Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
35. Pahlawan



Matahari pagi menyinari asrama, membangunkan para penghuninya yang masih tertidur atau yang sedang bersiap sebelum ke sekolah. Beberapa murid terlihat sedang bercanda atau mengobrol di sekitar asrama. Ada juga yang masih asik mengisi perut di cafetaria. Sementara itu, seorang pemuda ber iris ruby berjalan menuju asrama guru dan mengetuk pintu salah satu kamar.


Tidak ada jawaban.


Pemuda itu pun membuka pintu perlahan dan masuk ke dalam. Ruangan yang masih terlihat gelap. Terlihat seorang pria yang sedang tertidur di meja dengan beberapa berkas yang menumpuk di atas meja.


"Sepertinya ayah bergadang lagi..." Gumam Zion pelan. Ia yang kala itu membawa bekal untuk sang ayah pun sedikit membereskan barang di sekitarnya dan meletakkan sebuah kotak bekal di meja dengan catatan kecil di atasnya.


Setelah itu, Zion mengambil selimut dan menyelimuti Rendrano. "Jangan lupa di makan ya ayah..." Ucapnya pelan. Setelah itu Zion keluar dan kembali menutup pintu kamarnya. Kini Zion berjalan menuju ruang guru.


"Permisi..." Ucap Zion saat memasuki ruangan. Tak ada siapapun di sana. Mungkin guru lainnya sudah ke kelas untuk mengajar?


"Eh Zion. Ada perlu apa?" Tanya seorang wanita ber rambut coklat panjang.


"Oh saya mau meminta izin untuk pak Rendrano. Sepertinya dia bergadang tadi. Dan mungkin perlu istirahat sebentar." Ucap Zion.


"Oh kebetulan sekali. Rendrano juga menitipkan tugas untuk murid murid Hero Class. Bisa kau berikan? Sekaligus untuk menguji kemampuan mereka." Ucap wanita itu sambil menyerahkan setumpuk kertas.


"Baiklah, aku akan memberikan nya. Terimakasih..."


"Sama sama..." Jawab wanita itu sambil tersenyum.


Zion berjalan menuju kelas Rendrano. Awalnya ia sedikit gugup untuk masuk. Tapi bagaimanapun, ia tak bisa melupakan tugasnya.


Pintu di buka dan kelas yang awalnya ramai langsung tertib dengan semua murid yang langsung duduk manis di bangku mereka. Mungkin awalnya mereka mengira jika yang datang itu Rendrano.


"Selamat pagi" Ucap Zion sambil berjalan ke meja guru.


"Pagi..." Jawab mereka serempak.


Tampak beberapa orang berbisik bisik membicarakan Zion. Tentu mereka penasaran kenapa justru Zion bukan nya pak Rendrano.


Setelah itu Zion pun langsung membagikan setiap lembar kertas pada setiap murid. "Kerjakan dengan baik. Jika ada yang mencontek atau kerjasama, aku akan langsung mencatat dan melaporkan nya pada pak Rendrano." Ujarnya dan kembali duduk.


Semua murid terlihat sibuk mengerjakan dengan teliti. Namun beberapa dari mereka berpikiran jika pertanyaan pertanyaan itu sedikit aneh dan beberapa tidak termasuk dalam apa yang diajarkan Rendrano.


Zion sedikit berkeliling mengawasi murid murid yang usianya lebih tua setahun darinya itu. Entah mengapa ekspresi Zion mendadak berubah. Seakan kecewa, Zion pun kembali duduk dan memainkan bunga yang ada di atas meja.


Melihat Zion yang mengabaikan, kebanyakan murid pun mengambil kesempatan itu untuk kerjasama ataupun mencontek.


"Yang sudah selesai kumpulkan di depan dan boleh beristirahat. Tapi dilarang membantu lainnya atau membuat keributan."


Setelah Zion mengatakan itu, satu bersatu murid pun mulai mengumpulkan nya. Zion melihat jawaban para murid dan sedikit terkekeh lalu menghela nafas lelah.


Ia terlihat kecewa. Sebenarnya Zion tak meneliti semua jawaban. Hanya pertanyaan nomor 1 yang ia perhatikan.


Sampai salah satu murid mengangkat tangan nya. "Zion, boleh aku bertanya?" Tanya Thory pemuda itu.


"Ya, tanyakan saja."


"Kenapa kau terlihat kecewa? " Tanya Thory. Murid lainnya pun juga tampak penasaran.


Zion bangkit dari duduknya sambil membawa tumpukan kertas tadi. "Aku tanya pada kalian. Apa itu pahlawan?"


"Orang yang kuat."


"Seseorang yang memiliki kekuatan untuk menolong orang lain."


Jawab beberapa murid. Zion menghela nafas.


Apa jawaban itu salah? Lalu, apa pahlawan baginya?


"Baiklah..." Jawab Zion pelan namun masih bisa didengar mereka.


