi!!"
Zion langsung berlari pergi meninggalkan pemuda ber iris merah itu yang masih terdiam. Namun selanjutnya, Hali langsung berlari mencari saudara nya yang lain.
'Langkah pertama membangkitkan sang pemimpin sudah selesai. Apakah dia benar benar mampu?'
TBC