
Sejak kejadian itu, Zion benar benar marah. Ia selalu mengabaikan jika ada murid Hero Class yang menyapa nya. Ia bahkan memilih tidur bersama pak Rendrano untuk sementara dan mengabaikan para roommate nya itu.
Ia melakukan ini juga bukan tanpa alasan. Ia ingin membuat murid murid nya bisa membuktikan jika mereka benar-benar pantas mengikuti perang.
Mengingat apa yang terjadi kemarin, jelas membuat Zion harus lebih teliti dalam memilih dan membuat lebih banyak persiapan untuk mereka. Bagaimana cara nya agar murid murid nya benar benar siap saat menghadapi musuh nanti. Mengingat yang mereka hadapi bukanlah lawan biasa, persiapan nya pun harus lebih matang.
Sementara itu, di Hero Class, semua murid tampak masih terdiam. Mereka masih bingung harus bagaimana untuk membujuk Zion. Bahkan pak Rendrano saja tidak masuk ke kelas hari ini.
"AAAHH!! BOSAN!!" Keluh Leo tiba tiba sambil mengacak acak rambut nya.
"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan? Aku gak mau mati bosan gini... Nanti jadi arwah kebosanan gimana?" Ucap Kei sambil membaringkan kepala nya di atas meja.
"Mana ada arwah kebosanan? Yang ada arwah penasaran kali."
"Ya.. Anggap aja masih satu spesies."
Leo terdiam. Memangnya dia pikir itu binatang apa?
"Bagaimana jika kita pikirkan bagaimana cara untuk membujuk Zion? Itu lebih baik bukan, daripada terus seperti ini?" Usul Hali.
"Ada benarnya. Lebuh baik kita pikirkan bagaimana cara membujuk Zion. Kita buktikan jika kita pantas mengikuti perang itu! " Sahut Kei.
"Jika begitu, bagaimana kalo kita buat serangan gabungan? Kaya aku, Kei dan Thory yang membuat tornado api!" Ujar Leo sambil merangkul kedua rekannya itu.
Kei mengangguk mengingat bagaimana terakhir kali mereka tanpa sengaja membuat teknik gabungan itu. " Ya betul! Api dan angin kan kombinasi yang bagus!"
Thory menambahkan. "Ditambah sulur sulur tumbuhan ku akan membuat tornado itu semakin panas karena terus mendapat bahan bakar!!"
"Tapi bagaimana dengan ku yang memiliki sihir tipe bertahan?" Tanya seseorang dari belakang. Seorang pemuda bermanik abu abu.
"Apa sihirmu? " Tanya Kei
"Aku bisa membuat pelindung besi menggunakan sihir ku. Jelas susah jika di gabungkan dengan sihir lain." Jawab nya.
Sein berjalan mendekat ke arah pemuda itu. " Tidak juga. Kau bisa bekerjasama dengan penyerang jarak jauh atau membuat pelindung untuk rekan mu. Dengan begitu kalian akan saling menguntungkan!"
"Ya, kau akan melindungi orang itu, dan sebagai gantinya, rekan mu itu akan melindungi mu jika ada serangan yang mengarah padanya. " Sambung Ice.
"Benar juga. Aku akan mencobanya. Terimakasih! "
Setelah itu, mereka pun mulai mengatur rencana lainnya untuk membujuk Zion dan membuktikan mereka pantas mengikuti perang.
Tanpa mereka sadari, sedaritadi Reon mengamati aktivitas mereka dari luar jendela. Dirinya tersenyum melihat anak anak itu begitu antusias.
Tapi ada yang membuatnya cukup tertarik.
Pandangan nya tertuju pada pemuda bermanik ruby yang terlihat mencatat sesuatu sambil sesekali mengangguk atau menggeleng. Menanyakan pendapat teman teman sekelasnya sebelum kemudian maju ke depan kelas dan membuat rencana.
Sikap kepemimpinan yang begitu kuat dari anak itu. Tak heran mengapa Zion terlihat mengamati nya belakangan ini.
Namun, dalam benak nya juga masih merasakan kekhawatiran dan keraguan.
Apa benar mereka mampu?
Ia kembali mengingat saat saat di medan perang saat itu. Dimana sebelumnya ia bertarung melawan adik nya sendiri hingga menghancurkan setengah dari istana.
