Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
65. Uji nyali



Zion menghala nafas. Entah ia harus merasa malu atau kesal? Terlihat murid murid beast akademi yang membangun tenda dengan mudah dan cepatnya. Lain halnya dengan Hero Class yang masih kebingungan.


Mendirikan tenda saja tidak bisa. Beruntung murid murid beast akademi sigap membantu mereka.


Tapi dirinya justru teralihkan dengan keributan di salah satu tenda.


"Aku ketuanya! Aku kan yang paling tua di sini. "


"Tidak! Aku yang mendirikan tenda ini jadi aku ketuanya!"


"Tapi aku yang membentuk tim nya jadi aku yang berhak jadi ketua di sini."


"Aku! Kalo gak ada tenda juga gimana mau tidur?"


"Eleh. Cuma tancapin paku semua juga bisa kali!"


"Yang jelas aku yang kerja paling banyak!!!"


Diantara lainnya yang sedang sibuk, Leo dan Kei justru bertengkar memperebutkan siapa yang akan menjadi ketua di tim mereka. Sedangkan satu orang lagi, Thory hanya cuek dan masuk ke dalam tenda itu dan membaringkan tubuhnya, mengabaikan teman teman nya yang terus berdebat.


Waktu terus berlalu sampai akhirnya malam pun tiba. Waktu yang sudah ditunggu tunggu oleh Zion dan para asisten barunya.


"Oke semua, apa kalian sudah siap??" Tanya Zion.


"Tapi ini kan sudah malam." Ucap seorang gadis.


"Iya, kalo ada apa apa gimana? Kami kan perempuan."


Kesal rasanya mendengar pertanyaan itu. Hanya karena mereka perempuan, bukan berarti akan diperbolehkan untuk tidak mengikuti nya bukan?


Zion tersenyum lembut dan manis sambil memandang gadis gadis itu. "Aku sudah memastikan semuanya aman kok! Tenang saja."


Mereka yang melihat senyuman Zion bergidik ngeri. Walau terlihat manis, mereka tau jika di baliknya tersimpan maksud lain yang sebaiknya tidak mereka lawan jika tak ingin terkena masalah. Akhirnya mereka pun luluh mengikuti Zion menuju sebuah gua yang cukup mengerikan.


Murid murid yang melihat gua itu bergidik ngeri. Gua itu tidak berhantu kan?


Zion berbalik memandang murid murid di belakangnya. Tak lupa dengan senyuman manisnya itu. "Baiklah! Kita sudah sampai! Jadi, kita akan melaksanakan uji nyali di sini!! Tujuan nya adalah menguji mental kalian. Dalam perang, bukan hanya fisik dan sihir yang digunakan loh.. Tapi mental juga. Kalian akan jalan berpasangan. Untuk siapa yang akan jadi pasangan kalian ditentukan dengan kertas undian. Lalu, di dalam sana kalian harus mendapatkan masing masing satu gulungan kertas yang akan digunakan untuk kegiatan lainnya nanti. Semua paham?" Jelas Zion.


"Paham!"


"Baiklah, kita mulai saja!"


Yanata menyerahkan sebuah mangkuk kaca berisi gulungan kertas berisi nama dari setiap anak mengambil satu secara berurutan.


"Kenapa aku harus bersama dengan si tukang narsis ini???" Keluh Kei melihat pasangan nya adalah Sein.


"Heh. Masih mending aku mau tau gak!?" Ujar Sein.


"Sudah sudah... Silahkan masuk~ awas ada yang mengikuti~" Ujar Zion sambil menyerahkan lentera sebagai penerangan.


Namun,


"HHUUUAAAAAA!!!!!! "


"KYAAAA!!! APA ITU????"


"KUNTI!!!!!"


Glek.


Sementara lainnya yang mendengar itu bergidik ngeri. Di dalam sana gak beneran ada hantunya kan?


Ditambah senyuman Zion yang entah mengapa mereka melihatnya seperti seringaian monster yang menunggu target nya.


"Ish. Kenapa aku harus satu tim sama om pedo ini sih??" Keluh Leo mendapati dirinya bersama Sai.


"Siapa yang lo panggil pedo hah bocah!?" Protes Sai tak terima.


"Pocong."


"Mau ajak ribut hah dasar keturunan genderuwo!!"


"Jangan asal ngomong nanti nongol beneran baru tau!"


"Eh tunggu lentera nya... "


Namun terlambat. Kedua pemuda itu terus berdebat dan mengabaikan dirinya. Bodoamat lah. Lagipula Leo bisa membuat penerangan dengan sihirnya.


"Oke selanjutnya"


"Syukurlah aku dapat patner yang waras." Ucap Hali yang bersama dengan Ice.


