Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
52. Terungkap



Semua kembali normal setelah Zion mengalahkan Lady Spider. Kondisi para pangeran elemen pun sudah kembali membaik. Zion pun kembali melanjutkan untuk melatih murid murid Hero Class. Setelah apa yang terjadi, jelas Zion tak ingin membuang waktu lebih banyak.


Satu bulan berlalu dan kemampuan murid murid Hero Class meningkat dengan cepat. Zion bahkan sudah bisa melihat peran yang cocok untuk mereka dalam perang nanti.


Kini ia hanya perlu menguji kemampuan mereka dan beberapa latihan lagi untuk memilih siapa saja yang benar benar layak untuk mengikuti perang. Dalam hal ini, bukan hanya kemampuan fisik dan sihir yang diperlukan. Kekuatan mental pun juga sama pentingnya mengingat bagaimana suasana perang kala itu.


Zion harus mempersiapkan nya dengan matang jika tidak ingin jatuh korban dalam perang ini. Sepertinya pilihan untuk nya menguji murid Hero Class sebelum melanjutkan latihan berikutnya adalah pilihan terbaik saat ini. Setidaknya dengan itu ia dapat melihat dengan jelas seluruh kemampuan mereka.


Belum lagi, ia juga harus meminta bantuan dari ras lain. Jika hanya dari ras penyihir sepertinya masih kurang untuk dapat mengalahkan mereka.


Zion sedikit menghela nafas. Sebenarnya ia cukup kelelahan memikirkan semua itu sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tak ingin membebani Yanata. Dalam masalah ini, apalagi perang melawan ras Inimicus bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.


Tapi... Mungkin sesekali liburan tak ada salahnya. Apa ya, liburan yang cocok? Berkemah sepertinya cukup menyenangkan.


Ah, tidak tidak! Ini bukan waktunya untuk memikirkan hal seperti itu sekarang. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah...


'Mengalahkan monster yang menyerang kota sebelah.' ucap Nero tiba tiba.


Zion langsung menggembungkan pipinya mendengar itu. "Menyebalkan. Jangan ganggu pikiranku! Haah tapi baiklah..." Zion hanya bisa pasrah. Tak mungkin bukan ia tinggalkan orang yang membutuhkan bantuan nya?


****


Sementara itu, di sebuah koridor yang cukup gelap, seorang gadis berambut pendek terlihat memukul dinding dengan pelan. Ia terlihat begitu marah dan kasal.


"Anak itu benar benar membuatku marah!!" Ucapnya sambil memukulkan tangan nya pelan agar tak melukai tangan indahnya itu.


"Monster tak berguna! Masa gak bisa mengalahkan Zion. Dia sudah membuatku dipermalukan. Dia harus mati! Lihat saja, aku tak akan membiarkannya begitu saja. Aku akan menyiapkan rencana yang bagus untuk nya!"


"Rencana apa yang kau siapkan?"


Gadis itu, Neily Cirva pun terdiam membeku seketika. Ia menoleh ke sampingnya dan melihat Hali yang sedang berdiri menyandarkan tubuhnya ke dinding dan memasukkan tangan nya pada saku celana nya.


Neily yang masih terkejut benar benar tak menyadarinya. Sejak kapan pemuda itu ada di sana? Apa ia mendengar semua yang ia katakan tadi? Sebanyak apa yang ia dengar?


"H-Hali. S- sejak kapan kau ada di sana?" Tanya Neily gugup.


Hali berjalan mendekati gadis berambut pendek itu. Neily coba mundur untuk sedikit menghindar. Namun sayangnya, jalan buntu. Ia menabrak dinding di belakang nya.


Saat ini Hali sudah ada tepat di hadapan gadis itu. Ia memukulkan tangan nya pada dinding dekat kepala Neily. Ia sedikit mendekatkan wajahnya dan menatap tepat pada mata gadis itu.


Namun sayangnya, Neily justru salah mengerti situasi itu. Pipinya memerah padam. Tak pernah ia pikirkan ia akan berada sedekat ini dengan Hali.


"Kuulangi pertanyaan ku, apa yang kau rencanakan?" Tanya Hali sekali lagi.


Neily terlihat semakin gugup. "A- tidak, aku hanya... Merencanakan pesta ulang tahun untuk temanku."


Sreg!


Di saat berikutnya Hali langsung mencengkram leher Neily. Tidak terlalu kuat agar gadis itu masih bisa bernafas. Tapi tetap saja, bagi gadis sepertinya, cengkraman Hali cukup menyakitkan.


"Kau pikir aku tidak tahu hah? Kau merencanakan untuk membunuh Zion kan? Kau pikir aku tidak tahu jika kau yang sudah memanggil Black mist dragon ke sekolah ini?" Ia menatap tajam pada mata gadis itu yang mulai berkaca kaca.


Bagaimana Hari bisa mengetahui nya?


"Jangan pernah kau berfikir untuk melukai Zion atau aku dan saudara saudaraku tak akan pernah memaafkanmu. Bahkan aku muak melihatmu sekarang. Ini peringatan dariku. Jika kau berani mencoba mencelakakan Zion, akan ku hancurkan kau saat itu juga. "


Hali melepas cengkraman nya pada leher Neily dengan kasar membuat gadis itu hampir terjatuh. Ia pun langsung berjalan pergi meninggalkan Neily yang mulai menangis.


Gadis itu mengepalkan tangan nya kuat. "Ini semua salahmu Zion!!!! Lihat saja, aku akan membunuhmu! Aku tak akan pernah membiarkanmu hidup tenang!"


