
Penyesalan memang selalu muncul belakangan. Sekarang dirinya tau apa alasan dirinya bereinkarnasi ke dunia ini. Ia di takdirkan menjadi sosok pahlawan untuk melindungi dunia ini dari masalah dan bencana yang akan datang. Entah itu serangan iblis atau monster yang tak bisa di selesaikan oleh penyihir lainnya.
Latihan demi latihan telah ia lalui. Selanjutnya melatih Hero Class dan mengalahkan ras Inimicus. Ia telah mempelajari banyak hal di dunia ini.
Tentang sihir, kekuatan, para monster, ras lain maupun... Ikatan dan keluarga.
Tak banyak yang tau darimana Zion berasal. Yang mereka tau hanyalah, Zion adalah seorang pemuda misterius yang muncul secara tiba tiba di Akademi dan melatih Hero Class untuk memenangkan peperangan melawan ras Inimicus. Beberapa yang lain hanya mengenal Zion saat pertarungan nya dahulu bersama Rendrano. Tak ada yang tau lebih dari itu kecuali Zuka dan Avren.
Zion tau, cepat atau lambat, kebenaran mengenai identitas asli nya akan terbongkar. Tapi... Yang lebih penting kali ini tentang iblis yang menyerang akademi dan menyamar sebagai salah satu murid di sana.
Sampai sekarang ia masih belum tau siapa iblis itu. Setelah perang selesai, banyak juga yang terjadi. Ingatan masa lalu yang sempat ia lupakan kini terbuka lagi, menorehkan luka yang sempat tertutup. Rasa sedih dan sakit kembali bermuara di dada nya. Penyesalan karena meninggalkan keluarga nya di dunia nya sebelumnya, dan juga emosi dan misteri mengenai sosok misterius yang mendorong nya pada kematian. Masih banyak hal yang harus ia selesaikan.
Belum lagi... Melatih murid Hero Class. Mungkin lawan mereka kali ini jauh lebih kuat dari apa yang ia bayangkan. Zion harus mempersiapkan nya semarang mungkin untuk apapun kemungkinan di masa depan nanti.
Mata Zion terpejam membiarkan kegelapan menelan nya. Kenapa harus dirinya yang terpilih untuk menjalankan tugas ini?
'Kau lelah?' tanya Nero dalam pikiran nya.
"Um. Aku ingin beristirahat sebentar dari tugas ini, Nero..."
'Tak perlu memaksakan semua sendiri.'
"Aku tau... Tapi bagaimanapun aku harus menyelesaikannya bukan?"
Nero tak menjawab. Memang benar Zion yang harus menyelesaikan semua pada akhirnya.
Splup..
Zion terkejut saat merasakan sesuatu yang hangat dan basah menyentuh pipi nya. Seketika itu juga ia terbangun dan mendapati seekor serigala kecil di samping nya.
"Kuro... Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana cara mu naik ke sini? " Tanya Zion. Pasalnya, dia sedang di atas pohon sekarang.
"Aku terbang lah. Kau lupa aku punya sayap?" Cetus Kuro. Ah benar juga, Zion lupa tentang itu. Kuro berjalan mendekati Zion dan menempelkan kepala nya di lengan Zion. "Pasti sulit ya harus menghadapi semuanya sendiri? Aku dengar loh... Gimana kalo kau nyerah aja?" Lanjut Kuro.
Zion mengernyitkan alisnya. "Tentu saja tak bisa! Mana mungkin aku menyerah begitu saja. Ini sudah tugas ku untuk mencari iblis itu dan mengalahkan nya."
Zion tak menjawab. Kata kata Kuro memang menyakitkan, tapi yang dikatakannya ada benar nya. Apa yang di lakukan nya selama ini? Semua usaha dan pencarian nya masih belum membuahkan hasil sama sekali. Bahkan setelah meminta bantuan Alex dan Laura pun, masih belum banyak informasi yang dia dapatkan.
"Saran ku, jangan terlalu baik dan percaya pada orang lain. Bisa saja, orang yang kau cari juga pernah kau temui sebelumnya."
"Kau benar. Tapi... Bagaimana cara ku menemukan nya?"
Kuro mengalihkan pandangan nya menatap langit malam. "Hal yang janggal, yang sebelumnya tak pernah terjadi, atau mungkin seseorang yang bagimu mencurigakan. Dari luar memang terlihat biasa saja, tapi tak ada yang tau apa yang tersembunyi di balik topeng nya bukan?"
"Yang tersembunyi di balik nya..." Zion sempat mencurigai Erano sebelumnya. Tapi apa benar dia memang iblis nya? Namun gak ada salah nya untuk menaruh kecurigaan bukan? Dari kekuatan sihir yang di miliki nya dan bagaiman dirinya berada di Akademi ini. Seperti nya tak ada salahnya menyelidiki itu.
"Aku tau sekarang. Terimakasih Kuro!" Tangan Zion bergerak mengusap pucuk kepala serigala kecil itu.
*****
Malam semakin larut, namun seorang pemuda masih melatih kemampuan sihir nya di lapangan akademi. Dengan beberapa boneka kayu sebagai sasaran, pemuda itu terus melesatkam serangan sihir nya.
Keringat menetes dari dagu pemuda itu yang nampak sudah cukup kelelahan. Namun, dari cara nya terus menyerang tak menunjukkan niat pemuda itu untuk menyudahi latihan nya.
"Bisa kau berhenti sebentar?" Sampai akhirnya suara yang cukup familiar untuk nya terdengar, menarik atensi nya untuk memandang pemuda ber iris merah do tepi lapangan. Rambut hitam dengan sejumput rambut putih nya yang khas seakan sudah menjadi ciri khas untuk pemuda itu.
"Baiklah." Pemuda ber rambut hitam kebiruan itu berjalan mendekat menghampiri Zion. "Ada apa malam malam kau kesini? Bukannya seharusnya kau dan murid murid Hero Class sedang melakukan survival camp?" Tanya Erano dengan raut wajah penasaran.
Zion mendudukkan dirinya di atas rumput dan memejamkan mata nya sesaat. "Sedang ada uji nyali dan aku tidak boleh ikut karena aku juga ikut dalam perancangan tantangan sebelumnya."
Erano mengangguk mengerti. Pasti membosankan jika hanya menonton saja. "Pasti senang ya menyelesaikan setiap tantangan itu."
Zion sedikit tersenyum. " Kau benar. Walau mereka ketakutan dan ada sedikit drama sih..." Zion menjeda ucapan nya. Ia serius... Melihat murid lainnya teriak, lari lari, sembunyi dan berakhir sesi curhat itu hiburan tersendiri untuk nya. Ia memandang Erano yang sedang menatap langit malam. "Apa mereka masih mengganggu mu lagi?" Tanya Zion yang kini mengalihkan pembicaraan.
Pertanyaan itu langsung menarik perhatian Erano pada Zion. "Sudah tidak. Terimakasih banyak bantuan nya." Erano tersenyum manis, jujur saja membuatnya sedikit gugup. "Melihat kau yang berani dan begitu di hormati, aku jadi penasaran. Apa kau berasal dari keluarga penyihir yang kuat? Kekuatan mu begitu luar biasa!"
Zion sedikit menundukkan kepala nya, rambut nya turun menutupi mata nya. "bukannya seharusnya kau sudah tau tentang itu?"