"Setidaknya dengan begini akan mudah." Sambung Ice sambil menerima lentera yang Zion berikan dan berjalan santai memasuki gua.


Zion tersenyum melihat itu. Namun, tak ada yang menyadari jika itu bukan senyuman biasa. Melainkan senyuman penuh arti.


Tentu saja Zion tak akan membiarkan uji nyali itu berjalan terlalu 'mudah' bukan?


Tim lainnya pun mulai masuk bersama dengan pasangan mereka. Sampai pada yang terakhir,


"Oke yang terakhir.."


"Aku dengan Sheelda!! Yey!!!" Ujar Thory girang.


Sheelda justru menghela nafas. "Kenapa aku harus terjebak dengan nya?" Keluh Sheelda. Namun ia malah langsung ditarik oleh pemuda itu.


Zion memperhatikan sampai semuanya benar-benar masuk dalam gua. Kemudian ia memandang dua gadis kecil yang berdiri di dekat nya. Walau kecil kecil, mereka cabe rawit. Maka dari itu Zion tak ragu meminta Yanata dan Yiva menjadi asisten nya.


"Sisanya kuserahkan pada kalian ya?" Ucap Zion.


"Kak Zion tenang saja. Untuk mereka biar kami yang urus. Kakak selesaikan urusan kakak secepatnya." Ujar Yanata di sambung dengan anggukan Yiva.


Zion tersenyum. "Baiklah, ulur waktu selama aku tidak ada. Sekali lagi terimakasih!"


"Sama sama!" Balas kedua gadis itu. Zion pun langsung menggunakan sihir teleportasi untuk berpindah ke Star Magic Academy.


Walau begitu, dalam benaknya masih saja terbesit kekhawatiran. Apa mereka akan baik baik saja?


Tidak, Zion harus yakin pada gadis gadis itu.


Yanata dan Yiva yang melihat Zion pergi justru tersenyum. Ah, tepatnya menyeringai.


"Hihihi... Saatnya beraksi~" Ujar Yanata.


"Yeah! Mari buat mereka ketakutan~" Sahut Yiva.


****


Bagian Hali dan Ice


Suasana gua yang gelap dan mengerikan. Beruntung mereka terbilang cukup berani. Angin dingin berhembus membuat bulu kuduk mereka berdiri.


Beberapa binatang malam dan serangga terlihat berlalu lalang di dalam sana. Hanya ada suara binatang dan hembusan angin yang terdengar.


"Kira kira dimana gulungan kertas itu?" Tanya Ice membuka pembicaraan.


"Aku juga tidak tahu. Kita cari saja" Jawab Hari sambil terus mencari.


Kresek kresek..


Secara tiba tiba terdengar suara. Hali mencoba mencari asal suara itu. Tapi ia justru geran melihat sebuah semak. Di dalam gua seperti itu bagaimana bisa ada semak dengan daun segar seperti itu?


"Hali ketemu." Ujar Ice yang berhasil menemukan gulungan nya di atas sebuah batu yang lumayan tinggi.


"Kau ambil saja dulu." Ujar Hali dan mencoba memeriksa semak tadi.


Kresek kresek kresek..


Suara kembali terdengar membuat Hali semakin penasaran. Namun saat ia melihat apa yang ada di balik semak itu..


Glek.


Anak kecil, botak, mata bulat.


Namun bukan itu yang ia perhatikan. Melainkan sebuah benda bulat terbuat dari karet yang melayang dengan tali yang mengikat nya.


Diam...


Pemuda bernetra merah itu masih terdiam. Sebelum kemudian...


BZZZTTT


DUAR!!!!


Ledakan besar terjadi meruntuhkan dinding gua yang diserang oleh Hali.


Ice yang terkejut hendak menoleh, namun secara tiba tiba langsung ditarik keluar secepat kilat dengan dua gulungan yang tergeletak di dekatnya.


Sementara itu Hali justru tepar dengan tubuh sedikit gemetar dan nafas yang tidak beraturan.


Ice yang ingin bertanya pun mengurungkan niatnya. Sudahlah, setidaknya apa yang mereka cari sudah di dapatkan.


Sementara Hali masih mencoba mengatur nafas nya. Bukan tuyul itu yang ia takuti. Tapi entah bagaimana tuyul itu membawa balon dan balon itulah yang membuatnya hampir jantungan.


Maklum, Hali itu mengidap globophobia. Dia akan sangat ketakutan saat melihat balon.


***


Bagian Sein dan Kei


"HUWAAAA!!!! APA ITU??!!!! "


"KUNTI!!!!!!!!"


