Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
37. FlameBall



Zion berjalan cepat menuju taman di belakang akademi. Wajahnya tampak serius dengan tatapan tajam. Beberapa murid yang penasaran pun berusaha mengikuti Zion secara diam diam. Namun, kepekaan Zion yang di atas rata rata membuat nya menyadari itu. Ia pun menghentikan langkah nya.


Zion menghentikan langkah nya. "Masuk ke kelas sekarang dan jangan keluar." Ucap Zion dengan nada suara dingin dan penuh penekanan.


Murid murid yang mendengar itu langsung berbalik pergi menuju kelas mereka. Entah mengapa mereka berfikir orang yang ada di hadapan mereka sekarang berbeda dengan Zion yang mereka kenal dan lebih baik untuk tidak main main dengan Zion yang sekarang.


Zion pun melanjutkan jalannya, namun mendadak ia mendengar ledakan yang secara otomatis membuat nya berlari ke lokasi itu.


Setibanya di sana, Zion terkejut melihat lidah api yang berkobar membakar setengah dari taman.


Taman yang berukuran sepuluh kali dua belas meter itu hangus terbakar api. Terlihat tanah yang kering bahkan retak dan beberapa pot pecah serta pohon yang tumbang dan hangus terbakar.


Di sudut taman, terlihat monster bertubuh bulat dengan kepala bertanduk dengan empat kaki dan ekor panjang penuh duri berwarna merah yang dipenuhi api. Tubuhnya berwarna hitam dengan garis garis merah lava dan tanduk yang terus mengobarkan api.


Yap, itu adalah pelaku hancurnya taman itu. Monster dengan tinggi tiga meter yang terlihat cukup mengerikan, Flameball.


"Wah... Sepertinya akan sedikit merepotkan..."


Zion mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan nya pada monster itu. Aura biru laut berkumpul membentuk bola di ujung pistolnya.


"Setidaknya aku harus memadamkan api nya." Ucap Zion. Ia pun menembakkan bola air berukuran besar ke beberapa tempat di taman itu.


Flameball yang menyadari itu langsung menembak kan bola api dari mulutnya ke arah Zion. Pemuda itu dengan cepat langsung menghindari nya.


Wush!!


Monster itu mengayunkan ekornya ke arah Zion. Beruntung ia berhasil menghindari nya. Namun, api berkobar besar di hadapan nya. Jujur saja, Zion tak terlalu menyukai suhu panas. Itu membuatnya sulit berkonsentrasi.


"[Meteorite]!!" Seru nya dan batu batu di taman itu melayang dan melaju dengan cepat ke arah monster itu. Namun, kulit monster yang terlalu keras dan suhu yang menyulitkan membuat skill nya itu tak terlalu akurat.


Zion berdecak kesal. Sementara, monster itu terus menyemburkan bola bola api ke arahnya membuat Zion terus berlari dan menghindar ke sana sini.


"[Jaring baja]!!" Benang benang baja bermunculan membentuk jaring yang langsung menangkap monster itu.


ROAR!!


Monster itu mengaum sambil menyemburkan api kemana mana membuat suhu semakin meningkat. Benang baja itu pun mulai meleleh dan melepaskan monster itu.


"[NonMagic:kristal es]" Zion menginjakkan kaki nya ke tanah dan kristal kristal es bermunculan di dekat monster itu. Suhu yang terus meningkat membuat es nya mulai meleleh. Namun, dengan cepat Zion segera menambah suhu dingin yang membuat es itu tetap bertahan.


Es tajam itu berhasil menggores beberapa bagian, namun api berkobar di luka monster itu yang juga meregenerasinya. Zion yang melihat nya berdecih kesal.


Dia bisa beregenerasi? Bagaimana caranya mengalahkan monster itu?


"[NonMagic:tanah tajam]!!" Kini tanah tanah tajam bermunculan menggantikan es yang sudah mulai meleleh.


Zion menjebak kaki Flameball dengan tanah yang membuatnya kesulitan bergerak. "[NonMagic:sapuan ombak]!!" Selanjutnya Zion menggunakan sihir airnya untuk memadamkan api di tempat itu yang secara otomatis juga memperlemah monster itu akibat menurun nya suhu panas yang menjadi sumber kekuatan nya.