Bug!


Neily langsung memukul dinding kuat, mengabaikan rasa sakit yang menjalar di tangan nya.


Namun, ia juga tak menyadari jika dari ujung koridor, seorang pemuda bermanik biru muda mendengar semua ucapan nya tadi.


****


Hari menjelang malam dan terlihat tiga pemuda yang baru masuk ke rumah nya dengan senyuman lebar dan diselipi gurauan.


"Kami pulang!!!!!" Seru salah seorang pemuda ber netra jingga. Namun, tidak ada orang.


Krik krik...


"Kemana semua orang?" Tanya Kei. Ia pun langsung masuk dan melihat kesana sini bahkan mengangkat vas bunga di meja.


"Kak Kei.. Mana ada di bawah sana... Nih semua orang kemana sih??" Tanya Leo agak kesal.


"Kalian cari apa?"


"HHUUAA!!!! " Ketiga pemuda itu terkejut begitu seorang pemuda bermanik kuning cerah tiba tiba muncul di belakang mereka. Sejak kapan dia ada di sana?


Leo pun bertanya. "Sejak kapan kau di sana? Kau muncul dari mana??"


Sein menghela nafas. " Dari kamarku lah. Oke sekarang ayo kalian masuk! Ada hal penting yang harus kita bicarakan ayo cepat! Lainnya sudah berkumpul di dalam! " Ucap Sein sambil menarik ketiga pemuda itu yang hanya pasrah diseret seperti karung beras.


Setelah masuk, Sein pun langsung menutup dan mengunci pintu. Lalu menutup semua jendela dan berjalan menuju rak buku. Ia menarik sebuah buku berwarna kuning dengan lambang bintang di tengahnya. Dan berikutnya, rak buku itu bergeser dan membuka jalan menuju sebuah ruang rahasia. Mereka pun langsung masuk ke dalam.


Ruangan itu hanya digunakan oleh mereka jika akan membicarakan hal yang benar benar penting atau mengatur rencana saja. Lalu, apa hal yang benar benar penting sampai Kei, Leo dan Thory pun disuruh masuk ke sana?


Semuanya sudah berkumpul dan duduk melingkar di sebuah meja di sana.


Ice pun memulai pembicaraan. "Pertama tama, bagaimana perasaan kalian pada Zion? Katakan saja, apa kalian suka padanya?"


Tunggu, pertanyaan macam apa itu??


Namun, mereka tidak bisa bohong pada perasaan mereka sendiri. Mereka pun mengangguk pelan sebagai jawaban. Ice tersenyum puas dengan itu.


Ia melanjutkan pertanyaan nya. " Lalu, bagaimana jika ada yang coba mencelakai atau bahkan sampai membunuh Zion?"


"Sudah jelas aku akan membunuh orang itu. " Jawab Leo.


"Mencegah hal itu dan tentu tak akan membiarkan siapapun mencelakai Zion!" Sahut Kei.


"Baguslah, jika begitu kita harus mencegah Neily."


Mereka kecuali Hali dan Ice saling berpandangan bingung.


Ice memandang ke arah Hali. "jadi kak Hali.. "


Hali mulai menjelaskan. "Jadi, tadi saat melewati koridor yang cukup sepi, tanpa koridor aku melihat Neily di ujung lorong sedang berbicara sendiri. Jadi aku sedikit mendengarkan nya, ia mulai merencanakan untuk membunuh Zion. Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi bukan?"


"Selain itu, ancaman saja masih kurang untuk nya. Ia tetap saja akan melakukan rencananya. Tapi ingat, kita tidak bisa menggunakan kekuatan sihir penuh kita. Jangan sampai Zion tau siapa kita sebenarnya." Lanjut Ice.


Semuanya mengangguk. Waktunya masih belum tepat untuk mereka memberitahu identitas asli mereka yang sebenarnya pada Zion.


"Baiklah, kita mulai saja menyusun rencana untuk mencegah-"


"Siapa di sana?! " Seru Thory dan berjalan mendekati jendela.


"Ada apa Thory?" Tanya Sein.


Thory menggeleng. " Tidak, bukan apa apa. Tadi kukira ada seseorang di sana. Mungkin hanya perasaanku saja." Jawab Thory sambil sedikit terkekeh dan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


"Baiklah, kita mulai rencana nya. "


Mereka pun mulai menyusun rencana sampai tak terasa malam sudah cukup larut. Perlahan, Sein membuka pintu kamarnya melihat ke luar memastikan Zion tak ada di sana. Setelah aman, mereka pun langsung keluar.


"Huuh aman... Awalnya aku takut Zion lihat" Ujar Kei sambil menghela nafas.


"Tapi.. Kenapa Zion belum pulang? Sudah selarut ini. Kemana dia?" Tanya Thory. Ada benarnya. Sudah semalam ini. Kemana dia?


Tok tok tok!


Terdengar katakan pintu dari luar. Mungkin itu Zion.


"Biar aku yang buka." Ucap Sein dan berjalan mendekati pintu. Perlahan ia memutar kenop pintu dan membukanya. Namun, saat itu juga ia terkejut.


"Maaf... Aku terlambat." Ucap Zion pelan sebelum kemudian langsung terjatuh di pelukan Sein.


"ZION!" Saat itu juga Sein menyadari bahwa tak ada sedikitpun kesadaran pada anak itu. Secepat mungkin ia membawa Zion ke ruang kesehatan.


TBC