"POCONG!!!!!!!!! "


"WOY BERISIK!!!!!! "


Perempatan imajiner muncul di kepalanya. Ia kesal sekaligus marah. Namun dirinya tidak bisa berbuat banyak karena dirinya sendiri juga takut. Ia hanya berharap kesehatan telinga nya tidak menurun karena suara teriakan yang sekeras toa dari patner nya ini.


Sein heran, bagaimana bisa Kei teriak sekeras itu? Apa pita suaranya sudah di rancang khusus dengan volume diatas rata rata? Apa tenggorokan nya tidak sakit?


"HUA!! BUSET APAAN TUH?!" Seru Kei tiba tiba dan langsung melompat memeluk Sein.


Brug!


Sein yang tidak siap dengan teman nya yang melompat secara tiba tiba itu pun langsung terjatuh.


"Ah sakit!! Woy bangun berat tau!!!!" Keluh Sein dan mendorong Kei turun dari atas tubuh nya.


Serius, tuh orang makan apa sih? Berat banget!


Kei pun langsung bangun dari jatuhnya. "Maaf maaf!"


Sein terlihat membersihkan debu yang tertempel di pakaian nya. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar mencari gulungan yang Zion maksud. "Apa kau sudah temukan gulungan nya?" Tanya Sein.


Kei menggeleng. "Belum. Di tempat seperti ini jelas susah lah." Ucap Kei sambil melihat sekitar.


Namun secara tiba tiba ia merasa ada yang menepuk pundak nya. Kei pun berbalik. Dan melihat Sein menunjuk ke atas. "Sepertinya tidak sesulit itu. " Kata Sein menunjuk gulungan yang terikat di langit langit gua.


Kei menggaruk belakang kepala nya. "Bagaimana cara kita mengambilnya?"


Sein sempat berfikir. "Jika memperhitungkan jarak antara kita dan gulungan benang itu, lalu ditambah luas dan keliling gua ini... Bla bla bla.. " Sein mulai menjelaskan rumus yang membuat Kei pusing.


Sungguh? Ia tidak pernah bisa menebak apa isi otak ai jenius ini.


"Kelamaan!" Kei langsung memunculkan lingkaran sihir di bawahnya. "[Sihir angin: sayap angin]!"


Sepasang sayap berwarna putih bersih muncul di punggung Kei. Pemadatan sihir sama seperti yang Yanata tunjukkan. Pemuda itu pun langsung terbang ke atas.


Di sisi lain, Sein yang melihat itu menggembungkan pipinya kesal. "Padahal jika pakai caraku kan lebih cepat. "


Puk puk puk


Terasa ada yang menepuk punggung Sein. Namun, pemuda bermanik kuning cerah itu hanya mengabaikan nya.


Puk puk puk..


Sein mulai merasa risih. Ia pun menyingkirkan apa yang menepuk nya sambil berbalik.


"Ish apa si-"


Kata kata nya mendadak terpotong daat melihat sosok ndi hadapan nya. Sosok makhluk berpakaian putih dengan rambut panjang yang terurai ke depan menutupi wajahnya. Tangan putih pucat dengan kuku tajam dan bercak darah yang membekas di pakaian putih nya membuat warna merah darah itu terlihat jelas.


"Kei... "


Panggil Sein dengan tubuh yang mulai gemetar. Tubuhnya tidak bisa digerakkan saat itu.


"Bentar.. Sedikit lagi..." Ucap nya sambil mencoba melepaskan tali yang mengikat dua buah gulungan kertas itu.


"Kei!" Seru Sein akhirnya membuat Kei melihat ke bawah.


Deg.


Tubuhnya merinding.


"Woy! Lo ngapain sama kunti itu??" Tanya Kei yang takut plus panik dan dengan cepat memutus tali yang mengikat gulungan kertas nya.


"K-K-K-KUNTILANAAAAKKKKKK!!!!!!!!!!!"


"HHHUUAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!"


Keduanya pun langsung lari secepat kilat keluar dari gua mengabaikan jika mereka juga hampir saja jatuh tersandung batu atau nyaris menabrak.


Sementara itu dari atas gua,


"Apa semenyeramkan itu? Ini kan cuma boneka. Hihihihihi" Tawa Yiva yang memegang tali yang mengikat lengan boneka itu.


Yah, setidaknya mereka berhasil keluar bersama gulungan kertas nya.


*****


Bagian Sai dan Leo


"Minggir lo bocah! Jalan yang ku pilih paling benar! Itu menuju tempat yang benar tau!!"


"Gak gak gak!!! Lewat sini lebih cepat om pedo!!! Disana isinya jebakan semua!!"