ROAAARR!!!!!


Auman terdengar bahkan sampai ke gedung sekolah membuat para murid takut dan juga penasaran. Terlihat beberapa murid yang mencoba mencaritahu, termasuk pangeran elemental yang juga penasaran. Namun, mereka dicegat oleh Reon yang mau tidak mau membuat mereka kembali ke kelas.


Setidaknya itu membantu Zion untuk lebih berkonsentrasi dan tidak perlu khawatir kemampuan nya akan diketahui oleh orang lain.


Namun, di sini lain, monster itu masih belum menyerah. Ia memberontak dan kembali menyemburkan api dari mulutnya memaksa Zion mengambil jarak lebih agar tak melukai dirinya.


Tanah mulai retak dan lahar menyembur dari dalamnya, menghancurkan tanah tajam yang sempat memerangkap kaki monster itu.


"Benar benar merepotkan."


Tanpa Zion sadari, monster itu mengayunkan ekornya yang mengenai Zion dengan telak. Pemuda itu pun terlempar beberapa meter dan membentur sebuah pohon.


"Sial!!" Zion menggeram kesal. Ia mengabaikan luka di lengan nya dan langsung mengarahkan pistolnya ke atas monster itu. "[NonMagic:bola kristal es]!!!"


Lingkaran sihir berukuran 3 meter terbentuk dan muncullah kristal es berukuran besar dari atas monster itu.


Melihat kristal es dengan ukuran cukup besar di atasnya, monster itu pun berusaha untuk melarikan diri namun, Zion menjebak kaki monster itu dengan tanah yang membuatnya tak bisa bergerak.


Bola es itu tiba tiba pecah menjadi kristal kristal es tajam yang menusuk monster itu.


Zion tersenyum. Kali ini serangan nya berhasil. Walau ia cukup kelelahan karena suhu panas yang juga merupakan kelemahan nya, tapi setidaknya kali ini berhasil.


Zion melompat ke atas kepala monster itu dan menembakkan beberapa kristal es untuk memastikan monster itu benar benar sudah mati.


Dirasa yakin, Zion pun turun dari atas kepala monster itu. "Huuh... Akhirnya selesai juga." Ujarnya sambil menyeka keringat yang mengalir dari dahi nya.


Namun, ia tak menyadari jika monster itu masih belum benar-benar mati. Lagi lagi api di tubuhnya meregenerasi luka yang diterima nya.


'Hati hati di belakang mu!'


"Akh... Sial... Harusnya aku memastikan nya lagi..." Ucapnya sambil menahan sakit di kepalanya yang mengeluarkan darah akibat tertimpa reruntuhan tadi.


Monster yang sudah terlihat cukup lemah itu mencoba untuk berdiri dan kembali menyerang Zion. Sementara, pemuda itu mencoba mempertahankan kesadaran nya yang mulai memudar akibat rasa sakit di tubuh dan kepala nya.


Ayolah, apa harus berakhir seperti ini?


"[NonMagic: panah es]" Ucapnya dan lingkaran sihir terbentuk dan panah panah es keluar dan mengarah pada monster itu.


Monster tersebut menyemburkan api yang melelehkan es es itu. Namun, serangan Zion belum cukup sampai di situ. Batu batu kembali terangkat dan meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah monster itu yang berhasil mengenainya. Tenaga nya yang sudah mulai menipis membuat monster itu tidak bisa ber regenerasi lagi.


Dengan kata lain, monster itu sudah mencapai batasnya.


Monster itu mengaum. Zion pun menembakkan es pada mulut monster itu yang terbuka dan langsung membekukan tenggorokan nya membuat monster itu tak bisa mengeluarkan suara nya lagi.


Monster itu memberontak dan terus mengayunkan ekornya ke segala arah dan merobohkan beberapa pohon di sekitarnya. Zion mencoba untuk menghindari nya, namun kondisi nya yang sudah cukup lemah membuatnya sedikit kesulitan dan terkena serangan monster itu.


Lagi lagi terlempar begitu. Dan saat itu juga kesadaran nya menghilang.


BLAM!!


Terdengar suara ledakan dari monster itu yang menggila dengan membuat lahar menyembur dari dalam tanah yang diarahkan pada Zion.


