
Hutan yang lebat dan asri dengan pepohonan besar mengelilingi, menjadi tempat berbagai macam binatang untuk hidup. Kicauan burung terdengar merdu, diikuti suara serangga dan binatang lain yang menghilangkan kesunyian di tempat itu.
Udara segar dan angin lembut bertiup menyejukkan siapapun yang merasakan nya. Sungguh tempat yang indah dan menenangkan.
Namun, fakta itu bisa menyembunyikan hal lain di balik keindahan hutan ini.
Berbagai macam binatang hidup di hutan ini, tak terkecuali binatang buas dan monster pun juga hidup di dalam nya. Tempat yang indah, tapi juga berbahaya di saat yang bersamaan, membuat semua orang harus berhati hati jika ada di sini.
Di tengah ketenangan hutan ini, empat pemuda sedang melawan seekor werewolf yang di kendalikan oleh ketua ras Inimicus yang kejam.
Werewolf itu menggeram. Terdapat beberapa luka kecil di tubuh nya akibat serangan lawan nya. Namun luka itu langsung kembali tertutup dengan cepat karena kemampuan regenerasi nya.
Keempat pemuda yang melihat itu terkejut. Mereka tidak mengira jika makhluk itu memiliki kemampuan regenerasi. Kabur hitam mulai kembali terkumpul mengitari tubuh besar werewolf itu.
Di sisi lain, ketiga pemuda yang sedaritadi melawan nya terlihat sudah cukup kelelahan. Keringat menetes dari dagu pemuda ber iris ruby itu. Walau kini merek mengetahui kelemahan sang werewolf, tapi dari kemampuan dan sihir nya, cukup sulit untuk mengalahkan nya kali ini.
'Gunakan kekuatan penuh mu saja. Tidak ada waktu.' ucap Nero dalam pikiran nya.
Zion menghela nafas. Jika ia menggunakan nya sekarang, Hali mungkin akan tau. Tapi sepertinya tidak ada cara lain jika ingin mengalahkan monster itu secepatnya.
"[NonMagic:tanah tajam]!!" Tanah-tanah tajam bermunculan di bawah kaki sang werewolf mencoba menusuk makhluk berbulu abu abu kehitaman itu. Namun, dengan mudah nya werewolf itu menghindar dan mengayunkan tangan nya membentuk cakaran yang menghancurkan tanah tanah itu.
"[Sihir air: meriam air]!!" Zuka juga langsung menggunakan sihir nya membuat meriam air untuk menembak. Namun, werewolf itu dengan cepat menghindar dan melompat menuju Zuka bersiap untuk meluncurkan serangan.
"[Tebasan pedang petir]!" Beruntung Hali langsung menebaskan pedang nya ke arah werewolf itu, membuat sang makhluk terpental cukup jauh.
Zuka menarik nafas lega. "Terimakasih Hali."
"Sama sama" Jawab pemuda bermanik merah itu. Tatapan nya kembali terarah pada werewolf yang mencoba untuk berdiri.
AAAAUUUUUUUUUUU!!!!!!!
Werewolf itu melolong keras dan kabut hitam di sekitar nya meluap. Ketiga nya memasang posisi siaga merasakan luapan sihir pada werewolf itu.
Seberapa banyak sihir yang ada pada nya?
Rio yang melihat pertarungan itu masih terdiam. Dirinya ragu untuk membantu. Tapi bagaimanapun ia juga harus membantu mereka jika tidak ingin kena marah nanti nya.
Selain itu, ini sudah melebihi apa yang ia perkirakan. Kekuatan sihir monster itu meningkat drastis karena kiriman sihir dari ketua Inimicus itu. Ini jauh lebih besar dari apa yang dulu ia lawan.
Zion justru sedikit terkekeh. "Jadi tidak ada cara lain ya..."
Seketika pupil mata Zion berubah. Tangan nya terangkat mengarah ke depan. Lingkaran sihir berwarna merah terbentuk memunculkan sebuah pedang lerak dari dalam nya.
"Tetap alihkan dia." Ucap Zion. Ketiga pemuda itu mengangguk mengerti.
"Baiklah aku juga akan membantu sekarang... Daripada kalian mati kan aku yang repot na-" Kata kata nya terpotong saat ketiga rekan nya justru sudah pergi duluan. "Menyebalkan!!"
"[Sihir kegelapan:sayap kegelapan]!!" Sepasang sayap hitam dengan aura keunguan muncul di punggung Rio. Pemuda itu langsung terbang ke atas monster itu, berniat melakukan serangan dari udara.
Sementara, Zuka dan Hali menyerang dari kedua sisi membuat werewolf itu cukup terdesak.
AAAUUUUUUU!!!
BLAR!!
Petir hitam menyambar dan mengenai sayap Rio, membuat pemuda itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Dengan cepat, Zion melompat menjadikan dahan pohon sebagai pijakan dan menangkap tubuh Rio sebelum menyentuh tanah.
"Hey kau baik baik saja?" Tanya Zion setelah membaringkan tubuh pemuda itu di tanah.
"Ya aku baik baik saja- akh!" Rasa sakit tina tina menjalar di pundak nya. Terdapat luka cukup besar akibat sambaran itu. Darah mengalir membasahi pakaian nya bahkan sampai menetes membasahi tanah. Tangan nya pun terasa kebas akibat sengatan listrik itu.
Namun, saat berikutnya ia terkejut saat merasakan aura hangat mengelilingi nya. Ia memandang ke arah Zion yang baru menggunakan sihir penyembuhan pada nya.