Dan saat di medan perang, semua orang berjuang mempertahankan hidup mereka untuk suatu kemenangan. Mereka tidak takut akan kematian dan terus melawan sekuat tenaga.
Suasana yang cukup mengerikan dimana tempat yang menjadi medan pertempuran itu tertutup oleh darah dan mayat dari pejuang yang gugur. Ditambah lagi bulan merah yang mengerikan dan hujan yang menambah suram tempat itu.
Belum lagi serangan dan berbagai monster yang mengerikan membuat semua nya harus kuat bukan hanya secara fisik, tapi juga secara mental.
Reon kembali memandang para murid murid Hero Class. Apa mereka benar benar sanggup?
Reon sedikit menghela nafas. Tapi, ia juga tidak boleh raga. Terlebih lagi, ada hal lain yang harus ia lakukan sekarang.
Sementara itu, Zion terlihat sedang cukup sibuk menyiapkan latihan yang akan ia lakukan berikutnya.
Memang dia sedang marah, tapi jika tetap diam juga tak akan menghasilkan apapun. Terlebih lagi ras Inimicus yang bisa menyerang kapanpun. Tentu ia tak bisa membiarkan rencananya gagal.
Tok tok tok!
Terdengar suara ketukan pintu. Zion pun langsung berjalan mendekati pintu dan membuka nya.
"Oh Alex, ada apa? " Tanya Zion melihat Alex yang datang.
"Kak Reon memintamu datang ke ruangan nya. Dia bilang ada hal penting yang harus dia bicarakan denganmu." Jelas Alex.
Zion tersenyum. "Baiklah! Terimakasih tukang pos~" Ujar Zion dan berjalan pergi.
Namun, saat itu juga, perempatan imajiner muncul di kepala Alex. "Dasar nih anak.. Bukannya terimakasih malah ngejek. Aku bukan tukang pos!"
Zion yang mendengar itu hanya tertawa kecil.
Asik juga menjahili teman sendiri.
Tidak butuh waktu lama, ia pun sampai di depan ruangan Reon. Dengan sopan, Zion mengetuk pintu sebelum kemudian dipersilahkan untuk masuk.
"Silahkan duduk Zion." Ucap Reon mempersilahkan Zion duduk.
"Jadi, kak Reon. Ada masalah apa sampai memanggil saya begini? " Tanya Zion. Karena tak biasanya Reon akan memanggilnya seperti ini.
"Baiklah, langsung ke intinya saja. Dalam perang kali ini, hampir semua rasa ikut serta untuk melawan ras iblis dan monster. Walau begitu, yang paling berpengaruh banyak adalah rasa manusia dan rasa Beast. Jadi, kami memutuskan untuk memintamu ngelatih mereka juga. Bagaimana?"
"Beast?" Tanya Zion.
'Anggap saja manusia binatang. Memiliki kemampuan tinggi dalam segi fisik namun lemah dalam pengontrolan sihir. Walau begitu, mereka tetap bisa menggunakan sihir walau lebih dominan kekuatan fisik mereka. ' jelas Nero.
"Tapi, saya belum tau banyak tentang mereka. "
"Jika begitu, silahkan kau cari tau lebih dulu. Besok, raja dari Kerajaan Beast akan datang. Jadi persiapkan dirimu. Itu saja, terimakasih. " Ujar Reon dan berjalan pergi meninggalkan Zion yang masih terdiam.
Mendadak. Ini sangat mendadak. Dan besok? Apa ia punya cukup waktu untuk mempelajari lebih banyak hal tentang mereka dalam waktu sesingkat itu?
"Seenaknya saja dia memberikan tugas dan langsung pergi." Ujar Zion kesal. Bagaimana tidak? Tanpa pemberitahuan apa apa sebelumnya dan langsung saja disuruh mempelajari tentang para beast yang akan datang besok? Bagaimana ia tidak kesal?
Zion mengusap wajah nya frustasi. "Kerjaan ku masih belum selesai dan sekarang harus bergadang di perpustakaan sambil mendengarkan penjelasan Nero. Terkutuklah kau wahai kak Reon karena memberiku tugas mendadak dan membuatku semakin stress seperti ini! "
TBC