"Bagimu sendiri, apa itu pahlawan?" Tanya Thory lagi.


Zion hanya tersenyum dan berjalan ke luar kelas. Namun, tepat di depan pintu Zion berhenti. "Pahlawan adalah, orang yang memberikan kebahagiaan bukan penderitaan." Setelah itu ia berjalan keluar.


Entah mengapa seisi kelas langsung terdiam setelah itu.


Zion masuk dan duduk di sofa yang tak jauh dari meja kerja Rendrano sambil memasang raut wajah kecewa.


Rendrano yang melihat itu, "ada apa? Sepertinya kau kecewa sekali."


"Mereka memang pintar, tapi sayangnya pemahaman mereka seperti anak kecil. Mereka hanya memandang dari segi kekuatan, hanya karena mereka murid murid terkuat. Justru itu akan jadi kelemahan besar untuk mereka." Ucap Zion secara blak blakan. Ya... Dia tidak mau memendam kekecewaan nya itu.


"Maka dari itu aku memberimu tugas." Ucap Rendrano.


"Aku sedikit bingung harus gimana. Malah pusing sendiri."


"Jika begitu, bagaimana jika kau istirahat dulu? Belakangan ini kau juga jarang istirahat kan? Mungkin setelahnya akan lebih mudah memikirkan rencana untuk kedepannya."


Ada benarnya juga. Tapi Zion tak terbiasa istirahat. Apalagi waktu luangnya selalu ia habiskan dengan latihan atau membaca buku. Tapi tak ada salahnya mencoba.


"Baiklah, terimakasih..."


Zion pun berjalan keluar. Ia sedikit berfikir, dimana tempat yang bagus untuk beristirahat di sini? Tapi tak lama ia menemukan sebuah tempat.


Zion menaiki tangga ke lantai atas, tepatnya atap. Melihat pemandangan akademi dari atas ditambah dengan suasana yang sepi dan angin yang berhembus cukup menenangkan nya.


"Ini tempat yang sempurna!" Ucapnya dan duduk di sebuah kursi panjang di sana. Ia mengeluarkan sebutir pil yang diberikan Rendrano saat itu. "Hey Nero... Bagaimana pendapatmu mengenai semua ini?"


'Biasa saja.' jawabnya singkat.


Zion yang mendengar itu, "....." Apa tak ada kata kata lain?


Zion pun langsung menelan pil itu dan membaringkan tubuhnya di kursi. Tak butuh waktu lama baginya untuk terlelap dan mulai berjelajah di alam mimpi.


Sementara itu...


"Haah akhirnya ini selalu jadi tempat yang tepat untuk menghindari orang orang tidak waras itu." Ucap Leo, pemuda ber iris jingga.


Ice melanjutkan. "Kenyataan nya ini tempat yang paling aman"


"Sudahlah. Lagipula angin di sini enak. Sesuai dengan elemen ku...." Ucap Kei sambil bersandar dan menikmati hembusan angin.


Yap, mereka adalah 'The Prince Of The Elements' yang saat itu sedang mencari tempat sembunyi dari para gadis gadis tidak waras yang mengejar dan meneriaki mereka.


"Eh kalian, menurut kalian Zion itu bagaimana?" Tanya Leo tiba tiba membuat lainnya mengalihkan pandangan pada pemuda ber iris jingga itu.


Sein menjawab. "Bagiku cukup menarik. Apalagi kemampuannya. Membuatku jadi semakin penasaran dengan itu."


"Walau cukup membuat penasaran saja. Apalagi saat datang ke kelas tadi. Apa tujuannya sebenarnya?" Tanya Kei.


Thory mengangguk. "Pertanyaan di soal soal tadi tak ada di materi pak Rendrano. Dan tadi pertanyaan ku juga enggak di jawab. Zion terlihat kecewa."


"Ada benarnya. Raut wajahnya berbeda tadi." Ucap Ice.


Hali memalingkan wajahnya. "Mungkin kecewa dengan jawaban kita atau apa?"


"Walau begitu... Menurutku sih, Zion itu cukup imut juga untuk anak laki laki." Kata Leo. Semuanya pun langsung memandang ke arahnya.


Mendapat tatapan dari teman temannya, Leo langsung memalingkan wajahnya. Namun, sebenarnya mereka pun sama saja.


Leo pun menukar topik. "Tapi tadi aku mendengar Zion berbicara dan tertawa bersama Alex. Sepertinya mereka cukup akrab."


"Mungkin teman atau sahabat" Sahut Ice.


"Membicarakan orang lain itu tidak sopan loh..."


Sebuah suara terdengar dan mereka langsung menoleh ke sumber suara.


"Apalagi jika orang yang kalian bicarakan ada di dekat kalian." Lanjut Zion yang sedang duduk santai memandang mereka yang terkejut.


Sejak kapan Zion ada di sana?


TBC