
Berita mengenai kekalahan Neily Cirva sudah menyebar ke seluruh akademi. Banyak yang membicarakan nya dan menduga Zion menggunakan cara curang atau sihir terlarang untuk mengalahkan nya.
Sementara Zion yang jadi bahan pembicaraan hanya cuek saja. Ia tak begitu mempedulikan hal seperti itu. Ia lebih memilih menganggap nya sekedar kata kata biasa saja dan memilih mengabaikan nya.
Lagipula untuk apa mempedulikan itu?
Zion berjalan menuju atap sekolah. Tempat yang dikiranya akan aman dan bisa digunakan untuk menenangkan dirinya.
Namun saat membuka pintu, ia melihat seorang pemuda sedang duduk di sebuah kursi panjang yang disediakan. Sedangkan pemuda itu yang mendengar seseorang membuka pintu pun menoleh.
"Ah, sepertinya aku mengganggu ya? Maaf... "
"Tunggu! Tidak, kau tidak mengganggu sama sekali. Kalo tidak salah.. Kau yang melawan Neily Cirva bukan?" Tanya pemuda itu. Ia memiliki iris kuning cerah yang indah.
"Iya benar." Jawab Zion singkat.
Mendengar jawaban Zion, sekejap dia berpikir kalau Zion itu cukup sombong. "Pertama tema, kenalkan, aku Sein Leinsta. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu."
"Baiklah, aku Zion Ravael. Salam kenal. Jadi, apa yang mau kau tanyakan?"
"Serius? Oke, sebenarnya aku penasaran dengan sihir apa yang kau gunakan. Lalu bagaimana kau bisa menang melawan Neily Cirva? Apa senjata yang kau gunakan dan buku itu, apa buku sihir? Darimana kau mendapatkan nya?" Tanya Sein antusias. Ia terus mendekat ke arah Zion yang secara tak langsung membuat Zion berjalan mundur. Tapi sialnya pintu di belakangnya tertutup membuat Zion terjebak.
Jika saja ia tak menutup pintunya tadi... Situasinya pasti tak akan begini.
Mendadak Zion malah menjadi gugup. "Um... Aku akan menjawabnya, tapi... Bisa mundur sedikit?" Tanya Zion. Sein yang menyadari posisi mereka pun langsung memerah dan berbalik.
"M-maaf! Aku terlalu antusias tadi."
"Baiklah, ayo kita duduk dulu sambil ku jelaskan" Ajak Zion. Sein pun mengangguk dam mereka pun duduk. Setelah nya Zion menjawab semua skill yang digunakannya saat melawan Neily. Tentu saja, Zion tetap merahasiakan beberapa hal. Khusus nya identitas nya.
...***...
"Na na na naaa~ la lala lala~ teman tema ~" Sein berjalan masuk sambil bergaya menarik perhatian teman temannya yang tadinya sedang sibuk dengan kegiatan masing masing.
"Kau sehat Sein?" Tanya Leo.
"Kau gak kerasukan kan? Sikapmu aneh. Gak kerasukan jin lampu kan?" Tanya Kei.
Pertanyaan macam apa itu??
Sein berdecih kesal. "Dasar kalian!! Aku baik baik saja lah! Coba tebak... Siapa yang kutemui tadi?"
"Pacar mu?" Tanya Thory pemuda ber iris hijau.
"Gak mungkin lah... Sein kan masih jomblo" Ucap Kei.
Terkadang kata yang terlalu jujur menyebalkan juga.
"Sudahlah! Aku bertemu dengan Zion tadi~" Ucap nya. Lainnya pun langsung memandang Sein.
"Serius? Beneran?" Tanya Thory.
"Iya. Namanya Zion Ravael. Aku bertemu dengan nya di atap tadi. Awalnya ku kira dia cukup sombong, tapi ternyata dia cukup baik dan ramah." Jelas Sein.
"Wah... Aku jadi tambah penasaran!!"
"Aku ingin bertemu dengan nya juga!" Kata Kei dan Leo.
"Dia ada di sekolah ini, jadi sudah jelas lah akan bertemu lagi. Tapi... Apa dia murid baru? Kenapa dia tidak masuk kelas manapun?" Tanya Ice, pemuda ber iris biru muda.
Sein menepuk dahi nya. "Ah iya! Aku lupa menanyakan itu..."
"Dasar Sein.. Jiwa peneliti mu kurang tinggi tuh" Kata Leo.
"Lebih ke tidak peka dengan pertanyaan yang penting" Sambung Hali, pemuda ber iris merah yang sedang sibuk membaca buku.
Perempatan imajiner muncul di kepala Sein. "Aku hanya lupa! Saat bertemu lagi akan langsung ku tanyakan!"
"Sudahlah... Ke kelas yuk! Bentar lagi mau masuk." Ucap Thory sambil menunjuk ke arah jam. Mereka pun mengangguk dan pergi.
Sementara itu, Zion terlihat sedang mengawasi murid murid akademi dari atas gedung sekolah. Ia juga terlihat mencatat beberapa hal di sana.
"Dor!"
"Hihihi.. Lagi apa sendirian di sini?" Tanya si pelaku yang tak lain dan tak bukan adalah Alex.