DUAR!!


Ledakan kembali terjadi dan debu beterbangan. Namun, saat debu mulai menghilang, terlihat sebuah kubah es di sana yang mulai mencair menampakkan seorang pemuda ber iris biru muda yang melindungi Zion.


Ia adalah Ice yang entah bagaimana bisa ada di sana.


Bukannya Reon sudah membuat pelindung dan melarang semua murid untuk mendekat? Lalu, bagaimana bisa Ice ada di sana?


"Zion? Kau baik baik saja? Zion!" Tanya Ice panik. Namun, pemuda itu tak merespon. Ice yang melihat luka di dahi Zion langsung menggunakan sihirnya untuk membekukan luka itu. Setidaknya mencegah pendarahan terus terjadi.


setelah itu, Ice menatap tajam pada monster di hadapan nya. "[Sihir es: panah es]!!!"


lingkaran sihir biru muda muncul di hadapan nya dan meluncurkan panah panah es pada monster itu. Belum cukup sampai di situ, Ice pun membekukan tanah yang juga membuat kaki Flameball terjebak di sana dan tak bisa bergerak.


"Di mana senjata itu?" Tanya Ice sambil mencari senjata milik Zion yang terjatuh. Setelah menemukan nya, ia pun langsung mengarahkannya pada monster itu. Namun, entah mengapa tangannya bergetar.


"Kenapa tanganku bergetar begini?" Gumamnya. Namun, pandangannya ia arahkan pada monster itu. Ice menarik nafas untuk menenangkan diri. Namun...


"Kita selesaikan bersama."


Terasa ada yang menggenggam tangan nya. Ice melihat pada pemuda di pelukan nya yang mencoba menggunakan sihirnya.


"Tidak, kondisi mu masih lemah." Tolak Ice yang memandang Zion khawatir.


"Izinkan aku membantumu..." Ujar Zion lemah. Ice pun akhirnya mengangguk.


Aura biru muda terlihat memasuki pistol miliknya yang mengubah nya menjadi berwarna hitam dengan corak biru muda dan kepingan bunga salju putih.


Ice yang melihat itu sedikit terkejut. Ia tau jika aura yang memasuki senjata itu adalah aura nya sendiri.


Ice menggenggam tangan Zion. " [NonMagic:tembakan es] "


Bola es terbentuk, namun jauh lebih padat dan kuat dari sebelumnya dan mengarah langsung pada Flameball yang masih terjebak. Monster itu mencoba untuk melepaskan dirinya dari jebakan yang dibuat Ice, namun sia sia.


Serangan itu mengenainya dengan telak dan terjadi ledakan besar. Dengan cepat, Ice pun membangun perisai es untuk melindungi mereka.


Beberapa saat kemudian, Ice melepaskan pelindung nya dan menarik nafas lega saat melihat monster itu telah tewas. Kali ini benar benar tewas.


"Kita berhasil..." Gumam Zion. Ice yang melihat itu tersenyum.


"Ya... Monster itu sudah kalah..." Ucap Ice.


"Ngomong ngomong... Bagaimana kau bisa ada di sini? Bukankah kak Reon sudah memblokir semua jalan ke sini?"


Ice sedikit tersenyum. "Aku tertidur di teman sebelah. Saat bangun, sudah kebakaran dan aku melihatmu melawan monster itu sendirian. Jadi aku membantumu." Jawab Ice.


Tunggu, itu artinya dia membolos? Jika saja kondisinya lebih baik, ia pasti akan mencatat nama Ice. Tapi tertidur saat situasi seperti ini... Wah... Sungguh luar biasa nyenyak nya.


Zion menghela nafas. Kepala nya kembali terasa sakit dan pandangan nya mengabur. "Baiklah... Terimakasih..." Ucapnya dan kembali tidak sadarkan diri.


"Zion? Hey, Zion bangun! " Ice kembali panik saat melihat pemuda mungil itu kembali tidak sadarkan diri. Apalagi kepalanya kembali mengalirkan darah. Bukan hanya dari kepalanya, tapi darah juga mengalir dari hidung dan sudut bibir nya.


Ice pun langsung menggendong Zion dan berlari membawanya ke ruang kesehatan.


TBC