
Leo berdecak kesal. Ia mencoba mengejar kelinci itu. Namun, tanpa ia sadari dari belakang nya, sebuah bola berwarna keunguan meluncurkan cepat ke arahnya. Ia tak memperhatikan, sebelum kelinci itu melompat, dia tetap meninggalkan bola bola nya di sana yahh sekarang justru di kendalikan untuk menyerang nya.
"Gawat!" Jaraknya sudah terlalu dekat, tak ada waktu untuk nya menghindar.
DUAR!!
Leo menutup mata nya erat erat. Namun, setelah ledakan terjadi pun, ia tak merasakan sakit sama sekali. Perlahan ia membuka mata nya. Leo sedikit terkejut melihat kabut bayangan yang membentuk perisai di belakang nya, menahan serangan itu.
Leo menarik nafas lega. Ia berhasil selamat dari serangan maut itu. Telat sedikit saja, dirinya pasti sudah habis.
Avren yang membuat pelindung itu menghilangkan sihir nya yang kemudian ia fokuskan untuk menyerang. Kabut hitam itu berkumpul di belakang tubuh nya dan membentuk empat pedang bayangan yang melayang di sekitar nya.
Mata Avren nampak berkilat, seakan tak ada rasa takut untuk melawan kelinci itu. Leo yang melihat itu terkagum. Ini pertama kalinya Leo melihat seseorang memiliki skill seperti itu. Ternyata Avren lebih kuat dari yang ia bayangkan.
"Leo! Bersiap untuk mengalahkan nya!" Seru Avren, menyadarkan Leo dari kekaguman nya. Lantas Leo langsung mengangguk dan berlari ke sisi lain kelinci itu, bersiap untuk menyerang.
Bola bola api bertebaran meluncur seperti batu asteroid yang jatuh dari angkasa luar. Dari mulut kelingi itu, cairan yang di keluarkan nya pun seperti bahan bakar yang membuat bola bola itu semakin besar.
"[Sihir bayangan:tusukan pedang bayangan]!!" Pedang pedang bayangan di sekitar Avren bergerak meluncur ke arah kelinci itu sesuai perintah Avren. Si kelinci mencoba menghindar, bola bola keunguan di sekitarnya berkumpul seperti perisai menghalangi serangan Avren mengenai tubuh nya.
"Jangan kira kau bisa bersembunyi!!" Tanpa di sadari, di belakang kelinci itu, Leo sudah siap dengan sihir nya dan memunculkan bola api raksasa di atas kepala nya.
Kelinci itu nampak membulatkan mata nya. Tubuh kelinci itu merendah, bersiap untuk melompat. Namun, dari bawah, sulur sulur hitam muncul dan mengikat tangan serta kaki kelinci itu.
Si kelinci mencoba untuk memberontak. Ekornya ia kibas-kibaskan untuk memutuskan ikatan tali yang Avren bentuk, namun hasilnya sia sia.
"Saatnya mengakhiri ini!!!"
Wushh!!
Bola api Leo lemparkan dan seperti meteor berapi, langsung menimpa kelinci itu dan membakarnya.
Kelinci itu seolah menjerit kesakitan. Tubuh nya meleleh sebelum kemudian menghilang terurai.
Leo dan Avren bersorak senang. Akhirnya setelah aksi lari larian, drama dan curhat, mereka berhasil juga mengalahkan hantu kelinci itu.
Leo justru menatap horor. "Baik? Kau tau kita baru berhadapan dengan hantu! Dan kau tanya apa aku baik? Tentu saja tidak lah!!" Ujar Leo sambil menutupi wajah nya.
Avren hanya menatap datar. Ia kira Leo sudah berhasil mengatasi ketakutan nya. Dilihat dari bagaimana dia menyerang tadi seperti tak ada rasa takut. Tapi ternyata tak seperti yang terlihat...
Jadi dia menyembunyikan rasa takut nya sejak tadi?
"Kukira kau tak takut lagi." Avren membaringkan tubuh nya di samping Leo.
"Aku cuma menahan nya. Semakin cepat selesai, semakin baik. Jadi aku gak mau buang buang waktu." Ujar Leo sambil memandang ke langit, dimana bintang bintang bersinar dan berkelap kelip.
"Kau benar." Avren ikut memandang ke atas, menikmati suasana malam itu sebelum kembali ke perkemahan sembari mengistirahatkan tubuh mereka, melepas penat yang terasa.
Angin dingin berhembus pelan. Suara jangkrik mendominasi tempat itu. Beberapa kali terdengar suara kelelawar yang lewat dan dengingan nyamuk. Tak selama nya malam hari hanya di penuhi dengan hal hal menyeramkan. Jika ingin menikmatinya, banyak hal menenangkan yang bisa di temukan.
'Jadi kalian teman sang pahlawan ya...'
DEG!
"Siapa itu?!" Seru Leo seketika.
Secara tiba tiba, suara yang terdengar parau dan berat muncul, membuat mereka terkejut. Namun, tak ada siapapun di sana.
Avren memejamkan mata nya menyebar sihir nya di sekitar tempat itu. Namun hasilnya pun nihil. Tidak ada sihir lain yang ia rasakan selain sihir Leo.
"Tapi... Pahlawan? Apa Zion yang dia maksud?" Tanya Leo.
"Sepertinya semakin banyak yang mengincar Zion. Bisa saja, itu iblis atau monster." Jawab Avren.
'Jika memang benar... Bisa saja...'
'Zion dalam bahaya.'
Batin Leo dan Avren.