Rasa bersalah dan malu mendadak muncul dalam hatinya. Padahal awalnya ia tidak berniat membantu sama sekali, dan berulang kali mencoba membongkar identitas pemuda itu di hadapan teman teman nya. Tapi sekarang, pemuda itu menolong nya tanpa ragu. Melihat raut wajah khawatir nya membuat Rio semakin merasa bersalah.
"Apa sudah baikan?" Tanya Zion membuat Rio tersadar dari lamunan nya.
Rio mengangguk dan tersenyum tipis. Rasa sakit di bahu nya sudah menghilang dan luka nya juga sudah kembali menutup. "Terimakasih."
"Sama sama. Sekarang, ayo kita hancurkan monster itu." Ujar Zion sambil mengulurkan tangan nya.
"[NonMagic]" Zion menjeda ucapan nya. Dalam pikiran nya, Nero sedang menjelaskan konsep sihir yang bisa membantu di saat seperti ini. Ia memperhatikan kedua rekan nya. Hali yang terus menyerang dengan pedang petir nya dan Zuka yang menyerang dengan api. Walau beberapa kali mereka hampir kena serangan, tapi beruntung mereka masih bisa menghindari nya.
Zion mengambil buku sihir dari saku nya dan merobek dan melemparkan nya ke tanah. Sementara dirinya berlari menuju arah monster itu dengan cepat. "[Putaran beliung]!!!" Seru Zion.
Angin berhembus kencang membentuk pusaran beliung yang kuat. Beberapa pohon di sekitar nya pun ikut tercabut karena kuat nya angin itu.
"[Sihir api: semburan api]!! " Setu Zuka. Api dan angin menyatu membentuk tornado api yang mengerikan. Belum cukup sampai di situ, Hali pun juga menggabungkan sihir nya membuat kilatan petir ikut berputar dalam angin itu.
"Wah.. Serangan kombinasi ya... " Ucap Rio kagum.
AAAUUUUUUUUU!!!!!!!!
Lolongan beras terdengar dari dalam pusaran itu, menandakan werewolf yang mulai kesakitan. Ia mencoba untuk melompat keluar, namun Rio menahan nya dengan sulur sulur kegelapan milik nya.
"Sekarang Zion!!" Seru Zuka.
Entah sejak kapan Zion menghilang dan kembali muncul di bawah werewolf itu, menusukkan pedang yang ia pegang tepat ke jantung monster itu.
AAAUUUUUU!!!!!
Lolongan keras atau tepatnya jeritan kesakitan lolos dari mulut monster itu yang kemudian terbakar dan berubah menjadi abu.
"Akh" Namun rintihan terdengar dari pemuda bermanik ruby itu. Walau sudah menggunakan pelindung, tapi sihir ini melebihi kekuatan sihir level 10 yang membuat nya kesulitan. Seharusnya itu bukan masalah, tapi dirinya yang tak terbiasa.
"Penghentian" Seketika semua sihir di lokasi itu menghilang. Zion menjatuhkan dirinya berlutut di tanah. Rasa sakit menjalar di dada nya bukan karena sihir, tapi karena simbol bulan itu.
Ia benar-benar kesal.
"Zion!!" Seru ketiga pemuda yang berlari ke arah nya dengan raut wajah khawatir.
"Zion kau baik baik saja? Ada yang luka? Ada yang sakit? Tolong jawab Zion!!!" Tanya Zuka bertubi tubi sambil mengguncang guncang tubuh Zion.
Entah sudah berapa kali dirinya dalam posisi seperti ini?
"Bagaimana aku mau menjawab jika kau terus mengguncang tubuh ku??" Detik itu juga Zuka langsung melepaskan Zion dan menggaruk belakang kepala nya yang tak gatal.
"Ehehe maaf" Ucapnya.
Zion menghela nafas. "Tak apa. Aku baik baik saja kok! Terimakasih ya bantuan nya."
Zuka mengangguk. Namun,
'Hati hati! Ada 20 goblin yang mengarah pada kalian. Kemampuan level 4. Tapi mengingat kondisi kalian, akan lebih baik jika bersembunyi dulu sekarang.'
Mendengar peringatan dari Nero, Zion menghela nafas lelah. Baru saja selesai, sudah muncul lagi. Menyusahkan.
"Ada apa?" Tanya Hali yang menyadari perubahan raut wajah Zion.
"Kita harus pergi sekarang. 20 goblin sedang menuju ke sini."
"Itu pasti anak buah ketua Inimicus itu. Aku pernah menghadapi nya dulu." Ujar Rio.
"Tapi sekarang lebih baik kita mundur dulu. Mengingat kondisi mita kurang memungkinkan untuk melawan." Ketiganya setuju dan mencari tempat bersembunyi.
Langit menjadi gelap. Awan mendung menutupi cahaya sang surya untuk sampai ke daratan. Gemuruh petir mulai terdengar menjadi pertanda bahwa hujan akan turun.
Dan benar saja, tetes demi tetes bulir bening turun dari langit membasahi bumi. Keempat pemuda itu berusaha mencari tempat berteduh dan bersembunyi yang aman dari kejaran para goblin itu. Sampai akhirnya mereka menemukan sebuah rumah tua yang tertutup tanaman dan semak semak.
"Kita sembunyi di sana saja!" Ujar Rio. Mereka pun langsung masuk ke dalam.
"[NonMagic:shield]" Pelindung terbentuk melindungi rumah itu, mencegah para goblin untuk masuk.
Zuka menarik nafas lega. "Kita aman sekarang...."
"Ya.. Lebih baik kita kumpulkan tenaga dulu." Sambung Hali.
TBC