"Sedang mengawasi... Kau sendiri sedang apa di sini?"
"Tak jauh beda denganmu. Aku melihatmu saja dari bawah, jadi aku naik dan menjahili mu" Ucap Alex.
Jujur sekali ucapannya.
Zion hanya menghela nafas kesal. Namun mendadak ia teringat sesuatu. "Oh Alex, aku punya teman baru! "
"Oh ya? Siapa?" Tanya Alex
"Namanya Sein Leinsta! Dia cukup baik."
Alex sedikit terkejut mendengar itu. "Serius? Sungguh mengejutkan mengingat mereka tak terlalu suka terlalu dekat dengan orang lain. Kau hebat juga. Dimana kau bertemu dengan nya?"
"Di sini. Tapi... Tak terlalu dekat? Bisa kau sedikit jelaskan?" Tanya Zion.
Alex mengangguk. " Baiklah. Sekalian saja aku mengajakmu berkeliling. Kau pasti ingin tau lebih banyak kan?"
Zion mengangguk. "Baiklah!"
Sembari berjalan, Alex pun mulai menjelaskan tentang mereka.
"Jadi, di sini ada total 10 level. Namun, untuk pelajar umumnya paling tinggi hanya mencapai level 5 atau 6. Anak anak yang memiliki level sihir tinggi dimasukkan dalam kelas khusus. Sering disebut Golden. Tapi julukan yang paling terkenal adalah Hero Class. Sein juga ada di kelas itu. Sein itu salah satu dari 'the prince of the elements'. Karena mereka pengguna elemen terkuat di sini. Selain Sein ada 5 orang lainnya. " Jelas Alex.
"Segitu kuatnya kah sampai dapat julukan seperti itu?"
"Ya. Karena mereka penyihir muda pertama yang berhasil sampai level 8. Walau tidak semua sih... Mereka sudah menganggap seperti keluarga. Karena memang masih ada hubungan darah." Ucapan Alex terhenti saat melihat Zion yang sibuk mencatat. Senyuman kecil muncul di bibir nya.
Zion yang merasa di perhatikan, "kenapa?"
"Ah, tidak apa apa. Ku lanjutkan. Yang pertama dan yang mereka anggap paling tua ada Hali Vendelous. Dia pemegang elemen petir terkuat. Dia sudah sampai level 8 sekarang. Sikapnya tegas, pemarah dan agak tsundere. Tapi dia baik dan cukup serius. Lalu Sein Leinsta"
"Orang yang cukup menyukai penelitian, ramah, namun agak blak blakan dan terlalu modis. Pengendali elemen cahaya yang cukup hebat." Potong Zion.
"Benar. Sein sama seperti Hali, walau usianya bisa dibilang paling muda, ia sudah sampai level 8. Kau teliti juga ya..." Puji Alex.
"Hehe... Biasa saja. Ayo lanjutkan."
"Baiklah... Selanjutnya Kei Vendelous. Pengendali elemen angin. Dia adik Hali dan sekarang sudah ada di level 7. Sikapnya super jahil dan hyperactive. Lalu Ice Vlict sama dengan Kei, ia juga sudah mencapai level 7. Pengguna elemen air dan es."
"Memiliki dua elemen sekaligus?" Tanya Zion.
"Ya, terkadang saat seseorang naik level, bisa juga membuat elemen sihirnya naik ke tahap berikutnya. Walau yang bisa sampai seperti itu terbilang cukup langka sih... Oke lanjutkan, Ice cukup teliti dan serius. Namun dia itu polar bear. Kerjaannya tidur terus."
"Sesuai dengan elemen air yang menenangkan. "
"Oke, selanjutnya ada Leo Vlict. Pengendali elemen api level 6. Dia super jahil melebihi Kei. Selain itu hyperactive walau kadang emosinya meledak ledak. Dia kakak Ice. Sikapnya sungguh bertolak belakang. Ya... Emosian gitu. Dan yang terakhir kakak Sein, Thory Leinsta. Pengendali elemen tumbuhan level 6. Dia itu sangat polos dan menggemaskan. Ya.... Sangat polos bahkan. Dan sangat suka dengan tumbuhan." Jelas Alex panjang lebar.
"Wah... Oke kurasa informasi tentang mereka sudah cukup. Terimakasih Alex!" Ucap Zion yang masih saja sambil mencatat.
"Sama sama. Setidaknya- Zion awas!"
Jeduk!
"Aduh!!" Keluh Zion saat menabrak dinding di hadapannya. Saking serius nya ia tak melihat tikungan di depan dan menabrak dinding.
"Pfftt... Hahahahahaha!!! Makanya kalo jalan itu lihat ke depan!" Tawa Alex melihat sahabatnya ini.
"Kau tak bilang sejak awal"
"Kau sendiri yang tak lihat"
"Hahaha... Baiklah... Kurasa aku harus lebih hati hati"
"Hahahaha!!!"
Mereka pun tertawa bersama hingga suara tawa mereka terdengar di kelas yang tak jauh dari mereka. Ditambah dengan kondisi koridor sepi membuat tawa mereka semakin jelas.
TBC