"Jalan ini jalan yang benar! Itu yang penuh jebakan!!"


"Tidak!! Yang ini yang benar!!"


Kedua pemuda terus memperdebatkan harus lewat jalan mana dan akhirnya mengambil jalan masing masing yang sebenar nya adalah jalan yang sama, hanya saja terhalang batu besar di tengah nya.


Sepanjang perjalanan mereka masih saja berdebat sampai akhirnya bertemu kembali pun masih sama.


Apa mereka tidak lelah terus berdebat?


"Sudahlah! Kalo kau merasa paling benar, cepat cari gulungan kertas itu!!"


"Ini juga lagi di cari! Gak kaya kamu yang cuma diam!"


"Ini aku juga lagi cari tau!!"


"Eleh cari apaan cuma lihat sana sini!"


"Tantu saja cari lagi gak kaya kamu yang cuma berdiri!"


"Siapa juga yang cuma berdiri? Ini juga lagi ca-ca... Ca... " Leo terdiam. Bola matanya membulat dan tubuhnya gemetar.


Sai yang melihat keanehan itu mengerutkan dahi bingung. "Kenapa?"


Leo menunjuk ke belakang Sai dan pemuda itu langsung berbalik.


Betapa terkejutnya dirinya saat melihat sosok pria berkulit hitam dengan mata dan mulut yang mengeluarkan darah tersenyum. Pada mereka.


"HHUUAAAAAA!!!!!!!!!!!"


Keduanya pun langsung berteriak dan lari secepat kilat dan menjebol dinding gua untuk keluar. Padahal jalan keluar nya ada tepat di samping nya.


Leo dan Sai pun langsung tepar dengan gulungan di tangan mereka masing masing yang entah dari mana datang nya.


***


Sheelda dan Thory


Gua yang terlihat mengerikan dengan kelelawar yang beterbangan. Tapi keduanya sekarang justru sedang asik mengobrol.


Tanpa mereka ketahui, sosok anak kecil ber kepala botak muncul dari balik batu. Tapi mereka justru mengabaikan nya dan terus berjalan.


Dikacangin...


"Wah lihat! Apa itu gulungan nya?" Tanya Sheelda sambil menunjuk dua buah gulungan kertas yang tertindih batu di atas.


Thory tampak mengamati. "Apa itu ketombe?"


Sheelda justru menepuk dahi mendengar itu. "Mana ada ketombe di dalam gua?"


Thory tertawa kecil sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Hehe. Tapi bagaimana cara kita mengambilnya? Gulungan itu tertindih batu."


Sheelda memasang mode berfikir. "Bagaimana jika kita hancurkan batu itu, lalu kau tarik gulungan nya dengan sulur mu?"


"Ide bagus! Ayo lakukan!"


Sheelda pun langsung terbang dan menggunakan bulu bulu sayap nya untuk menusuk dan menghancurkan batu itu.


"[Sihir tumbuhan: tusukan sulur berduri]!" Di siaiain, Thory menggunakan sihirnya dan mengikat serta menusuk batu itu.


Krekk


Blar!!


Batu itu hancur. Dengan cepat, Sheelda dan Thory pun menghindar. Tapi sayangnya, gulungan kertas itu ikut jatuh bersama dengan reruntuhan batu nya.


"Yah.. Sekarang gimana nih?" Tanya Thory.


"Mau gimana lagi? Cari." Ujar Sheelda. Mereka pun mencari gulungan kertas itu.


"Kakak..."


Secara tiba tiba terdengar suara seorang gadis. Sheelda pun langsung berbalik. Dan saat itu juga, tubuhnya merinding seketika.


Thory juga berbalik dan melihat sosok gadis ber rambut panjang dengan gaun putih yang indah namun mengerikan. Tangan nya di perban, begitu juga wajah sebelah kiri nya.


"Ini yang kakak cari kan?" Tanya gadis itu sambil menyerahkan dua buah gulungan kertas.


Thory tersenyum. "Ah iya. Terimakasih." Ucapnya dan mengambil gulungan kertas itu.


"T...Thory cepat!" Tapi, secara tiba tiba Sheelda langsung menariknya keluar dari gua.


"Haduh! Sheelda ada apa sih??" Tanya Thory yang main ditarik Begitu saja.


Sheelda menatap Thory horor. Apa pemuda itu benar-benar tidak menyadari bahwa gadis itu hantu?


"T.. Tidak apa. Sudahlah. Yang penting kita dapat gulungan nya." Ucap Sheelda terbata. Setidaknya ia bisa bernafas lega sekarang.


Yanata dan Yiva yang melihat itu tertawa kecil rencana mereka sukses besar!!!


TBC